Jumat, 22 Januari 2010

Posmo oh Posmo


Jelas sekali, ini masa sudah berbeda. Kita masuk pada apa yang para filsuf namai dengan posmodern. Entah kita semua merasakan itu, atau hanya ada pada alam para filsuf, seperti kata Goenawan Mohammad. Yang pasti, memang ada bedanya, yang jika boleh saya menyobek kutipan macam-macam dari Lyotard, Foucault, Derrida, hingga Bambang Sugiharto, maka posmodern dapat diartikan sebagai:

1. Matinya subjek. Jika modern adalah tempat dimana subjek berkehendak bebas dan menentukan dirinya sendiri, maka dalam posmo(dern), subjek dikendalikan oleh suatu kuasa yang mana subjek pun jadi bingung, dia ada dalam kuasa atau tidak. Seperti kita berkata film Hollywood bagus, apakah memang iya kesadaran kita mengatakan demikian, atau jangan-jangan memang apa yang disuguhi pada kita, hanyalah Hollywood, sehingga pikiran kita selalu berpatokan pada Hollywood. Demikian maka cogito ergo sum Cartesian, Kehendak Bebas Sartre, Ego Freud, dan pemikiran modernis lain soal subjek ikut ketinggalan jaman.

2. Matinya oposisi biner. Modern terkenal dengan oposisi binernya. Jika bukan 0 maka 1, jika bukan 1 maka 0. Jika aku kaya, maka yang lain di luar kriteria yang aku miliki adalah miskin. AS adalah negara maju, maka Indonesia adalah negara berkembang. Demikian modernis merasakan kegembiraannya dalam melaksanakan kategorisasi. Dalam posmo dipertanyakan lagi: maju itu, dalam konteks apa dulu? Kalau keuangan mungkin iya, kalau kekayaan alam? Indonesia bisa lebih kaya. Artinya, posmo menciptakan suasana kontekstual yang lebih kondusif.

3. Runtuhnya metanarasi. Yang ini dari Lyotard. Katanya, metanarasi alias narasi besar seperti Hak Asasi Manusia, Keadilan, Kesejahteraan, Kebebasan, dan Universalitas ternyata tak memberikan solusi serius di masa modern. Bagi Lyotard, narasi besar itu tak lain adalah bentuk penghalusan dari kekuasaan saja. Kenyataannya, tidak ada standar yang bisa mencakup semua persoalan. Maka itu, posmo menawarkan jalan keluar, berupa penghancuran atas seluruh ide besar tersebut, dan -mirip dengan poin ke 2- mengembalikan semuanya secara kontekstual. Tidak ada universalitas, yang ada kontekstualitas atau partikularitas. Efek yang paling terasa, adalah menurunnya hegemoni Barat. Karena kenyataan bahwa ternyata, ide-ide besar tersebut ditelurkan oleh Barat. Dan kemudian, pada akhirnya, Barat sendiri menyadari bahwa metanarasi telah gagal, yang membuat mereka lantas melirik apa yang ada di Timur. Lirikan Barat tersebut menyebabkan tak relevan lagi membicarakan narasi utama, bahkan membicarakan istilah Timur dan Barat sekalipun!

4. Kembali ke Alam.
Poin ini sepertinya terlalu naif, tapi nampaknya ada benarnya. Bahwa modern yang habis-habisan mengeksploitasi alam dan membetoni dunia ini, terbukti malah menimbulkan banyak masalah dan bencana. Posmo akhirnya mengupayakan agar alam dilirik kembali, misalnya lewat gerakan kesadaran daur ulang, serta pengembalian ruang hijau dalam satu kota. Selain alam dalam arti sebenarnya, posmo juga merayakan munculnya kealamiahan pengobatan, misalnya: yoga atau akupuntur. Hal yang masa modern dianggap irrasional karena di luar kaidah medis, dalam konteks posmo, yang demikian tak ada salahnya loh digunakan manusia. Tidak apa-apa, dan barangkali lebih aman dan cepat bagi orang-orang tertentu.

5. Kebenaran.
Kebenaran semakin subjektif dan beragam. Mirip eksistensialisme? Tidak. Jika eksistensialisme masih menghargai kehendak pribadi, maka posmo justru mempertanyakan kembali apa itu subjek (baca poin 1). Meski demikian, anehnya, penafsiran subjektif masih dianggap, meski posmo yakin bahwa subjek telah terdistorsi kekuasaan. Media contohnya, dewasa ini, media telah melimpah dan kita sulit menentukan mana yang benar. Realitas telah diacak-acak dan subjek sama sekali terjebak. Efeknya justru, subjek menjadi semakin majemuk. Majemuk itu, majemuk bagi dirinya, atau tubuh Prothean jika dalam bahasa mitologi. Ketika subjek semakin majemuk bagi dirinya, maka kacamata realitas pun ikut-ikutan majemuk. Maka itu, kebenaran semakin sulit tercapai secara sepakat, karena masing-masing orang punya perangkat yang berbeda untuk menafsirkannya.


Diskusi-diskusi filsafat, hampir dimanapun, banyak mengikuti karakteristik posmo ini. Dan mau tahu kata jagoannya? Yakni: Konstruksi. Konstruksi menjadi kata yang latah di jaman sekarang. Apa-apa dikaitkan dengan konstruksi. Orang takut karena konstruksi, orang nonton film karena konstruksi, orang beli jins karena konstruksi, orang makan karena konstruksi. Realitas ditampakkan sebagian, atau telah dikemas, atau telah dikuasai, agar sampai pada manusia dalam bentuk yang sudah "dipadatkan", dan dibius seolah-olah itulah realitas yang hakiki.
Memang beginilah jaman ini, sedang begini, dan entah sampai kapan. Barangkali di jaman-jaman sebelumnya pernah ada, diskusi yang apa-apa dikaitkan dengan kebebasan manusia, eksploitasi alam, ateisme, ideologi, atau etika sesama. Hanya saja, posmo ini, bagi saya, kadang-kadang sudah kelewatan liarnya. Ia mengobrak-abrik tanpa membangun. Ia mengkritisi tanpa solusi. Dan memuarakan segala diskusi pada konstruksi.
Posmo, pada titik tertentu, seolah lupa, bahwa bagaimanapun manusia, secara aktif menerjemahkan dunia, seperti kata Kant. Ia bukan objek pasif penerima apapun yang dicekoki oleh raksasa bernama kekuasaan. Manusia masih bisa, memaknai dunia ini secara independen, tanpa kemudian dituduh habis bahwa independesinya ada di bawah (lagi-lagi) kekuasaan tertentu. Manusia masih ada, berpikir, merasa, berkehendak bebas, dan kelak, jika mereka mau, akan meruntuhkan posmo itu sendiri.



Oh, apakah tulisan ini berada dalam kuasa tertentu?







Sumber gambar: http://www.adidaupclose.org/FAQs/postmodern.gif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar