Sabtu, 19 November 2016

Betawi dalam Sarnadi Adam

"Kalau orang Betawi itu.."

Entah berapa kali saya mendengar Pak Sarnadi Adam memulai kalimat dengan kata-kata itu. Meski cuma enam hari berjumpa dalam rangka pameran Asian Silk Link Art Exhibition di Guangzhou, Tiongkok, Pak Sarnadi berhasil membuat saya tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang Betawi. Siapakah Pak Sarnadi? Cukup ketik di Google nama "Sarnadi Adam" maka akan ada 3200-an entri terkait nama ini dan hampir semuanya mengaitkan beliau dengan ke-Betawi-an. Secara spesifik bahkan disebutkan bahwa Sarnadi Adam adalah seorang "pelukis Betawi", "maestro seni lukis Betawi", hingga "pelukis Betawi yang go international". 

Tapi tentu, tiada yang lebih menguntungkan daripada punya kesempatan berbincang langsung dengan Pak Sarnadi selama enam hari -daripada sekadar baca-baca tentangnya di internet-. Saya jadi tahu, bahwa Pak Sarnadi pernah berambut gondrong; saya jadi tahu, bahwa setiap dua tahun sekali, Pak Sarnadi berpameran di Belanda yang membuat orang-orang Belanda yang sudah sepuh, merasa ingat pada Betawi ketika mereka pernah tinggal di sana masa-masa tempo doeloe; saya jadi tahu, bahwa Pak Sarnadi sangat dekat dengan tokoh-tokoh Betawi yang juga diketahui banyak orang, seperti seniman Benyamin, Rano Karno, Mandra, hingga politisi seperti Fauzi Bowo, Haji Lulung dan Sylviana Murni; saya jadi tahu, bahwa dari menjual lukisanlah, Pak Sarnadi bisa membeli mobil dan naik haji; saya jadi tahu, bahwa Pak Sarnadi sudah pernah berpameran di New York hingga ke Swedia; dan lain-lain, dan lain-lain. 

Meski demikian, hal menarik dari Pak Sarnadi adalah itu tadi: Kebanggaannya yang terus digaungkan atas Betawi dan orang-orangnya. Ketika ada obrolan yang ramai membicarakan tentang berkurangnya sopan santun generasi muda hari ini pada orangtua, Pak Sarnadi selalu menyela cepat, "Tidak, kalau orang Betawi masih mengerti sopan santun pada orang tua. Kami selalu diajarkan untuk cium tangan pada orang tua." Ketika ada obrolan yang ramai membicarakan tentang stereotip orang Betawi dalam film Si Doel Anak Sekolahan yang salah satunya direpresentasikan oleh Mandra (penuh kepolosan, bahkan kekonyolan), Pak Sarnadi juga menukas, "Tidak, kalau orang Betawi itu sebenarnya pintar-pintar. Banyak diantaranya juga jadi dokter. Mungkin memang ada, beberapa gelintir orang Betawi yang malas, itu karena hidupnya keenakan, sudah diwariskan rumah dari orangtuanya, sehingga dia tinggal kontrak-kontrakkan dan menerima uang sewa saja. Tapi sekarang lihat, generasi muda Betawi sudah banyak yang tangguh."

Persoalan apakah pernyataan-pernyataan Pak Sarnadi itu merupakan fakta objektif atau hanya sebatas "pembelaan kultural", sebenarnya tidak menjadi terlalu penting. Bahkan saya berpikir, kalaupun ini cuma pembelaan kultural, lantas kenapa? Bukankah pada akhirnya kita harus melakukan pembelaan kultural untuk meyakinkan orang lain, dan juga diri kita sendiri, sebagai bagian dari pengembaraan identitas yang tiada henti? Kita semua disibukkan, dalam percakapan sehari-hari, oleh pembelaan-pembelaan kebudayaan yang tiada putus antar satu manusia dan manusia yang lain. 

Saya tentu saja sekarang jadi punya pandangan lain tentang Betawi berkat pembelaan kultural Pak Sarnadi. Pembelaan tersebut tidak hanya dalam kata-kata, tapi juga didukung oleh karya-karya beliau yang sangat kuat dan jujur melukiskan fenomena keseharian dalam kebudayaan Betawi, seperti penari cokek, ondel-ondel, pernikahan orang Betawi, hingga suasana lebaran di Betawi. Sekarang jika saya mengenang percakapan-percakapan dengan Pak Sarnadi, saya akan membayangkan Betawi dengan senyum yang mengembang. 



