Kamis, 15 Maret 2012

Mengurai Cara Kerja Sinetron

Untuk sebuah acara pada 8 Januari lalu, saya diharuskan untuk menuliskan sesuatu yang berkaitan dengan etika di media. Apa yang saya lakukan adalah menonton RCTI tiga hari berturut-turut dan menganalisis apa-apa saja yang saya peroleh dari kegiatan tersebut. Dari hampir seluruh tayangan RCTI yang disaksikan, yang saya anggap paling menarik adalah hasil pengamatan atas tayangan-tayangan sinetron.

Sinetron barangkali merupakan tayangan yang paling dominan dalam program RCTI. Ketika saya melakukan penelitian tersebut di bulan Oktober, ada tiga sinetron berturut-turut tayang mulai jam 18.00 sampai 22.30 yaitu Dewa, Putri yang Ditukar, dan Anugerah. Saya mencoba mengamati tanpa rasa benci dan tanpa rasa ingin menghujat. Saya akui bahwa cukup banyak kawan-kawan yang menganggap sinetron itu sesuatu yang tidak penting, sampah, dan membodohi. Tapi saya juga harus menerima fakta bahwa tayangan tersebut laku dan dikonsumsi banyak orang. Maka itu saya berupaya mengerti: Mengapa sinetron laku meski dianggap sampah oleh sebagian kalangan?

Dalam film dokumenter How Art Made the World, ada upaya pelacakan tentang kapan pertama kali manusia menyadari bahwa sebuah gambar bisa dipakai untuk bercerita sesuatu. Pilar Trajan di Roma menjadi salah satu kajiannya. Di pilar setinggi tiga puluh meter itu, ada cerita tentang Kaisar Trajan yang menang dalam perang melawan kaum Dacia. Namun, kata sang narator, Dr. Nigel Speavey, tidak cukup gambar saja, harus disadari bahwa keberadaan musik sangat berpengaruh dalam menyedot apresiator ke dalam gambar. Maksudnya, pilar Trajan berkisah tentang sesuatu yang sangat epik dan menawan, namun belum cukup katanya bagi kita untuk larut ke dalamnya. Dr. Speavey kemudian menunjuk kaum Aborigin sebagai kaum yang kemungkinan besar pertama kali menggabungkan cerita dalam lukisan, dengan musik yang muncul dari ritual mereka. Musik menjadi pembeda signifikan tentang bagaimana kita bisa hanyut dalam citra visual.

Jika sinetron diperhatikan, maka saya memperoleh kesimpulan bahwa tidak ada adegan tanpa musik. Setiap dialog harus diiringi musik, perpindahan latar adalah selalu diiringi dengan perpindahan musik. Musik yang ditampilkan juga, meskipun monoton dan terkesan kurang kreatif (instrumen organ tunggal), namun tensinya cukup diperhatikan. Ada musik yang keras sekali dan lembut sekali, dan keduanya bisa disajikan tanpa jeda. Musik itulah yang dicurigai menarik minat penonton untuk terus menempel. Saya pernah beberapa kali lewat depan televisi ketika sinetron diputar, dan sering berhenti untuk menyimak sejenak karena terhenyak oleh musiknya.

Selain itu, dalam sinetron tidak ada hal yang tidak diperkatakan. Segala gerak gerik dan kejadian tidak cukup bagi dirinya sendiri, ia harus dijelaskan dalam kata-kata. Misalnya, saya pernah menonton Anugerah, ada adegan ketika seorang wanita (saya lupa namanya) gagal melaksanakan tugas meracun seseorang, maka ia mengumpat di kamar mandi soal mengapa ia bisa gagal. Biasanya, jika saya menonton film-film yang dibintangi aktor sekelas Al Pacino atau Robert de Niro, yang diperkatakan itu biasanya justru sesuatu yang di luar fenomena. Fenomena yang sudah jelas, semua penonton melihat, tidak perlu lagi diperkatakan. Dalam kasus film Anugerah, adegan kegagalan meracun itu sendiri bagi saya sudah gamblang dengan gerak-gerik seperti gelas berisi racun yang tertukar.

Konsekuensi dari dua hal di atas, yaitu tidak ada adegan tanpa musik dan tidak ada hal yang tidak diperkatakan adalah kenyataan bahwa yang dirangsang oleh sinetron adalah indra pendengaran. Ini menarik ketika stereotip kita mengatakan bahwa televisi melulu menitikberatkan aspek visual. Apa bukti sinetron merangsang pendengaran kita? Coba di suatu hari yang senggang, putar sinetron tanpa kita melihatnya (sambil mengerjakan apa saja, masak misalnya). Hampir bisa dipastikan kita akan paham ceritanya! Karena cara kerja sinetron adalah mirip sandiwara radio: Berganti musik ketika latar berganti, dan semua hal diperkatakan. Bahkan kita bisa membedakan mana warna suara ketika berbicara biasa, dengan pembicaraan intrapersonal (suara hati). Dalam sinetron, saya pernah melihat adegan ketika dua orang berjumpa, salah satunya menyebut nama, "Amira!" Seolah mau menunjukkan siapa yang saling jumpa itu.

