Senin, 20 Februari 2017

Penonton NBA dan Eurobasket

Sejak langganan TV Kabel, saya jadi rajin nonton saluran NBATV. Karena ya, kita tahu, sudah sejak lama saluran televisi lokal tidak lagi menayangkan pertandingan basket NBA. Saya memang bukan penggemar basket sejati, tapi keberadaan NBATV ini lumayan menghibur (ketika saluran lain sedang tidak seru). Berbeda dengan NBA yang pertandingannya umumnya dilakukan di pagi hari waktu Indonesia, ada juga Eurobasket yang ditayangkan pada saat dini hari (biasanya di saluran Eurosports). Jika bicara kualitas permainan, tentu saja NBA lebih menyenangkan untuk ditonton. Selain karena pemainnya lebih berkualitas (tanpa merendahkan kualitas pemain Eropa), NBA juga sukses mengemas kompetisinya menjadi panggung hiburan besar -alih-alih tayangan olahraga biasa-.

Meski demikian, ada hal menarik yang dapat diperhatikan dari perbedaan antara dua kompetisi ini, yaitu sikap penonton dalam mendukung tim kesayangannya. Penonton NBA tentu saja ramai. Mereka kompak meneriakkan "Defense! Defense!" setiap timnya dalam posisi bertahan; mereka rajin mengganggu lawan yang tengah melakukan free throw dengan beragam cara yang kreatif (termasuk foto Eva Longoria untuk mengganggu Tony Parker); mereka juga kompak berdiri jika pertandingan sedang dalam situasi yang menegangkan; hal tersebut belum termasuk atribut dalam bentuk kaos, syal, topi, dan sebagainya. Penonton Eurobasket juga ramai, tapi dengan cara yang berbeda. Mereka biasanya memasang bendera besar yang tidak cukup dipegang satu orang dan meneriakkan yel-yel tanpa henti sepanjang pertandingan. Berbeda dengan para penonton NBA yang meski ramai, tapi tetap menganggap bahwa tontonan di depannya adalah tontonan (sehingga meski menegangkan, mereka tetap tak lupa melahap popcorn dan memeluk kekasihnya di sampingnya), penonton Eurobasket lebih tampak menghayati dan melihat bahwa lapangan pertandingan adalah penentu segala nasib dalam kehidupannya.

Bertolt Brecht (1896 - 1956), seorang pemain, penulis skenario, dan sutradara teater asal Jerman, mengatakan bahwa teater dramatis -yang dibesarkan oleh Constantin Stanislavsky- bisa jadi terlalu membawa penonton pada sikap-sikap ilusif dan tidak realistis. Harusnya, penonton tak perlu hanyut ke dalam pertunjukkan. Mereka seyogianya bersikap bebas dan mampu mengambil jarak dari apa yang ditampilkan, sehingga menonton teater dapat menjadi sangat santai sebagaimana halnya menonton pertandingan tinju. Itulah mungkin yang dilakukan penonton NBA, yang menyaksikan pertandingan dengan santai, tanpa perlu mengagung-agungkan panggung sebagai sesuatu yang mesti dihayati: "Bolehlah tim kita kalah hari ini, tapi toh esok dunia tidak serta merta runtuh. Ini semua hanyalah hiburan belaka, tidak punya koneksi langsung terhadap kehidupan kita."

Apakah dengan demikian, serta merta pertunjukkan fanatisme dari para penonton Eurobasket adalah keliru? Tidak juga. Memang ada orang yang senang melihat panggung dan segala latarnya, sebagai sesuatu yang menentukan hidup-matinya. Ia dengan sangat bersemangat meneriakkan yel-yel tanpa henti karena panggung tersebut tidak lain adalah juga proyeksi dari kehidupannya (Jika tim basket Barcelona kalah, maka ia merasa bahwa harga diri Catalunya-nya juga turut dinistakan). Pada akhirnya, kita bebas memilih: Mau menjalani hidup seperti penonton NBA, atau penonton Eurobasket?   