Senin, 03 Oktober 2016

Jalan Sunyi Pegiat Literasi

Satu lagi toko buku bagus tutup. Kemarin Reading Lights, sekarang Lawang Buku. Anehnya, keduanya adalah toko buku yang tidak sekadar toko: keduanya mempunyai semangat memajukan literasi secara umum. Reading Lights kita tahu, mereka pernah secara rutin memfasilitasi kelompok yang dinamakan dengan writer's circle. Mereka berkumpul setiap minggu untuk menulis dan kemudian membacakan hasil tulisannya pada peserta yang lain untuk diapresiasi. Walau saya baru datang ke komunitas ini dua kali dan itupun sekitar lima tahun silam, tapi kenangan atasnya begitu membekas. 

Semangat Lawang Buku dalam memajukan literasi tampil dalam diri individu, sang pemilik kios, Kang Deni. Kita bisa datang ke Lawang Buku (yang letaknya di Baltos) dan mendapat ragam informasi mengenai buku yang dipajang. Kang Deni pernah berbagi tips, "Penjual buku yang baik harus mengerti produknya. Ia juga harus rajin membaca." Dapat kita bayangkan: Lawang Buku tidak menjual buku-buku biasa. Sebagai contoh, saya pernah membeli majalah Uni Soviet yang terbit di Indonesia pada sekitar tahun 1950an dan juga buku karya Nikolai Chernishevsky ejaan lama yang diterbitkan sekitar tahun 1960an. Itu belum termasuk buku-buku bertema kebangsaan, yang sering disusupkan oleh Kang Deni, ke diskusi Asian African Reading Club yang diadakan setiap Rabu di Museum Konperensi Asia Afrika. Jadi dapat dibayangkan, kita bisa datang ke Lawang Buku, melihat-lihat, dan ngobrol dengan Kang Deni tentang hal ikhwal itu semua. Persoalan jadi beli atau tidak, toh Kang Deni akan tetap melayani pelanggannya dengan obrolan penuh wawasan. Karena mungkin, baginya, yang penting adalah semangat literasi yang harus terus diperjuangkan. 

Kabar itupun akhirnya saya baca di Facebook. Kabar bahwa Lawang Buku hanya akan beroperasi via daring dan sesekali ikut pameran buku. Saya tulis ini tanpa menglarifikasi Kang Deni karena tulisan ini saya buat jam dua pagi sambil sedih, marah, dan kecewa. Sebagaimanapun saya mencoba tidur, saya tetap galau karena macam-macam pertanyaan: Mengapa mereka, yang punya semangat memajukan literasi, yang akhirnya harus tutup kios? Mengapa bukan mereka, yang menganggap buku sebagai komoditi belaka, tak peduli kedalaman, yang penting sampul bagus -kita beri plastik agar tangan-tangan kotor pembaca yang coba-coba baca tanpa berniat beli tidak menodainya-, yang tersingkir? 

Inilah yang membuat Pak Awal Uzhara, ketika kembali dari Rusia setelah lima puluh tahun tidak bisa pulang atas alasan politik, langsung jatuh sakit ketika melihat mahasiswa-mahasiswa Indonesia di tempat yang beliau ajar. Katanya, "Mengapa mereka malas sekali membaca? Di Rusia, anak-anak SMP sudah terbiasa membaca buku-buku Tolstoy dan Chekov. Sekarang apa yang mau saya ajarkan kalau mereka tidak pernah membaca?" Hal sama juga saya rasakan ketika berhadapan dengan mahasiswa di kelas. Pertanyaan, "Kamu membaca buku apa?" Adalah jenis pertanyaan yang nampaknya sulit. Hal yang lebih elementer yang bisa kita tanyakan adalah, "Apakah kamu membaca buku?" 

Memang saya tidak punya data, tentang apakah secara umum literasi di Indonesia ini meningkat atau tidak. Tapi satu hal yang dapat ditarik kesimpulannya berdasarkan kejadian di atas, adalah kenyataan bahwa tempat bernaung para pegiat literasi, lambat laun mundur dari peradaban. Mungkin ini ada kaitannya, dengan paperless society yang diidam-idamkan masyarakat praktis-ogah ribet-yang ingin memampatkan segala sesuatunya dalam tablet. Bapak saya dari dulu sudah sering meramalkan dengan nada suara bergetar karena membayangkan betapa sedihnya jika itu benar: suatu saat, buku-buku hanya akan dapat kita temukan di museum. 

Memang iya, buku-buku yang dijual Lawang Buku pada akhirnya beralih ke daring. "Ah, cuma ganti medium saja. Tidak usah dramatis," mungkin begitu hibur seseorang. Tapi pastilah tutup kios itu punya kaitan juga dengan biaya sewa yang mencekik, disertai pembeli yang tidak-sebanyak-toko-buku-besar-yang-memuat-buku-buku-motivasi. Dan juga, bagaimanapun, meski buku tetap bisa dihadirkan di dunia maya, tetap ada hal yang hilang: obrolan penuh wawasan dari Kang Deni, yang dari sorot matanya, dapat kita ketahui bahwa ia tidak hanya sekadar jualan untuk kantongnya sendiri. Ia jualan untuk kemajuan peradaban. 

