Kamis, 31 Desember 2009

Catatan Awal Tahun

Alhamdulillah, akhirnya tahun 2009 terlewati juga. Tahun yang bagi saya, salah satu yang berkesan. Berkesan dalam artian, di tahun ini, saya mendapatkan banyak pengalaman baru. Dan pemaknaan baru. Ada hal-hal yang dulunya saya tak paham, sekarang jadi paham. Atau entah saya merasa paham padahal sebenarnya belum, atau dari dulu sudah paham tapi sekarang tambah paham. Memangnya paham itu apa sih?

Yang pasti begini, apapun yang saya alami di tahun 2009 kemarin, ternyata sukses membuat saya sungguh-sungguh menatap 2010. Saya, untuk pertama kalinya, membuat daftar resolusi. Daftar resolusi yang bagi saya, terlampau rinci dan penuh perencanaan. Membuat tahun 2010 terasa dingin dan kaku, bagaikan angka-angka di microsoft excel. Membuat tahun 2010 terasa singkat dan padat, karena memang saya padatkan dalam perencanaan. Bukankah iya, segala perencanaan adalah seolah-olah menafikan bahwa hidup itu punya kejutan? Tidakkah jika Hume masih hidup, ia akan menertawakan daftar resolusi kita semua? Sambil berkata: "Bahkan kau tidak bisa menjawab apakah besok matahari masih terbit atau tidak."

Pertama, Alhamdulillah, Hume sudah lama tiada. Kedua, ini sepertinya klise, karena dulu prinsip saya tak begini. Ini baru-baru saja saya renungkan, dan rasanya naif sekali, bahwa: Coelho benar, bahwa jika kita sungguh-sungguh, alam semesta akan mendukung. Atau bahasa yang lebih religius: jika kita niat, maka akan terjadi. Kalau tidak terjadi? kurang niat namanya.

Saya kecewa sebenarnya mengatakan hal di atas. Rasanya percuma saja belakangan belajar filsafat serius, kalau ujung-ujungnya menyandarkan diri pada ungkapan klise yang berbau "iman". Tapi kekecewaan itu akhirnya berkurang sedikit-sedikit, ketika saya tahu, justru filsafatlah yang mengantarkan saya pada pemahaman lebih dalam terhadap ungkapan klise tersebut. Filsafat sukses meyakinkan seperti yang Kierkegaard bilang: "Nalar harus dipakai terus, agar kita tahu keterbatasannya". Dan wahai Kierkegaard, terlalu naif jika saya sudah mengatakan saya telah mencapai ujung nalar. Tapi bolehkah, sebagai manusia yang mana kebebasannya pun punya batas, saya menarik kesimpulan sementara, dengan melihat iman sebagai oase di tengah gurun. Untuk kemudian, sang nalar berhenti disana, minum air dan menggelar tenda. Sebelum melanjutkan perjalanan mencari batas entah dimana.

Tahun 2010, sudah siap saya tatap. Ditatap tak cukup, mestilah dihampiri dengan berani. Tahun yang menurut rencana saya, haruslah menjadi momen yang lebih baik untuk mengenal diri saya sendiri. Yang korelasinya mengarah pada apa yang kata Gibran: "Kenalilah dirimu, maka kau akan tahu siapa Ibumu". Ya, orangtua saya, yang belakangan saya berpikir mereka sebagai orang-orang yang sangat mulia, karena "menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk mencoba memahami anak yang secara tak adil tak pernah mencoba memahami orangtuanya". Tapi adakah bersitan dalam benak mereka, bahwa itu memang tak adil? Saya tak tahu perasaan mereka, tapi yang saya yakini: buat mereka, ini semua adil. Secara mengejutkan ini adil.

Maka itu, ya Allah. Berikanlah saya kekuatan di tahun 2010. Kekuatan untuk menjalani hidup yang, bukan benar ya Allah, tapi punya makna. Punya sesuatu yang bisa saya bagi untuk saya sendiri, orangtua saya, saudara saya, sahabat-sahabat saya, kekasih saya, dan orang lain. Karena saya, kita semua, berhutang pada semua manusia, seperti yang Gibran bilang.

Buatlah saya mengetahui banyak hal, hanya demi tujuan: bahwa nantinya saya jadi orang yang menyadari bahwa saya tak tahu apa-apa. Buatlah saya, ya Allah, menggunakan akal dan nalar, serta berbagai pertimbangan rasional dalam mempertimbangkan segala. Tapi di ujung keputusannya, tinggal hati nurani yang berbicara.

Buatlah saya, ya Allah, selalu disadarkan bahwa tak ada apapun yang saya terima ini kurang atau berlebihan. Karena segalanya cukup, hanya ketika saya bersyukur.

Buatlah saya, ya Allah, mencintai dunia ini. Bukan dalam rangka menafikan akhirat dan segala tetek bengek surgawi. Tapi karena sungguh, dunia ini menyimpan banyak keindahan dan misteri. Yang membuat saya sadar bahwa di dunia ini, ada surga itu sendiri.