Selasa, 13 Desember 2016

Trik Meloloskan Diri dari Dilema


Dalam hidup sehari-hari, kita sering mengalami sebuah dilema. Apa itu dilema? Dilema kira-kira adalah dua pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi yang tidak enak (jika pilihan itu berjumlah tiga, maka menjadi trilema -tapi itu tidak akan dibahas sekarang ini-). Contoh dilema misalnya buah simalakama: Jika dimakan, Bapak yang mati; jika tidak dimakan, Ibu yang mati; maka itu, dimakan atau tidak dimakan, kita akan mengalami kehilangan.

Dalam ilmu logika, dilema sering diibaratkan sebagai horns atau tanduk. Dilema bukanlah sesuatu yang mutlak membingungkan dan merugikan. Sebelum memulai membahas trik meloloskan diri dari dilema, mari membuat contohnya terlebih dahulu:

Dilema 1 : Jika Ahok tidak dihukum, maka umat Islam akan marah
Dilema 2 : Jika Ahok dihukum, maka artinya hukum di Indonesia bisa dipengaruhi oleh orang banyak
Kesimpulannya: Ahok dihukum atau tidak dihukum, keduanya akan menimbulkan implikasi negatif pada negeri ini

Demikian contohnya, dan ini tiga trik untuk lolos dari dilema tersebut:

Going between the horns
Going between the horns artinya tidak memilih diantara kedua pilihan, dan mencoba untuk menyusup di pilihan ketiga (walaupun hal ini berimplikasi pada fallacy kemungkinan ketiga). 
Misalnya: 
1. Ahok dihukum atau tidak, publik tidak pernah tahu. Kasusnya akhirnya dibiarkan mengambang begitu saja. 
2. Ahok diputuskan untuk dihukum, padahal kemudian dibebaskan diam-diam. 
3. Ahok melakukan dialog intensif dengan umat Islam sehingga tidak ada lagi kemarahan pada Ahok.

Grasping it by the horns
Grasping by the horns artinya mengambil salah satu premis yang dikira paling "lemah", untuk dibedah konsekuensinya. Misalnya kita ambil dilema 1: Jika Ahok tidak dihukum, maka umat Islam akan marah. Mari cek konsekuensinya: Umat Islam akan marah. Memang benar begitu? Umat Islam yang mana? Apakah seluruh umat Islam? Tidakkah ada juga umat Islam yang mendukung Ahok? Artinya, konsekuensinya bukan berarti salah, tapi diragukan. 

Rebuttal
Rebuttal berarti mengubah konsekuensi-konsekuensi dalam dilema, yang tadinya membingungkan untuk dipilih, menjadi punya nilai positif. Sehingga memilih manapun, dianggap sama-sama menguntungkan. 
Misalnya:
Dilema 1: Jika Ahok dihukum, maka umat Islam akan senang
Dilema 2: Jika Ahok tidak dihukum, maka orang-orang Tionghoa akan senang
Kesimpulan: Ahok dihukum ataupun tidak dihukum, yang penting bisa menyenangkan pihak tertentu

Dengan demikian, semoga kita bisa berpikir bahwa dilema bukan akhir dari segalanya. Selalu ada kemungkinan ketiga, selalu ada premis yang konsekuensinya lebih lemah, dan selalu ada cara pandang positif agar dilema menjadi pilihan-pilihan yang sama baiknya. 

Sabtu, 19 November 2016

Betawi dalam Sarnadi Adam

"Kalau orang Betawi itu.."

Entah berapa kali saya mendengar Pak Sarnadi Adam memulai kalimat dengan kata-kata itu. Meski cuma enam hari berjumpa dalam rangka pameran Asian Silk Link Art Exhibition di Guangzhou, Tiongkok, Pak Sarnadi berhasil membuat saya tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang Betawi. Siapakah Pak Sarnadi? Cukup ketik di Google nama "Sarnadi Adam" maka akan ada 3200-an entri terkait nama ini dan hampir semuanya mengaitkan beliau dengan ke-Betawi-an. Secara spesifik bahkan disebutkan bahwa Sarnadi Adam adalah seorang "pelukis Betawi", "maestro seni lukis Betawi", hingga "pelukis Betawi yang go international". 

Tapi tentu, tiada yang lebih menguntungkan daripada punya kesempatan berbincang langsung dengan Pak Sarnadi selama enam hari -daripada sekadar baca-baca tentangnya di internet-. Saya jadi tahu, bahwa Pak Sarnadi pernah berambut gondrong; saya jadi tahu, bahwa setiap dua tahun sekali, Pak Sarnadi berpameran di Belanda yang membuat orang-orang Belanda yang sudah sepuh, merasa ingat pada Betawi ketika mereka pernah tinggal di sana masa-masa tempo doeloe; saya jadi tahu, bahwa Pak Sarnadi sangat dekat dengan tokoh-tokoh Betawi yang juga diketahui banyak orang, seperti seniman Benyamin, Rano Karno, Mandra, hingga politisi seperti Fauzi Bowo, Haji Lulung dan Sylviana Murni; saya jadi tahu, bahwa dari menjual lukisanlah, Pak Sarnadi bisa membeli mobil dan naik haji; saya jadi tahu, bahwa Pak Sarnadi sudah pernah berpameran di New York hingga ke Swedia; dan lain-lain, dan lain-lain. 

Meski demikian, hal menarik dari Pak Sarnadi adalah itu tadi: Kebanggaannya yang terus digaungkan atas Betawi dan orang-orangnya. Ketika ada obrolan yang ramai membicarakan tentang berkurangnya sopan santun generasi muda hari ini pada orangtua, Pak Sarnadi selalu menyela cepat, "Tidak, kalau orang Betawi masih mengerti sopan santun pada orang tua. Kami selalu diajarkan untuk cium tangan pada orang tua." Ketika ada obrolan yang ramai membicarakan tentang stereotip orang Betawi dalam film Si Doel Anak Sekolahan yang salah satunya direpresentasikan oleh Mandra (penuh kepolosan, bahkan kekonyolan), Pak Sarnadi juga menukas, "Tidak, kalau orang Betawi itu sebenarnya pintar-pintar. Banyak diantaranya juga jadi dokter. Mungkin memang ada, beberapa gelintir orang Betawi yang malas, itu karena hidupnya keenakan, sudah diwariskan rumah dari orangtuanya, sehingga dia tinggal kontrak-kontrakkan dan menerima uang sewa saja. Tapi sekarang lihat, generasi muda Betawi sudah banyak yang tangguh."

Persoalan apakah pernyataan-pernyataan Pak Sarnadi itu merupakan fakta objektif atau hanya sebatas "pembelaan kultural", sebenarnya tidak menjadi terlalu penting. Bahkan saya berpikir, kalaupun ini cuma pembelaan kultural, lantas kenapa? Bukankah pada akhirnya kita harus melakukan pembelaan kultural untuk meyakinkan orang lain, dan juga diri kita sendiri, sebagai bagian dari pengembaraan identitas yang tiada henti? Kita semua disibukkan, dalam percakapan sehari-hari, oleh pembelaan-pembelaan kebudayaan yang tiada putus antar satu manusia dan manusia yang lain. 

Saya tentu saja sekarang jadi punya pandangan lain tentang Betawi berkat pembelaan kultural Pak Sarnadi. Pembelaan tersebut tidak hanya dalam kata-kata, tapi juga didukung oleh karya-karya beliau yang sangat kuat dan jujur melukiskan fenomena keseharian dalam kebudayaan Betawi, seperti penari cokek, ondel-ondel, pernikahan orang Betawi, hingga suasana lebaran di Betawi. Sekarang jika saya mengenang percakapan-percakapan dengan Pak Sarnadi, saya akan membayangkan Betawi dengan senyum yang mengembang. 



Senin, 03 Oktober 2016

Jalan Sunyi Pegiat Literasi

Satu lagi toko buku bagus tutup. Kemarin Reading Lights, sekarang Lawang Buku. Anehnya, keduanya adalah toko buku yang tidak sekadar toko: keduanya mempunyai semangat memajukan literasi secara umum. Reading Lights kita tahu, mereka pernah secara rutin memfasilitasi kelompok yang dinamakan dengan writer's circle. Mereka berkumpul setiap minggu untuk menulis dan kemudian membacakan hasil tulisannya pada peserta yang lain untuk diapresiasi. Walau saya baru datang ke komunitas ini dua kali dan itupun sekitar lima tahun silam, tapi kenangan atasnya begitu membekas. 

Semangat Lawang Buku dalam memajukan literasi tampil dalam diri individu, sang pemilik kios, Kang Deni. Kita bisa datang ke Lawang Buku (yang letaknya di Baltos) dan mendapat ragam informasi mengenai buku yang dipajang. Kang Deni pernah berbagi tips, "Penjual buku yang baik harus mengerti produknya. Ia juga harus rajin membaca." Dapat kita bayangkan: Lawang Buku tidak menjual buku-buku biasa. Sebagai contoh, saya pernah membeli majalah Uni Soviet yang terbit di Indonesia pada sekitar tahun 1950an dan juga buku karya Nikolai Chernishevsky ejaan lama yang diterbitkan sekitar tahun 1960an. Itu belum termasuk buku-buku bertema kebangsaan, yang sering disusupkan oleh Kang Deni, ke diskusi Asian African Reading Club yang diadakan setiap Rabu di Museum Konperensi Asia Afrika. Jadi dapat dibayangkan, kita bisa datang ke Lawang Buku, melihat-lihat, dan ngobrol dengan Kang Deni tentang hal ikhwal itu semua. Persoalan jadi beli atau tidak, toh Kang Deni akan tetap melayani pelanggannya dengan obrolan penuh wawasan. Karena mungkin, baginya, yang penting adalah semangat literasi yang harus terus diperjuangkan. 

Kabar itupun akhirnya saya baca di Facebook. Kabar bahwa Lawang Buku hanya akan beroperasi via daring dan sesekali ikut pameran buku. Saya tulis ini tanpa menglarifikasi Kang Deni karena tulisan ini saya buat jam dua pagi sambil sedih, marah, dan kecewa. Sebagaimanapun saya mencoba tidur, saya tetap galau karena macam-macam pertanyaan: Mengapa mereka, yang punya semangat memajukan literasi, yang akhirnya harus tutup kios? Mengapa bukan mereka, yang menganggap buku sebagai komoditi belaka, tak peduli kedalaman, yang penting sampul bagus -kita beri plastik agar tangan-tangan kotor pembaca yang coba-coba baca tanpa berniat beli tidak menodainya-, yang tersingkir? 

Inilah yang membuat Pak Awal Uzhara, ketika kembali dari Rusia setelah lima puluh tahun tidak bisa pulang atas alasan politik, langsung jatuh sakit ketika melihat mahasiswa-mahasiswa Indonesia di tempat yang beliau ajar. Katanya, "Mengapa mereka malas sekali membaca? Di Rusia, anak-anak SMP sudah terbiasa membaca buku-buku Tolstoy dan Chekov. Sekarang apa yang mau saya ajarkan kalau mereka tidak pernah membaca?" Hal sama juga saya rasakan ketika berhadapan dengan mahasiswa di kelas. Pertanyaan, "Kamu membaca buku apa?" Adalah jenis pertanyaan yang nampaknya sulit. Hal yang lebih elementer yang bisa kita tanyakan adalah, "Apakah kamu membaca buku?" 

Memang saya tidak punya data, tentang apakah secara umum literasi di Indonesia ini meningkat atau tidak. Tapi satu hal yang dapat ditarik kesimpulannya berdasarkan kejadian di atas, adalah kenyataan bahwa tempat bernaung para pegiat literasi, lambat laun mundur dari peradaban. Mungkin ini ada kaitannya, dengan paperless society yang diidam-idamkan masyarakat praktis-ogah ribet-yang ingin memampatkan segala sesuatunya dalam tablet. Bapak saya dari dulu sudah sering meramalkan dengan nada suara bergetar karena membayangkan betapa sedihnya jika itu benar: suatu saat, buku-buku hanya akan dapat kita temukan di museum. 

Memang iya, buku-buku yang dijual Lawang Buku pada akhirnya beralih ke daring. "Ah, cuma ganti medium saja. Tidak usah dramatis," mungkin begitu hibur seseorang. Tapi pastilah tutup kios itu punya kaitan juga dengan biaya sewa yang mencekik, disertai pembeli yang tidak-sebanyak-toko-buku-besar-yang-memuat-buku-buku-motivasi. Dan juga, bagaimanapun, meski buku tetap bisa dihadirkan di dunia maya, tetap ada hal yang hilang: obrolan penuh wawasan dari Kang Deni, yang dari sorot matanya, dapat kita ketahui bahwa ia tidak hanya sekadar jualan untuk kantongnya sendiri. Ia jualan untuk kemajuan peradaban. 