Pertanyaan berikutnya: Jika dengan mendengar saja segala sesuatu sudah jelas, lantas untuk apa gambar-gambar tetap ditayangkan dalam sinetron? Ini pertanyaan yang cukup menghantui saya, sebelum akhirnya sadar satu hal ketika memperhatikan ketiga sinetron tersebut: ternyata ada yang sama yaitu stereotip. Dalam tayangan-tayangannya, citra laki-laki yang berambut pendek, putih, dan kurus selalu memegang peranan. Jika di luar ciri-ciri itu, maka kemungkinan antagonis atau bahan olok-olokan (jika prianya gemuk biasanya). Pun aktor wanita nya, saya mencatat macam Nikita Willy, Naysilla Mirdad, Dhini Aminarti, Cindy Fatikasari, dan Sheila Marcia, semuanya punya ciri-ciri fisik yang mirip yaitu berambut panjang, putih, dan kurus. Artinya, visual dalam sinetron tidak punya daya cerita yang terlalu kuat kecuali hanya untuk menampilkan stereotip-stereotip bagaimana "seharusnya" pria dan wanita itu.

Artinya, cara kerja sinetron bisa dibilang seperti ini: Mereka memanfaatkan musik yang terkandung di dalamnya efek untuk menggugah emosi, lalu memanfaatkan bahasa yang punya efek simbolik "mengingatkan kita pada sesuatu", dan sesuatu itu kerapkali visual. Misalnya kita mendengar kata "nasi goreng", memori kita reflek melacak pengindraan nasi goreng yang pernah mengisi pengalaman kita. Namun dalam kasus sinetron, daya visual-imajinatif kita tidak sempat menggali ke memori pengalaman, tapi langsung dipenjara oleh citra tampilan stereotip di hadapan. Itu sebabnya, "kejahatan" sinetron bisa dibilang karena mereka: Menutup ruang imajinasi, menutup ruang multiinterpretasi, dan menghadirkan kebenaran tunggal. Bisa dicoba dengan menyuruh seratus orang menonton sinetron yang sama episode yang sama, maka jika kemudian digelar diskusi, dijamin tidak ada konten film yang bisa didiskusikan secara mendalam karena adanya kesamaan persepsi!

Dalam sinetron, kemungkinan untuk seseorang menafsirkan adegan secara unik adalah kecil karena segalanya serba jelas. Beda dengan adegan dalam film Donnie Brasco misalnya, ketika Benjamin "Left" Ruggiero yang diperankan Al Pacino hendak pergi meninggalkan rumah. Sebelum pergi ia melepaskan kalung dan benda-benda berharga yang dipakainya lalu disimpan di laci. Sebuah adegan yang secara tersirat menunjukkan kemungkinan ia pergi untuk menemui kematiannya. Namun itu tafsir saya, bisa diperdebatkan dan didiskusikan. Kembali ke sinetron, kalimat sederhana yang bisa diambil dari kisah Donnie Brasco adalah: Sinetron digemari karena untuk memahaminya, tidak perlu berpikir!

Jadi mungkin saja, walaupun bisa diperdebatkan, ini adalah penyebab mengapa sinetron punya kemungkinan buruk bagi masyarakat, tapi sekaligus menjadi semacam candu. Jika ada yang tertarik dikirimi makalah lengkap penelitian ini, bisa kirim alamat emailnya ke syarafmaulini@gmail.com. Nanti saya kirimi balik, insya allah, sambil "mendengarkan" sinetron.


Jumat, 09 Maret 2012

Dilema Joker


Dalam film Dark Knight (2008), tampil seorang antagonis yang cukup menarik simpati, ia adalah Joker (yang diperankan secara dramatis oleh almarhum Heath Ledger). Salah satu musuh bebuyutan Batman ini, ditampilkan dengan karakter khasnya, sedikit gila dengan "rasa humor yang sadistik". Jika saya bicara atas nama common sense, maka penampilan Joker versi Dark Knight ini adalah yang paling "mengganggu" dalam artian terus menerus terngiang di kepala karena sedemikian kuat tampilannya (setujukah jika saya bilang Joker dalam film tersebut masih lebih asyik diapresiasi daripada si Batman-nya sendiri?).

Dalam film tersebut, ada adegan dimana Joker menunjukkan gejala kegilaannya dengan menempatkan dua kapal feri dalam sebuah dilema. Penumpang kapal itu, yang satu bermuatan penumpang umum (civilians), yang satu lagi berisikan para narapidana. Pada dua feri itu disimpan bom yang mana pada masing-masing kapal diberi pemicunya: kapal penumpang umum punya pemicu bom kapal tahanan, kapal tahanan punya pemicu bom kapal penumpang umum. Joker memberi syarat pelik:

1. Jika ada yang mencoba kabur, kedua kapal akan diledakkan.
2. Jika masing-masing pemicu tidak ada yang ditekan hingga jam 00.00, maka kedua kapal akan diledakkan.

Ini adalah sebuah problem etika yang dilematis: Aku yang meledakkan dia untuk menghindari resiko dia meledakkan aku, atau aku justru membiarkan dia meledakkan aku untuk menghindari perasaan bersalah atas pembunuhan? Atau, mari kita meledak bersama agar tiada satupun yang dipersalahkan?

Mari kita bedah kasus ini menurut pemikiran etika beberapa filsuf:

  • Immanuel Kant menggunakan imperatif kategoris. Artinya, berbuatlah sesuatu seolah-olah apa yang kamu lakukan menjadi maksim untuk hukum universal. Kant bisa menjawab bagaimana seorang polisi tetap jujur meski dalam lingkungan yang korup. Menurut Kant, itu karena sang polisi mempunyai keyakinan bahwa yang ia lakukan adalah baik jika diterapkan secara universal. Berdasarkan etika Kantian ini, saya tidak bisa menemukan sebuah solusi untuk dilema Joker. Kalau kamu ada di posisi feri itu, mana yang kamu pikir baik untuk hukum universal? Meledakkan atau diledakkan? Etika Kant dalam kasus ini agak terlalu naif.
  • Jean Paul Sartre menekankan ketiadaan etika dengan merumuskan etika baru: Semuanya bebas selama bertanggungjawab. Memilih meledakkan ataupun diledakkan adalah pilihan free-will manusia karena "man are condemned to be free", tapi pertanyaannya, bagaimana cara kita mempertanggungjawabkannya? Maksudnya, apakah sebebas yang Sartre bayangkan? Apakah tidak ada sedikitpun pertimbangan-pertimbangan lain yang bertentangan dengan kebebasan itu sendiri -dalam kondisi dilematis semacam itu-?
  • Utilitarianisme bicara kuantitas, makin banyak yang diuntungkan makin baik. Tapi diantara kedua awak kapal feri itu, tidak ada yang tahu jumlah penumpang di kapal feri lainnya. Jika berdasar utilitarianisme, sederhana saja, jika semisal kapal tahanan hanya 50 orang, maka sudah seharusnya dia yang diledakkan jika ternyata di kapal civilians ada 100 orang.

Jika kita bertanya pada agama (divine command), maka terang saja agama mengajarkan jangan membunuh. Ini agaknya mulai dekat dengan apa yang saya maksud. Saya akan coba tarik ke wilayah filosofis dengan mempertimbangkan dilema Joker sebagai altruisme versus egosme. Altruisme mengajarkan bahwa apa yang baik adalah yang berfaedah bagi sebanyak mungkin orang selama yang dirugikan adalah kita sendiri. Egoisme adalah persis kebalikannya: Diri sendiri berfaedah itu lebih baik meski yang dirugikan adalah orang banyak.

Pertimbangan-pertimbangan di ataslah yang kemungkinan besar mengganggu para pemegang picu bom: Apakah aku harus bersikap altruis atau egois? Sikap altruis akan membebaskan seseorang dari perasaan-perasaan bersalah meski harus menanggung derita (Nabi-nabi termasuk altruis). Namun tidak semua orang yakin dengan kebahagiaan altruis, maka itu menjadi egois adalah jalan yang cukup fair untuk meraih kebahagiaan. Kalau aku berikan makanan ini ke dia yang sedang lapar, nanti bagaimana jika aku kelak kelaparan? Apakah tidak sebaiknya aku makan ini dan kemudian dia memikirkan bagaimana mengatasi laparnya sendiri?

Pertimbangan "Jangan membunuh, walaupun dengan resiko terbunuh" juga merupakan sikap altruis tersendiri dalam dilema Joker tersebut. Pada wilayah yang lebih dalam, altruis bagi saya adalah sekaligus sikap mencintai kehidupan secara tulus tanpa pamrih. Seorang altruis mungkin tidak pernah betul-betul menderita. Ia mendapatkan kebahagiaan dari posisinya sebagai "martir".

Seorang ibu adalah contoh altruis yang sedemikian konkrit. Ibu mengurusi anak, suami, dan rumah tangga, dengan semangat altruistik yang sedemikian amor fati, fatum brutum. Namun disitu justru letak keutamaannya. Kata Kierkegaard, harus ada penundaan untuk satu kesenangan sementara, agar mendapatkan kebahagiaan yang lebih luas. Agama dengan santai memberi hadiah bagi para altruis dengan kebahagiaan tak terbatas di kemudian hari. Yang tidak beragama bagaimana nasibnya? Jika pun mereka tidak percaya surga, pasti ada sesuatu yang "sama-sama absurd" untuk dijadikan landasan pembenaran altruistik-nya. Entah itu atas nama Kebahagiaan, Kebenaran, atau Kebebasan.