Buatlah saya, ya Allah, sadar akan segala kesalahan. Dan memperbaikinya dalam tingkah laku perbuatan.

Buatlah saya, ya Allah, menyayangi kedua orangtua saya. Bukan semata-mata karena suatu hari barangkali saya jadi orangtua dan oleh karena itu saya takut hukum karma. Tapi karena, alasan apakah gerangan kita tidak menyayangi mereka?

Buatlah saya, ya Allah, berguna untuk dunia, berguna untuk semesta. Tidak harus dengan cara meluncurkan manusia ke Planet Venus atau memenangkan pemilu di Amerika atau menjadi aktivis Free Mason. Tapi dengan mencintai apa yang bisa dicintai dalam juluran tangan-tangan kecil yang saya punya. Dengan memberi apa yang bisa saya genggam dalam telapak tangan yang saya punya. Dan dengan berbuat lewat tubuh peluh yang kelak akan menua.

Buatlah saya, ya Allah, sering berdoa dan meminta kepadamu. Bukan karena saya tahu kau akan mengabulkannya. Tapi karena saya tahu, dengan berdoa, maka tak ada gunanya menganggap diri kita pusat semesta.

Buatlah saya, ya Allah, bertemu para personel Metallica. Karena sungguh, ya Allah, mereka keren.

Amin ya Rabbal Alamiin.
Selamat tahun baru semuanya. Selamat datang Januari: Janus si Muka Dua.

Senin, 21 Desember 2009

Siddhartha: Percikan Inspirasi Sang Buddha


Penganugerahan Nobel Sastra bagi Hermann Hesse pada tahun 1946 dibuktikannya dengan sangat baik dalam novel Siddhartha ini. Bagi saya, novel ini tidak hanya indah dan puitis, tapi juga inspiratif dan mencerahkan. Keunikannya terletak dari tidak adanya konflik antar orang, melainkan hanya konflik Siddhartha (sang tokoh utama) dengan dirinya. Ya, ini adalah karya sastra yang bercerita tentang pergulatan batin dan pencarian spiritual seorang Siddhartha, yang diceritakan hidup sejaman dengan Gotama, Sang Buddha (sekitar 600 SM). Penokohannya sendiri sebenarnya cukup menggelikan. Fakta historis mengatakan bahwa Sang Buddha bernama asli Siddhartha Gotama. Namun di novel itu, antara Siddhartha dan Gotama adalah dua tokoh yang sama sekali lain. Gotama adalah Sang Buddha yang ajarannya saat itu tengah naik daun dan sangat digandrungi masyarakat India, sementara Siddhartha justru menolak ajaran Gotama, yang diungkapkannya dalam kalimat yang inspiratif: "Tidak ada seorangpun yang mendapat pencerahan dari sebuah ajaran".
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Siddhartha pun pergi mengelana mencari jati diri, dan bertemu banyak orang-orang yang menstimulus pergolakan dalam dirinya. Mulai dari pelacur cantik bernama Kamala, Kamaswami sang pedagang, juru sampan bernama Vasudeva, hingga sahabatnya, Govinda. Setiap tokoh tersebut memberikan kesan tersendiri bagi perjalanan spiritual Siddhartha. Bagi saya, novel ini memberi kesadaran bahwa hidup itu memang penuh paradoks. Manusia menjadi "baik" tak selalu didorong oleh hal-hal dan gagasan yang "baik" pula, seringkali justru yang "tidak baik" itulah yang menstimulus segala kebaikan.
Siddhartha tidak melakukan demarkasi antara pengaruh Gotama Sang Buddha dengan Kamala sang pelacur. Baginya, kedua orang itu sama sucinya. Saya juga luar biasa terkesan dengan tokoh Vasudeva si juru sampan, yang sangat ahli dalam "mendengarkan". Setiap cerita yang diungkapkan panjang lebar olah Siddhartha, ditanggapi Vasudeva dengan penghayatan yang tinggi, tanpa kata-kata. Bahkan kadangkala Vasudeva memejamkan matanya, dan menganggap setiap kata yang keluar dari mulut Siddharta, seperti rembesan air hujan yang masuk ke akar pepohonan, sangat alami! Saya jadi terpikir, jangan-jangan ada alasan tertentu kenapa manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Jangan-jangan juga memang "mendengarkan" itu adalah pekerjaan tersulit yang bisa dilakukan manusia.
Begitu banyak nilai-nilai moral yang dikandung dalam novel ini, yang sejujurnya sangat merangsang saya untuk lebih memahami tentang apa dan bagaimana itu "Buddha". Saya tutup review ini dengan kalimat yang menyegarkan dari -siapa lagi kalau bukan-Siddhartha: "Pengetahuan dapat diungkapkan, tapi tidak kebijaksanaan. Kebijaksanaan, saat seorang bijak mencoba mengungkapkannya, selalu terdengar bagai kebodohan".