Foto: 
1. Artikel saya di Pikiran Rakyat sekitar setahun lalu tentang Komunitas Kebangsaan, yang salah satunya bercerita tentang Lawang Buku sebagai toko buku yang rajin memajang buku-buku bertema nasionalisme. 
2. Karya instalasi dari Jorge Mendez Blake berjudul The Castle. Menunjukkan bagaimana sebuah buku dapat memberi perubahan bagi dinding yang tebal -disebut The Castle karena buku yang digunakan adalah buku Franz Kafka dengan judul itu-.





Senin, 12 September 2016

Malam Takbiran dan Tuhan yang Ada Dalam Kenangan

Mendengar takbir bergema di malam Idul Adha, harus diakui, dalam diri saya timbul semacam rasa haru. Inikah yang dinamakan iman? Saya tidak mau menyimpulkan terlalu cepat. Tapi ada satu hal yang saya pikir masuk akal: rasa haru akan malam takbiran, adalah rasa haru akan masa kecil. Ketika malam takbiran, itulah momen berkumpul bersama keluarga, bersiap menggunakan baju baru di keesokan harinya, dan memperoleh uang dari saudara-saudara untuk ditabung kemudian dibelikan kaset SEGA.  

Namun saya tiba-tiba teringat novel Albert Camus berjudul Orang Asing yang ditulisnya tahun 1942. Novel ini berkisah tentang seorang bernama Meursault yang hidup dengan begitu santai seolah tidak takut dengan konsekuensi apapun: tidak menangis di pemakaman ibunya, mau menikah dengan pacarnya karena pacarnya yang memintanya demikian (ia sendiri tidak peduli dengan rasa cinta), membunuh orang Arab, diadili dan tidak membela diri, divonis hukuman mati dan bahkan menolak untuk bertaubat di saat akhir. Pertanyaan besarnya: Apakah ia sedemikian bedebah sehingga sangat tidak peduli pada sekeliling dan termasuk pada dirinya sendiri? Lalu apakah kebedebahan itu terjadi karena ia notabene tidak menyandarkan dirinya pada agama, Tuhan, dan jenis spiritualitas apapun? 

Pertama, Camus hendak mengajarkan pada kita untuk hidup dengan berani (dalam bahasa Camus: hidup dengan menerima seluruh absurditasnya). Satu-satunya yang membatasi tindakan kita, adalah konsekuensi dari tindakan itu sendiri, dan konsekuensi adalah hal yang tidak boleh ditolak. Jadi, kalau kamu sudah membunuh dan divonis hukuman mati, maka hadapilah tanpa rasa takut. Jangan sampai jadi orang yang membunuh tapi kemudian berkelit sedemikian rupa sehingga divonis tidak bersalah dan kamu gembira karenanya. Jadi, Meursault bukan sedang menjadi bedebah. Justru ia, dalam kacamata Camus, adalah manusia absurd yang sempurna karena toh, sebagaimanapun kita hidup baik dan berbudi, pada akhirnya menjadi sia-sia di hadapan kematian. Jadi kita bebas melakukan apapun, selama konsekuensinya kita hadapi dengan gagah berani.

Kedua, Camus menolak segala sandaran pada agama maupun Tuhan. Ia menyebut hal seperti itu sebagai sikap menyerah terhadap hidup (ia samakan dengan bunuh diri). Bersandar pada agama maupun Tuhan, adalah bunuh diri eksistensial yang memalukan. Jadi, jikapun manusia perlu "sesuatu" untuk mengisi kekosongan batinnya, Camus menawarkan jalan: spiritualitasmu, berasal dari kenangan akan masa lalu. Lewat kenangan akan masa lalu, batin kita terisi, tersenyum pada segala macam memori, dan menjadi punya semangat untuk melanjutkan hidup. Demikianlah ketika Meursault menjelang ajalnya, ia tiba-tiba teringat sesuatu, sebagaimana dilukiskan oleh Camus di bagian akhir Orang Asing: Suara-suara dari perdusunan naik sampai kepadaku. Bau-bau malam, tanah, dan garam, menyegarkan keningku kembali. Kedamaian yang menakjubkan dari musim panas yang tertidur itu merasuk ke dalam diriku seperti air pasang. Untuk pertama kali setelah sekian lama, aku memikirkan Ibu. 

Maka itulah pada malam takbiran, tidak jarang saya menitikkan airmata, meski tidak serta merta hal tersebut terkait dengan Sang Khalik yang nun jauh di sana. Atau lebih adil jika saya mengatakan: Mungkin Tuhan itu, bukan sesuatu yang kita temui di masa yang akan datang, melainkan sesuatu yang tertanam di benak kita, dari waktu ke waktu, menjelma menjadi kenangan yang indah.  

Selasa, 09 Agustus 2016

Bahkan Pelacur Pun Enggan

Pada suatu pertemuan di Facebook, saya berbincang dengan "Sang Maulana" Bambang Q-Anees. Saya, seperti biasa, bertanya hal-hal yang sangat mendasar. B-Q (demikian saya panggil dia), seperti biasa, menjawabnya dengan sangat rumit. Pertanyaan saya sederhana saja, "Bagaimana agar saya dapat menjadi seorang dosen yang baik?" B-Q menjawabnya dengan mengutip satu cerita dalam novel Milan Kundera yang berjudul Book of Laughter and Forgetting, tentang seorang pelacur yang akan melayani tamunya. Ketika tahu bahwa tamu itu adalah seorang intelektual, pelacur itu dipenuhi rasa enggan. Mengapa? Ia tahu, seorang intelektual adalah seorang yang amat membosankan di atas ranjang. Cerita itu ditutup B-Q sampai di sana. Saya tertegun karena merasa tidak mendapat jawaban apa-apa. 

Obrolan tersebut berlangsung sekitar dua setengah tahun silam. Sekarang, setelah saya merasakan dua setengah tahun menjadi dosen, kata-kata tersebut lambat laun saya pahami. Saya sadar bahwa menjadi seorang dosen ternyata mengubah seluruh laku dan gerak gerik tubuh saya. Ini tentu karena keharusan (atau mungkin juga dogma), bahwa sudah seharusnya dosen jaim, sudah seharusnya dosen memberi contoh apa "yang benar", sudah seharusnya dosen menjaga sikap dan perbuatan agar kesan intelektual selalu terpancar, terutama di hadapan mahasiswa. Gestur tersebut lama kelamaan saya kuasai. Saya bisa sangat berbeda perilaku antara di kampus dengan di luar kampus. Di luar kampus saya bebas saja, senang menggunakan celana jeans (atau bahkan celana pendek) dan kaos, bercanda sekenanya, dan nongkrong dengan sikap yang tidak dibuat-buat. Di kampus, saya mengenakan kemeja rapi (kadang dimasukkan ke celana), menggunakan sepatu resmi, kadang membawa buku (padahal tidak saya baca), dan berjalan dengan gaya yang aneh sekali (sedikit membungkuk agar terlihat bahwa saya tengah memikirkan sesuatu yang berat. Sedemikian beratnya hingga membuat kepala saya tidak sanggup menopangnya, dan akhirnya saya harus berjalan membungkuk). 

Apa hubungan antara kata-kata B-Q yang mengutip Milan Kundera, dengan apa yang saya paparkan di paragraf kedua? Mungkin kira-kira begini: Seorang intelektual (misalnya: dosen) berkutat dengan hari-hari yang akademis. Gesturnya berubah kaku, cara pandangnya berubah teoritik dan kadang apa-apa harus diabstraksi, tujuan hidupnya menjadi sangat jauh ke depan, seolah-olah dunia akan terus mengarah pada pencerahan dan manusia semakin lama akan hidup pada kondisi yang paripurna. Tapi pelacur dalam kisah Kundera mengingatkan saya untuk tidak melupakan cara seks yang baik. Artinya: Menikmati hidup, dengan gestur yang instingtif, dengan cara pandang yang praktis, dan tujuan hidup yang ringan-ringan saja: carpe diem. Hiduplah untuk hari ini. 

Epilog: Kemarin saya diminta mendongeng untuk anak-anak di Taman Hutan Raya Juanda. Saya menyanggupi, walau belum pernah secara khusus mendongeng untuk publik. Saya berlatih sungguh-sungguh, dan juga memikirkannya hampir di setiap kesempatan. Tapi ketika di atas panggung, tubuh dosen saya ternyata dominan. Saya dipenuhi kekakuan yang menyebalkan. Saya seperti menghadapi para mahasiswa yang lewat tatapan matanya sama sekali tidak memberi ruang bagi dosen untuk berbuat "dosa". Saya seharusnya melepas seluruh urat malu hingga tidak tersisa. Tapi apa daya, tubuh saya, yang sudah terbiasa dengan ruang akademik yang membosankan, menahan jiwa untuk tetap pada dudukannya. 

Kamis, 14 Juli 2016

Merawat

Sekitar tiga minggu yang lalu, saya dihibahi kucing oleh kawan di tempat kerja. Kucing tersebut, yang merupakan campuran Persia dan entah apa (saya tidak ingat namanya), oleh saya diberi nama Simone de Beauvoir dan sudah disetujui oleh istri dan anak (serta sang pemilik sebelumnya). Mon -demikian panggilannya- tampak stres ketika untuk pertama kalinya berada di mobil menuju rumah saya. Wajar, ia berpindah tuan. Segala sesuatunya menjadi hal yang kembali baru untuk Mon. Sesampainya di rumah, saya lupa. Saya kira ia kucing yang tenang dan santai. Tahu-tahu, karena stres, ia lari terbirit-birit dan kabur entah kemana. Untungnya, malamnya, ia tiba-tiba kembali dengan badan penuh air got. Ternyata Mon tahu jalan pulang, meski baru pertama kali dia berpindah kediaman. 