Akhir cerita, kedua awak kapal menyerahkan dirinya pada altruisme. Keduanya selamat, meski campur tangan Batman hadir disana.

Senin, 27 Februari 2012

Prasasti FM 2011


Hari ini, 27 Februari 2012, adalah hari yang amat penting. Di sela-sela penampilan di acara seminar biomedik di ITB tadi, saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat lapak DVD games untuk komputer di trotoar Jalan Ganesha. Saya dengan sangat berhati-hati memutuskan untuk membeli permainan yang saya yakini lebih jahat dari narkoba: Football Manager. Saya membeli edisi terbaru yaitu Football Manager 2012 (FM 2012) yang sebetulnya sudah rilis dari November kemarin. Namun akibat saya tahu betapa bahayanya game tersebut, saya beberapa kali menunda pembelian hingga akhirnya tadi luluh juga karena jarak antara saya dan lapak sudah sedemikian dekat.

Sampai rumah, saya langsung install game tersebut dan tidak mendapat kesulitan apapun untuk langsung memulainya. Namun setelah beberapa saat, hati saya mendadak sedih. Saya ingat bahwa di edisi FM sebelumnya (FM 2011), saya masih berkiprah. Akhirnya saya kembali ke FM 2011 untuk sejenak menutup karir setelah sempat mengabadikan beberapa tampilan yang menunjukkan capaian demi capaian saya di game tersebut.



Entah kenapa, di profil tertulis saya kelahiran 1984 padahal saya yakin saya tidak pernah salah menulis tahun kelahiran yang harusnya 1985. Sehingga di tahun 2032, umur saya sudah 47 tahun! Saya memulai karir sebagai pelatih Udinese dan pernah memenangkan Serie A kalau tidak salah di musim kedua. Setelah Udinese, saya dilirik AC Milan dan sukses besar di sana. Kalau tidak salah saya menghabiskan sembilan musim dengan hanya kehilangan tahta Serie A dua kali. Di Milan juga saya berjumpa dengan pemain kesayangan yang saya sudah anggap seperti anak sendiri: Alexey Rudenok.

Saking sayangnya pada Rudenok, saya begitu ingin memboyong dia ketika saya direkrut Real Madrid. Sayang manajemen AC Milan mempertahankannya mati-matian. Tapi saya tidak menyerah, demi melihat Rudenok pensiun di klub yang saya bina, saya rela merekrutnya di usia cukup senja, 33 tahun. Rudenok pun menurut pengakuannya, jatuh cinta pada saya.

Saya pernah menangani timnas tiga kali, yaitu Italia, Argentina, dan kembali lagi ke Italia. Dua timnas pertama gagal total, tapi comeback ke Italia kedua kali saya berhasil mempersembahkan trofi Piala Eropa. Selepas melatih Real Madrid selama kurang lebih tiga tahun dan mempersembahkan dua gelar La Liga, saya mencoba tantangan baru dengan pindah ke klub rival, Atletico Madrid. Justru disitulah karir kepelatihan saya mulai turun. Meski mempunyai amunisi pemain cukup dahsyat, tapi ternyata Real Madrid -yang baru saja saya tinggal- masih lebih kuat.

Keterpurukan semakin menjadi setelah saya melabuhkan diri di klub favorit, Barcelona, yang waktu itu justru kerap berada di bawah El Real dan Atletico. Ternyata membangun El Barca sepeninggal generasi Messi dkk. adalah pekerjaan mahaberat. Akhirnya saya mengundurkan diri dari dunia sepakbola di musim ketiga menangani Barcelona tanpa sempat memberikan gelar.

Posting ini saya cuma ingin bercerita. Saya tidak mau memaknai yang terlalu jauh karena jika ditelusuri, saya sudah pernah membahas filosofi FM dua kali di blog. Saya cuma ingin bersentimentil ria, kadang-kadang membayangkan punya hidup sebagai orang lain itu ada indahnya.

Terima kasih Macheda, Isla, Inler, Rudenok, Neymar, Marcio, Angloma, Marciano, Cosentini, Leandro, Fabbri, Zunino, Ferreira, Giorgi, dan rekan-rekan semuanya!


Minggu, 26 Februari 2012

Atticus Finch

Terima kasih sebelumnya pada sahabat saya, Kang Trisna yang memberi buku To Kill a Mockingbird sebagai kado ulangtahun. Bukan buku yang mudah untuk diselesaikan. Saya perlu hampir empat bulan untuk mengakhiri dengan perasaan yang tercerahkan. Hanya beberapa jam setelah membaca novelnya, saya menyambangi filmnya dengan judul yang sama. Film yang digarap tahun 1962 (dua tahun setelah novelnya terbit) itu menguatkan imaji saya tentang seorang tokoh yang disebut sebagai salah satu pahlawan terbaik dalam sejarah perfilman Amerika: Atticus Finch.

