<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036</id><updated>2012-02-01T22:20:00.512-08:00</updated><category term='Galau'/><category term='Korea'/><category term='Garasi 10'/><category term='Artikel untuk Jurnal Ilmiah'/><title type='text'>Penggalau Sejati</title><subtitle type='html'>Ada sesuatu rajin mengganggu. 
Setiap saat setiap waktu. Kadang aku benci, tapi seringnya rindu. 
O, kegalauan, datanglah padaku! Berbagilah tentang apa itu namanya mejikuhibiniu, yakni warna-warni pelangi yang menghiasi sanubari. Lalu di kakinya terdapat misteri yang tak perlu diungkap, hanya mesti dicari dan dicari. Karena, sungguh, mata ini gelap jika terpejam, tapi belum tentu terang kala memandang. Persoalan, ternyata, bukan di mata. Oh, selamat datang di blog syarif maulana. Rasakan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>137</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-1647113263111174930</id><published>2012-02-01T16:41:00.000-08:00</published><updated>2012-02-01T18:39:57.372-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Warung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulisan suplemen untuk Klab Filsafat Tobucil 6 Februari 2012. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa jika makan di warung kopi, maka tidak cuma harus siap dengan menu hanya supermi, buburkacang, dan gorengan, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan ngobrol berlama-lama tentang isu-isu politik dan ekonomi ditemani kepulan asap rokok.  Kita tahu bahwa jika makan di Warung Tegal, maka tidak cuma harus siap dengan lokasi yang kurang higienis, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan afirmasi diri yang jujur tentang ketiadaan uang. Karena seperti kata Diecky, "Cuma di Warung Tegal kita makan nasi sama tahu tetap dilayani bak raja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung menurut Wikipedia diartikan sebagai "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;type of small family owned business. A warung is an essential part of daily life in indonesia.&lt;/span&gt;" Warung menjual mulai dari pisang goreng, mie goreng, permen, kerupuk, rokok, kopi, hingga penyewaan jasa telepon. Hal-hal yang barangkali begitu dekat dengan kebutuhan sehari-hari dan harganya terjangkau masyarakat strata bawah sekalipun. Tentunya juga secara fisik ukurannya harus relatif kecil. Karena kita semua tidak menyebut Alfamart, Circle K, atau Indomaret sebagai warung meskipun menjual barang-barang harian. Dekat rumah saya pun syahdan ada warung namanya Warung Ibu Yana, tapi ketika dalam perkembangannya ia menjadi ekspansif, memakan lahan lebih, kami menamakannya: Toko Ibu Yana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran saya tentang warung dimulai pada suatu pagi sekitar setahun lalu ketika mencari-cari tempat yang asyik untuk mengerjakan tesis. Saya memilih sebuah kafe di Burangrang yaitu Ngopi Doeloe. Sebelum masuk ke kafe tersebut, ada pemandangan lucu tepat di depan pagar kafe itu. Ada warung kopi teronggok dengan nama yang sama: Ngopi Doeloe. Bedanya jelas jauh, yang satu besar yang satu kecil. Yang satu menunjukkan identitas via plang menjulang ditopang tiang, satu lagi hanya dicat saja di dinding kayunya. Tanpa harus membandingkan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;common sense&lt;/span&gt; saya langsung tahu: harganya juga jelas beda berjauhan. Tapi satu hal yang saya tidak berani melakukan penilaian buru-buru adalah: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apakah "Ngopi Doeloe besar" rasa kopinya lebih enak dari "Ngopi Doeloe kecil"? Apakah "Ngopi Doeloe besar" pelayanannya lebih ramah dari "Ngopi Doeloe kecil"? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme menjawab itu semua. Bahwa memang yang besar belum tentu lebih enak dari yang kecil, memang yang besar belum tentu lebih ramah dari yang kecil, tapi satu hal yang pasti: Yang besar bergaya hidup lebih eksklusif, yang besar lebih menunjukkan kamu punya uang dan citarasa daripada yang kecil. Eksklusifisme itu, entah dibangun dari mana, bisa jadi dari tembok beton dan plang yang menjulang, atau memang harga yang sekalian dimahalkan. Saudara saya yang kerja di Starbucks mengatakan, "Tidak masuk akal kopi tubruk pakai mesin 40.000 per gelas." Ada fakta yang tak bisa diganggu gugat: Orang tetap minum seharga 40.000 meski rasanya sama dengan yang 2.000. Meski secara hitung-hitungan ekonomi jelas tidak masuk akal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, kapitalisme juga mengadopsi "sari-sari" warung. Warung, karena ukurannya yang kecil, tidak bisa tidak penjual dan pembeli bertemu bertatap muka. Ada&lt;span style="font-style: italic;"&gt; trust &lt;/span&gt;disana, ada pembacaan gestur menyeluruh, ada kegiatan yang sama sekali tidak mereduksi hubungan kemanusiaan, seperti kata Levinas, "Wajah adalah aku yang lain." Di "warung besar" hal seperti itu juga dilakukan. Para pelayan wajib ramah, menampilkan wajah yang sumringah, dan bersikap seolah-olah ini semua adalah warung keseharian, warung rakyat Indonesia yang bermodalkan kejujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam balutan keangkuhan kapitalisme, warung-warung besar menampilkan sisi "kiri" dan "proletariat"-nya justru lewat para pelayan. Padahal kita semua tahu, para pelayan restoran pastilah bisa ramah hingga terlihat alamiah karena di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;training&lt;/span&gt; berbulan-bulan. Sedangkan pemilik warung bisa ramah karena memang ingin ramah, bisa juga kalau dia ingin judes. Bisa saja jika pemilik warung cantik dan dia digoda pria bujang, maka sang pemilik menampakkan muka jutek untuk menolak godaan. Tapi di warung besar itu mustahil, semerasa dilecehkan apapun pelayan perempuan, ia haruslah punya cara menampik yang tidak merugikan pasaran perusahaan. Keramahan macam ini jelas mengasyikkan bagi para konsumen yang tidak suka realita. Tapi sekaligus kita juga tahu bahwa keramahan para pelayan yang sedang dalam posisi proletariat, selalu atas nama perusahaan, bukan atas dasar hati nuraninya yang paling dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung kecil, pada titik ini, punya martabat kemanusiaan yang adiluhung. Tidak ada suatu kepalsuan serius di dalam lingkup transaksinya. Bahkan banyak ibu-ibu warung makan yang tidak pernah mengecek apa saja yang konsumen makan, ia hanya bertanya langsung dan berharap kejujuran. Konsumen bohong bisa saja, tapi si ibu tak ambil pusing, ia pasti berpikir, "Kejujuran selalu menang. Yang dusta pasti ada balasannya." Hanya warung kecil yang punya kemungkinan seseorang dapat gratis rokok karena bisa memberikan suatu obrolan memikat di petang itu, yang punya kemungkinan dua manusia ribut oleh sebab problem tatapan mata yang nyalang antara keduanya, yang punya kemungkinan dihutangi dengan jaminan kepercayaan semata. Dalam warung kecil ada dinamika kehidupan yang mini, yang memang pada kenyataannya hidup sekompleks itu. Yang sungguh disederhanakan persoalannya di warung besar. Di warung besar kamu tinggal bayar maka segala-gala realitas kehidupan disembunyikan. Hidup itu manis ketika kamu bayar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya kita sedikit berkaca pada proses kelahiran dua filsuf besar dalam sejarah pemikiran Barat, yaitu Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Mereka lahir bukan dari kepalsuan warung-warung kapitalistik, tapi di sebuah warung kecil bernama Café de Flore. Kafé, sebelum dimiskonsepsikan jadi sarang para borjuis, dulunya menjadi tempat para proletar bertukar pikir dan melahirkan ide-ide brilian. Harusnya, dengan harga makanan murah dan tampilan dunia apa adanya, sudah seyogianya warung kecil menjadi tempat orang membangun fondasi untuk merubah dunia. Di warung kapitalistik, orang tak bisa melihat dunia, orang tak bisa berpikir terlalu jauh. Mereka terhalang tembok yang terlalu tinggi, mereka sibuk memikirkan citra apa yang melekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-1647113263111174930?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/1647113263111174930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2012/02/warung.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1647113263111174930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1647113263111174930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2012/02/warung.html' title='Warung'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-3335736372247057765</id><published>2012-01-20T08:56:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T09:48:55.716-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Surat untuk Lajang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jang,&lt;br /&gt;Jika mengenangmu saya selalu senang karena minum es teh selalu ngutang. Tidak ada perasaan dosa kalaupun tak dibayar karena kamu anak muda tak kenal dosa. Kamu anak muda hanya tahu gembira dan berkata-kata. Berkata-kata tentang apa saja yang lewat di depanmu ketika duduk bercengkrama di sebuah foodcourt hanya dengan rokok dan teh botol: Perempuan, kakek tua, perempuan, minuman, perempuan, makanan, bapak-bapak, dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jang,&lt;br /&gt;Mari mengenang lebih jauh ketika kamu dan dua orang kawan susumputan di kuburan. Mengisap Djarum Coklat sambil celingukan sebagai bentuk aksi bentrok pertama dengan norma-norma. "De, darimana pulang sekolah kok sore amat," tanya Mamah. Kata kamu, "Kerja kelompok, Mah, di rumah si Kautsar!" Sekarang akan saya kasitahu kamu, Jang. Ibumu tahu kamu bohong, selalu tahu! Tapi wajahmu yang lugu dengan celana biru terlalu mengharukan untuk ditampiling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jang,&lt;br /&gt;Mari dengan asyik mengenang masa malam mingguan. Yang lain senang-senang, kamu mah goblok jang kalahka gigitaran. Yang lain berkendara sambil nyetel Limp Bizkit sampai gogorowokan, kamu mah main gitar klasik lagu Greensleeves. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Garing, Jang, garing! &lt;/span&gt;Tapi pembelaanmu bagus juga, kalau bukan malem minggu, kapan lagi punya waktu pacaran sama gitar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jang,&lt;br /&gt;Kamu sebentar lagi tinggal kenangan. Karena saya, Jang, bertambah usia. Kamu bilang saya bohong, Jang? Memang iya, hehe, karena sebenarnya saya jatuh cinta pada seseorang. Yang ini beda, Jang, bukan seperti dulu yang mana tujuan saya pacaran cuma biar dianggap keren sama teman-teman. Ini bukan cuma biar tidak jadi bahan omongan sama anak muda yang nangkring di foodcourt dengan teh botol. Ini cinta, Jang, cinta, apakah kamu ngerti kalau saya jelaskan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kamu sedang tertawa karena kamu merasa paling ngerti soal cinta. Kamu mau bilang pada saya kalau cinta di waktu lajang betapa asyiknya karena yang terpikirkan hanya mabuk bersama dunia. Kamu mau bilang pada saya kalau cinta di waktu lajang betapa asyiknya karena susumputan ketika bapak ibu sedang tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu benar, Jang, memang cinta yang ini belum tentu seasyik itu. Dan cinta yang ini bisa habis di tengah jalan. Tapi, Jang, entah kamu bisa mengerti atau tidak perkataan saya yang berat ini: Semua hal di dunia ini akan habis sebagaimana kamu yang bergairah juga sebentar lagi tinggal kenangan. Yang tersisa tinggal janji dengan yang namanya mati. Sekali ia menagih, harus jadi! Alangkah senangnya, Jang, ketika &lt;span&gt;debt collector&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;datang, kamu sedang ditemani seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-3335736372247057765?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/3335736372247057765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2012/01/surat-untuk-masa-lajang-yang-sebentar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/3335736372247057765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/3335736372247057765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2012/01/surat-untuk-masa-lajang-yang-sebentar.html' title='Surat untuk Lajang'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-7109808525376239878</id><published>2012-01-17T06:17:00.000-08:00</published><updated>2012-01-17T07:14:28.015-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Sederhana</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Before a man studies Zen, to him mountains are mountains and waters are waters; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;after he gets an insight into the truth of Zen through the instruction of a good master, mountains to him are not mountains and waters are not waters;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;but after this when he really attains to the abode of rest, mountains are once more mountains and waters are waters."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untaian kalimat di atas adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;koan&lt;/span&gt; Zen yang cukup terkenal. Sebelum dibahas, saya mengingatkan diri pada novel yang dibaca sekitar dua atau tiga tahun lalu, sebuah mahakarya dari Ernest Hemingway berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Old Man and The Sea &lt;/span&gt;(1952). Novel tidak terlalu tebal itu ceritanya sangat sederhana, tentang nelayan tua bernama Santiago yang pergi melaut setelah 84 hari tanpa menangkap ikan satu pun. Di hari ke-85, ia berhasil menangkap dua ikan marlin besar yang sekaligus juga menarik perhatian hiu-hiu untuk ikut bersantap. Santiago berjuang, bertarung melawan si hiu demi mempertahankan tangkapannya. Ceritanya begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jadi pertanyaan saya, tidakkah novelnya terlalu simpel untuk sebuah mahakarya yang dikerjakan di masa tua Hemingway? Sebagai informasi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Old Man and The Sea&lt;/span&gt; adalah karya pamungkas Hemingway sebelum ia wafat tahun 1961. Hemingway sendiri bahkan tidak punya keinginan menjadikan novel ini penuh simbol atau menyiratkan makna tertentu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;"There isn't any symbolism. The sea is the sea. The old man is an  old man. The boy is a boy and the fish is a fish. The shark are all  sharks no better and no worse. All the symbolism that people say is  shit. What goes beyond is what you see beyond when you know."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, pada masa tuanya Hemingway memilih tema-tema sederhana, gaya penceritaan sederhana, dan tidak perlu berusaha tampil njelimet dengan sisipan-sisipan penuh makna. Gaya yang bertolak belakang dengan setidaknya satu novel legendarisnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;For Whom The Bell Tolls &lt;/span&gt;yang dibuat sebelas tahun sebelum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Old Man and The Sea&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemingway hanya salah satunya. Banyak filsuf yang seringkali "merevisi" pemikirannya di masa tua dengan lebih sederhana. Ludwig Wittgenstein misalnya, ia menulis dua buku terkenal, yang pertama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tractatus Logico Philosophicus&lt;/span&gt; dan yang kedua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Philosophical Investigations&lt;/span&gt;. Lucunya, buku kedua terang-terangan menyebutkan bahwa buku pertama yang ia tulis banyak kekeliruan. Filsuf analisis bahasa ini di buku pertama menyatakan teori gambar yaitu "Ada fakta, ada nama. Ada nama, ada fakta". Artinya, segala sesuatu yang di luar fakta, itu omong kosong. Seperti misalnya, "Dosa", "Tuhan", "Malaikat", dsb adalah entitas yang tidak ada faktanya sehingga kata-kata itu tidak punya makna. Di buku kedua ia meralat, bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gak gitu-gitu amat&lt;/span&gt;, bahasa itu juga hanya permainan. Ia bermakna dalam konteksnya, seperti permainan catur dimana sebutan "raja" bukanlah raja dalam arti sebenarnya, tapi raja yang disepakati dalam permainan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cukup simpel, bukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Ralat" semacam ini banyak terjadi. Maka itu ahli sejarah kerap membagi pemikiran mereka dalam dua periode besar, seperti Sartre muda dan Sartre tua, Marx muda dan Marx tua, Beethoven muda dan Beethoven tua, dst. Pada fase kehidupan tertentu, ada cara pandang dari mereka-mereka ini layaknya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;koan&lt;/span&gt; yang disebutkan di awal: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kembali melihat gunung sebagaimana gunung dan laut sebagaimana laut sebelum mereka tercerahkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun jika demikian, apakah berarti percuma melakukan pencerahan kalau ujung-ujungnya balik ke awal? Tentu saja tidak, kata Bambang Sugiharto, "Jika kita mendengarkan kalimat 'Tuhan itu ada' dari mulut Freud, akan sangat berbeda 'ketebalannya' dengan kalimat yang sama keluar dari mulut orang-orang yang tidak pernah mencari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan perjalanan seseorang yang paling panjang justru berakhir di rumahnya sendiri. Contoh terbaik tentang ini tentu saja bapak saya sendiri. Saya ingat beliau di masa mudanya yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;apruk-aprukan&lt;/span&gt; keliling dunia berkarya dan berkarya. Belakangan, di masa tuanya, permintaan dia menjadi sederhana: Ayo besarkan garasi rumah kita. Suatu hari saya berdiskusi dengannya, tentang mengapa kok kelihatannya bapak begitu naif dan simpel dalam berpikir. Alih-alih membuka galeri, sekarang malah memperbaiki garasi. Jawabnya, "Yang sulit dalam hidup adalah bertindak sederhana. Selalu ada godaan bagi manusia untuk tidak jadi sederhana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-7109808525376239878?