Singkat cerita: Kami sekeluarga memelihara Mon dengan sukacita. Ia memberi warna baru bagi rumah kami. Saya tiba-tiba harus mengunjungi berkali-kali tempat yang tidak pernah saya kenal di sebelum-sebelumnya: Pet Shop. Saya mencari informasi tentang makanan, tempat buang air, kandang, hingga hal-ikhwal perkawinan baik lewat internet maupun lewat teman yang lebih berpengalaman. Anak saya begitu tergila-gila pada Mon. Saking antusiasnya, ia sering berteriak sehingga Mon lari terbirit-birit. Awalnya saya begitu menderita jika tiba waktunya membuang hasil hajat Mon. Tapi lama-lama saya merasa itu sebagai sebuah kewajiban yang membahagiakan. 

Lalu di suatu hari, Mon kabur. Ceritanya sederhana: Ia kaget oleh teriakan anak saya, dan kebetulan celah yang biasanya tidak terbuka, sedang terbuka. Sehingga Mon kabur begitu saja, lenyap tanpa rimba. Lonceng yang sudah kami pasang ternyata tidak terdengar sedikitpun bebunyiannya. Saya mencari kesana kemari. Malam-malam pun saya tetap menyusuri komplek dengan senter. Foto Mon saya bagikan di grup komplek. Semalaman itu saya tidak bisa tidur. Pun anak saya menangis tersedu-sedu karena kehilangan yang mengejutkan ini. 

Saya merasakan kehampaan yang sangat. Bukan oleh kelucuan si kucing ternyata. Tapi oleh sebab bahwa saya kehilangan suatu rutinitas: merawat. Saya begitu rindu memberinya makan, membuang kotorannya, dan melepaskannya dari kandang ketika semua celah sudah (dirasa) tertutup. Saya juga rindu pergi ke Pet Shop dan bertanya pada penjaga tentang apa saja terkait kucing sampai dia bosan. Agaknya sudah  menjadi fitrah manusia bahwa kita harus merawat sesuatu. Seperti kata Anton Chekhov yang dituturkan ulang oleh Pak Awal Uzhara, "Hidup manusia itu sia-sia kecuali jika ia melakukan satu dari tiga hal ini: Merawat pohon kayu, mengurus rumah, atau membesarkan anak." Tentu Chekhov tidak harfiah. Ia ingin memberikan satu inti: Bahwa manusia pada dasarnya senang bersusah-susah untuk sesuatu yang ia percaya akan tumbuh dan berkembang. Manusia senang melihat pertumbuhan. Manusia senang melihat proses. Padahal ia tahu bahwa di ujung perkembangan, akan ada akhir yang buruk: Entah perpisahan, entah kematian. Itu sebabnya, kita perlu bingung jika surga itu katanya apa-apa tinggal minta: Akankah manusia bahagia di dalamnya?

Epilog: Mon akhirnya pulang di malam berikutnya

Kamis, 28 April 2016

Antara Performing Art, Ilmu Komunikasi, dan Pertunjukkan yang "Cutting Edge" (Sebuah Catatan untuk Mahasiswa)

Harus diakui, ilmu komunikasi merupakan semacam ilmu yang tidak mempunyai kejelasan akar dan buah (filsafat ilmu menyebutnya dengan ketidakjelasan epistemologi). Atas dasar itulah, ilmu komunikasi dapat dijejali oleh bidang-bidang mulai dari filsafat, politik, ekonomi, budaya, teknologi, hingga seni.  Begitupun dengan program studi ilmu komunikasi di kampus saya, ada mata kuliah yang dinamai dengan performing art. Tentu saja, awalnya saya skeptis dengan mata kuliah ini. Seni, yang bagi saya merupakan sesuatu yang adiluhung, mengapa harus tunduk pada ilmu yang menurut hemat saya, amat pragmatis?

Singkat cerita, sebagai dosen yang mengampu mata kuliah tersebut, saya jalani saja sambil meraba-raba dalam kegelapan. Silabus ada, tapi masih terlalu umum. Sepertinya performing art di program studi kami lebih diarahkan pada bagaimana menjadi seorang penghibur (entertainer) handal, karena terdapat juga pelajaran seperti pengelolaan kesan, hubungan dengan media, dan manajemen even. Meski demikian, kenakalan saya membuat saya merasa perlu untuk menyisipkan satu dua teori yang saya pahami tentang seni pertunjukkan. Awalnya, saya jelaskan (karena saya tidak terlalu mampu mempraktikkan) tentang teori akting dari Constantin Stanislavsky. Saya tunjukkan mereka contoh aplikasi metode Stanislavskian lewat akting-akting menawan dari Marlon Brando atau Peter Sellers. Lalu saya ketagihan untuk menjelaskan tentang pikiran-pikiran dari Bertolt Brecht dan Peter Brook. Di waktu senggang, saya perlihatkan pada mereka rekaman pertunjukkan dari seniman pantomim Marcel Marceau, pertunjukkan dari kelompok perkusi The Stomp, dan pertunjukkan teater absurd dari Samuel Beckett yang amat terkenal: Menanti Godot. Di waktu yang lain, saya juga coba tambahkan pengetahuan sastra mereka, seperti membaca cerpen dari Aleksander Pushkin atau Anton Chekhov. Pengalaman teater saya memang tidak banyak. Meski demikian, saya bagikan semua tanpa kecuali pada mereka, terutama ketika saya menjadi penata musik teater di beberapa pertunjukkan yang umumnya disutradarai oleh seorang kawan, Sophan Ajie.

Walhasil, setelah melalui proses raba meraba yang cukup melelahkan, diputuskan bahwa tugas akhir dari mata kuliah ini adalah mempersiapkan semacam pertunjukkan teater. Pada tahun pertama dan kedua, kelas yang saya ampu menampilkan pertunjukkan yang diambil dari cerpen Aleksander Pushkin berjudul Tembakan. Saya tidak bisa mengatakan apa yang mereka tampilkan itu sudah sempurna, karena pertama, mereka bukanlah berasal dari program studi teater atau dari fakultas seni pertunjukkan. Beberapa diantaranya aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di bidang teater dan beberapa diantaranya pernah bermain teater di masa SMA. Namun secara umum, mereka dapat dikatakan sebagai pelajar ilmu komunikasi yang tengah belajar mendalami sebuah teater. Jadi ya, jangan berharap bisa sejajar dengan pelajar di sekolah seni. Kedua, tentu saja, waktu yang dipakai untuk persiapan adalah kurang dari empat bulan (itupun tidak langsung pada persiapan teater, melainkan terlebih dahulu memberikan materi kuliah lewat ceramah). Sambil mencoba, saya sambil mencari makna atas kuliah ini (walau skeptis, saya diam-diam menikmati).

Lalu sampailah saya di tahun ketiga mengajar performing art. Apa yang saya berikan tidak banyak berubah dari tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, di tahun ini, saya agak terpecah pikirannya oleh sebab menjadi panitia inti di sebuah konferensi internasional. Maka dari itu, saya lebih banyak memberikan ruang bagi mahasiswa di kelas untuk berkreasi sendiri. Sebelum-sebelumnya, saya sering ikut campur mulai dari skenario, akting, hingga musik. Sesekali saya tengok persiapan mereka. Awalnya, jujur saja, saya agak skeptis dengan cerita yang mereka tampilkan - pembunuhan, anak SMA, pergaulan remaja, bunuh diri-. Saya menginginkan sebuah pertunjukkan yang lebih "nyeni", absurd, kontemporer, dan cutting edge. Keinginan itu saya ungkapkan berulang-ulang secara egois, tanpa saya bisa turut ambil bagian secara penuh untuk mengarahkan mereka. Sehingga ada titik dimana saya merasa bahwa saya sudah tidak didengarkan lagi oleh mahasiswa-mahasiswa ini. Mereka menyelenggarakan pertunjukkan dengan judul Topeng Berdarah dengan kreasi yang mereka rapatkan sendiri, tanpa harus menyisipkan omong kosong saya tentang apalah itu: "nyeni", absurd, kontemporer, dan cutting edge.

Ketika pertunjukkan itu datang pada tanggal 27 April 2016 di sebuah kegiatan besar berjudul Broadcast Art Festival, ternyata di luar dugaan, Topeng Berdarah, bagi saya, sangatlah mengagumkan. Mahasiswa-mahasiswi ini bisa memanfaatkan lebar ruangan dengan maksimal (panggung tidak hanya sebatas panggung, melainkan seluruh ruangan) misalnya kehadiran pembunuh yang tiba-tiba muncul dari bagian atas ruangan; penerapan teori breaking the fourth wall dengan sangat pas (tiba-tiba menyapa pada penonton, seperti yang selalu diusulkan oleh Brecht), gestur pembunuh yang amat mengganggu (dengan topeng dari karakter dalam komik V for Vendetta, ia bisa mendadahi penonton setelah membunuh korbannya dengan keji); penggunaan musik yang variatif dari mulai dangdut, rock, pop, hingga eksperimental; serta banyak hal lainnya yang membuat saya berkesimpulan: Untuk ukuran seorang mahasiswa ilmu komunikasi yang mungkin tidak pernah secara khusus belajar seni, apalagi seni teater dan segala tetek bengeknya, mereka telah menampilkan apa yang disebut dengan "nyeni", absurd, kontemporer, dan cutting edge! Saking senangnya, semalaman itu saya sampai tidak bisa tidur. Sejak itu pula, saya melihat mahasiswa-mahasiswi saya dengan cara yang lain dari sebelumnya.

Tentang Topeng Berdarah, tentu saja kalian, pembaca, bisa menyangka bahwa saya sedang mengada-ada. Toh saya tidak punya bukti video, pun saya tidak punya bukti foto. Keseluruhan isi pertunjukkan tersebut saya hargai dengan tidak merekamnya, dan membiarkan seluruh kesan terpatri dalam benak saya pribadi. Yang pasti, saya tidak pernah lagi berasumsi bahwa mahasiswa dan mahasiswi ini tidak mengerti hanya karena mereka tampak abai, atau hanya karena mereka jauh lebih muda dari usia saya. Saya tidak boleh melupakan kata-kata Bambang Q-Anees ketika saya awal mula menjadi dosen sekitar enam tahun silam. Katanya, "Mengajarlah seperti hujan. Sirami semua tanpa kecuali. Biarkan setiap insan menyerap air hujan itu sesuai kebutuhannya." Kesenduan saya bertambah, ketika tahu bahwa tahun depan kelas performing art akan ditiadakan. Alasannya kenapa, saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Tapi kadang ada saatnya, jatuh cinta datang ketika segalanya sudah pergi.

Terima kasih, mahasiswa kelas Broadcast 2, karena sudah memberi saya harapan, bahwa generasi mendatang masihlah ada yang mau menerima: tentang jiwa yang menggelegak, tentang citarasa seni yang agung, dan tentang tertawa sepuasnya atas penderitaan manusia. Kita harus sadar, hidup tidak hanya sekadar lulus kumlaut, jadi budak kapital, dan mati bergelimang uang pesangon. 

Rabu, 13 April 2016

Victorian - The Journey: Symphonic Metal Bernuansa Religi

Tanggal 24 Maret kemarin, di sebuah kafe yang sedang mengadakan acara musik jazz, saya disodori sebuah album CD dengan deskripsi sebagai berikut: Sampulnya bergambar perempuan bermain biola, mengenakan gaun hitam, dengan latar belakang kastil. Melihat tipografi yang digunakan untuk menuliskan nama band ini, yaitu Victorian, sudah dapat diperkirakan bahwa jenis musik yang diusungnya adalah metal. Pun jika melihat judul-judul lagunya yang mengandung kata-kata seperti "sorrow", "lie", "enemy", "weak", kita bisa tahu bahwa kemungkinan besar memang metal-lah musik yang dibawakannya. Singkat cerita, saya diminta untuk me-review album berjudul The Journey ini.


Makan waktu lebih dari satu bulan untuk me-review album ini. Bukan semata-mata karena saya sok sibuk, melainkan kenyataan bahwa referensi saya tentang musik metal ini biasa-biasa saja. Mungkin iya sedari kecil saya suka Metallica dan pernah menyaksikan langsung pertunjukkan live-nya. Mungkin iya bahwa saya pernah mengidolakan Dave Mustaine dan menjadikan nama tersebut nickname ketika bermain gim Counter Strike. Mungkin iya bahwa saya berteman baik dengan gitaris Burgerkill, Agung, dan gitaris Beside dan Nectura, Hin-Hin "Akew". Mungkin iya bahwa saya pernah jadi moderator diskusi Norwegian Black Metal. Tapi sisanya ya hanya sedikit ini dan sedikit itu. Saya merasa tidak patut untuk me-review sebuah album metal, apalagi kenyataan bahwa pengamat musik metal biasanya "gahar-gahar" (setidaknya dari beberapa yang saya kenal). Tapi ya sudahlah, akhirnya saya beranikan diri saja, dengan pengetahuan seadanya ini. 


Cara untuk mengapresiasi album ini saya lakukan dengan dua metode. Pertama adalah berhubungan langsung dengan musiknya, tanpa melibatkan asumsi apa-apa. Kedua adalah berhubungan dengan konteksnya, dengan cara melacak apa dan siapa tentang band ini via internet, plus bertanya ini itu pada sejumlah personelnya (yang kebetulan ada di daftar pertemanan Facebook saya). Lewat cara pertama, saya menemukan hal menarik: Symphonic metal! Dicirikan oleh nuansa orkestra, paduan suara, dan juga organ, serta suara vokalis perempuan yang terdengar sangat "teredukasi" oleh tradisi musik klasik. Tentu saja elemen metal tetap ada: raungan gitar berdistorsi, drum dengan double pedal, bas yang dibunyikan dengan plektrum, dan vokalis pria yang berkarakter growl. Untuk sebuah band lokal yang katanya baru, pilihan genre ini tentu saja menarik (mulai bicara konteks) -apalagi jika mengingat rata-rata band lokal indie belakangan ini langsung menjatuhkan pilihannya pada musik folk-. 

Sekarang bicara konteks, ternyata perjalanan band Victorian ini cukup menarik. Salah seorang personelnya mengakui bahwa band ini berisi personel-personel yang punya latar belakang musik berbeda-beda. Secara garis besar ada dua kutub yang mewarnai Victorian, yaitu kutub musik klasik dan kutub musik metal. Meski demikian, kutub-kutub tersebut jika dilacak mundur ke awal mulanya, tidak bisa kita katakan sebagai sesuatu yang berlawanan -karena imej yang tercipta seolah-olah musik klasik itu akademis, borjuis, rasional, sedang musik metal itu lebih ke perlawanan, proletar, intuitif-. Orang-orang seperti Niccolo Paganini atau Ludwig van Beethoven mungkin bisa disebut sebagai musisi metal di zamannya. Mengapa? Nada-nada yang mereka perkenalkan, revolusi harmoni yang mereka bawakan, serta unsur-unsur stage act yang mereka tampilkan, pada zamannya adalah sesuatu yang "menggugah" dan pada termin tertentu juga mungkin mendorong gejolak perasaan yang agak-agak devilish dan satanic seperti halnya musik metal (genre tertentu) di zaman sekarang. Maka itu boleh saya sedikit simpulkan bahwa disiplin musik klasik justru lebih dekat dengan disiplin musik metal, daripada misalnya musik jazz (yang selama ini dipercayai banyak orang sebagai garis linier setelah musik klasik). 

Selain itu pula, disebutkan bahwa musik-musik yang ada dalam album ini, merupakan hasil kontemplasi dari masing-masing personelnya -mungkin itu sebabnya dinamai dengan The Journey, karena sumber inspirasinya adalah "perjalanan"-. Oleh sebab "kejujuran" itulah, kita bisa menikmati sesuatu dari Victorian. Misalnya, kenyataan bahwa lagu tertentu mengandung nuansa religius, seperti Guide Us to The Straight Way, yang berlirik I'm just a weak human/ I'm nothing without Your blessing/ We're longing for Your love and Your guidance/ Meski tidak bicara langsung soal ketuhanan, tapi jelas bahwa liriknya tidak mengandung unsur satanis. Yang lebih jelas ada di lagu berikutnya, berjudul Mercy to The Universe yang berlirik He is the teacher/ who devotes in humanity / He is the Apostle of mercy. Intinya, Victorian menawarkan tema-tema yang tidak biasa ada dalam sebuah band metal. Mereka tampak tidak peduli dengan "apa yang biasa ditampilkan dalam sebuah band metal". Mereka "lempeng" saja, yang penting jujur menyuarakan isi hati dari setiap orangnya.

Soal kualitas, tentu saja kita tidak bisa samakan Victorian dengan band-band luar yang mentereng seperti Nightwish, Epica, atau Dimmu Borgir. Victorian ini sedikit terlalu "akademis" dan hati-hati, sehingga kesan "kotor" dan "sampah" dari musik metal itu sendiri tidak terasa -Metallica, bahkan, yang terbilang agak "akademis", masih juga terdengar "kotor" ketika digabungkan dengan orkestra dalam satu pertunjukkan berjudul S & M-. Saya sendiri termasuk orang yang percaya bahwa musik, pada dasarnya, sudah mati. Dalam arti kata lain, tidak ada lagi hal yang baru yang bisa diproduksi oleh musik -musik senyap sudah dibuat oleh John Cage, minimalism sudah dibuat oleh Philip Glass, hingga musik yang kontemporer tapi diterima industri sekaligus juga sudah habis dibabat oleh Frank Zappa-. Sekarang ini mungkin hanya "repetisi dinamis" saja yang bisa diproduksi oleh para insan musik. Meski demikian, Victorian tetap harus diberi aplaus oleh sebab pilihan musiknya yang begitu berani. Mereka tahu dengan memilih genre ini, mereka harus tetap dengan suatu tradisi yang besar dan harus dikawal: memproduksi album CD yang menarik -ya, genre metal memang erat dengan visual-. Mereka tahu itu adalah hal yang tidak populer ketika segala-galanya di jaman sekarang sudah dimampatkan dalam bit-bit yang tidak teraba. Maka itu Victorian, sekali lagi, harus diyakini sebagai suatu kelompok baru yang mampu "meresahkan" anak-anak sebayanya. Untuk berkarya sesuai hati nurani, bukan sesuai kemana arus besar menghanyutkan diri.