Foto: 
1. Artikel saya di Pikiran Rakyat sekitar setahun lalu tentang Komunitas Kebangsaan, yang salah satunya bercerita tentang Lawang Buku sebagai toko buku yang rajin memajang buku-buku bertema nasionalisme. 
2. Karya instalasi dari Jorge Mendez Blake berjudul The Castle. Menunjukkan bagaimana sebuah buku dapat memberi perubahan bagi dinding yang tebal -disebut The Castle karena buku yang digunakan adalah buku Franz Kafka dengan judul itu-.





Senin, 12 September 2016

Malam Takbiran dan Tuhan yang Ada Dalam Kenangan

Mendengar takbir bergema di malam Idul Adha, harus diakui, dalam diri saya timbul semacam rasa haru. Inikah yang dinamakan iman? Saya tidak mau menyimpulkan terlalu cepat. Tapi ada satu hal yang saya pikir masuk akal: rasa haru akan malam takbiran, adalah rasa haru akan masa kecil. Ketika malam takbiran, itulah momen berkumpul bersama keluarga, bersiap menggunakan baju baru di keesokan harinya, dan memperoleh uang dari saudara-saudara untuk ditabung kemudian dibelikan kaset SEGA.  

Namun saya tiba-tiba teringat novel Albert Camus berjudul Orang Asing yang ditulisnya tahun 1942. Novel ini berkisah tentang seorang bernama Meursault yang hidup dengan begitu santai seolah tidak takut dengan konsekuensi apapun: tidak menangis di pemakaman ibunya, mau menikah dengan pacarnya karena pacarnya yang memintanya demikian (ia sendiri tidak peduli dengan rasa cinta), membunuh orang Arab, diadili dan tidak membela diri, divonis hukuman mati dan bahkan menolak untuk bertaubat di saat akhir. Pertanyaan besarnya: Apakah ia sedemikian bedebah sehingga sangat tidak peduli pada sekeliling dan termasuk pada dirinya sendiri? Lalu apakah kebedebahan itu terjadi karena ia notabene tidak menyandarkan dirinya pada agama, Tuhan, dan jenis spiritualitas apapun? 

Pertama, Camus hendak mengajarkan pada kita untuk hidup dengan berani (dalam bahasa Camus: hidup dengan menerima seluruh absurditasnya). Satu-satunya yang membatasi tindakan kita, adalah konsekuensi dari tindakan itu sendiri, dan konsekuensi adalah hal yang tidak boleh ditolak. Jadi, kalau kamu sudah membunuh dan divonis hukuman mati, maka hadapilah tanpa rasa takut. Jangan sampai jadi orang yang membunuh tapi kemudian berkelit sedemikian rupa sehingga divonis tidak bersalah dan kamu gembira karenanya. Jadi, Meursault bukan sedang menjadi bedebah. Justru ia, dalam kacamata Camus, adalah manusia absurd yang sempurna karena toh, sebagaimanapun kita hidup baik dan berbudi, pada akhirnya menjadi sia-sia di hadapan kematian. Jadi kita bebas melakukan apapun, selama konsekuensinya kita hadapi dengan gagah berani.

Kedua, Camus menolak segala sandaran pada agama maupun Tuhan. Ia menyebut hal seperti itu sebagai sikap menyerah terhadap hidup (ia samakan dengan bunuh diri). Bersandar pada agama maupun Tuhan, adalah bunuh diri eksistensial yang memalukan. Jadi, jikapun manusia perlu "sesuatu" untuk mengisi kekosongan batinnya, Camus menawarkan jalan: spiritualitasmu, berasal dari kenangan akan masa lalu. Lewat kenangan akan masa lalu, batin kita terisi, tersenyum pada segala macam memori, dan menjadi punya semangat untuk melanjutkan hidup. Demikianlah ketika Meursault menjelang ajalnya, ia tiba-tiba teringat sesuatu, sebagaimana dilukiskan oleh Camus di bagian akhir Orang Asing: Suara-suara dari perdusunan naik sampai kepadaku. Bau-bau malam, tanah, dan garam, menyegarkan keningku kembali. Kedamaian yang menakjubkan dari musim panas yang tertidur itu merasuk ke dalam diriku seperti air pasang. Untuk pertama kali setelah sekian lama, aku memikirkan Ibu. 