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/7109808525376239878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2012/01/sederhana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7109808525376239878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7109808525376239878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2012/01/sederhana.html' title='Sederhana'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-7201142013097118438</id><published>2012-01-09T02:17:00.000-08:00</published><updated>2012-01-09T04:11:31.306-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>10 Commandments of The Mafia: Ketika Made-Man Wajib Cinta Keluarga</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.disctarra.com/uploads/covers/d7eac26343c550b27381dae033a99d47.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 350px; height: 468px;" src="http://www.disctarra.com/uploads/covers/d7eac26343c550b27381dae033a99d47.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Beberapa hari yang lalu, seorang kawan bernama Iqbal nge-&lt;/span&gt;whatsapp&lt;span style="font-style: italic;"&gt; saya dengan foto di atas plus pesan yang bunyinya, "Mau beli?" Tanpa pikir panjang saya balas, "Mau." Apa alasan saya tidak berpikir panjang? Karena saya sedang keranjingan nonton film-film mafia dalam kurun tiga bulanan terakhir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak The Godfather, saya memang ketagihan melihat penggambaran mafia oleh film-film lain (Scarface, Donnie Brasco, Goodfellas, The Soprano, The Untouchables, Casino, The Departed, dsb). Selain aksi-aksi berdarah serta intrik-intriknya, saya juga suka bagaimana pencitraan dalam film mafia tentang pria yang "sejati", dalam artian mereka menjunjung tinggi nilai-nilai "universal kaum pria" seperti menepati janji serta menghargai wanita. Para anggota sering disebut sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Made Man&lt;/span&gt; atau "Pria yang terlantik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah menonton film-film di atas, maka pernyataan 10 Commandments of The Mafia ini akan sangat menarik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol style="font-style: italic;"&gt;&lt;li&gt;No one can present himself directly to another of our friends. There must be a third person to do it.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Never look at the wives of friends.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Never be seen with cops.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Don't go to pubs and clubs.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Always being available for Cosa Nostra is a duty - even if your wife is about to give birth.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Appointments must absolutely be respected.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wives must be treated with respect.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;When asked for any information, the answer must be the truth.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Money cannot be appropriated if it belongs to others or to other families.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;People who can't be part of Cosa Nostra: anyone who has a close  relative in the police, anyone with a two-timing relative in the family,  anyone who behaves badly and doesn't hold to moral values.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Daftar tersebut diperoleh polisi Sisilia ketika penangkapan bos mafia bernama Salvatore La Piccolo. Pembahasan poin demi poin dilakukan dalam film dokumenter tersebut lewat bantuan beberapa eks anggota mafia seperti Michael Franzese (eks keluarga mafia Colombo) dan Henry Hill (eks keluarga mafia Lucchese). Dari keseluruhan poin, justru bagi saya yang paling menarik perhatian adalah nomor dua dan tujuh, yaitu yang punya kaitan tentang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mafia, meskipun mereka mengerjakan hal-hal ilegal seperti pencurian, jual-beli narkoba, perjudian serta pembunuhan, namun mereka ada upaya menyeimbangkannya lewat kesetiaan terhadap keluarga. Kata Vito Corleone dalam The Godfather, &lt;span style="font-style: italic;" class="st"&gt;"A &lt;em&gt;man&lt;/em&gt; who doesn't spend time with his &lt;em&gt;family&lt;/em&gt; can never be a real &lt;em&gt;man&lt;/em&gt;." &lt;/span&gt;&lt;span class="st"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, masa remaja selalu merupakan awal dari masa pemberontakan yang biasanya keluarga adalah korban pertamanya. Saya adalah seorang diantaranya, yang mana jika masa remaja bersama-sama keluarga itu adalah memalukan adanya. Yang keren adalah bersama teman-teman, yang keren adalah pacaran beda agama sehingga bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"You and me, against the world!&lt;/span&gt;", yang keren adalah pulang pagi dan marah-marah terhadap ibu-bapak. Sebaliknya, saya berusaha menumbuhkan rasa respek dengan lingkungan di luar keluarga. Maka itu jika ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gathering&lt;/span&gt; kawan-kawan saya lebih tertarik untuk nongol daripada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gathering&lt;/span&gt; dengan keluarga besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pernikahan (lagi-lagi curhat colongan, sekarang diselipkan di tengah topik mafia), saya mulai mencari nilai-nilai apa yang bisa saya pegang untuk menjalankan kehidupan nantinya. Dari sepuluh perintah mafia, saya akan buang nomor satu dan nomor lima, sisanya akan saya jalankan dalam rumah tangga. Istriku, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;here comes the Made-Man!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-7201142013097118438?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/7201142013097118438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2012/01/10-commandments-of-mafia-ketika-made.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7201142013097118438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7201142013097118438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2012/01/10-commandments-of-mafia-ketika-made.html' title='10 Commandments of The Mafia: Ketika Made-Man Wajib Cinta Keluarga'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-8628951425277178890</id><published>2011-12-29T08:26:00.000-08:00</published><updated>2011-12-29T09:02:52.393-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Kekuasaan di Sekitar Kita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tadi, setelah menonton ulang The Matrix, saya melakukan beberapa perawatan pra-nikah yang wajib dijalankan oleh sebab disuruh oleh otoritas bernama orangtua. Dalam The Matrix saya menemukan adanya konsep "kekuasaan di sekitar kita", yang sesungguhnya membuat konsep kehendak bebas manusia menjadi sia-sia. Tadinya saya tidak paham-paham amat, sebelum akhirnya terjawab langsung lewat perawatan pra-nikah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan yang saya lakukan adalah membersihkan wajah atau kita sebut saja secara trendi dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;facial. &lt;/span&gt;Sebetulnya saya tidak suka, karena ternyata sakit bukan main. Saya anggap para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;facialist&lt;/span&gt; adalah orang masokis: mereka menikmati kesakitan. Namun sebagai budak lembaga bernama pernikahan, saya taat saja demi kelancaran bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah konsultasi dengan dokter, apa yang terjadi berikutnya adalah vonis yang menyebutkan bahwa wajah saya harus dilaser. Saya ditidurkan di suatu ruangan, diberi kacamata anti radiasi, ditutup kupingnya, dan sayup-sayup terdengar suara dokter pria yang lembut bagaikan Morpheus berkata pada Neo, "Kamu akan mengetahui kebenaran setelah ini." Yang terjadi kemudian adalah bunyi mesin aneh yang membuat saya seperti berada dalam kapal ruang angkasa. Laser ditembakkan ke wajah, rasanya seperti dicubit, dan bau hangus menyengat dimana-mana. Di sela-sela kegiatan absurd itu, dokter selalu berkata halus, "Tidak apa-apa, tidak apa-apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu semua saya kembali ke jalanan untuk pulang dan merenungkan apa yang terjadi. Sungguh ini adalah bentuk konspirasi kekuasaan maha rapi yang membuat manusia seolah berkehendak bebas padahal tidak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Media menciptakan citra wajah yang baik adalah yang mulus tanpa jerawat dan flek. Dengan demikian perusahaan perawatan wajah tentu saja jadi berkembang biak. Adapun jika media berpendapat bahwa, "Wajah yang bagus adalah yang berjerawat", maka kita tidak akan menemukan semisal Natasha Skincare bermunculan. Atau bisa saja slogan Natasha Skincare akan menjadi, "Menumbuhkan jerawat di wajahmu sebanyak mungkin".&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dokter adalah instrumen kekuasaan sains yang ampuh. Sebelum saya dirawat, ada dokter khusus dari pihak perusahaan yang mengecek wajah saya. Sebelumnya tentu saja ada asumsi bahwa dokter itu akan berkata yang benar. Kekuasaan sains menunjukkan bahwa, "Dokter selalu benar". Bahkan jika ia berkata, "Tenggelamkan wajahmu ke dalam cuka", maka saya yakin pasien-pasien akan percaya. Hanya saja ia berkata, "Wajahmu harus dilaser", dan saya sungguh percaya bahwa wajah saya harus dilaser meskipun terdengar tidak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketika saya dihadapkan pada kebingungan, saya kontak teman perempuan yang memang berpengalaman dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;facial&lt;/span&gt;. Katanya, "Jangan khawatir ya, memang begitu,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; beauty is pain&lt;/span&gt;!" Saya tahu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;beauty is pain&lt;/span&gt; bukanlah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tagline&lt;/span&gt; ciptaan teman saya itu. Tapi ciptaan media juga.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teman saya yang lain mengatakan, "Kamu betul-betul gambaran pasangan modern. Istri di kantor, suami perawatan wajah." &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh, God,&lt;/span&gt; saya yakin ia mendapatkan gambaran itu juga dari media!&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengadu pada orangtua tidaklah mungkin, karena beliaulah yang menciptakan imej, "Orang nikah itu ya mesti bersih mukanya." Ini lain lagi, ini kekuasaan kultural, meski tidak kultural-kultural amat. Yang pasti yang satu ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultimate power&lt;/span&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saya mencari dalam agama, tidak ada sunnah nabi yang menyuruh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;facial&lt;/span&gt; menjelang pernikahan. Tapi saya sudah tahu jawaban orang-orang jika saya berdebat dengan ini, "Tentu saja nabi tidak mencontohkan, karena jaman nabi kan belum ada Natasha Skincare."&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Nalar saya menyerah karena ketiadaan dukungan. Saya akhirnya terpaksa berpendapat bahwa, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;This is the truth&lt;/span&gt;!" Bahwa kekuasaan di sekitar kita tidak memberi peluang bagi nalar untuk merdeka. Bahwa apa yang kita sebut sebagai kehendak bebas, sebetulnya sudah diatur sedemikian halus sehingga masih tetap dalam koridor kekuasaan tertentu. Hasrat kita yang merdeka dan berbahaya, dikelola menjadi jinak bagai merpati. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya bisa mengatakan bahwa kita berada pada suatu era yang "sulit untuk percaya apapun karena segala apapun bisa sangat dipercaya". Sulit untuk mempercayai apakah kacang kedelai baik untuk kesehatan atau tidak karena di rubrik kesehatan sendiri minggu ini bicara soal faedah kacang kedelai, minggu depannya bicara soal bahaya kacang kedelai. Kita terpaksa percaya semua hanya karena rubrik itu ada di dalam perusahaan media besar bernama Tempo misalnya. Dunia hari ini tidak punya tempat untuk alasan bernama "kekurangan informasi". Dengan informasi bak air bah, yang mungkin hari ini adalah "kekeliruan informasi".&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa kemudian yang harus kita pegang? Saya tidak punya solusi, bahkan Foucault pun hanya bisa menghancurkan dan tidak membangun apa-apa. Solusi saya hanya memberikan kutipan Nietzsche yang makin hari makin harus kita amini, "Tidak ada kebenaran, yang ada kekuasaan."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-8628951425277178890?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/8628951425277178890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/12/kekuasaan-di-sekitar-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8628951425277178890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8628951425277178890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/12/kekuasaan-di-sekitar-kita.html' title='Kekuasaan di Sekitar Kita'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-5336058484267103360</id><published>2011-12-22T08:20:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T09:31:57.601-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Pembacaan Film "Cast Away" (2000)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/a/a7/Cast_away_film_poster.jpg/220px-Cast_away_film_poster.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 307px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/a/a7/Cast_away_film_poster.jpg/220px-Cast_away_film_poster.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cast Away&lt;/span&gt; adalah film tahun 2000 yang disutradarai oleh Robert Zemeckis. Peran utama film ini diperankan oleh Tom Hanks sebagai Chuck Noland yang bekerja sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;supervisor&lt;/span&gt; di jasa pengantaran FedEx. Pada suatu perjalanan menuju Malaysia, pesawat barang yang ditumpangi Chuck jatuh di Samudera Pasifik dan menyebabkan ia terdampar di suatu pulau. Di pulau tak berpenghuni tersebut, ia bertahan hidup selama empat tahun sebelum ditemukan oleh sebuah kapal besar lewat sebuah perjuangan membuat rakit hingga ke laut lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kepandaian Zemeckis dalam mengambil gambar, film ini juga menyuguhkan beberapa makna yang bagi saya cukup filosofis, inilah dia poin-poinnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wilson si Bola Voli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada momen ketika Chuck merasa kesepian, ia menemukan "teman" dalam diri bola voli yang kebetulan ikut terdampar di dalam bungkus paket FedEx. Ketika Chuck berusaha membuat api dengan menggesekkan kayu, tangannya terluka sehingga ia merasa kesal dan melampiaskannya dengan melemparkan bola tersebut. Lalu ia temukan bahwa darah yang menempel pada permukaan si bola bisa dibentuk hingga menyerupai wajah. Akhirnya Chuck membuat wajah pada bola voli itu dan menamainya dengan "Wilson" sesuai merk bola itu sendiri. Wilson selalu diajak berbincang oleh Chuck dalam segala situasi. "Percakapan" antara Chuck dan Wilson kadangkala juga diliputi hal-hal yang emosional dan sentimentil, termasuk ketika Chuck "bertengkar" dan melempar Wilson ke laut, namun akhirnya menyesal lalu minta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Emmanuel Levinas menempatkan wajah sebagai sentral bagi eksistensi. Manusia berada di dunia oleh sebab wajah. Ini ditegaskan pula dalam novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Face of Another&lt;/span&gt; karangan Kobo Abe. Ini kisah seorang ilmuwan jenius yang kehilangan wajah oleh sebab kegagalan eksperimen di laboratorium. Karena ketiadaan wajah, ia tidak bisa berkomunikasi, bahkan ia ditolak sang istri. Dari situ ia menyadari bahwa wajah adalah gerbang komunikasi, suatu gerbang antara diri dengan dunia. Demikian mengapa ketika bola voli itu dilukis wajah, maka ia menjadi ada dan bereksistensi. Padahal bisa saja bola voli itu dilukis jantung, hati, atau otak, namun kita bisa membayangkan bahwa itu semua belum mewakili sebuah eksistensi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketika Wilson hadir dan bereksistensi, gerak gerik Chuck agak berubah. Dalam suatu peristiwa ketika Chuck berkonsentrasi membuat api, ia merasa "diawasi" oleh Wilson yang "berwajah". Chuck menjadi agak was-was dan memperlihatkan gestur cemas. Ini sesuai dengan analogi lubang kunci Jean Paul Sartre. Katanya, "Jika kita sendirian di kamar, maka kita bebas. Tapi jika ada seorang yang mengintip dari lubang kunci, maka eksistensi kita terobjekkan oleh eksistensi yang lain." Jadi keberadaan Wilson, meski imajiner, tapi secara psikologis mengubah kesadaran Chuck menjadi "merasa diobjekkan". Ini penting untuk diingat dalam konsep Tuhan. Tuhan diciptakan, jangan-jangan agar manusia merasa diawasi terus menerus sehingga was-was dalam segala keadaan. "Jika Allah tidak ada, semuanya boleh," kata Dostoyevsky.