Terima kasih untuk Indra yang sudah merekomendasikan buku ini. Sangat sangat inspiratif.

Jumat, 18 Desember 2009

Untuk 30 November 2009

Sudah lebih dari dua puluh hari sejak saya terakhir mengupdate blog ini. Jika ditanya alasannya kenapa, saya tidak tahu. Daripada saya cari-cari alasan padahal intinya cuma malas.
Artinya, saya melewatkan juga hari ulang tahun saya untuk dituliskan. Maksudnya, dituliskan secara berdekatan dengan momennya. Padahal, ulang tahun saya tahun ini, terasa sangat bermakna. Bermakna karena banyak hal, yang akan saya ceritakan:


Hari itu hari Senin, 30 November 2009. Hari yang artinya, bagi orangtua saya, itu adalah tanda: bahwa tepat dua puluh empat tahun lalu, saya lahir ke dunia. Lahir untuk entah apa, yang pasti awal mulanya, adalah untuk membahagiakan orangtua saya. Untuk meyakinkan sebenarnya mereka punya garis keturunan yang melanjutkan apa-apa yang pernah ia bangun dalam hidupnya. Yang lewat keturunan ini, seolah-olah orangtua saya disajikan, tentang nikmatnya menyaksikan rekaman ulang kejadian kehidupan.
Melanjutkan keturunan itu barangkali, memberi tahu dengan gamblang: bahwa, Subhanallah, hidup itu berputar adanya, hidup itu begitu-begitu saja. Dan oleh karena itu, kita, manusia, adalah satu-satunya pemberi dinamisasi: pemakna sejati. Dengan demikian kita punya perbedaan dari hewan, yang melanjutkan keturunan untuk semata-mata mempertahankan spesiesnya dari kepunahan. Secara lebih keren, melanjutkan keturunan adalah berarti memberi tahu secara lebih intim, bahwa kehidupan ini, seperti kata Yasraf Amir Piliang, adalah sebuah repetisi dinamis.
Hari itu hari Senin, 30 November 2009. Hari yang artinya, saya cukup diajarkan sejak kecil, bahwa bolehlah itu dianggap spesial setiap tahunnya. Waktu SD, itu adalah hari dimana saya mentraktir teman-teman nonton bioskop. Waktu SMP juga. Beda lagi masa SMA, saya biasa mentraktir makan, yang berlanjut hingga kuliah. Hari yang seolah orangtua saya mau memberitahu saya, bahwa kau, Nak, sudah dua puluh empat tahun lamanya di dunia ini. Dua puluh empat tahun lalu kau membahagiakan kami dengan kehadiran. Maka dua puluh empat tahun kemudian kau membahagiakan kami juga dengan kehadiran. Kehadiran yang sedari dulu nyata dan ada, tapi rasanya tumbuh dan berbeda. Seperti kau sirami bibit mawar di halaman, dan kau menyaksikannya tumbuh merekah berbunga, dengan duri-durinya. Kau pasti pernah punya bayangan tentang bagaimana seharusnya mawar ini menjadi nantinya. Tapi ketika mawar tersebut berbeda dari yang kau bayangkan, misalnya: kelopaknya terlipat sebagian, merahnya tak merona, wanginya tak semerbak, atau durinya terlalu tajam, tidakkah yang masih penting, adalah kenyataan bahwa bunga itu masih disana, memberitahu bahwa ia, setidaknya bagi si mawar, ia tumbuh normal dan baik-baik saja?
Hari itu 30 November 2009, dan saya mengadakan acara makan-makan. Sederhana saja di rumah. Saya ajak teman-teman, ada teman SMA, teman KlabKlassik, teman bermusik, dan teman pascasarjana. Semuanya berkumpul, meski tak membaur semua. Tapi saya berbahagia menyaksikan semua. Mereka, di hadapan saya, adalah bagaikan menyaksikan juga repetisi dinamis. Karena lagi-lagi mereka hadir, lagi-lagi, yang harusnya bosan tapi tidak. Tidak karena dimaknai, tidak karena mereka membuat saya ada. Ada berada bukan dalam makna eksistensial, tapi esensial. Membuat saya selalu punya alasan kenapa saya ingin tetap di dunia.
Hari itu 30 November 2009 jam dua belas malam, dan saya sedang dalam jalur telepon. Berbincang. Mendengarkan suara nyanyian dari seberang sana, 180 kilometer katanya. Menyanyikan dendang yang, ah, metafor bidadari yang bernyanyi tak penting lagi. Persoalannya, kita tak pernah tahu apakah memang iya ada bidadari di kahyangan sana yang suaranya emas dan menggetarkan. Yang saya tahu pasti, ada bidadari disini, ya, aku menunjuk ulu hatiku. Dan iya, suaranya menggetarkan dawai-dawai batin yang pernah usang. Dawai-dawai batin yang resonansinya menggelegakkan darah di tubuh. Yang lagi-lagi saya suka metafor ini: seperti mawar yang ditetesi embun, seperti tenggakan dari anggur Dyonisus yang kemudian mengaliri kerongkongan. Yang membuat saya, sungguh-sungguh, mencintai dunia dan enggan meninggalkannya.