Atticus Finch adalah tokoh sentral dalam buku To Kill a Mockingbird. Pengacara sekaligus orangtua tunggal bagi dua anaknya yang masih kecil-kecil. Filmnya menurut saya sangat sukses mengejawantahkan figur Atticus ke tampilan visual. Penampilan Gregory Peck begitu karismatik dan persis seperti apa yang saya bayangkan (Dari novel ke film biasanya mengandung kekecewaan, salah satu yang saya ingat adalah Audrey Tatou yang memerankan detektif Sophie Novou di Da Vinci Code).



Yang cukup disoroti dari peran Atticus tentu adalah sebagai pengacara yang membela orang kulit hitam bernama Tom Robinson. Ia menerima resiko dibenci oleh hampir semua penduduk oleh sebab pembelaannya itu. Wajar jika ia merasa terdesak, pun anak-anaknya, karena kota yang mereka tinggali kecil (namanya Maycomb) dan hampir satu sama lain saling kenal.

Apa yang saya pelajari dari sosok Atticus bukanlah semata-mata keteguhannya membela kaum minoritas meski di bawah tekanan. Namun saya demikian kagum pada bagaimana caranya membagi peran antara pekerjaan dan keluarga. Ia membesarkan kedua anaknya yang sedang rajin-rajinnya bertanya macam-macam, dengan kasih sayang seorang ibu. Atticus mengajari Jem dan Scout membaca, menemani mereka menjelang tidur, sekaligus juga harus rela menjadi tontonan kedua anaknya ketika wajah ia diludahi seorang penduduk Maycomb. Demi menjaga mata anak-anaknya dari pemandangan masa kecil yang kurang sedap, ia hanya menyapu mukanya dan berusaha tetap tegar tanpa melawan.

Atticus, bagi saya, menjadi suatu prototip bagaimana konsekuensi menjadi dewasa. Ternyata pada tahap tertentu, saya tidak bisa hidup dalam satu persona untuk segala hal. Ternyata menyesuaikan diri untuk menjalani multiperan dalam berbagai situasi adalah kebijaksanaan tersendiri. Manusia tidak bisa jadi pengacara saja, bapak saja, anak saja, kawan saja, sahabat saja, orang baik saja, penjahat saja. Ia memiliki seluruh peran itu sekaligus, dan pada akhirnya tergantung kebijaksanaan kita mau membuka katup yang mana untuk situasi yang mana.

You never really understand a person until you consider things from his point of view, until you climb inside of his skin and walk around in it. -Atticus Finch

Sabtu, 18 Februari 2012

Jaringan Sosial dan Sejarah

Dalam film 300, ketika Leonidas merasa prajurit Sparta yang dipimpinnya mulai terpojok, ia memanggil Dilios. Apa yang ditugaskan pada Dilios sederhana saja, tapi bagi sang raja itu penting: Pulanglah ke Sparta, ceritakan kisah kami pada semua. Dilios kemudian tidak ikut berperang karena menunaikan tugas yang ia sendiri kecewa karenanya. Bagi Dilios, yang mulia adalah bertempur. Bagi Leonidas, yang mulia tidak sebatas bertempur, tapi juga dikenang.

Di masa kecil, saya amat menyukai buku-buku biografi para penemu. Albert Einstein, Isaac Newton, Charlie Chaplin hingga Margaret Mead, kisah hidupnya rajin saya baca. Inspirasi terbesarnya adalah kenyataan bahwa mereka-mereka adalah orang yang pernah gagal dan juga kontroversial. Pernah begitu dilecehkan oleh kalangannya namun kemudian bangkit menjadi yang terdepan. Sampai pada suatu hari, di masa-masa belakangan ini ketika saya mulai membaca filsafat, saya memahami bahwa sejarah tidak pernah objektif. Sejarah ditulis oleh seseorang (yang Michel Foucault mengatakannya sebagai "kekuasaan") yang tidak pernah terlepas daripadanya aspek subjektivitas.

Memang iya, sejarah seseorang atau apapun, tidak mungkin dituliskan secara tepat benar. Begitupun Dilios ketika ia mengumumkan kisah agung Leonidas pada penduduk Sparta. Kenyataan bahwa Dilios adalah bagian dari prajurit, membuat ia merasa perlu untuk "membuat sejarah yang menguntungkan laskar Leonidas". Dilios mengisahkan peristiwa yang seolah-olah mesti berefek pada pengiriman prajurit tambahan untuk membantu Leonidas. Pada titik ini harusnya kita sama-sama bersepakat: Dilios punya suatu kepentingan. Ia tidak objektif dan hmmm.. apakah bisa objektif?

Bayangkan kamu seorang terkenal. Karena kamu ingin seseorang menuliskan kisah hidupmu, maka kamu rekrutlah seorang biografer (ini terjadi pada Jiang Qing, istri Mao Zedong). Pertanyaannya: Apakah tidak ada secuil pun perasaan dalam dirimu yang bertanya bahwa aku ini ingin dikenang sebagai apa? Apakah iya, kamu akan menceritakan semuanya, termasuk hal-hal yang sekiranya membuat orang malas mengenang dirimu? Tentu saja kamu bisa membubuhkan hal memalukan sedikit saja, agar orang-orang tahu bahwa kamu juga punya pengalaman eksistensial seperti manusia lainnya. Tapi selebihnya, kamu menuliskan sejarah dirimu sendiri dengan harapan, dengan perasaan campur aduk tentang itu tadi: Aku ini ingin dikenang sebagai apa?. Seperti halnya Jiang Qing yang membuat masyarakat Cina marah karena biografi yang menuliskan dirinya hanya soal heroisme dan heroisme.

Jaringan Sosial
Manusia jaman internet sekarang ini tak perlu lagi sibuk merekrut biografer seperti yang dilakukan Jiang Qing atau Leonidas. Ada jaringan sosial seperti Friendster, Facebook, ataupun Twitter yang sanggup membuat kita menuliskan sejarah diri kita sendiri. Ada jaringan sosial yang membuat kita terselip juga rasa seperti halnya Jiang Qing atau Leonidas: Aku ini ingin dikenang sebagai apa?

Meskipun kita sendiri yang menuliskan timeline sejarah diri, tapi mungkin kamu setuju dengan saya bahwa tidak ada objektivitas di sana. Maksudnya, kita selalu memilih dan memilah mana yang sebaiknya ditampilkan dan mana yang tidak. Yang ditampilkan pastilah tentang sesuatu yang kita ingin orang lain mengenang kita sebagai hal itu. Tambahan menariknya adalah, memang iya, pada banyak kasus, saya sering merasa mengetahui sejarah seseorang hanya dengan melihat akun Facebook-nya. Dengan melihat tampilan laman, status, foto-foto, apa yang dia unggah, dan lain sebagainya, saya begitu yakin bahwa saya sudah melihat biografi seseorang. Dalam kasus Twitter misalnya, ini bukan lagi soal biografi lengkap, tapi tagline. Seperti ketika saya mengagumi tagline Einstein di buku sejarah, di Twitter juga saya menemukan orang-orang berusaha menciptakan tagline-tagline-nya sendiri.

Pertanyaan-Pertanyaan
Sebetulnya kita bisa saja menetralkan kebingungan ini dengan mengatakan bahwa jaringan sosial ya sekedar hiburan saja. Orang menampilkan profil dirinya selengkap mungkin agar mudah berkomunikasi dan mudah dikenali. Orang berkicau apapun di Twitter ya sekedar sarana berekspresi saja, itu lumrah sekali seperti anak kecil yang diberi kertas putih untuk mencoretkan apapun. Namun dalam rangka membuat dunia ini sedikit lebih membingungkan, saya ingin bertanya:

1. Ketika seseorang meninggal, apakah laman Facebook-nya bisa mewakili sejarah dirinya untuk dikisahkan pada dunia?

2. Jika ya, apakah Foucault masih bisa berkata bahwa sejarah adalah sejarah para penguasa? Karena jaringan sosial ini membuka cakrawala bahwa ternyata sejarah juga ditulis oleh siapapun.

3. Jika pada tataran individual (akun Facebook, Twitter, dsb) saja sejarah sudah tidak objektif, maka masih adakah "kisah" yang objektif di dunia ini?

4. Jika Albert Einstein punya akun Facebook atau Twitter, akankah kamu menganggap ia lebih hebat, atau malah sebaliknya karena ternyata ia baceo dan berbicara terlalu banyak dari seharusnya?

5. Manakah yang terpenting dari sejarah, akurasi atau inspirasi? Jika kamu menjawab akurasi, maka dunia hari ini begitu akurat dalam menuliskan sejarah seseorang lebih daripada yang lalu-lalu. Tapi jika menjawab inspirasi, maka kita tahu sejarah tentang Konfusius dan Sokrates tidak pernah akurat, tapi pemikirannya masih hangat.

Rabu, 01 Februari 2012

Warung

Tulisan suplemen untuk Klab Filsafat Tobucil 6 Februari 2012.

Kita tahu bahwa jika makan di warung kopi, maka tidak cuma harus siap dengan menu hanya supermi, buburkacang, dan gorengan, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan ngobrol berlama-lama tentang isu-isu politik dan ekonomi ditemani kepulan asap rokok. Kita tahu bahwa jika makan di Warung Tegal, maka tidak cuma harus siap dengan lokasi yang kurang higienis, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan afirmasi diri yang jujur tentang ketiadaan uang. Karena seperti kata Diecky, "Cuma di Warung Tegal kita makan nasi sama tahu tetap dilayani bak raja."

Warung menurut Wikipedia diartikan sebagai "type of small family owned business. A warung is an essential part of daily life in indonesia." Warung menjual mulai dari pisang goreng, mie goreng, permen, kerupuk, rokok, kopi, hingga penyewaan jasa telepon. Hal-hal yang barangkali begitu dekat dengan kebutuhan sehari-hari dan harganya terjangkau masyarakat strata bawah sekalipun. Tentunya juga secara fisik ukurannya harus relatif kecil. Karena kita semua tidak menyebut Alfamart, Circle K, atau Indomaret sebagai warung meskipun menjual barang-barang harian. Dekat rumah saya pun syahdan ada warung namanya Warung Ibu Yana, tapi ketika dalam perkembangannya ia menjadi ekspansif, memakan lahan lebih, kami menamakannya: Toko Ibu Yana.

Kesadaran saya tentang warung dimulai pada suatu pagi sekitar setahun lalu ketika mencari-cari tempat yang asyik untuk mengerjakan tesis. Saya memilih sebuah kafe di Burangrang yaitu Ngopi Doeloe. Sebelum masuk ke kafe tersebut, ada pemandangan lucu tepat di depan pagar kafe itu. Ada warung kopi teronggok dengan nama yang sama: Ngopi Doeloe. Bedanya jelas jauh, yang satu besar yang satu kecil. Yang satu menunjukkan identitas via plang menjulang ditopang tiang, satu lagi hanya dicat saja di dinding kayunya. Tanpa harus membandingkan, common sense saya langsung tahu: harganya juga jelas beda berjauhan. Tapi satu hal yang saya tidak berani melakukan penilaian buru-buru adalah: Apakah "Ngopi Doeloe besar" rasa kopinya lebih enak dari "Ngopi Doeloe kecil"? Apakah "Ngopi Doeloe besar" pelayanannya lebih ramah dari "Ngopi Doeloe kecil"?

Kapitalisme menjawab itu semua. Bahwa memang yang besar belum tentu lebih enak dari yang kecil, memang yang besar belum tentu lebih ramah dari yang kecil, tapi satu hal yang pasti: Yang besar bergaya hidup lebih eksklusif, yang besar lebih menunjukkan kamu punya uang dan citarasa daripada yang kecil. Eksklusifisme itu, entah dibangun dari mana, bisa jadi dari tembok beton dan plang yang menjulang, atau memang harga yang sekalian dimahalkan. Saudara saya yang kerja di Starbucks mengatakan, "Tidak masuk akal kopi tubruk pakai mesin 40.000 per gelas." Ada fakta yang tak bisa diganggu gugat: Orang tetap minum seharga 40.000 meski rasanya sama dengan yang 2.000. Meski secara hitung-hitungan ekonomi jelas tidak masuk akal!

Tak hanya itu, kapitalisme juga mengadopsi "sari-sari" warung. Warung, karena ukurannya yang kecil, tidak bisa tidak penjual dan pembeli bertemu bertatap muka. Ada trust disana, ada pembacaan gestur menyeluruh, ada kegiatan yang sama sekali tidak mereduksi hubungan kemanusiaan, seperti kata Levinas, "Wajah adalah aku yang lain." Di "warung besar" hal seperti itu juga dilakukan. Para pelayan wajib ramah, menampilkan wajah yang sumringah, dan bersikap seolah-olah ini semua adalah warung keseharian, warung rakyat Indonesia yang bermodalkan kejujuran.

Dalam balutan keangkuhan kapitalisme, warung-warung besar menampilkan sisi "kiri" dan "proletariat"-nya justru lewat para pelayan. Padahal kita semua tahu, para pelayan restoran pastilah bisa ramah hingga terlihat alamiah karena di-training berbulan-bulan. Sedangkan pemilik warung bisa ramah karena memang ingin ramah, bisa juga kalau dia ingin judes. Bisa saja jika pemilik warung cantik dan dia digoda pria bujang, maka sang pemilik menampakkan muka jutek untuk menolak godaan. Tapi di warung besar itu mustahil, semerasa dilecehkan apapun pelayan perempuan, ia haruslah punya cara menampik yang tidak merugikan pasaran perusahaan. Keramahan macam ini jelas mengasyikkan bagi para konsumen yang tidak suka realita. Tapi sekaligus kita juga tahu bahwa keramahan para pelayan yang sedang dalam posisi proletariat, selalu atas nama perusahaan, bukan atas dasar hati nuraninya yang paling dalam.