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Paket yang Tidak Dibuka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika Chuck terdampar, bersamanya juga terdampar paket-paket FedEx. Ia membuka semuanya, kecuali satu yang bergambar sayap. Sampai ia selamat dan kembali ke kota, paket itu tetap tersegel dan ia kirim ke alamat yang dituju meski sudah lewat empat tahun. Hingga akhir cerita, isi paket itu tidak pernah diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dalam mitologi Yunani dikenal wanita pertama yang diciptakan di muka bumi ini namanya Pandora. Penciptaan ini dilakukan oleh Hephaestus atas titah Zeus. Karena dendam pada Prometheus yang mencuri api dari Zeus, Zeus kemudian "menyusupkan" Pandora pada Epimetheus, yang merupakan saudara dari Prometheus. Tidak hanya Pandora yang disusupkan, melainkan bersamanya juga sebuah kotak terlarang yang tidak boleh dibuka dalam keadaan apapun. Namun kepenasaranan Pandora tak tertahankan. Kotak itu dibuka dan keluarlah berbagai macam kejahatan yang kemudian tersebar ke seluruh dunia. Pandora menutupnya cepat-cepat hingga tersisa satu hal yang berada di dasar yaitu Harapan. Kotak FedEx yang tidak pernah dibuka itu adalah simbol dari kotak Pandora. Bahwa harus selalu ada yang disisakan untuk tak dijamah, karena yang demikian berisikan harapan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antara Rakit dan Wilson&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika Chuck melakukan perjuangannya yang terakhir untuk selamat dengan membuat rakit besar, terjadi badai di laut lepas yang membuat rakitnya separuh hancur plus ia kehilangan Wilson. Pada titik ini ia mengalami dilema, apakah mau menyelamatkan Wilson atau bertahan di rakitnya. Untuk ini ia mempunyai solusi sementara, yaitu mengikatkan tangannya pada rakit sementara ia berenang mengambil Wilson. Pada akhirnya Wilson terombang-ambing semakin jauh dan Chuck memilih kembali ke rakit dengan teriakan memilukan, "Maafkan aku, Wilson!&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;"Manusia adalah tali yang terikat antara binatang dan adimanusia," kata Friedrich Nietzsche. Rakit adalah simbol binatang, karena disana mengandung elemen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;survival&lt;/span&gt; yang kuat, dengan menaiki rakit berarti tingkat kemungkinan bertahan hidupnya lebih tinggi. Sedangkan Wilson adalah simbol adimanusia. Adimanusia menurut Nietzsche adalah mereka yang menciptakan nilai-nilai alih-alih diperbudak oleh nilai-nilai. Wilson sendiri bagaimanapun adalah ciptaan Chuck beserta nilai-nilai di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Demikian apa yang bisa saya maknai dari film &lt;/span&gt;Cast Away&lt;span style="font-style: italic;"&gt;. Tentunya pemaknaan ini adalah pemaknaan di balik fenomena. Fenomenanya sendiri tidak perlu saya bahas karena sungguh film ini sudah bagus dan memikat. Moga-moga pemaknaan ini memang betul-betul mengada-ada, seperti lazimnya kegiatan para filsuf yang rajin mengada-ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-5336058484267103360?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/5336058484267103360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/12/pembacaan-film-cast-away-2000.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/5336058484267103360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/5336058484267103360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/12/pembacaan-film-cast-away-2000.html' title='Pembacaan Film &quot;Cast Away&quot; (2000)'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-2781062170080276549</id><published>2011-12-16T06:36:00.001-08:00</published><updated>2011-12-16T07:48:13.234-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Guido Orefice</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.maggiesfarm.it/vitain17.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 383px; height: 207px;" src="http://www.maggiesfarm.it/vitain17.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;gambar diambil dari &lt;a href="http://www.google.co.id/imgres?q=guido+orefice&amp;amp;hl=id&amp;amp;client=firefox-a&amp;amp;hs=bdv&amp;amp;sa=X&amp;amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;amp;biw=1024&amp;amp;bih=674&amp;amp;tbm=isch&amp;amp;prmd=imvnso&amp;amp;tbnid=mtocG0yOjuhFpM:&amp;amp;imgrefurl=http://www.maggiesfarm.it/vitain.htm&amp;amp;docid=rAKTNI9F1MBlsM&amp;amp;imgurl=http://www.maggiesfarm.it/vitain17.jpg&amp;amp;w=383&amp;amp;h=207&amp;amp;ei=qmbrTtWVNcbWrQfVj_3jCA&amp;amp;zoom=1&amp;amp;iact=hc&amp;amp;vpx=611&amp;amp;vpy=371&amp;amp;dur=39&amp;amp;hovh=118&amp;amp;hovw=219&amp;amp;tx=72&amp;amp;ty=54&amp;amp;sig=105751428689249784655&amp;amp;page=2&amp;amp;tbnh=118&amp;amp;tbnw=218&amp;amp;start=14&amp;amp;ndsp=15&amp;amp;ved=1t:429,r:3,s:14"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Barangsiapa yang sudah pernah menonton film &lt;/span&gt;Life is Beautiful (La vita è bella) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keluaran tahun 1997, maka katakanlah apakah itu film tragedi atau komedi? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film karya Roberto Benigni berlatarbelakang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;holocaust&lt;/span&gt; tersebut berkisah tentang seorang pria Yahudi bernama Guido Orefice (diperankan oleh Benigni sendiri) yang menikah dengan wanita non-Yahudi bernama Dora (diperankan oleh istri Benigni, Nicoletta Braschi).&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;Beberapa tahun kemudian setelah mereka mempunyai anak berumur empat bernama  Giosuè, PD II dimulai dan orang-orang Yahudi digiring ke kamp konsentrasi. Guido dan  Giosuè digiring sedangkan Dora tidak karena ia bukan Yahudi. Namun Dora memohon diri untuk diikutsertakan ke kamp konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamp konsentrasi tersebut, Guido mencoba sekuat tenaga agar anaknya tidak tahu bahwa apa yang sedang dialaminya ini adalah sesuatu yang pedih. Holocaust sebagai salah satu lapang pembantaian massal terbesar dalam sejarah disulap Guido menjadi "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;game &lt;/span&gt;untuk mendapatkan seribu poin dengan hadiah tank" untuk  Giosuè.  Giosuè, dalam epilog film tersebut, baru menyadari di masa dewasanya bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;holocaust&lt;/span&gt; bukanlah mainan seperti ayahnya bilang, tapi kehebatan Guido dalam berpura-puralah yang membuat  Giosuè yakin bahwa kamp konsentrasi pada masa itu memang hanyalah permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke pertanyaan di atas, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;apakah film ini tragedi atau komedi?&lt;/span&gt; Karena unik, bagian mula-mula film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Life is Beautiful &lt;/span&gt;seperti akan menggiring temanya ke arah komedi, meskipun tengah hingga belakang mulai menguras air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kita ubah pertanyaannya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;apakah perbedaan tragedi dan komedi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Seorang filsuf Yunani yang saya lupa namanya mengatakan, "Pada kedalaman tertentu maka akan ditemukan dua hal saja dalam kehidupan, yaitu tragedi dan komedi." Guido Orefice adalah orangnya, yang mampu melihat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;holocaust&lt;/span&gt; bukan semata-mata tragedi, tapi juga komedi. Ia memerankan keduanya, tokoh tragedi maupun tokoh komedi. Jangan-jangan tragedi dan komedi bukanlah suatu kontradiksi, bukan suatu prinsip identitas yang rumusnya "A adalah A maka itu bukan B". Tragedi adalah sekaligus komedi dan komedi adalah sekaligus tragedi. Seperti terkadang jika kita tertimpa sial yang amat pahit, pada titik tertentu kita tertawa dan berkata, "Ah, hidup itu lucu ya."  Atau pada saat kita tertawa "ngakak hingga guling-guling", alangkah mudah ditemukan bahwa tertawa tersebut juga adalah bernapaskan kegetiran. Gibran bersabda dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sang Nabi, "Bersama-sama keduanya datang, dan bila yang satu sendiri bertamu di meja makanmu,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ingatlah selalu bahwa yang lain sedang ternyenyak di pembaringanmu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka itu kita tidak pernah merasa bertentangan pada dua orang dimana yang satu bilang "Hidup itu pahit" sedang yang satu lagi "Hidup itu indah". Karena keduanya sama benar, hidup memang satu kesatuan harmoni antara tragedi dan komedi.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-2781062170080276549?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/2781062170080276549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/12/guido-orefice.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2781062170080276549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2781062170080276549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/12/guido-orefice.html' title='Guido Orefice'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-1060473364012927472</id><published>2011-12-06T07:33:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T09:18:56.177-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Metafisika</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk menghancurkan metafisika, sehingga metafisika itu sendiri apa bisa dengan lebih mudah dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dunia modern adalah dunia yang sempat 'alergi' dengan metafisika. Tokoh paling brutal adalah David Hume (1711-1776). Filsuf Skotlandia ini mengatakan bahwa manusia hanya mendapatkan pengetahuannya dari segenap indranya saja. Apa yang tidak ia cerap dengan indra, maka itu hanya omong kosong. Hume mengatakan bahwa manusia hanya berbasiskan kesan-kesan, misalnya kesan tentang spidol adalah kenyataan bahwa ia sedang melihat spidol dalam wujudnya yang sejati: berwarna hitam, ada tutupnya berwarna putih. Setelah ia tidak melihat spidol itu, maka yang tersisa adalah gagasan tentang spidol, yang merupakan fotokopi dari kesan. Kesimpulan Hume: Gagasan tanpa kesan adalah kosong. Dengan pernyataan ini maka Hume sangat destruktif terhadap metafisika. Konsep-konsep khas metafisika seperti Tuhan, ruh, jiwa, malaikat, diri, atau substansi, dilemparkan ke tong sampah karena Hume punya pertanyaan mematikan, "Kesan apa yang mendasari gagasan tentang itu semua?"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Immanuel Kant (1724-1804) sedikit lebih toleransi terhadap metafisika. Ia membagi dunia menjadi dua yaitu fenomena dan nomena. Fenomena adalah apa yang tercerap indra, sedang nomena adalah apa yang di luar itu. Yang bisa kita perdebatkan, teliti, observasi, dan eksperimentasi hanyalah dunia fenomena, sedang dunia nomena kita tidak punya pengetahuan apapun tentangnya. Ini sekaligus menyerang pemikiran Abad Pertengahan yang selalu mencampuradukan antara problem Ketuhanan dengan sains. Bagi Kant, sains ya sains, Tuhan ya Tuhan, keduanya punya wilayah yang berbeda. Namun Kant menganggap konsep-konsep nomena tetaplah penting sebagai tuntutan moral. Kant memang toleransi terhadap metafisika, namun ia sekaligus menegaskan bahwa hal-hal yang metafisik mustahil bisa kita telaah oleh sebab pengetahuan kita tentangnya adalah tidak ada.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;August Comte (1798-1857) disebut sebagai Bapak Positivisme. Ia yang amat bersemangat dan optimis bahwa kelak metafisika bisa dihancurkan sepenuhnya jika ilmu pengetahuan terus mengalami kemajuan. Ia mengajukan tesisnya yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;law of three stages&lt;/span&gt;, bahwa masyarakat itu pada mulanya bertahap teologis, yaitu apa-apa dihubungkan dengan jiwa yang bersemayam dalam benda-benda. Politeisme dan monoteisme juga masuk dalam kategori ini. Tahap berikutnya, yang lebih maju adalah tahap metafisik, yaitu manusia mulai mencari prinsip pertama dengan mengandalkan nalarnya. Sehingga segala sesuatu disebut sebagai substansi, contohnya adalah Thales yang mengatakan alam semesta ini dari air. Comte mengatakan bahwa tahap paling maju adalah tahap positif, yaitu ketika manusia bisa memecahkan segala sesuatu dengan penjelasan saintifik yang berbasiskan observasi dan eksperimen. Tahap ketiga ini adalah puncak, yang berarti manusia bisa mengontrol alam. Comte juga sekaligus mau menegaskan bahwa metafisika lebih terbelakang dari cara berpikir positif yang serba empirik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ludwig Wittgenstein (1889 - 1951) dalam bukunya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tractatus Logico Philosophicus &lt;/span&gt;berpendapat bahwa dunia ini hanyalah sekumpulan fakta dan bukan terdiri atas benda-benda. Fakta itu kemudian diberi nama, sehingga ia berkesimpulan bahwa: "Bahasa adalah gambar fakta". Jika ada faktanya, ada bahasanya, jika ada bahasanya, pasti ada faktanya. Maka itu metafisika menjadi tidak mungkin, misalnya kalimat "Membunuh itu dosa" tidak punya fakta apapun sehingga dianggap tak punya makna. Buku Wittgenstein ini diadopsi oleh para ilmuwan yang menjuluki dirinya sebagai Positivisme Logis. Kaum Positivisme Logis menyatakan kalimatnya yang terkenal, "Sebuah kalimat hanya bermakna jika bisa diverifikasi." Ini adalah momen penghancuran metafisika yang cukup berat karena metafisika diberantas mulai dari yang paling subtil yakni: bahasa.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Upaya penghancuran metafisika oleh para pemikir di atas semoga memberikan gambaran sedikitnya tentang apa itu metafisika. Pertanyaan selanjutnya adalah: Mungkinkah kita menghancurkan metafisika? Atau lebih jauh lagi, bisakah kita menghindari metafisika? Jika metafisika itu berkaitan dengan yang tidak kelihatan, maka itu yang tidak kelihatan itu dianggap tidak ada, maka mari kita jabarkan seberapa banyak pengaruh yang tidak ada terhadap ada:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dasar dari sains adalah generalisasi dari yang partikular ke universal. Ada penalaran di sana yang menyatakan bahwa, "Dalam sepuluh kali percobaan, air mendidih pada suhu 100 derajat celcius. Kesimpulannya, air selalu mendidih pada 100 derajat celicus." Generalisasi adalah suatu kegiatan metafisik, karena kita sebetulnya tidak pernah melihat yang universal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Logika Aristoteles berupaya merumuskan cara berpikir yang lurus, valid, dan logis. Agar dapat lurus, valid, dan logis, maka terdapat beberapa aksioma atau hukum-hukum yang sifatnya pasti. Aksioma itu sendiri, bukankah sebuah metafisika?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada anekdot menarik antara astronot dan ahli bedah otak. Kata astronot, "Aku sudah ke bulan dan tidak melihat Tuhan." Kata ahli bedah otak, "Aku sudah membedah banyak otak tapi tidak melihat satu pun pikiran."&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Darimana David Hume tahu bahwa pengetahuan manusia hanyalah sebatas kesan dan gagasan? Bukankah itu sebuah kesimpulan metafisik? Lalu lihat bagaimana kaum Positivisme Logis tidak konsisten, bahwa pernyataan "Sebuah kalimat hanya bermakna jika bisa diverifikasi" itu juga tidak bisa diverifikasi maka itu tidak bermakna.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wittgenstein pun pada akhirnya menyadari keekstrimannya. Katanya, "Mata bisa melihat dunia, tapi tidak bisa melihat mata itu sendiri. Peta bisa menggambarkan dunia, tapi tidak bisa menggambarkan peta itu sendiri. Bahasa bisa menjelaskan dunia, tapi tidak bisa menjelaskan bahasa itu sendiri." Wittgenstein kemudian menjadikan bahasa sejajar dengan Tuhan karena sama-sama metafisika&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dapatkah kamu memberikan contoh lainnya tentang pentingnya metafisika?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akhirul kata, di sini saya melihat filsafat Timur yang justru persahabatannya dengan metafisika menciptakan suatu bangunan filsafat yang kokoh. Kritisi mengritisi tidak seberapa terjadi secara bertubi-tubi di Timur dibanding Barat. Filsafat Barat menyuguhkan suatu bangunan yang rentan oleh sebab fondasi metafisika yang kerap dilupakan. Namun ini bisa jadi suatu permakluman tersendiri oleh sebab Filsafat Barat punya fondasi kebudayaan Indo-Eropa yang akrab dengan budaya visual: Apa yang kelihatan itulah yang riil. Sedang kebudayaan Semit yang di dalamnya terkandung agama-agama Ibrahim (Yahudi, Kristen, Islam), bukanlah cara pandang dunia yang akrab dengan visualisasi. Kita bisa tahu Tuhan dari budaya Semit begitu tidak suka digambarkan, oleh sebab apa? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kita bisa curiga yang kelihatan itu mungkin menipu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-1060473364012927472?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/1060473364012927472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/12/metafisika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1060473364012927472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1060473364012927472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/12/metafisika.html' title='Metafisika'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-1143902329656226348</id><published>2011-12-04T17:10:00.000-08:00</published><updated>2011-12-04T17:43:02.311-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Page Turner</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pernahkah melihat, dalam sebuah konser musik klasik, pianis ditemani seseorang di sebelahnya? Orang tersebut bertugas membalikkan halaman pada partitur si pianis. Kenapa? Jawabannya mudah, karena si pianis tentu saja sibuk dengan kedua tangannya yang menari di atas tuts.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tersebut dilabeli sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;page turner. &lt;/span&gt;Sebuah pekerjaan yang pernah saya tertawa geli melihatnya, karena dalam benak saya kerap tersirat pertanyaan konyol, "Apa yang terjadi jika dua halaman sekaligus dibalik?" atau "Apa yang terjadi jika halamannya terlipat?" Pokoknya saya menuduh profesi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;page turner &lt;/span&gt;ini sebagai lelucon saja, dan menunjukkan eksklusivitas piano (karena hanya piano yang menggunakan page turner, instrumen lain tidak. Walaupun kita tahu di semua instrumen, membalikkan halaman adalah juga pekerjaan sulit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya saya terkena apa yang disebut anekdot Sunda sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dipoyok dilebok&lt;/span&gt;, yang diejek ia makan sendiri.  Tanggal 3 Desember di Surabaya, saya ditunjuk jadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;page turner&lt;/span&gt;. Pianisnya, Ibu Ratna Sari Tjiptorahardjo yang memang kebetulan saya sedang mengurusi konsernya di tiga kota (Yogya, Bandung, Surabaya) bersama klarinetis Urs Bruegger. Memang hanya kami bertiga yang pergi ke Surabaya, sehingga tidak ada jalan lain untuk menunjuk saya menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;page turner&lt;/span&gt;. Di dua konser sebelumnya di Yogya dan Bandung, ada Ibu Diah, dosen piano UPI yang menjadi pembalik halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tegang saya duduk di samping Ibu Ratna. Pengetahuan saya membaca partitur yang sudah dipelajari sejak belasan tahun lalu dikerahkan. Perasaan saya? Tegang. Sangat tegang. Terutama oleh sebab saya sering menertawakan pekerjaan ini. Musik berjalan, konsentrasi ditajamkan. Saya ikut saran Urs, bahwa yang dibaca jangan part pianonya, tapi part klarinetnya, lebih mudah karena notasi tidak serumit piano. Mata saya ikut bergerak bersama toge-toge notasi klarinet yang saya amat kagum karena Urs selalu bisa memainkan not sepertigadua tanpa masalah. Empat bar sebelum halaman berakhir saya selalu berdiri dan memegangi ujung halaman menantikan Bu Ratna menganggukkan kepala tanda &lt;span style="font-style: italic;"&gt;page &lt;/span&gt;mesti segera dibuka dalam waktu sepersekian detik. Hasilnya? Alhamdulillah, kata Bu Ratna saya cuma satu kali telat. Lainnya saya berhasil akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan saya? Luar biasa! Saya punya kesimpulan baru yang bagi saya menarik: Dari dulu saya berusaha mencari-cari dimana posisi terbaik untuk mengapresiasi musik klasik, dan akhirnya saya temukan bahwa posisi terbaik adalah duduk sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;page turner&lt;/span&gt;. Disitu saya membaca, mendengar, berinteraksi, dan menjadi bagian dari tensi pertunjukkan. Sungguh sebuah VIP, sungguh sebuah posisi yang sempurna. Saya menjadi sadar betul kedahsyatan musikalitas Schumann, Poulenc ataupun Verdi. Bagaimana mereka menuliskan, dan sekaligus bagaimana para pemain menginterpretasi karya-karyanya. Sebuah berkah nikmat yang luar biasa, menjadi seorang pembalik halaman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-1143902329656226348?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/1143902329656226348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/12/page-turner.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1143902329656226348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1143902329656226348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/12/page-turner.html' title='Page Turner'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-5803180557644020499</id><published>2011-11-25T00:05:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T00:58:57.915-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Etika Mexican Standoff</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.kowakan.com/wp-content/uploads/2011/01/reservoir-dogs-mexican-standoff.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 293px;" src="http://www.kowakan.com/wp-content/uploads/2011/01/reservoir-dogs-mexican-standoff.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jika kamu terjebak dalam situasi seperti ini, apa yang kamu lakukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya tahu istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mexican standoff&lt;/span&gt; dari film-film Quentin Tarantino. Ia sering sekali, atau bisa dibilang selalu, menyelipkan adegan seperti ini di karyanya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mexican standoff&lt;/span&gt; adalah posisi sama kuat yang mana kedua pihak mengalami keadaan yang sama-sama berbahaya, sama-sama terjepit, dan mesti ada kompromi yang serius agar keduanya bisa selamat. Istilah ini biasa dipakai dalam film koboi ketika dua atau lebih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gunman&lt;/span&gt; sedang saling todong senjata. Namun situasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mexican standoff&lt;/span&gt; bisa kita temui dalam berbagai problem etis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang bisa dilakukan dalam situasi seperti ini:&lt;br /&gt;1. Mundur. Kedua-duanya tidak menembak meskipun ini butuh persetujuan dari keduanya. Biasanya ini dilakukan setelah diplomasi lewat dialog. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pre-emptive strike&lt;/span&gt; atau menembak duluan. Ini adalah inisiatif dari masing-masingnya untuk menembak sebelum ditembak. Sesuatu yang pasti menimbulkan korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan dialog saya dengan kawan bernama Diecky Rabu lalu, ada kegentingan etis yang baru ketika ada yang membisikkan pada masing-masingnya seperti ini: "Pelurumu asli, sedang lawanmu palsu." &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalau itu terjadi, apa yang kamu lakukan?&lt;/span&gt; Saya menjawab langsung tembak, Diecky menjawab, "Kalau saya justru nggak, karena saya tahu lawan saya tak berdaya." Lantas jika dibisikkan sebaliknya? Yaitu: "Pelurumu palsu, lawanmu asli." Kami berdua setuju, bahwa tak ada gunanya berdiplomasi, menyerah dan kabur saja tunggang langgang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mexican standoff&lt;/span&gt; adalah situasi harian kita. Selalu ada kegentingan antara maju menerkam duluan untuk ambil kesempatan, atau mundur bersama-sama agar situasi aman. Keduanya punya peluang berhasil yang mirip-mirip, hanya yang menentukan adalah "bisikan" tentang apakah pelurumu dan peluru lawanmu itu asli atau palsu. Kata Mas Rudi, teman diskusi lainnya, jaman Soeharto adalah jaman dimana rakyat rajin dibisikkan sugesti bahwa pelurunya palsu sedangkan pemerintah punya peluru asli. Sedangkan kekuasaan selalu demikian, selalu punya kepercayaan bahwa rakyat memegang peluru palsu sedangkan dirinyalah yang berkemampuan membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebabnya mengapa kekuasaan selalu asyik untuk dipertahankan. Selalu asyik untuk mengingat betapa para budak tidak punya daya untuk melukai sang tiran. Demokrasi, sebagaimanapun disebut sebagai pemerintahan rakyat, tapi rakyat selalu disugestikan sebagai pemilik peluru palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tanpa memperhitungkan aspek bisikan, saya akan agak gender sentris soal ini. Bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mexican standoff&lt;/span&gt; hanya bisa tanpa korban jika ada janji, kepercayaan, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gentleman agreement&lt;/span&gt;. Tak bisa ada salah satu yang melanggar karena segalanya bisa kacau. Oh, saya jadi ingat hari pernikahan saya yang sebentar lagi. Saya akan duduk bersimpuh untuk saling menodongkan pistol dengan ayah calon. Kami berdua mundur teratur oleh sebuah kesepakatan antara dua pria, "Jika satu melanggar, maka moncong ini akan menyalak tanpa bisa dihindari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.google.co.id/imgres?q=mexican+standoff&amp;amp;hl=id&amp;amp;client=firefox-a&amp;amp;hs=KxX&amp;amp;sa=X&amp;amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;amp;biw=1024&amp;amp;bih=417&amp;amp;tbm=isch&amp;amp;prmd=imvns&amp;amp;tbnid=cXRuTMZO7eM1lM:&amp;amp;imgrefurl=http://www.kowakan.com/%3Fp%3D411&amp;amp;docid=1dMkYIL4ijT4fM&amp;amp;imgurl=http://www.kowakan.com/wp-content/uploads/2011/01/reservoir-dogs-mexican-standoff.jpg&amp;amp;w=300&amp;amp;h=293&amp;amp;ei=MljPTpWeCIfxrQf9z7nCDA&amp;amp;zoom=1"&gt;sini&lt;/a&gt;. Agaknya diambil dari adegan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Reservoir Dogs&lt;/span&gt;-nya Tarantino&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-5803180557644020499?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/5803180557644020499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/11/etika-mexican-standoff.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/5803180557644020499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/5803180557644020499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/11/etika-mexican-standoff.html' title='Etika Mexican Standoff'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-2918063768330664834</id><published>2011-11-11T06:56:00.000-08:00</published><updated>2011-11-11T07:53:21.904-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Intuitive Philosopher</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“There is more wisdom in your body than in your deepest philosophy.” &lt;/span&gt;(Nietzsche)&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernahkah kita, yang berpendidikan tinggi, menuduh secara tak berdasar bahwa tukang becak tidak punya pengetahuan sedikitpun tentang filsafat Kant? Pernahkah kita, anak muda penuh gelora yang segala wawasan adalah bagai anggur kebenaran, menuduh ibu kita tak punya pemahaman tentang filsafat Sartre, apalagi Hegel? Pernahkah kita, melihat tukang martabak manis dan menganggap konyol bahwa dia punya secuil pengetahuan tentang filsafat Plato? Bahkan kalau ia ditanya tentang Plato, mungkin akan bertanya balik: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keju merk baru ya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah, dan barangkali masih, menganggap ibu saya terutama, tidak punya pengetahuan apapun tentang filsafat. Beliau berpikiran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;common&lt;/span&gt;, hanya ingin anaknya soleh, berhasil, selamat, sukses, dan berbakti. Tidak ada mungkin suatu pikiran bahwa anaknya harus jadi seorang yang misalnya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengguncang urat nadi metafisika Jerman&lt;/span&gt;. Setiap saya tidak setuju dengan ibu, saya kerap mendebat dan saya selalu memenangkannya oleh sebab perpustakaan logika saya lebih unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada perkembangannya, saya merenungkan banyak hal soal pengetahuan filsafat setiap orang. Apakah betul dengan apa yang digembar-gemborkan oleh Barat, bahwa citra filsuf adalah yang misalnya, berpikir kritis, sistematis, radikal, lantas sanggup berpikir ontologis, epistemologis, dan aksiologis? Saya punya orang yang bekerja di rumah, namanya Yampan. Perawakannya jauh dari stereotip akademisi ataupun filsuf. Tapi gerak geriknya sungguh mengagumkan. Sederhana saja saya menilai ini, bahwa kenyataan ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah ingin terlihat pintar, dan selalu berbuat hal manis semisal menelpon istrinya di rumah hanya untuk mendengarkan anak bayinya menangis. Pertanyaan saya agak tragis:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apakah dengan ia tidak pernah membicarakan Kant dan kawan-kawan, lantas ia bukan filsuf?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bukankah filsuf itu memikirkan sesuatu tentang kehidupan agar kehidupan ini menerima manfaat darinya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lantas jika seseorang sudah memberikan suatu manfaat bagi kehidupan tanpa memikirkannya, ia bukan filsuf?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Inilah barangkali yang dimaksud Nietzsche dalam kalimat pembuka di atas. Bahwa tubuh mendahului pemikiran. Bahwa filsafat kita yang terdalam belum memberikan kebijaksanaan apa-apa tanpa suatu perbuatan yang aplikatif dari tubuh kita. Seperti kritik yang pernah bapak ajukan pada saya: "Kamu membahas filsafat Timur dengan tetek bengek kosmologinya, tapi setiap keluar kamar tidak pernah mematikan lampu." Ini adalah suatu tamparan keras, yang barangkali harus juga dialami oleh Descartes dan antek-anteknya yang begitu gigih memisahkan filsafat dari keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka itu saya mengakui bahwa ibu barangkali tidak punya pengetahuan tentang runutan sejarah filsafat Barat, tapi beliau &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tidak perlu&lt;/span&gt; itu untuk bertindak bijaksana, bertindak sesuai dengan definisi filsafat itu sendiri: cinta kebijaksanaan. Bahwa anak yang soleh dan berbakti, adalah tampak seperti sebuah tujuan sederhana, namun itulah sesungguhnya buah dari keluhuran budi dan kejernihan batin yang tidak sedikitpun datang melalui pikiran yang bertele-tele. Ibu adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;intuitive philosopher&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menganggap bahwa filsafat hanya sebatas kegiatan olah nalar yang terpisah, maka bisa jadi tiada satupun kebijaksanaan yang bisa kita ambil dari tukang becak, tukang martabak, atau Yampan sekalipun. Filsafat menjadi suatu wilayah yang asing dari kehidupan manusia dan hanya berisikan pernyataan kosong seperti "dualisme Cartesian", "benda dalam dirinya sendiri", atau "dunia yang dilipat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya menerawang ke masa-masa kehidupan pernikahan saya nantinya. Ketika saya sibuk memikirkan apa yang seharusnya dilakukan umat manusia, istri saya dengan tenangnya mengingatkan, "Jangan lupa kembalikan pulpen ke tempatnya lagi." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-2918063768330664834?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/2918063768330664834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/11/intuitive-philosopher.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2918063768330664834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2918063768330664834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/11/intuitive-philosopher.html' title='Intuitive Philosopher'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-4649929706961093094</id><published>2011-11-07T19:43:00.000-08:00</published><updated>2011-11-07T20:28:20.703-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Siddhartha (1922) Membangunkanku Lagi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Siddhartha&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, sebuah novel dari Herman Hesse, saya baca untuk kedua kalinya setelah sekitar empat tahun berlalu. Saya berterimakasih pada seorang sahabat, Indra Permadi yang mengenalkan saya pada novel ini pada sekitar tahun 2008. Saya sendiri pernah membuat &lt;/span&gt;&lt;a href="http://syarifmaulana.multiply.com/reviews/item/3"&gt;review&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-nya di blog yang lama yang tidak pernah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;di-&lt;/span&gt;update&lt;span style="font-style: italic;"&gt; lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/0/04/Hermann_Hesse_-_Siddhartha_%28book_cover%29.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 325px; height: 551px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/0/04/Hermann_Hesse_-_Siddhartha_%28book_cover%29.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Novel ini, dibaca kemarin dengan dibaca empat tahun lalu, masih punya daya magis bagi saya. Masih memiliki daya getar yang hebat sehingga mampu membangunkan saya dari tidur dogmatis (persoalannya, apakah ketika saya bangun dari tidur, itu justru saya berada di mimpi berikutnya seperti film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Inception&lt;/span&gt;?). &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Siddhartha&lt;/span&gt; adalah kisah tentang Siddhartha, pemuda yang melakukan perjalanan spiritual. Novel ini bercerita tentang pergulatan batinnya yang terbagi dalam beberapa tahap yang mengagumkan (jangan terlalu kecewa jika saya paparkan jalan ceritanya disini, karena gaya tutur Hesse masih tetap mengasyikan untuk dibaca):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Siddhartha sebagai seorang remaja yang cerdas, anak dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brahmin&lt;/span&gt; terhormat, yang taat beribadah dan melakukan persembahan. Ia hapal banyak ayat-ayat dari kitab sucinya dan melakukan samadi sering sekali.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Siddhartha pergi dari kehidupan mapannya, meninggalkan keluarga dan berangkat bersama para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;samana&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Samana&lt;/span&gt; bisa disebut sebagai pertapa yang mengonsentrasikan hidupnya untuk  asketisme, penjauhan diri dari hal-hal duniawi, dan melepaskan diri dari lingkaran samsara. Mereka hidup di hutan, hanya berpuasa dan samadi.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Siddhartha meninggalkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;samana&lt;/span&gt; karena tidak jua menemukan kebahagiaan. Ternyata para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;samana &lt;/span&gt;ini juga mengolok-olok secara ekstrim kehidupan duniawi. Siddhartha datang pada Sang Buddha bernama Gotama. Namun segera Siddhartha menolak ajaran Gotama dengan sebuah kalimat mengagumkan, "Tidak ada seorangpun yang dapat tercerahkan lewat sebuah ajaran." Siddhartha pergi ke kota, meninggalkan kehidupan asketik dan menolak semua ajaran.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di kota ia bertemu dengan Kamala, seorang pelacur terkenal yang mengajarkannya arti keduniawian. Siddhartha merubah pandangannya dari yang tadinya melihat intisari dari apa yang tampak, menjadi menghargai apa yang tampak itu sendiri. Siddhartha hidup bergelimang harta, menyukai minuman, perjudian, dan menjadi kekasih Kamala.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keduniawian tidak juga membuatnya bahagia. Ia menganggapnya sebagai keterjebakan dengan samsara. Siddhartha lari ke hutan dan ia menemukan seorang juru sampan bernama Vasudeva yang pernah menyeberangkannya dulu. Vasudeva adalah seorang yang belajar segala sesuatu dari sungai. Katanya, sungai berbicara banyak. Vasudeva juga seorang pendengar yang baik, dari ia Siddhartha berguru kembali.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ternyata, hubungannya dengan Kamala dulu menghasilkan anak yang ia tidak ketahui. Meninggalnya Kamala membuat Siddhartha harus mengurus Siddhartha muda yang sombong dan keras kepala. Ia belajar sesuatu lagi, bahwa ada penderitaan yang ia peroleh dari mengurus anak ini, namun ada kebahagiaan tak terperi yang meliputinya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Siddhartha muda kabur ke kota, Siddhartha tua menjadi juru sampan sendirian setelah Vasudeva juga meninggal dunia. Pada kawannya semasa kecil, Govinda, Siddhartha berbagi bahwa, "Kata-kata tidak bisa menjelaskan kebijaksanaan. Kebijaksanaan jika dibagi akan terdengar bodoh." Ia juga menambahkan kalimat yang mengagumkan, "Lawan dari kebenaran, adalah sama benarnya, itu hanya persoalan kata-kata."&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Boleh saja kita menganggap Siddhartha mengalami "kemunduran". Seperti ia kembali ke asal mula, seperti ia kembali ke masa dimana ia belum mengembara. Namun ini persis mengingatkan saya pada salah satu koan dalam Buddhisme Zen:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebelum pencerahan, gunung adalah gunung, laut adalah laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Semasa pencerahan, gunung bukanlah gunung, laut bukanlah laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Setelah pencerahan, gunung adalah gunung, laut adalah laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kembalinya segala sesuatu, saya agak bergidik juga. Fase terakhir kehidupan Siddhartha menunjukkan bahwa muara dari segala perjalanan spiritualnya adalah justru seperti semboyan Pidi Baiq: "Tidak apa-apa." Bahwa penjahat berbuat jahat, dengan polisi menahannya, adalah sama dengan batu yang kelak jadi tanah, yang kelak akan menghidupi tumbuh-tumbuhan. Semuanya memang sudah begitu: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tidak apa-apa.&lt;/span&gt; Bahwa hidup ini sudah satu kesatuan yang utuh. Spinoza menyebutnya dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sub specie aeternitatis&lt;/span&gt;: melihat segalanya dari kacamata keabadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sudah, sudah, semakin saya berkata, semakin terasa kebodohannya. Pintaku cuma satu pada Tuhan, bisakah lepaskan kami semua dari kata-kata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Om&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-4649929706961093094?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/4649929706961093094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/11/siddhartha-membangunkanku-lagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/4649929706961093094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/4649929706961093094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/11/siddhartha-membangunkanku-lagi.html' title='Siddhartha (1922) Membangunkanku Lagi'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-5307137775757007873</id><published>2011-11-04T17:39:00.000-07:00</published><updated>2011-11-04T18:51:39.452-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Problem Bahasa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentunya beberapa dari kita sudah tahu cerita tentang menara Babel. Cerita yang diambil dari Perjanjian Lama itu, mengisahkan tentang manusia yang bermigrasi dari Timur. Mereka, yang tengah berlokasi di Shinar, berencana membuat kota dengan menara di dalamnya. Menara itu bukan sembarang menara, mereka ingin menara maha tinggi yang bisa mencapai Tuhan. Namun Tuhan mencium arogansi ini, tanpa tedeng aling-aling Ia menghancurkan rencana para manusia. Caranya? Mudah saja. Tuhan membuat manusia menjadi berbeda-beda bahasa. Sejak itulah mereka tidak sanggup menyelesaikan menara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa tentu saja punya andil dalam peradaban manusia. Ia boleh kita sebut sebagai ekspresi dari pikiran. Apa yang kita pikirkan bisa dieksplisitkan, kemudian menjadi simbol yang dimengerti orang lain. "Kesepakatan" juga menjadi aspek penting dalam bahasa, karena apa yang dimaksud "mengerti bahasa", adalah berarti juga memahami apa yang disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seperti halnya teknologi, seperti halnya agama, seperti halnya sains, dan apapun di dunia ini, ada dua sisi mata uang yang bisa dilihat. Bahasa punya faedah, tapi juga ia mengandung persoalan. Filsafat Barat, terutama, adalah filsafat yang dibangun atas dasar kekayaan bahasa. Kita bisa perhatikan bahwa filsafat Barat menganut suatu prinsip bahwa, "Yang benar adalah yang bisa dijelaskan." Agar penjelasannya terasa jelas dan runut, filsafat Barat menjadi contoh yang baik betapa berharganya bahasa dalam mengekspresikan suatu konsep. Namun harus dicermati juga bahwa semakin detail konsep itu dijelaskan, maka tidak sedikit konsep-konsep itu sendiri menemui paradoks, yakni pernyataan yang berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Mari menengok beberapa contoh kecil untuk melihat "celah" menarik ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;David Hume (1711-1776) mengatakan bahwa manusia terlahir sebagai lembar kosong. Ia menemukan pengetahuannya, satu-satunya, lewat kesan-kesan yang ia peroleh dari benda-benda. Kesan itu menimbulkan gagasan, yaitu semacam fotokopi dari apa yang kita lihat. Nah, gagasan itu bisa diartikan lebih jauh sebagai gabungan dari kesan-kesan. Hume mencontohkan unicorn, "Ia pastilah berasal dari kesan kita melihat kuda, dan kesan kita melihat tanduk." Paradoksnya, kalau manusia terlahir dari lembar kosong, maka dari mana Hume mendapatkan konsep bahwa ada kesan dan gagasan yang mendahului manusia?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lingkaran Wina, sebuah kelompok intelektual sekitar tahun 1922, mengemukakan ambisinya yang menarik, mereka ingin menyatukan ilmu-ilmu dalam satu atap (unified science). Agar sanggup melakukan hal ini, mereka membuat satu prinsip, "Kalimat yang bermakna, adalah yang bisa diverifikasi." Artinya, "Hujan akan turun" "Di tasmu berisi lima juta rupiah" "Makanan sudah siap" tergolong kalimat bermakna oleh sebab bisa dicek kebenarannya. Namun kalimat seperti "Membunuh itu dosa" "Tuhan itu ada" "Yang mati syahid masuk surga" adalah bukan kalimat bermakna oleh sebab mustahil melakukan cek dan ricek atasnya. Karl Popper menyerang kelompok ini dengan sebuah paradoks, apakah kalimat "Kalimat yang bermakna adalah yang bisa diverifikasi" itu bisa diverifikasi? &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam bidang etika, Jean Paul Sartre (1905-1980) adalah contoh yang menarik. Tesisnya adalah, "Manusia itu terlahir bebas, keputusan yang ia ambil adalah bebas, dan maka itu tidak ada etika apapun yang terkait dengannya." Namun Sartre tidak berhenti sampai di sini, "Tapi yang terpenting adalah, keputusan apapun yang ia ambil, ia bertanggungjawab secara penuh terhadap keputusannya." Artinya Sartre sekaligus menegaskan bahwa manusia juga terkena suatu etika, yaitu "yang baik adalah yang bertanggungjawab atas keputusannya".&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Problem bahasa ini sudah dipikirkan oleh beberapa filsuf. Misalnya, Ludwig Wittgenstein (1889 - 1951) mengemukakan suatu pernyataan menarik, "Mata bisa melihat dunia, tapi ia tidak bisa melihat dirinya sendiri. Kamera bisa memotret dunia, tapi ia tidak bisa memotret dirinya sendiri. Peta bisa menggambarkan dunia, tapi ia tidak bisa menggambarkan dirinya sendiri. Bahasa bisa menjelaskan dunia, tapi ia tidak bisa menjelaskan dirinya sendiri." Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) secara implisit menjelaskan dalam bukunya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thus Spoke Zarathustra&lt;/span&gt;, bahwa "Manusia terpenjara bahasa, sehingga sulit berkomunikasi dengan sesama." Katanya, lebih lanjut, "Kebenaran tidak lain daripada sekumpulan metafor." Jacques Derrida (1930 - 2004) juga secara gamblang menyatakan bahwa filsafat Barat tidak lebih dari sekumpulan karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari tinggalkan dulu filsafat Barat yang tengah bergelut dengan bahasa. Sekarang alihkan perhatian kita ke Timur, ke suatu aliran bernama Buddhisme Zen. Simak bagaimana cara mereka mengemukakan konsepnya, ini adalah yang paling terkenal, "Dua tangan ditepukkan dan terjadilah bunyi. Pertanyaannya, bunyi apa yang keluar dari satu tangan?" Atau ada dialog seperti ini (yang saya ambil dari buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Filsafat Timur&lt;/span&gt;-nya Bagus Takwin):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anda duduk di sini dengan diam bagaikan sebuah batu. Apakah yang anda pikirkan?"&lt;br /&gt;"Saya sedang memikirkan tidak berpikir."&lt;br /&gt;"Bagaimana caranya?"&lt;br /&gt;"Dengan tidak berpikir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan coba &lt;span style="font-style: italic;"&gt;googling&lt;/span&gt; dan ketik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;koan&lt;/span&gt; untuk mengetahui lebih banyak contoh-contoh paradoks seperti di atas. Artinya, Buddhisme Zen seperti memahami bahwa ada paradoks dalam bahasa, dan mereka memilih untuk membenturkannya ketimbang membiarkan berada dalam labirin. Sekilas kita akan sulit memahami ucapan-ucapan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;koan&lt;/span&gt;, namun ini sebenarnya juga sama sulitnya dengan kita memahami filsafat Barat, terutama saat mereka-mereka menemui paradoksnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirul kata, saya mengartikan bahwa bahasa terang saja bermanfaat, kita semua tahu dan bersyukur. Tuhan pun seolah mengerti manfaat ini sehingga dia menurunkan kitab suci. Namun saya juga mengartikan bahwa bahasa mengandung problem, ia mungkin saja mencoba memahami realita, mengotakkan dan menyederhanakan agar mudah dianalisis, tapi barangkali kita setuju bahwa realita itu sendiri berada di luar bahasa. Pada tingkat ontologis yang lebih jauh, perlu juga suatu kesadaraan, dalam keterbatasan bahasa, bahwa wahyu-wahyu Tuhan tidak mungkin miskin dari realita. Tidak mungkin Tuhan memerangkapkan diri dalam labirin bahasa yang ia tahu bahwa itu mengandung problematika. Ada baiknya menengok kebenaran di luar bahasa setelah kita paham betul keterbatasannya, atau kata Nietzsche:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;There is more wisdom in your body than in your deepest philosophy.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-5307137775757007873?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/5307137775757007873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/11/problem-bahasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/5307137775757007873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/5307137775757007873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/11/problem-bahasa.html' title='Problem Bahasa'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-9161155151305872605</id><published>2011-10-25T07:50:00.000-07:00</published><updated>2011-10-25T08:48:41.521-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Jarak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/5/5d/TravisBickle.jpg/250px-TravisBickle.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/d/df/Michaelcoreleone.jpg/235px-Michaelcoreleone.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 263px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/d/df/Michaelcoreleone.jpg/235px-Michaelcoreleone.