Maka itulah pada malam takbiran, tidak jarang saya menitikkan airmata, meski tidak serta merta hal tersebut terkait dengan Sang Khalik yang nun jauh di sana. Atau lebih adil jika saya mengatakan: Mungkin Tuhan itu, bukan sesuatu yang kita temui di masa yang akan datang, melainkan sesuatu yang tertanam di benak kita, dari waktu ke waktu, menjelma menjadi kenangan yang indah.  

Selasa, 09 Agustus 2016

Bahkan Pelacur Pun Enggan

Pada suatu pertemuan di Facebook, saya berbincang dengan "Sang Maulana" Bambang Q-Anees. Saya, seperti biasa, bertanya hal-hal yang sangat mendasar. B-Q (demikian saya panggil dia), seperti biasa, menjawabnya dengan sangat rumit. Pertanyaan saya sederhana saja, "Bagaimana agar saya dapat menjadi seorang dosen yang baik?" B-Q menjawabnya dengan mengutip satu cerita dalam novel Milan Kundera yang berjudul Book of Laughter and Forgetting, tentang seorang pelacur yang akan melayani tamunya. Ketika tahu bahwa tamu itu adalah seorang intelektual, pelacur itu dipenuhi rasa enggan. Mengapa? Ia tahu, seorang intelektual adalah seorang yang amat membosankan di atas ranjang. Cerita itu ditutup B-Q sampai di sana. Saya tertegun karena merasa tidak mendapat jawaban apa-apa. 

Obrolan tersebut berlangsung sekitar dua setengah tahun silam. Sekarang, setelah saya merasakan dua setengah tahun menjadi dosen, kata-kata tersebut lambat laun saya pahami. Saya sadar bahwa menjadi seorang dosen ternyata mengubah seluruh laku dan gerak gerik tubuh saya. Ini tentu karena keharusan (atau mungkin juga dogma), bahwa sudah seharusnya dosen jaim, sudah seharusnya dosen memberi contoh apa "yang benar", sudah seharusnya dosen menjaga sikap dan perbuatan agar kesan intelektual selalu terpancar, terutama di hadapan mahasiswa. Gestur tersebut lama kelamaan saya kuasai. Saya bisa sangat berbeda perilaku antara di kampus dengan di luar kampus. Di luar kampus saya bebas saja, senang menggunakan celana jeans (atau bahkan celana pendek) dan kaos, bercanda sekenanya, dan nongkrong dengan sikap yang tidak dibuat-buat. Di kampus, saya mengenakan kemeja rapi (kadang dimasukkan ke celana), menggunakan sepatu resmi, kadang membawa buku (padahal tidak saya baca), dan berjalan dengan gaya yang aneh sekali (sedikit membungkuk agar terlihat bahwa saya tengah memikirkan sesuatu yang berat. Sedemikian beratnya hingga membuat kepala saya tidak sanggup menopangnya, dan akhirnya saya harus berjalan membungkuk). 

Apa hubungan antara kata-kata B-Q yang mengutip Milan Kundera, dengan apa yang saya paparkan di paragraf kedua? Mungkin kira-kira begini: Seorang intelektual (misalnya: dosen) berkutat dengan hari-hari yang akademis. Gesturnya berubah kaku, cara pandangnya berubah teoritik dan kadang apa-apa harus diabstraksi, tujuan hidupnya menjadi sangat jauh ke depan, seolah-olah dunia akan terus mengarah pada pencerahan dan manusia semakin lama akan hidup pada kondisi yang paripurna. Tapi pelacur dalam kisah Kundera mengingatkan saya untuk tidak melupakan cara seks yang baik. Artinya: Menikmati hidup, dengan gestur yang instingtif, dengan cara pandang yang praktis, dan tujuan hidup yang ringan-ringan saja: carpe diem. Hiduplah untuk hari ini. 

Epilog: Kemarin saya diminta mendongeng untuk anak-anak di Taman Hutan Raya Juanda. Saya menyanggupi, walau belum pernah secara khusus mendongeng untuk publik. Saya berlatih sungguh-sungguh, dan juga memikirkannya hampir di setiap kesempatan. Tapi ketika di atas panggung, tubuh dosen saya ternyata dominan. Saya dipenuhi kekakuan yang menyebalkan. Saya seperti menghadapi para mahasiswa yang lewat tatapan matanya sama sekali tidak memberi ruang bagi dosen untuk berbuat "dosa". Saya seharusnya melepas seluruh urat malu hingga tidak tersisa. Tapi apa daya, tubuh saya, yang sudah terbiasa dengan ruang akademik yang membosankan, menahan jiwa untuk tetap pada dudukannya. 

Kamis, 14 Juli 2016

Merawat

Sekitar tiga minggu yang lalu, saya dihibahi kucing oleh kawan di tempat kerja. Kucing tersebut, yang merupakan campuran Persia dan entah apa (saya tidak ingat namanya), oleh saya diberi nama Simone de Beauvoir dan sudah disetujui oleh istri dan anak (serta sang pemilik sebelumnya). Mon -demikian panggilannya- tampak stres ketika untuk pertama kalinya berada di mobil menuju rumah saya. Wajar, ia berpindah tuan. Segala sesuatunya menjadi hal yang kembali baru untuk Mon. Sesampainya di rumah, saya lupa. Saya kira ia kucing yang tenang dan santai. Tahu-tahu, karena stres, ia lari terbirit-birit dan kabur entah kemana. Untungnya, malamnya, ia tiba-tiba kembali dengan badan penuh air got. Ternyata Mon tahu jalan pulang, meski baru pertama kali dia berpindah kediaman. 

Singkat cerita: Kami sekeluarga memelihara Mon dengan sukacita. Ia memberi warna baru bagi rumah kami. Saya tiba-tiba harus mengunjungi berkali-kali tempat yang tidak pernah saya kenal di sebelum-sebelumnya: Pet Shop. Saya mencari informasi tentang makanan, tempat buang air, kandang, hingga hal-ikhwal perkawinan baik lewat internet maupun lewat teman yang lebih berpengalaman. Anak saya begitu tergila-gila pada Mon. Saking antusiasnya, ia sering berteriak sehingga Mon lari terbirit-birit. Awalnya saya begitu menderita jika tiba waktunya membuang hasil hajat Mon. Tapi lama-lama saya merasa itu sebagai sebuah kewajiban yang membahagiakan. 

Lalu di suatu hari, Mon kabur. Ceritanya sederhana: Ia kaget oleh teriakan anak saya, dan kebetulan celah yang biasanya tidak terbuka, sedang terbuka. Sehingga Mon kabur begitu saja, lenyap tanpa rimba. Lonceng yang sudah kami pasang ternyata tidak terdengar sedikitpun bebunyiannya. Saya mencari kesana kemari. Malam-malam pun saya tetap menyusuri komplek dengan senter. Foto Mon saya bagikan di grup komplek. Semalaman itu saya tidak bisa tidur. Pun anak saya menangis tersedu-sedu karena kehilangan yang mengejutkan ini. 

Saya merasakan kehampaan yang sangat. Bukan oleh kelucuan si kucing ternyata. Tapi oleh sebab bahwa saya kehilangan suatu rutinitas: merawat. Saya begitu rindu memberinya makan, membuang kotorannya, dan melepaskannya dari kandang ketika semua celah sudah (dirasa) tertutup. Saya juga rindu pergi ke Pet Shop dan bertanya pada penjaga tentang apa saja terkait kucing sampai dia bosan. Agaknya sudah  menjadi fitrah manusia bahwa kita harus merawat sesuatu. Seperti kata Anton Chekhov yang dituturkan ulang oleh Pak Awal Uzhara, "Hidup manusia itu sia-sia kecuali jika ia melakukan satu dari tiga hal ini: Merawat pohon kayu, mengurus rumah, atau membesarkan anak." Tentu Chekhov tidak harfiah. Ia ingin memberikan satu inti: Bahwa manusia pada dasarnya senang bersusah-susah untuk sesuatu yang ia percaya akan tumbuh dan berkembang. Manusia senang melihat pertumbuhan. Manusia senang melihat proses. Padahal ia tahu bahwa di ujung perkembangan, akan ada akhir yang buruk: Entah perpisahan, entah kematian. Itu sebabnya, kita perlu bingung jika surga itu katanya apa-apa tinggal minta: Akankah manusia bahagia di dalamnya?

Epilog: Mon akhirnya pulang di malam berikutnya