Joyeux Anniversaire,
Joyeux Anniversaire,
Joyeux Anniversaire,
Joyeux Anniversaire...

Rabu, 25 November 2009

Bunga untuk Dega

Pulang mengantar kedua kawan, saya terhenti di Palasari. Sebuah kawasan pertokoan yang terkenal dengan buku-buku murah, pasar, dan kios-kios tempat menjual bunga. Hari itu hari minggu, jam sembilan malam. Toko itu masih buka, seperti yang sudah saya duga. Toko yang saya maksud adalah toko bunga, yang saya lebih senang menyebutnya dengan kios. Meski kios-kios itu terletak di pojok jalan, tapi cahayanya terang benderang. Cukup mencolok di tengah gelap gulita padamnya lampu dari pasar dan toko buku, yang telah menyetop perniagaan sejak sore.

Saya turun dari mobil, setelah parkir di pinggir jalan. Ada banyak kios, sekitar enam atau tujuh kalau tidak salah. Tapi entah dorongan darimana, saya memilih untuk masuk ke kios yang penjualnya berlogat Jawa. Sepertinya juga, karena mawar yang ia pajang merahnya menggoda. Dibanding yang lainnya, padahal sama-sama merah. Oke, saya mulai memilih-milih mawar yang disimpan dalam ember. Ada beberapa warna, tapi saya hanya ingin merah. Katanya sih, merah menandakan cinta sejati. Tapi, ah, tak usah dimaknai tidak apa-apa kan? Bunga sudah manis pada dirinya sendiri. Bunga sudah indah sebelum ia dikatakan indah. Saya akhirnya beli lima, ditawar sedikit, tapi saya tak mau berdebat banyak. Harga sepakat turun, dan saya minta dirangkaikan yang cantik, pakai pita merah.

Saya menyimpan dengan hati-hati si bunga, di jok di samping saya. Saya pandangi sesekali, di tengah perjalanan pulang yang cuma lima menit. Bunga ini untuk seorang wanita. Wanita yang sedang berada di rumah saya. Entah menantikan saya pulang atau tidak, tapi saya yakin ia akan senang melihat saya datang. Bunga ini untuknya, yang tidak boleh saya berikan karena alasan apapun kecuali satu: bahwa dia satu.

Mawar, entah itu cuma sekedar konstruksi atau hakiki, saya percayai memang punya daya magi. Barangkali karena hidupnya yang cuma sebentar. Yang saya ingat, hanya empat atau lima hari, ia kemudian layu lalu mati. Tidakkah sangat tidak merepresentasikan cinta sejati, yang mestinya lama dan tidak mati-mati? Memang kelihatannya demikian, tapi saya punya versi sendiri: Yang justru bagi saya, cinta sejati itu, sangat terepresentasikan lewat mawar. Ia tumbuh sebentar, menguncup lalu merekah. Menebar wangi yang tidak menyengat, tapi menelusup diam-diam ke lubang hidungmu. Bagai pencuri yang mengendap di malam gelap, memasuki rumah yang penghuninya sedang tidur lelap. Lalu pada momen ketika mawar berpindah tangan, dari pemberi ke penerima, itu seperti begini: seperti jika semesta ini punya wajah, maka ia sedang berpaling padamu. Berpaling lalu tersenyum. Tersenyum dengan garis bibir yang lebar dan tatapan mata yang berbinar. Lalu semesta, dengan wajahnya yang cerah dan agung, berkata cinta kepadamu. Tapi bukan dengan bahasa, melainkan lewat uraian kalbu yang membuat dunia hening sejenak. Hening barang sedetik dua detik. Dan yang terdengar hanya bunyi jantungmu yang degupnya terdengar jelas di telinga.

Setelah itu, semesta kembali memalingkan mukanya darimu, dan ia kembali bekerja mendenyutkan dunia. Momen tadi begitu pendek, sependek umur mawar dari dia ada hingga tiada. Tapi kau tak pernah lupa, takkan, bahwa semesta pernah menyapamu. Bahwa semesta pernah hadir, dan dengan kuasanya, ia berhenti mengurusi segala. Hanya untukmu ia berhenti, seperti ada kupu-kupu yang sengaja hinggap di hidungmu, karena semata-mata ia tak mau hinggap di hidung yang lain selain punyamu. Kau tak pernah lupa, takkan, bahwa mawar sejati bukan yang sedang kau terima dari si pemberi, tapi yang kuncupnya merekah perlahan di dalam hati. Tumbuh berkembang dan menebar wangi ke darah dan jantung. Yang tak pernah mati, lekang oleh waktu, bahkan jika sang hati terlukai. Mawar yang tumbuh di hati yang luka, tetap bernama mawar. Mawar yang itu-itu juga, yang harum dan menari.