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Michael Corleone, seperti yang diperankan Al Pacino dalam film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Godfather&lt;/span&gt;, adalah sosok yang mendapat penghargaan sebagai salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;iconic villain&lt;/span&gt; oleh American Film Institute. Pemilihan Michael sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;villain&lt;/span&gt; mungkin tidak disetujui semua orang. Bagi saya sendiri, ia seorang jagoan, ia protagonis. Michael adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;family man&lt;/span&gt; sekaligus juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tragic hero&lt;/span&gt;. Ini bukan interpretasi saya yang berlebihan, tapi tidakkah dalam film, Michael memang digambarkan sebagai seorang tokoh utama? Tidakkah kerajaan Corleone, dengan tetek bengek bisnis "haram" di luar sana, tetap digambarkan sebagai keluarga yang hangat dan menjunjung tinggi harga diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/5/5d/TravisBickle.jpg/250px-TravisBickle.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 156px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/5/5d/TravisBickle.jpg/250px-TravisBickle.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di film yang lain ada Travis Bickle (Diperankan dengan luar biasa oleh Robert de Niro dalam film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Taxi Driver&lt;/span&gt;). Travis adalah seorang supir taksi yang punya kegelisahan akan lingkungan sekitar. Ia merasa bahwa ia harus merubah keadaan. Keterbatasannya sebagai seorang supir taksi tidak menjadi persoalan. Travis membeli senjata, menembaki siapa saja yang merongrong keadilan. Seorang pelacur muda ia pulangkan ke orangtuanya. Pada titik ini Travis menjadi seorang pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Apa gerangan yang mau saya bicarakan? Saya sedang ingin membicarakan soal jarak. Tentu saja bukan pemikiran terbelakang kalau kita menganggap semua mafia adalah jahat dan semua supir taksi tidak ada yang berani merubah keadaan sekitar. Ini stereotip yang lumrah, yang diterbitkan dari konstruksi sosial. Kedua film di atas, dengan tokoh yang berbeda, mencoba mendekati apa yang stereotip, untuk melihat dari jarak yang sangat dekat. Melihat seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mafioso &lt;/span&gt;dan supir taksi secara eksistensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini kita sebenarnya susah menempatkan posisi hitam putih pada diri mereka. Jarak ini adalah "jarak manusiawi", ketika kita merasa bahwa ada kesamaan perasaan antara saya dan Michael Corleone, saya dan Travis Bickle. Bahwa ketika mereka gelisah, maka ini adalah gelisah yang sama dengan kegelisahan saya. Ketika mereka geram, ini adalah kegeraman yang sama dengan yang saya punya. Nilai-nilai loyalitas keluarga Corleone, terang saja bisa diterapkan dengan mudah pada keluarga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sesungguhnya yang menciptakan stereotip berlebihan? Bisa jadi adalah jarak yang "nanggung". Jarak yang tidak mau dekat tapi juga tidak mau jauh untuk meneropong keholistikan. Mengenal satu mafioso jahat, kita langsung menyimpulkan bahwa semua mafia jahat. Mengenal satu supir taksi berpikiran dangkal, kita langsung merasa bahwa tak mungkin ada supir taksi yang mau merubah dunia! Ini adalah jarak yang tanggung, jarak yang sudah hampir pasti sanggup menciptakan stereotip yang terburu-buru. Ambil contoh para teroris yang melakukan pemboman dengan target simbol-simbol hegemoni Barat itu. Tanyakan pada mereka: Adakah satu saja, satu saja, orang Amerika atau Yahudi yang kalian kenal dekat, dengan sangat baik, hingga bersahabat, hingga bersaudara? Entah kenapa saya yakin tidak (walaupun yang saya perbuat ini adalah stereotip dari jarak yang nanggung juga). Yang saya yakini, mereka melihat Barat dari konsep-konsep yang sempit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak sanggup mendekati fenomena, atau malas, maka ada alternatif yang mudah, yaitu menjauhkannya sejauh-jauhnya (jangan nanggung!). Pada titik ini keberbedaan juga akan sulit ditemukan. Seperti menyaksikan daratan dari pesawat terbang, maka tak akan ditemukan batas-batas negara, ideologi, agama, ataupun bangsa. Cara melihat dari jarak yang amat jauh ini, Spinoza menyebutnya dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sub specie aeternitatis&lt;/span&gt;: melihat segalanya dari perspektif keabadian. Bahwa manusia, secara holistik betul-betul tidak punya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;free will&lt;/span&gt;. Mereka diciptakan dalam kodratnya masing-masing, dalam lingkungannya masing-masing, dalam keterbatasan serta porsinya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jauh dekat sama saja. Yang penting jangan nanggung!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Semua gambar diambil dari Wikipedia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-9161155151305872605?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/9161155151305872605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/jarak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/9161155151305872605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/9161155151305872605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/jarak.html' title='Jarak'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-6663133132688447661</id><published>2011-10-23T08:42:00.001-07:00</published><updated>2011-10-23T18:13:05.388-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Pondok Musik Pan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.stefanmart.de/13_midas/130_midas_3.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.sgnewwave.com/main/wp-content/uploads/2008/07/pan-2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 336px;" src="http://www.sgnewwave.com/main/wp-content/uploads/2008/07/pan-2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Alkisah ada keluarga kambing yang mendirikan sebuah pondok musik bagi para binatang. Keluarga ini percaya bahwa mereka adalah keturunan langsung dari Pan, dewa berparas kambing yang amat lihai bermusik. Atas dasar itu mereka menamakan pondok musiknya dengan nama Pan, berharap agar para binatang yang belajar menjadikan Pan sebagai panutan sekaligus inspirasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga kambing terdiri dari empat anggota keluarga. Sang bapak, kambing jantan, bernama Lamira. Nama yang membuatnya sering tertukar dengan kambing betina. Lamira tak bisa bermain musik, namun amat pandai berorasi. Sang ibu bernama Pitys, kambing yang sangat lihai memainkan seruling. Si sulung adalah kambing betina bernama Hera yang amat piawai memainkan harpa. Dinamai Hera karena agar mewarisi sifat-sifat Dewi Hera, pencemburu dan tidak ingin Zeus jatuh ke tangan orang lain selain dirinya. Lamira dan Pitys ingin Hera menjadi seorang juara. Adik Hera bernama Ovid, kambing jantan yang dibiarkan tumbuh alami oleh kedua orangtuanya oleh sebab mereka telah memercayakan beban keluarga pada Hera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar pondok musiknya menjadi maju, mereka tentu saja tidak bisa hanya mengandalkan anggota keluarganya untuk mengajari para binatang. Satu per satu binatang yang dianggap berbakat di bidang musik direkrut untuk menjadi guru. Setelah melalui kecerdikan orasi Lamira, beberapa binatang yang pandai musik langsung tertarik untuk menjadi guru tanpa banyak bertanya. Pondok musik berjalan menyenangkan, dari hari ke hari muridnya bertambah terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamira, sang kepala keluarga, tidak puas dengan keberhasilan pondok musik ini. Ia ingin lebih. Maka itu Lamira mulai mengadakan program demi program agar pondoknya semakin sukses. Misalnya, Lamira ingin membuat konser yang disaksikan oleh para binatang di seluruh negeri. "Agar anak didik kita menjadi berani tampil," katanya pada sang istri. Tapi tak berhenti disitu, "Jangan lupa tarik harga tinggi bagi siapa yang mau tampil. Tidakkah panggung seperti ini adalah langka?" lanjut Lamira. Sang istri hanya bisa mengangguk, karena percaya apa yang diucap suami biasanya mengandung kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konser pondok musik Pan berlangsung meriah. Seluruh negeri memuji dan mengagungkan namanya. Lamira tak mau berhenti, ia semakin bersemangat untuk mengadakan acara sekaligus memanfaatkan keberhasilan konser kemarin untuk menarik biaya lebih tinggi lagi bagi anak didiknya. Tidak lupa Hera selalu berpartisipasi, sebagai bentuk kebanggaan keluarga Lamira, "Kamilah keturunan Pan yang asali." Setiap pondok musik Pan diundang di forum-forum negeri binatang, tak lupa Lamira juga mengagungkan Hera. Membicarakannya ke seluruh negeri tentang anaknya yang kelak akan menggantikan manusia untuk menguasai bumi. Orasi Lamira meyakinkan, "Kelak yang kaki dua akan kalah oleh kaki empat. Inilah Hera anakku yang akan memimpin kalian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah semangat Lamira dan kejayaan pondok musik Pan, terdapat api dalam sekam. Para guru diam-diam bersiap untuk melakukan pemberontakan. Kenapa? Karena nun jauh di ruang-ruang kelas tempat mereka mengajar musik, para orangtua siswa kerap melancarkan protes, "Mengapa mahal sekali biaya-biaya untuk konser? Memang untuk apa?" Para guru kelimpungan, tidak punya wewenang untuk menjawab oleh sebab memang betul-betul tidak tahu. Namun satu yang para guru tahu pasti, Lamira bukanlah orang yang menyenangkan. Ia amat senang berbicara mengagungkan kejayaan pondok musik Pan dan Hera sendiri pada setiap guru yang ditemui. Lamira terus meyakinkan, bahwa, "Kelak yang kaki dua akan kalah oleh kaki empat. Inilah Hera anakku yang akan memimpin kalian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan itu saja yang menjadi dasar pemberontakan para guru. Lamira kerap mempekerjakan para guru di konser-konser besar seluruh negeri tanpa memberinya uang sepeser pun. Padahal para guru tahu bahwa orangtua murid diwajibkan membayar dana yang besar pada setiap penyelenggaraannya. Lamira juga kerap menyindir para guru yang tidak setia pada pondok  musiknya. Lamira ingin agar para guru hanya mengajar di satu tempat,  yakni tempat miliknya. Jika ada yang mengajar di tempat lain, maka  kata-kata pedas mulai terlontar. Selain itu, Hera yang percaya bahwa dirinya adalah kambing unggulan, mulai bersikap menyebalkan. Ia menempatkan dirinya selalu istimewa diantara para binatang, dan guru-guru tidak suka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para guru rapat memikirkan pemberontakan yang tepat. Seorang guru muda, seekor babi, mengusulkan untuk membunuh Lamira dengan tenaga seekor kuda. Guru yang lebih senior yang kebetulan seekor kuda menolak usulannya. Katanya, "Jangan membunuh. Nanti siapa yang menafkahi anak-anaknya? Tidakkah Pitys sering memelas bahwa segala yang ia lakukan adalah demi menafkahi Hera dan Ovid?" Para guru mengangguk menyetujui sang kuda. Seekor burung merak ahli menyanyi mengusulkan agar satu per satu keluar dari pondok. "Jelas ini ide yang bagus, karena kita yang membuat pondok ini jadi bagus, tapi mengapa kita yang tidak dihargai?" kata burung merak berapi-api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah satu per satu guru mengundurkan diri dari pondok musik Pan dengan berbagai alasan. Semua teguh pendirian, terutama kenyataan bahwa banyak orangtua murid juga mendukung penuh. Kata para orangtua, "Meskipun jaya dan maju, tapi uang yang diminta terlalu besar dan kadang tidak masuk akal." Usul burung merak alangkah tepat. Lamira dan Pitys kelimpungan. Sempat mereka memohon-mohon agar para guru tidak keluar. Namun apa daya para guru tak punya semangat lagi mengajar di sana. Melihat kenyataan itu, Lamira dan Pitys sama sekali tidak terpikir untuk mencari apa yang salah dalam diri mereka. Mereka menuduh kekuatan di luar sana telah memengaruhi para guru. Kata mereka, "Ini perbuatan Apollo! Sihir! Ia tidak puas hanya dengan menang di kontes musik para dewa. Ia ingin Pan dan turunan-turunannya ikut sengsara!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun jauh di langit sana Apollo tersenyum mendengar hiruk pikuk keluarga Lamira yang tengah menyalahkan dirinya. Kata Apollo, "Bagaimana mungkin pelbagai perbuatan angkuh yang telah mereka lakukan sama sekali tidak membuat berkaca? Apakah perlu aku ubah telinga mereka menjadi seperti keledai, layaknya yang sudah aku lakukan pada Midas?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.stefanmart.de/13_midas/130_midas_3.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 567px; height: 381px;" src="http://www.stefanmart.de/13_midas/130_midas_3.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sumber gambar: http://www.stefanmart.de/13_midas/130_midas_3.jpg dan http://www.sgnewwave.com/main/wp-content/uploads/2008/07/pan-2.jpg&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-6663133132688447661?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/6663133132688447661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/pondok-musik-pan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6663133132688447661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6663133132688447661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/pondok-musik-pan.html' title='Pondok Musik Pan'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-2144582637605035957</id><published>2011-10-22T08:10:00.000-07:00</published><updated>2011-10-22T08:49:58.514-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Mengembalikan Agnostisisme</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adakah kesamaan antara ucapan 'agnostisisme' dengan 'sesuatu banget'-nya Syahrini? Ada, keduanya sama-sama diucapkan secara bebas tanpa kadang-kadang diketahui artinya secara jelas oleh si pengucap. Keduanya sama-sama mempunyai nilai tren tertentu. Perbedaannya barangkali ada pada tingkat refleksinya. Agnostisisme dipercaya merupakan suatu ungkapan reflektif-spiritual, sedangkan 'sesuatu banget' boleh jadi nyaris tidak mempunyai arti yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara stereotip, setidaknya saya menginduksi dari beberapa contoh partikular yang saya ketahui, bahwa agnostisisme adalah 'paham yang percaya Tuhan tapi tidak percaya agama'. Artinya, yang terjadi adalah bukan membahas 'cara', tapi esensi spiritual hubungan langsung hamba dan Tuhan, ataupun para sufi lebih intim dengan menyebut hubungan ini sebagai 'kekasih'. Pemikiran seperti ini tentu saja punya nilai dan daya refleksi yang tidak bisa dibilang dangkal. Namun problemnya, betulkah agnostisisme diartikan seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami agnostisisme, bisa dirunut dari pemikiran Immanuel Kant tentang fenomena dan noumena. Fenomena, kata Kant, adalah segala yang tercerap indera, "Yang nyata adalah yang indrawi." Sedangkan noumena adalah segala jenis pengetahuan yang di luar indera, yang termasuk di dalamnya adalah Tuhan, jiwa, ruh, kebebasan, keadilan, dan lain sebagainya. Kant secara rendah hati (tidak seperti Hume) mengakui bahwa noumena ini ada bagusnya sebagai postulat. Sebagai contoh, jika tidak ada konsep Tuhan, mungkin tidak adil bagi manusia jika melihat seorang yang berbuat dosa sepanjang hidupnya kemudian tidak ada yang mengadilinya di kemudian hari. Tapi Kant mengajukan syarat terkait noumena ini, katanya, noumena itu mungkin saja ada, tapi ia di luar batas pengetahuan kita. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ia tidak bisa diketahui apalagi dibicarakan&lt;/span&gt;. Batas-batas pengetahuan manusia adalah sebatas dunia fenomena saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar cocok, mari buka Wikipedia sejenak untuk mengutip apa agnostisisme kata mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Agnosticism is the view that the truth value &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;of certain claims—especially claims about the existence or non-existence of any &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;deity&lt;/span&gt; but also other religious and  metaphysical&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; claims—is unknown or unknowable&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua pernyataan di atas, bisa kita gabung bahwa "Agnostisisme adalah paham yang mengatakan bahwa dunia noumena seperti Tuhan, dewa, atau hal-hal lain yang metafisik adalah sesuatu yang di luar pengetahuan atau mustahil diketahui." Artinya, berdasarkan dua pernyataan di atas, penempatan agnostisisme sebagai 'Percaya Tuhan tapi tidak percaya agama' adalah miskonsepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita bedah agnostisisme dari akar katanya. Konon, Thomas Henry Huxley adalah yang pertama kali menggagas kata ini. Berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;a&lt;/span&gt; yang berarti tanpa dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gnosis&lt;/span&gt; berarti pengetahuan. Pengetahuan yang disebut sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gnosis&lt;/span&gt; ini adalah pengetahuan spiritual. Pengetahuan yang konon "didapat dari dalam" dan sangat populer di Abad Pertengahan. Dunia Islam juga mengenal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gnosis&lt;/span&gt; dengan nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ilm-laduni&lt;/span&gt;. Berdasarkan asal muasal kata, maka Huxley sekaligus ingin menegaskan bahwa "pengetahuan dari dalam" itu tidak ada. Huxley seolah ingin memurnikan argumen Kantian bahwa segala konsepsi pengetahuan yang mungkin diketahui hanya bisa diperoleh dari pengalaman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aposteriori&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, walaupun ada upaya mendudukkan kembali, namun miskonsepsi yang sering terjadi sesungguhnya bisa "digeser sedikit saja". Kenyataan bahwa terdapat dua cabang agnostisisme. Yang pertama adalah agnostik ateis, yakni mereka yang tidak percaya Tuhan sekaligus menolak kemungkinan mengetahuinya. Yang kedua adalah agnostik teis, yakni mereka yang percaya Tuhan namun menolak kemungkinan untuk mengetahuinya lebih lanjut. Jika "digeser sedikit", yang tadinya miskonsepsi justru menjadi pas di agnostik teis. Artinya, percaya Tuhan namun tidak percaya agama memang ada benarnya. Jika dalam agama biasanya mengandung "kemungkinan untuk mengetahui Tuhan lebih lanjut".