Warung kecil, pada titik ini, punya martabat kemanusiaan yang adiluhung. Tidak ada suatu kepalsuan serius di dalam lingkup transaksinya. Bahkan banyak ibu-ibu warung makan yang tidak pernah mengecek apa saja yang konsumen makan, ia hanya bertanya langsung dan berharap kejujuran. Konsumen bohong bisa saja, tapi si ibu tak ambil pusing, ia pasti berpikir, "Kejujuran selalu menang. Yang dusta pasti ada balasannya." Hanya warung kecil yang punya kemungkinan seseorang dapat gratis rokok karena bisa memberikan suatu obrolan memikat di petang itu, yang punya kemungkinan dua manusia ribut oleh sebab problem tatapan mata yang nyalang antara keduanya, yang punya kemungkinan dihutangi dengan jaminan kepercayaan semata. Dalam warung kecil ada dinamika kehidupan yang mini, yang memang pada kenyataannya hidup sekompleks itu. Yang sungguh disederhanakan persoalannya di warung besar. Di warung besar kamu tinggal bayar maka segala-gala realitas kehidupan disembunyikan. Hidup itu manis ketika kamu bayar!

Harusnya kita sedikit berkaca pada proses kelahiran dua filsuf besar dalam sejarah pemikiran Barat, yaitu Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Mereka lahir bukan dari kepalsuan warung-warung kapitalistik, tapi di sebuah warung kecil bernama Café de Flore. Kafé, sebelum dimiskonsepsikan jadi sarang para borjuis, dulunya menjadi tempat para proletar bertukar pikir dan melahirkan ide-ide brilian. Harusnya, dengan harga makanan murah dan tampilan dunia apa adanya, sudah seyogianya warung kecil menjadi tempat orang membangun fondasi untuk merubah dunia. Di warung kapitalistik, orang tak bisa melihat dunia, orang tak bisa berpikir terlalu jauh. Mereka terhalang tembok yang terlalu tinggi, mereka sibuk memikirkan citra apa yang melekat.

Jumat, 20 Januari 2012

Surat untuk Lajang

Jang,
Jika mengenangmu saya selalu senang karena minum es teh selalu ngutang. Tidak ada perasaan dosa kalaupun tak dibayar karena kamu anak muda tak kenal dosa. Kamu anak muda hanya tahu gembira dan berkata-kata. Berkata-kata tentang apa saja yang lewat di depanmu ketika duduk bercengkrama di sebuah foodcourt hanya dengan rokok dan teh botol: Perempuan, kakek tua, perempuan, minuman, perempuan, makanan, bapak-bapak, dan perempuan.

Jang,
Mari mengenang lebih jauh ketika kamu dan dua orang kawan susumputan di kuburan. Mengisap Djarum Coklat sambil celingukan sebagai bentuk aksi bentrok pertama dengan norma-norma. "De, darimana pulang sekolah kok sore amat," tanya Mamah. Kata kamu, "Kerja kelompok, Mah, di rumah si Kautsar!" Sekarang akan saya kasitahu kamu, Jang. Ibumu tahu kamu bohong, selalu tahu! Tapi wajahmu yang lugu dengan celana biru terlalu mengharukan untuk ditampiling.

Jang,
Mari dengan asyik mengenang masa malam mingguan. Yang lain senang-senang, kamu mah goblok jang kalahka gigitaran. Yang lain berkendara sambil nyetel Limp Bizkit sampai gogorowokan, kamu mah main gitar klasik lagu Greensleeves. Garing, Jang, garing! Tapi pembelaanmu bagus juga, kalau bukan malem minggu, kapan lagi punya waktu pacaran sama gitar?

Jang,
Kamu sebentar lagi tinggal kenangan. Karena saya, Jang, bertambah usia. Kamu bilang saya bohong, Jang? Memang iya, hehe, karena sebenarnya saya jatuh cinta pada seseorang. Yang ini beda, Jang, bukan seperti dulu yang mana tujuan saya pacaran cuma biar dianggap keren sama teman-teman. Ini bukan cuma biar tidak jadi bahan omongan sama anak muda yang nangkring di foodcourt dengan teh botol. Ini cinta, Jang, cinta, apakah kamu ngerti kalau saya jelaskan?

Sekarang kamu sedang tertawa karena kamu merasa paling ngerti soal cinta. Kamu mau bilang pada saya kalau cinta di waktu lajang betapa asyiknya karena yang terpikirkan hanya mabuk bersama dunia. Kamu mau bilang pada saya kalau cinta di waktu lajang betapa asyiknya karena susumputan ketika bapak ibu sedang tidak ada.

Kamu benar, Jang, memang cinta yang ini belum tentu seasyik itu. Dan cinta yang ini bisa habis di tengah jalan. Tapi, Jang, entah kamu bisa mengerti atau tidak perkataan saya yang berat ini: Semua hal di dunia ini akan habis sebagaimana kamu yang bergairah juga sebentar lagi tinggal kenangan. Yang tersisa tinggal janji dengan yang namanya mati. Sekali ia menagih, harus jadi! Alangkah senangnya, Jang, ketika debt collector datang, kamu sedang ditemani seseorang.