Dan ketika bunga itu di tanganmu, Dega. Saya sedang tidak tahu apa yang kau pendam dalam diammu. Tapi akan kutanyakan, apakah itu, karena kau sedang tertegun melihat senyum semesta?

Selasa, 03 November 2009

Garasiku


Garasi yang saya maksud disini, adalah garasi yang kau sebut dengan garasi juga. Bukan garasi yang memang sengaja kami bikin lebih luas, dengan dekorasi sana-sini, dengan lantai yang selalu bersih. Ini adalah garasi yang sebagaimana mestinya garasi: tempat menyimpan kendaraan, dan ukurannya hanya sedikit lebih luas dari kendaraan itu, dan pastilah lantainya hampir selalu kotor, tergilas ban yang membawa debu dan lumpur jalanan. Ini adalah garasi yang sama dengan yang kau maksud, yang menjadi ruangan kosong, jika mobil di dalamnya sedang digunakan oleh penghuni rumah.

Kau pasti tahu, bahwa setiap kegiatan punya tempatnya sendiri, ruangannya sendiri. Tempat memasak adalah dapur, tempat untuk tidur adalah kamar tidur, tempat makan adalah di restoran, tempat menyimpan lukisan di galeri, tempat menyaksikan musik adalah di gedung konser, tempat menyaksikan musik klasik adalah di gedung konser berakustik, tempat rapat adalah di meja yang melingkar, dan lain-lain yang stereotip. Tapi darimanakah asalnya korelasi kegiatan dan tempat itu? Tidakkah tadinya, coba kita berandai-andai, bahwa ada semacam ruangan kosong, dengan berbataskan tembok, lalu si pemilik berkata, “Ruangan ini kosong, mari kita isi dengan sesuatu.”

Demikian, barangkali, pada mulanya, semua adalah ruang kosong. Ketika si pemilik mencanangkan bahwa sebuah ruangan difungsikan, menjadi sesuatu yang bisa digunakan, maka seiring dengan waktu, tercipta “nama ruang”. Memberi nama, kata Saussure, adalah sekaligus membedakan. Memberi nama kamar tidur, adalah sekaligus membedakan ia dari kamar mandi, restoran, gedung konser, dan galeri. Membedakan berdasarkan nama, maupun maknanya. Seolah-olah dengan itu, maka kegiatan saling menukar fungsi ruang menjadi perilaku yang kurang etis.

Dalam konteks tertentu, memang seringkali ada kegiatan “lintas-fungsi ruang”, seperti dalam restoran, ada juga musik klasik. Dalam tempat tidur, ada juga lukisan yang disimpan. Bahkan dalam kamar mandi pun, kadang ada lukisan. Dalam bis, mal, dan bioskop, juga seringkali ada sesuatu yang secara “nama ruang”, tidak seharusnya. Memang kombinasi tersebut menghasilkan estetika yang sangat memuaskan indrawi. Dalam bis yang penat, oh ada musik. Dalam restoran yang hiruk pikuk, musik membuat hangat, pun lukisan. Hanya saja, kegiatan lintas fungsi-ruang kurang menghasilkan kedalaman, akibat dikikisnya fungsi “profesional” ruangan. Masih terasa berbeda, ketika menyaksikan konser musik klasik di gedung akustik, dengan menyaksikannya sambil makan di restoran. Ada penyampaian emosi yang berbeda: yang pertama lebih fokus, intim, dan detail, karena indra kita dipaksa terpaku kesana. Yang kedua, saling melengkapi dan memberi kehangatan, tapi sebatas sensasi saja, tidak membuat kita menemukan makna yang betul-betul mendalam.

Yang terjadi sekarang adalah, dalam ranah ruang publik, profesionalisme ini menemui persoalan. Ketika dunia informasi semakin cepat, padat, dan nirbatas, maka membiarkan satu ruang untuk satu kegiatan, adalah dianggap kuno dan ketinggalan. Apalagi, profesionalisme ruangan, telah bergeser pada komersialisasi ruangan. Karena profesional, satu, eksklusif, dan berbeda dari yang lainnya, maka kapitalisme memberi harga. Harga tinggi, kemudian mengikis makna. Efeknya, profesionalisme ruangan menjadi semacam gaya hidup. Menjadi semacam cara orang mengaktualisasikan dirinya dengan cara berbeda. Galeri misalnya, yang tadinya menjadi tempat orang lebih fokus untuk mengapresiasi lukisan, sekarang menjadi tempat berkumpul eksekutif muda untuk sekedar menunjukkan bahwa mereka juga punya citarasa seni. Tanpa harus betul-betul memahami lukisan di dalamnya. Pun gedung konser akustik, misalnya, menjadi tempat orang-orang yang sangat mengedepankan citra, ketimbang apa yang tersaji di dalamnya. Kemana orang-orang yang memang mau dengan dalam mengapresiasi? Bisa jadi mereka tersingkir, akibat harga, akibat eksklusivitas, akibat perasaan minder, karena merasa “salah tempat”.

Mereka-mereka ini, kemudian, mencari ruang kosong yang baru. Berjuang menemukan kembali makna dari musik, lukisan, makanan, dan kegiatan lainnya. Menemukan kembali hakikat dan substansi terdalam, bahwa jangan-jangan: bukan soal ruangnya, bukan. Tapi soal pemahaman terhadap isi ruangan, yang hanya bisa didapat barangkali, dengan menyingkirkan profesionalisme dan komersialisasi. Artinya: ruangan, dimana saja boleh, asal kosong. “Nama ruang” yang pernah dielu-elukan, tak lagi penting. Bahkan kecenderungannya, ruangan itu harus kecil dan sama sekali tidak menyimbolkan stereotip kapitalisme. Harus sesederhana mungkin, seperti secara langsung mengejek ruang publik yang semakin tak dekat dengan publik.

Disinilah, disini. Kembali ke garasi yang saya maksud, yang kau maksud juga. Bahwa di garasi rumah ini, adalah ruangan juga, ruangan yang kosong jika mobil tidak ada di dalamnya. Ketika itu kosong, maka bolehlah, bagi orang yang peduli, untuk berkegiatan mencari makna. Makna yang telah terkikis oleh eksklusivitas ruang. Silakan pajang lukisan, menggelar konser musik klasik, memasak bersama, berorasi, rapat, atau syukuran tumpengan. Sepertinya berkegiatan disini, kau tak akan merasa keren karena tempatnya, oh saya tidak sedang merendah: kecil dan kotor. Tapi disini, ya disini, setidaknya yang saya yakini, kau akan menemukan hangat dan lenturnya pencarian makna, karena tidak sedang ditunggangi serakahnya pencitraan, yang dingin dan kaku.

Garasiku, 30 Agustus 2009: acara syukuran Resital Tiga Gitar Plus Satu

Senin, 26 Oktober 2009

Sex and The City The Movie: Upaya Menjadi Manusia Etis


Saya sudah melihat film ini sekira setahun yang lalu. Dan semalam saya menyaksikannya kembali di teve kabel. Oh, membuat saya ingat bahwa saya pernah menulis soal film tersebut di blog lama saya. Membuat saya ingin memindahkannya dari blog lama ke sini, untuk lalu diedit, dengan sudut pandang saya berdiri sekarang.



Melihat kuartet Carrie Bradshaw, Samantha Jones, Charlotte York, dan Miranda Hobbes, sulit dipungkiri bahwa kita juga sekaligus menyaksikan etalase fashion yang berkilau, budaya konsumerisme tak berujung, serta citra masyarakat New York yang hedonis dan teralienasi. Sama halnya dengan edisi serial, versi layar lebar ini masih mengedepankan identitas tersebut. Bedanya barangkali terletak pada upaya pengonklusian yang digambarkan lewat cerita pernikahan antara Carrie dan Big.

Keseluruhan film berdurasi sekitar dua jam lima belas menit ini (cukup panjang untuk ukuran film yang delapan puluh persennya berisi ngobrol-ngobrol), sebenarnya mengangkat isu yang tak pernah ketinggalan: cinta dan persahabatan. Hanya saja yang menarik bagi saya adalah tentang prosesi pencarian makna kedua isu tersebut, yang nampak begitu sulit diarungi jika berada di tengah lautan hedonisme dan konsumerisme ala kota besar. Ketika kota penuh hiruk pikuk seperti New York menyuguhkan suasana yang membuat manusia terasing dari dirinya, maka kuartet ini merupakan contoh manusia yang selalu bergulat dengan reflektivitas dan kontemplasi. Mereka berempat seolah paham bahwa citra permukaan yang ditawarkan New York berpotensi membunuh subjek, namun segala perlawanan dan pemaknaan itulah yang membuat film karya Michael Patrick King tersebut menjadi hidup. Yang kemudian menjadi pertanyaan saya berikutnya adalah: mengapa pernikahan mesti jadi semacam konklusi bagi gaya hidup mereka (dalam hal ini Carrie)? Tidakkah eksterioritas kota sebesar New York telah menawarkan segalanya yang dianggap mampu mewakili setiap aspek hidup manusia? Tidakkah justru kebebasanlah yang dicari kuartet tersebut, mengingat hasrat keempatnya yang tak pernah berhenti menagih? Saya kemudian curiga, jangan-jangan manusia bisa saja bosan dengan kebebasan, yang hakikatnya malah ia tak pernah berhenti diperjuangkan.

Pernikahan adalah tentang cinta, itu lumrah, tapi bisa saja hal tersebut adalah bentuk kelelahan manusia dalam mengarungi kompleksitas berpikir dan berbuat bebas, hingga akhirnya "terpaksa" mencari dahan untuk berpegang. Setidaknya dengan menikah, kebebasan itu sendiri berubah bentuk, menjadi terorientasi, menjadi tidak melulu tentang pemenuhan hasrat yang tiada habisnya. Karena barangkali (karena saya belum menikah), kebebasan tersebut naik kelas, menjadi semacam "kebebasan bagi yang lain", atau kebebasan demi nilai-nilai tertentu. Yang mendadak saya ingat tiga tahapan manusia menurut Kierkegaard. Yang pertama adalah manusia semacam Don Juan (Kierkegaard menyebutnya manusia estetis), yang melakukan apa-apa demi hasrat. Yang bisa diibaratkan seperti kuartet tersebut jika berada dalam kegemerlapan New York. Kedua, Kierkegaard namakan dengan manusia etis, dan ia mencontohkan layaknya Socrates. Hidup demi apa yang dinamakan tanggung jawab. Bisa saja tanggung jawab itu bukanlah hasrat pribadi, dan malah tertekan ketika kau menanggungnya. Tapi begitu kau hidup baginya, entah kenapa terasa lebih bermakna. Yang membuat saya jadi setuju dengan utilitarianisme: yang baik adalah yang berguna bagi orang banyak. Yang ketiga adalah manusia religius, dan saya tak akan membahas disini karena sepertinya kurang relevan.

Jikalau demikian, maka manusia etis ala Sex and The City yang digambarkan via cerita pernikahan Carrie dan Big dalam film ini sah-sah saja dijadikan konklusi. Karena menunjukkan bahwa mereka, meski dengan susah payah, tetap menyimpan keinginan untuk lepas dari jeratan hedonisme dengan caranya sendiri. Agar, ya itu, tak selamanya menjadi manusia estetis Kierkegaardian.


Sumber gambar: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Sex_and_the_City_The_Movie.jpg

Jumat, 23 Oktober 2009

Terima Kasih, Gitar Klasik (Bagian Dua)

Ketika kau pernah nge-band, memainkan lagu-lagu seperti Nirvana dan Black Sabbath. Lalu belajar gitar elektrik hingga sedikit-sedikit bisa menirukan Jimi Hendrix dan Ritchie Blackmore. Lalu keseharianmu yang kau dengar adalah Metallica, plus memajang posternya di kamar, di samping foto Eric Clapton. Tidakkah memutuskan menggeluti gitar klasik adalah hal yang kurang keren? Siapakah tokoh gitar klasik yang saya tahu, kecuali guru saya sendiri, Kwartato Prawoto?

Tapi demikianlah, akhirnya saya terpanggil oleh entah apa. Untuk menekuni gitar klasik, ranah yang sepi dan sunyi ini, secara lebih serius. Sejak konser di Aula Barat, orangtua saya sepakat untuk membelikan gitar yang lebih bagus. Lebih layak untuk dimainkan di konser klasik yang sangat mengedepankan kesempurnaan dan kemurnian bunyi. Saya berlatih lebih serius, dan porsi belajar gitar elektrik semakin dikurangi.

Hingga tiba akhirnya, hari itu, dua tahun setelah konser di Aula Barat. Suatu bulan Oktober di tahun 2003, saya konser yang ketiga kali. Nama konsernya, kalau tidak salah, "Konser Gitar Klasik Kwartato Prawoto dan Murid-Muridnya". Namanya sama seperti konser saya yang kedua, tempatnya pun sama, yakni di Auditorium CCF. Bedanya adalah jumlah lagu, sebelumnya tiga sekarang tujuh, saya ingat: Tango en Skaii dari Roland Dyens, Valse Venezolano no. 2 dari Antonio Lauro, Prelude no. 1, 2, dan 4 karya Heitor Villa-Lobos, Requerdos de la Alhambra karya Francisco Tarrega, dan Cancion y Danza no. 1 dari Antonio Ruiz-Pipo. Semua konser, selalu bermakna bagi saya, tapi saya selalu menandai, konser mana yang menjadi titik balik. Inilah salah satunya.

Akan saya ceritakan bagaimana semuanya bermula: Kwartato Prawoto, saya melabelinya sebagai seorang resitalis. Kenapa? karena ya itu, obsesinya dalam bermain gitar klasik adalah untuk resital, untuk tampil dalam sebuah konser yang diapresiasi orang banyak dalam suasana klasikal yang amat serius. Ini sungguh, menjadi sumbangsih terbesar darinya bagi perjalanan pergitaran klasik saya berikutnya. Bukan semata-mata saya ingin jadi resitalis juga, tapi kenyataan bahwa saya berkembang menjadi seorang yang sangat menginginkan tampil di depan umum. Sumbangsih Pak Prawoto yang berharga tersebut, pada suatu ketika, saya nodai.

Dalam suatu kesempatan, beberapa bulan sebelum konser ketiga tersebut, saya disuruh tampil di acara kampus bernama INTREX (International Relations Expo). Saya diminta tampil dalam format solo. Di acara yang sama, ternyata tampil juga seorang solois gitar klasik, namanya saya ingat: Ivan Budihutama. Saya tertarik ketika tahu ada yang tampil dengan format yang mirip-mirip saya. Apalagi yang saya tahu, ia memainkan lagu berjudul Cancion y Danza no. 1, yang mana saya mainkan juga. Oh, tapi sungguh saya tak menyangka, bahwa ia akan begitu memukau. Saat memainkan bagian Danza, ia membuat seisi aula seolah ikut menari. Bagian yang saya tidak memainkannya seperti itu, tapi lebih gemulai dan melodius. Tapi firasat saya kuat, bahwa yang dimainkan Ivan itulah interpretasi yang seharusnya. Apa gerangan yang diajarkan oleh Pak Prawoto? Saat itu saya mulai ragu, dan akhirnya menyelidiki, darimana Ivan mendapatkan interpretasi macam itu. Ia kemudian menyebutkan nama gurunya, yakni Pak Ridwan. Ridwan Budiutama Tjiptahardja tepatnya, yang kemudian saya kontak ia. Setelah sepakat soal waktu dan harga, akhirnya saya pun resmi les privat kepadanya, beberapa bulan saja sebelum konser Oktober tersebut.

Dari sudut pandang saya sekarang, perbuatan tersebut kurang terpuji, karena saya punya dua guru sekaligus. Bukan soal itu, tapi kenyataan bahwa Pak Prawoto tidak mengetahui saya sedang les juga dengan Pak Ridwan. Pak Ridwan? tentu saja ia tahu bahwa saya tengah menyiapkan konser bersama Pak Prawoto. Secara profesional tentu saja sah, tapi secara etis, saya tahu itu tidak, terlebih setelah saya pun sekarang punya profesi sebagai pengajar. Tapi waktu itu saya, sebagai murid yang tengah bersemangat dan terobsesi, tak terlalu ambil pusing. Dampaknya, di tangan Pak Ridwan, saya mendapat banyak koreksi perihal lagu-lagu yang akan dikonserkan. Dampaknya lagi, lagu-lagu tersebut menjadi lebih berkualitas dan berbobot.

Dampaknya lagi, terasa ketika konser berlangsung. Pak Prawoto membawakan tiga belas lagu, semuanya karya J.S. Bach. Saya tujuh lagu, kesemuanya sudah dipoles Pak Ridwan selama kurang lebih dua bulan. Lalu entah kenapa, penampilan Pak Prawoto malam itu tak seperti biasanya. Ia banyak lupa not, mengulang dari awal, dan wajahnya merautkan ketegangan yang sangat. Kemudian, diantara permainannya yang underform, saya selalu muncul sebagai selingan. Waktu itu saya berumur tujuh belas, dengan semangat dan kepercayaan diri yang tinggi, saya merasa telah merebut aura penonton yang seharusnya menjadi milik guru saya sendiri. Saya tahu itu, karena suara riuh penonton dan hangatnya apresiasi, tak pernah bisa dipungkiri. Kau akan tahu penonton memperhatikanmu dengan baik, karena mereka mengirimimu energi. Pak Prawoto? Saya mendapati pemandangan memilukan: Setiap ia naik panggung, banyak penonton yang keluar ruangan.

Konser diakhiri dengan Pak Prawoto sebagai penutup. Sisa penonton saya lupa tepatnya, tapi di bawah sepuluh orang. Itupun beberapa diantaranya dari pihak keluarga saya, yang sudah mengenal Pak Prawoto dengan baik. Saat ini, jika mengingatnya, saya malu dan sedih. Tapi saat itu, tak ada perasaan lain selain bangga dan digjaya. Seolah memang itulah perasaan seharusnya jika kau telah mempermalukan gurumu di atas panggung. Ia adalah Pak Prawoto, yang waktu itu saya lupa, bahwa dialah yang telah membimbing saya selama empat setengah tahun. Sejak itu, saya diliputi perasaan bangga tak terkira. Dan belakangan barulah saya tahu, bahwa itu perbuatan yang memalukan dan tak pantas ditiru.

Sejak saya punya perasaan malu itu, hampir di setiap konser, saya selalu mendedikasikan lagu pertama untuk Pak Prawoto. Padahal saya tahu, ia tak pernah hadir ketika saya tampil. Suudzon-nya, saya bahkan berpikir bahwa ia sedang mengutuki saya. Sebagai murid maha durhaka yang tak tahu diuntung. Dulu dibina, sekarang kemana?

Pak Prawoto, maafkan saya. Kau adalah guruku, selalu, selamanya. Semoga Allah membalas jasa-jasamu. Saya sadar sekarang, bahwa segala hal adalah guru, hanya jika kita mau merendahkan hati. Perkataan sopir angkot dan literasi Sartre adalah sama-sama memberikan pengetahuan jika kau mau merendahkan hatimu. Saya malu ketika kerendahan hati saya sering sirna, dan tak ada lagi yang saya anggap guru, sama seperti kejadian di konser itu. Saya harap Bapak mau memaafkan saya, biarpun saya tahu Bapak ingin mengutuk saya jadi batu. Tapi apa daya Bapak bukan Ibuku.