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akhirul kata, ada baiknya manusia pada tataran tertentu menjadi seorang agnostik. Tidakkah perang-perang besar mengatasnamakan Tuhan itu diawali oleh kedua kubu yang merasa paling tahu tentang keinginan Tuhan? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-2144582637605035957?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/2144582637605035957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/mengembalikan-agnostisisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2144582637605035957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2144582637605035957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/mengembalikan-agnostisisme.html' title='Mengembalikan Agnostisisme'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-4726099916640642075</id><published>2011-10-17T07:42:00.000-07:00</published><updated>2011-10-17T10:01:38.842-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Orang Tua dan Anak Muda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belakangan ini saya sering diberi visi tentang hubungan istimewa seorang tua dan seorang muda. Pertama ketika memoderasi sebuah bedah buku tulisan Andi Achdian (judulnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sang Guru dan Secangkir Kopi&lt;/span&gt;) berisi percakapan ia dengan gurunya, seorang sejarawan legendaris, Ong Hok Ham. Saya terkesan dengan bagaimana Andi terkesan dengan gurunya. Tentu saja, sang guru, Ong, tidak serta merta mempunyai pribadi yang menyenangkan sepenuhnya. Terkadang Ong marah-marah, lain waktu meninggalkan Andi seorang diri di beranda rumahnya untuk tidur tanpa pamit. Namun apa yang disampaikan Ong nampak tidak ada satupun yang tersapu waktu. "Kritisisme, kritisisme," demikian pesan Ong pada Andi, tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia. "Manusia itu, harus kritis," tambah Ong berulangkali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;random&lt;/span&gt;, saya diingatkan pada hubungan orang tua dan anak muda yang sangat menarik dalam film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gran Torino&lt;/span&gt; (2008). Ini antara Walt Kowalski (Client Eastwood) dan Thao. Walt adalah veteran Perang Korea yang kesepian dan Thao adalah anak muda beretnik Hmong. Thao, yang menjadi pecundang di antara kawan-kawannya, diajari untuk berani dan bersikap maskulin oleh Walt. Meskipun Walt adalah pria tua yang keras kepala (terbukti dari beberapa kali ia mengusir pendeta yang memintanya berdoa), namun di hadapan Thao ia tidak bisa membohongi rasa sayangnya. Walt memberikan beberapa perkakas favoritnya semata-mata agar Thao punya kemampuan tukang untuk membekalinya kelak. Walt juga mengajak Thao ke tempat cukur, tempat Walt dan si tukang cukur bercakap-cakap dengan umpatan-umpatan kasar. Kata Walt, "Seperti inilah pria seharusnya berbicara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, hubungan sentimentil ini datang lagi. Hadir lewat film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Scent of A Woman&lt;/span&gt; (1991) yang dibintangi oleh Al Pacino. Al Pacino berperan sebagai Letnan Kolonel (purnawirawan) Frank Slade yang kehilangan penglihatan dan tinggal di rumah keponakannya. Berhubung keponakannya sekeluarga hendak berlibur dan Kolonel enggan ikut, maka ia mempersilakan Charlie Simms (Chris O' Donnell), mahasiswa yang tengah mencari kerja sampingan untuk menemani Kolonel beberapa hari. Kolonel secara tiba-tiba mengajak Charlie ke New York, hal yang ia sebut sebagai, "Perjalanan yang memulai pendidikanmu." Kolonel kemudian baik secara langsung maupun tidak langsung, menunjukkan pada Charlie tentang kegairahan hidup. Wanita, anggur, tarian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tango&lt;/span&gt;, dan berbagai fasilitas hotel yang seolah Kolonel mau menunjukkan pada Charlie, bahwa hidup tidak hanya tentang sekolah. Faktanya, inilah kehidupan sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga contoh di atas, meskipun sama-sama berkonsep "Orang tua mewariskan sesuatu pada anak muda", tapi substansinya beragam. Namun bukan itu yang hendak dibahas, melainkan kenyataan bahwa pada dasarnya ada suatu perasaan keharusan dari orang tua untuk mewariskan sesuatu yang ia punya, pada kaum muda. Ketiga orang tua di atas: Ong, Walt, dan Kolonel, bukanlah orang tua yang mengalami suatu keramaian di masa tuanya. Mereka dihinggapi kesepian dan mempersiapkan akhir hidupnya nyaris dalam kesendirian. Dalam sisa-sisa waktu yang mereka punya, mereka barangkali menyadari bahwa jiwa mereka sesungguhnya masihlah sama seperti puluhan tahun sebelumnya. Tapi apa daya tubuh ini sudah renta dan biarkan tubuh yang lebih kokoh yang membawa semangat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran saya tidak berloncatan lagi kesana kemari, ketika Bapak memanggil saya untuk duduk di meja makan. Bapak adalah pria tua yang bisa saya samakan dengan Ong, Walt, dan Kolonel. Ia pria tua yang sedang sibuk untuk mengumpulkan apa-apa saja yang bisa diwariskan pada orang muda yang dikenalnya. Seperti lazimnya pria tua juga, pribadi Bapak tidak selamanya enak. Ada saja temperamen meledak tiba-tiba, bermanja-manja, atau punya keinginan ini itu padahal saya sebagai anak muda saja dipenuhi kegiatan ini itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah orang tua pada anak muda barangkali tidak pernah terserap semua dalam memori ataupun perasaan. Namun saya merasa kata-kata Bapak mendagingi saya, tumbuh bersama tubuh saya, diserap oleh seluruh panca indera. Bapak adalah orang yang ketika saya kecil tidak pernah berhenti menyuguhkan musik jazz, pertunjukkan kesenian, serta butir-butir pemikiran mendalam yang waktu itu tak bisa saya pahami. Tapi ketika saya besar, saya punya sekop yang cukup kuat untuk menggali apa-apa yang pernah ia tanamkan dulu di seluruh panca indera saya. Orang tua sesungguhnya tidak pernah berbagi kebijaksaan, karena kebijaksanaan sejati tidak bisa dibagi-bagi. Orang tua memberikan pengetahuan tentang kebijaksanaan untuk lantas kebijaksanaan itu sendiri anak muda yang maju untuk mengarungi. Mencari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya berbicara sebagai seorang muda, petualang penuh spirit. Nanti kelak saya menulis ini sebagai seorang tua, yang kakinya tak lagi kuat mendaki gunung, namun saya bisa berbicara tentang gunung tanpa mesti berada di puncaknya. "Sesungguhnya kebenaran sejati adalah pencarian kebenaran itu sendiri," demikian Bapak selalu berpesan berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-4726099916640642075?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/4726099916640642075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/orang-tua-dan-anak-muda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/4726099916640642075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/4726099916640642075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/orang-tua-dan-anak-muda.html' title='Orang Tua dan Anak Muda'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-1020280561142284659</id><published>2011-10-12T09:14:00.000-07:00</published><updated>2011-10-12T09:47:44.328-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Jiwa adalah Penjara Tubuh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika awal-awal mengikuti kuliah filsafat di Extension Course Filsafat (ECF) Unpar, Pak Bambang Sugiharto mengatakan sesuatu tentang "Tubuh adalah penjara jiwa" yang sesungguhnya ia kutip dari Plato. Kemudian masih di pertemuan yang sama, beliau mengatakan hal sebaliknya yang ia ambil dari Foucault. Katanya, "Jiwa adalah penjara tubuh". Jika tubuh adalah penjara jiwa, agaknya masih mudah dipahami. Namun soal pernyataan Foucault, apa maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari membedah dulu omongan Plato. Plato adalah murid Sokrates, yang sama-sama mengagungkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;eudaimonia&lt;/span&gt;. Kata yang dapat diterjemahkan menjadi "kebahagiaan" mesti tak tepat benar padanannya. Mungkin saya bisa usulkan "keluhuran jiwa".  Baik Sokrates maupun Plato keduanya sepakat bahwa manusia yang bijaksana adalah mereka yang sukses mencapai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;eudaimonia. &lt;/span&gt;Bagi Plato, jiwa ini murni adanya. Ia mempunyai pengetahuan ideal yang diturunkan dari dunia ide pra-eksistensi. Ketika manusia lahir ke dunia berbalutkan tubuh, maka jiwa ini mengalami kelupaan. Tugas manusia berikutnya adalah "mengingat kembali" apa-apa yang pernah ada di dunia ide, suatu kondisi dimana jiwa ini pernah sedemikian murninya sebelum terbungkus tubuh yang penuh dengan tipu daya dan kesementaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membedah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tagline&lt;/span&gt; Foucault, sesungguhnya bagi saya mudah saja karena pisau bedahnya berasal dari pengalaman saya pribadi belakangan ini. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan saya baik lewat bacaan, diskusi, film, musik dan lain sebagainya, saya mempunyai kegelisahan yang amat Sokratik: Bahwa saya menyadari ternyata banyak yang saya tidak tahu. Hal ini sangat mengganggu dan seringkali membuat kalap. Untuk mengatasinya, saya meng-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;copy&lt;/span&gt; bergiga-giga film dari kawan, menyiapkan tumpukan literatur untuk dibaca, serta mengurut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;list link youtube&lt;/span&gt; ataupun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e-book&lt;/span&gt; yang wajib diunduh maupun dilihat. Ini belum ditambah dorongan yang semakin kuat untuk datang ke tempat apapun: diskusi, seminar, pagelaran musik kontemporer, bahkan konser Westlife pun saya sempat mempertimbangkan untuk hadir! Meskipun seolah ditujukan untuk menambah pengetahuan, tapi ada tujuan yang lebih penting daripada itu bagi saya, yakni meredakan kegelisahan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari belakangan ini, jiwa saya menjadi rajin meronta. Saya kebingungan setiap paginya untuk mencari apa yang pas bagi kebutuhan jiwa. Jika kamu bertanya apa sesungguhnya kesibukan saya, maka secara konkrit (jika yang konkrit artinya menghasilkan uang) tidak banyak. Saya hanya mengajar gitar klasik setiap sore, meng-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;update &lt;/span&gt;blog Tobucil Senin pagi, dan mengajar mata kuliah di kampus yang baru satu-dua saja jumlahnya. Sisanya saya betul-betul disibukkan untuk memenuhi kebutuhan jiwa. Ada dorongan aneh yang mengharuskan saya menonton minimal satu film setiap hari, menulis artikel minimal satu posting setiap hari, mendengarkan musik, berlatih gitar, memikirkan suatu acara, dan lain sebagainya. Bahkan selalu ada momen terselip ketika saya tiba-tiba merasa perlu untuk memikirkan nasib umat manusia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini saya merasa justru jiwa yang memenjarakan tubuh. Saya ingin tubuh ini bebas, mengerjakan hal-hal yang dia suka yang sesungguhnya cuma empat saja: makan, minum, tidur dan seks. Saya ingin tubuh ini tidur ketika ngantuk, makan ketika lapar, seks ketika ingin, dan bukannya menahan diri oleh sebab hambatan dari jiwa yang minta perhatian. Jiwa saya sekarang mendadak memikirkan nasib para nabi. Apakah mereka bahagia dengan kenabiannya? Apakah Yesus sedemikian agungnya ketika dia sukses membangkitkan Lazarus tanpa sedikitpun perasaan takut seperti yang digambarkan oleh Martin Scorcese dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Last Temptation of Christ&lt;/span&gt;? Apakah Muhammad sedemikian agungnya ketika menerima wahyu dari malaikat Jibril tanpa gejolak yang dahsyat pada jiwanya? Apakah Siddharta sedemikian agungnya ketika memutuskan pergi dari istana, tanpa ada ketakutan bahwa nantinya ia tak dapat apa-apa dari perjalanan spiritualnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jiwa ini mungkin tidak semanis perkataan Plato. Seringkali ia justru liar dan nakal. Menyelimuti seluruh aspek kehidupan dan kadang sukses menangguhkan lapar  dan ngantuk hingga limit tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-1020280561142284659?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/1020280561142284659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/jiwa-adalah-penjara-tubuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1020280561142284659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1020280561142284659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/jiwa-adalah-penjara-tubuh.html' title='Jiwa adalah Penjara Tubuh'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-4874669622505634509</id><published>2011-10-08T08:58:00.000-07:00</published><updated>2011-10-08T10:07:26.028-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Catatan dari Acara "Young Composers in Southeast Asia Competition &amp; Festival 2011"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-lOLjK36dPkI/TpCDAvfz2qI/AAAAAAAAAJY/LOxrKDJG2Qk/s1600/IMG_0003%255B1%255D.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-lOLjK36dPkI/TpCDAvfz2qI/AAAAAAAAAJY/LOxrKDJG2Qk/s400/IMG_0003%255B1%255D.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661168780377840290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Young Composers in Southeast Asia Competition &amp;amp; Festival 2011&lt;/span&gt; adalah suatu acara yang diselenggarakan atas kerjasama Goethe Institut dan Universitas Pendidikan Indonesia. Secara umum, acara ini digelar untuk menampung komposer muda yang memiliki ketertarikan pada komposisi untuk instrumen barat dan timur sekaligus. Kata Dieter Mack, penyelenggara, dari tujuh puluhan komposisi yang masuk, sepuluh diantara menjadi finalis terpilih. Sepuluh karya itulah yang kemudian ditampilkan pada malam itu di Dago Tea House. Para performa berasal dari Ensembel Mosaik dan Kyai Fatahillah. Ensembel Mosaik yang berasal dari Jerman mewakili instrumen barat, sedang Kyai Fatahillah dari Bandung mewakili instrumen timur. Keduanya bersatu padu menampilkan dan menginterpretasi komposisi-komposisi dari para finalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak punya suatu judul yang menggambarkan garis besar dari apa yang saya saksikan barusan. Saya lebih memilih judul "catatan", agar tidak perlu berupaya mencari-cari satu esensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tidak dapat disangkal, bahwa sajian malam itu adalah apa yang disebut dengan "musik kontemporer". Jika disebut musik klasik, tidak tepat juga, karena apa yang disuguhkan mempunyai suatu "perasaan kebaruan" yang barangkali tidak ada padanannya di masa lampau. Yang saya rasakan, kebaruan ini berasal dari dua aspek, pertama yaitu aspek musikal itu sendiri. Secara ritmikal, harmoni, maupun tonalitas, musik yang dihadirkan terasa tidak lazim. Secara subjektif juga sulit dinikmati dan dicerna langsung. Kedua, adalah eksplorasi instrumen. Instrumen tidak hanya dibunyikan "sebagaimana mestinya", tapi juga ada upaya untuk menggali kemungkinan-kemungkinan apa saja yang mampu dihasilkan oleh suatu karakteristik alat musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Saya tidak setuju jika musik kontemporer dikatakan suatu musik yang "asal bunyi". Meskipun secara sepintas dapat dikatakan demikian, jika acuannya adalah ritmik dan harmoni yang sehari-hari kita jumpai. Sering sekali terdapat celetukan, "Ah, bikin yang kaya gitu sih saya juga bisa." Hal tersebut merupakan respon dari komposisi musik kontemporer yang jika dilihat sekilas seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chaotic&lt;/span&gt; dan tidak punya keteraturan. Musik kontemporer justru sedang berupaya menangkap keseharian kita yang sejati sesuai dengan salah satu karakteristik seni yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mengimitasi kehidupan&lt;/span&gt;. Dalam pengalaman keseharian kita, seringkali bunyi hape, deru mobil, percakapan orang, serta bunyi pesawat terbang berseliweran sembarangan tanpa teratur. Musik kontemporer ada upaya menangkap fenomena itu, sehingga ketika mendengarkannya seyogianya kita justru menyadari sebuah keadaan "kesekarangan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menambahkan poin di atas, saya juga menemukan suatu keadaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nostalgic&lt;/span&gt; bagi sebahagiaan kaum yang kerap memuja musik masa lampau namun menutup diri pada musik kontemporer. Perlu diketahui bahwa ada kecenderungan bagi manusia  untuk menganggap masa lalu lebih baik dari sekarang. Penyuka Bach, Beethoven, Schumann, Debussy, atau Mozart yang menganggap musik mereka jauh lebih harmonis dan enak didengar, mungkin lupa bahwa pada jamannya mereka-mereka ini justru atonal dan tidak harmonis: kontemporer. Apa yang disuguhkan malam tadi terasa tidak nyaman di telinga jaman ini, namun suatu saat akan dikenang sebagai "musik yang mewakili jaman itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menyaksikan konser secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;live&lt;/span&gt; adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;whole body experience&lt;/span&gt;. Seluruh indra ditajamkan dan "dipaksa" untuk menangkap segala fenomena yang terjadi. Kata Dieter Mack, "Menyaksikan konser musik secara langsung jauh lebih baik daripada menonton televisi ataupun mendengarkan CD." Beberapa komposer menyadari hal itu sehingga ada beberapa sajian komposisi yang juga menarik secara visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Persoalan harmonisasi instrumen timur dan barat tidak seharusnya menjadi hal yang terlalu serius. Sajian malam tadi membuktikan bahwa yang terpenting bukan lagi soal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tuning &lt;/span&gt;ataupun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;key signature&lt;/span&gt;, tapi lebih pada interaksi antar sesama pemain. Lagi-lagi saya mengutip Dieter Mack, "Apapun yang dimainkan dengan perasaan sungguh-sungguh, akan sampai pada penonton."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kontemporer bukanlah sejenis aliran musik. Ia adalah suatu kesadaran yang mencoba menangkap fenomena masa kini dan meresponnya. Orang bisa saja mengambil jalur kontemporer, tapi saya pikir ia mesti lebih dulu mempunyai pengetahuan yang cukup tentang musik-musik di masa lampau. Selain itu, ia juga mesti memiliki konsep yang kuat tentang bagaimana ia menangkap dunia keseharian. Lagi-lagi Dieter Mack, "Memahami musik harus disertai filsafat, atau seseorang mempunyai lubang dalam konsepnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Faktanya, acara "seni yang dipertandingkan" masih sering diperdebatkan. Namun di akhir acara saya sempat berbincang sejenak dengan legenda hidup Slamet Abdulsjukur. Katanya, "Ini pertandingan yang sangat sehat dengan juri yang jujur." Suatu pendapat yang menarik karena akhirnya saya menemukan opini mengenai "pertandingan seni yang sehat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pasca perang dunia kedua, dunia barat dilanda suatu trend filsafat bernama posmodernisme. Tokoh-tokoh seperti Lyotard, Foucault atau Derrida mengatakan adanya konstruksi kebenaran dalam segala sesuatu. Pengaruh besarnya, dunia barat sebagai "kiblat kebenaran" di era-era sebelumnya mengalami kegoncangan, dan dunia timur lambat laun mulai ditengok. Acara ini sungguh pandai memanfaatkan momen global dimana dunia timur sedang menjadi pusat perhatian. Posmodernisme adalah suatu jalan bagi "kaum yang terpinggirkan" di era-era sebelumnya untuk bersuara. Suatu kesempatan juga bagi dunia timur selain mengeksplorasi ke luar, tapi juga menggali ke dalam. Mencari jati diri yang asali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa catatan tentang acara yang pada akhirnya "dimenangkan" oleh Alexander Villanueva (Filipina), Matius Shan Boone (Indonesia), dan Danilo Endangan Imson (Filipina) tersebut. Patut dipuji karena ketiga pemenang tersebut tidak berhierarki juara satu, dua, dan tiga. Ketiganya adalah pemenang bersama dengan hadiah uang yang sama pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-4874669622505634509?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/4874669622505634509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/catatan-dari-acara-young-composers-in.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/4874669622505634509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/4874669622505634509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/catatan-dari-acara-young-composers-in.html' title='Catatan dari Acara &quot;Young Composers in Southeast Asia Competition &amp; Festival 2011&quot;'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-lOLjK36dPkI/TpCDAvfz2qI/AAAAAAAAAJY/LOxrKDJG2Qk/s72-c/IMG_0003%255B1%255D.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-792840838311924280</id><published>2011-10-05T09:27:00.000-07:00</published><updated>2011-10-05T17:20:41.685-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Religulous: Ajakan Kritik Diri bagi Umat Beragama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/5/54/Religulous_poster.jpg/220px-Religulous_poster.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 317px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/5/54/Religulous_poster.jpg/220px-Religulous_poster.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelumnya, terima kasih pada &lt;a href="www.pirhot-nababan.blogspot.com"&gt;Pirhot Nababan&lt;/a&gt;, kawan yang dengan baik mengopikan 40 GB koleksi filmnya ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hard disk&lt;/span&gt; milik saya. Salah satu diantaranya adalah ini, yang dengan semangat ia sarankan untuk menontonnya. Suatu film berdurasi kurang dari dua jam, judulnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Religulous&lt;/span&gt;. Judul yang berasal dari gabungan dua kata, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;religious&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ridiculous&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film dokumenter ini enak ditonton. Penuh interupsi visual yang menghibur. Berkisah tentang komedian Bill Maher yang melakukan "perjalanan spiritual". Ia bertemu petinggi-petinggi agama dan beragam orang-orang religius (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;believer&lt;/span&gt;) baik di AS, Vatikan, gereja Mormon, hingga Yerusalem, untuk kemudian didebat, diparodikan, diserang, hingga dihantam oleh argumen yang sesungguhnya sulit untuk ditanggapi secara memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokumenter garapan Larry Charles ini juga sering menyisipkan ilustrasi-ilustrasi yang mengundang gelak tawa. Seperti ketika Bill mewawancarai Mohamed Junas Gaffar, seorang kiai di sebuah mesjid di Amsterdam tentang, "Apakah Islam adalah sebuah ancaman bagi nilai-nilai di Belanda?" Sang kiai menjawab, "Tidak. Islam adalah damai dan damai." Setelah itu tiba-tiba ada interupsi dari gambar lain, menunjukkan khutbah yang mengajak umat Muslim untuk membunuhi orang-orang Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill, meskipun tampak antagonis dengan kelakuannya yang satir dan sering terbahak-bahak mendengarkan penjelasan para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;believer&lt;/span&gt;, apa yang ia serang sesungguhnya bisa dipahami. Seperti ketika Bill mewawancarai Jeremiah Cummings, seorang pastur, yang dikritiknya sebagai, "Lihat pakaian dan segala kekayaanmu, apakah Yesus mengajarkan ini?" Kata Jeremiah dengan gugup, "Tentu saja. Yesus selalu berpakaian baik, ia bahkan menggunakan linen bagus." Bill sendiri langsung tertawa sambil berkata, "Jelas sekali. Yesus adalah pembela orang miskin dan menentang segala kekayaan yang berlebihan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill kerap mempertanyakan segala upaya "pembumian" agama. Misalnya, gerakan anti homoseksual, pertalian agama dan negara (baca: politik), pertalian agama dan ekonomi, pertalian agama dan sains, serta pertalian agama dan perang. Semuanya dipertanyakan dengan kalimat besar, "Apakah betul agama membicarakan itu semua? Atau ini hanya berkaitan dengan kepentingan kalian?" Di akhir film ia berpesan, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Grow up, or die&lt;/span&gt;." Mengajak kita semua merenungkan arti agama, jika memang ia adalah sumber kekerasan dan dehumanisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kasus seperti ini, selalu ada pembelaan klasik, "Itu sih bukan agamanya, tapi orangnya." Tapi kemudian saya pribadi tidak terlalu lagi memegang teguh kalimat itu, karena jika demikian, "Adakah cara menjalankan agama yang paling benar?" Yang demikian juga tidak mudah menjawabnya. Karena jika yang dimaksud "menjalankan agama yang paling benar" itu mengikuti kitab suci dan apa-apa yang sudah tertulis, maka di Islam kita tahu, ada kelompok Salafi dan Wahabi yang sungguh-sungguh mengambil segala ajaran yang tertulis secara kaku. Ada juga kelompok yang lebih liberal, yang mengatakan agama seyogianya kontekstual, punya kelenturan dengan kehidupan keseharian dan perubahan jaman. Jika ini iya, maka kadang-kadang mereka tak tepat persis mengambil dari kitab suci, lantas, "Inikah cara menjalankan agama yang paling benar?"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata-kata Bambang Sugiharto mungkin ada benarnya. "Bukan semata-mata orangnya, jalinan sistem dalam agama mulai dari kitab suci, dogma, ritual, serta konsep ketuhanannya, sangat berpengaruh pada cara bersikap pemeluknya. Jadi jangan selalu salahkan orangnya, salahkan juga agamanya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Religulous&lt;/span&gt; dalam hal ini sesungguhnya tengah mengajak umat beragama untuk melakukan kritik diri. Atau dalam bahasa Bambang, "Membongkar aspek ilusoris dalam agama". Agama bagaimanapun juga mengandung dogma yang mau tidak mau harus diterima (disebut fideisme, atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;faith-ism&lt;/span&gt;. Iman ya iman, nalar tidak boleh ikutan). Dogma bermaksud menangkap fenomena keilahian dan lantas diwariskan, tapi perlu diingat, bahwa: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dogma bukanlah fenomena keilahian itu sendiri. &lt;/span&gt;Untuk menemukan fenomena keilahian secara persona, kadang-kadang memang harus melalui pengalaman yang betul-betul mandiri. Sebuah pengalaman akan kehadiran: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fascinatum et tremendum&lt;/span&gt;, mengagumkan sekaligus menggetarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Serangan-serangan" dari Bill Maher sudah sepatutnya tidak menjadikan diri kita tersinggung atau marah -seolah-olah kemarahan ini mewakili kemarahan Tuhan-, tapi menjadi suatu renungan mendalam tentang pengalaman beragama kita semua. Film ini layak ditonton walaupun saya tidak tahu dari mana bisa mendapatkannya (paling banter &lt;span style="font-style: italic;"&gt;download&lt;/span&gt;). Ingat, sekali lagi, jangan marah! Jangan terpikir untuk menghalalkan darah Bill Maher karena ketika ia ditanya di Yerusalem oleh seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;believer&lt;/span&gt;, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;What if you're wrong?&lt;/span&gt;", ia cuma bertanya balik: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;What if you're wrong?&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-792840838311924280?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/792840838311924280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/religulous-ajakan-kritik-diri-bagi-umat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/792840838311924280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/792840838311924280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/10/religulous-ajakan-kritik-diri-bagi-umat.html' title='Religulous: Ajakan Kritik Diri bagi Umat Beragama'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-8932929191838693826</id><published>2011-09-29T08:34:00.000-07:00</published><updated>2011-09-29T09:47:37.354-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Nam June Paik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapa itu Nam June Paik? Sekarang saya tahu, dia seorang Amerika kelahiran Korea yang dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan konsep &lt;span style="font-style: italic;"&gt;video art&lt;/span&gt;. Ia pernah membuat karya fenomenal bernama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;TV Cello&lt;/span&gt;. Yaitu tiga tumpuk televisi dengan ukuran berbeda dan diberi senar sehingga bisa digesek layaknya cello. Ia berpartisipasi pada suatu gerakan seni yang cukup populer di tahun 1960-an, namanya Fluxus. Tapi sebelumnya, saya cuma sering mendengar orang bernama Nam June Paik. Sejak saya kecil nama itu terngiang-ngiang. Saya tidak ingat, tapi rasanya bapak saya kerap mengucap nama tersebut tanpa saya paham siapa dia. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nam June Paik&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nam June Paik&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, saya mendapat undangan berbicara di sebuah penutupan pameran. Tepatnya bukan undangan, tapi kehormatan untuk menggantikan bapak yang seharusnya bicara, tapi urung hadir dan akhirnya didelegasikan pada saya. Saya kelabakan karena jarak dari pemberitahuan ke acara itu hanya sekitar lima hari. Saya sama sekali tidak mendalami seni rupa, dan rasanya bapak membuat kesalahan besar dengan meminta saya menggantikan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun nasi sudah menjadi bubur, tugas saya adalah memberinya cakue, kacang, kerupuk dan kaldu ayam sehingga menjadi bubur ayam. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya dengan sengaja melihat dunia seni rupa secara lebih intens. Saya membaca beberapa buku, menonton film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;How Art Made the World&lt;/span&gt;, ngobrol dengan kurator Heru Hikayat, dan tunggu.. dia menyebut nama itu lagi: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nam June Paik&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nama itu keluar, saya memilih untuk menutup buku, menyetop film, dan memejamkan mata untuk belajar dari perjalanan masa kecil saya. Memang iya, saya tidak mendalami seni rupa, tapi ada fakta bahwa saya dibesarkan dalam lingkungan seni rupa yang kuat dari bapak. Bapak sendiri bukan sekali dua kali mengajak saya ke forum seni rupa, melainkan sering sekali. Bukan sekali dua kali beliau meminta saya memberi komentar atas karyanya, melainkan sering sekali. Pengalaman tidak selalu tersimpan di memori, seringnya ia menjadi daging yang menubuhi kita. Atas dasar itu saya maju saja dengan modal seadanya ke forum untuk berbicara, mencoba berbagi pengetahuan tidak cuma lewat kata-kata, tapi juga pengalaman yang mendagingi saya dari kecil hingga sekarang. Berhasil tidaknya bukan saya yang menilai, tapi saya merasa cukup lancar dan pengalaman-pengalaman masa lampau tersebut tak kesulitan untuk dikeluarkan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keseluruhan indra saya ikut bicara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah acara itu selesai, saya pulang ke rumah dan menemukan ibu saya duduk sendiri di meja makan. Saya duduk dan mendatanginya, bertanya perlahan, pura-pura belum baca wikipedia "Mah, Mamah tahu Nam June Paik?" Ia menjawab sambil tersenyum kecil, matanya menerawang ke alam kenangan, "Tentu saja. Ketika seumurmu, bapak sering dipanggil forum-forum untuk membicarakan Nam June Paik." Ia melanjutkan dengan tawa, "Kalau bukan karena bicara di forum tentang Nam June Paik, kita tidak akan sanggup bayar DP kendaraan. Hehe."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian barangkali yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;butterfly effect&lt;/span&gt;. Apa yang dilakukan Nam June Paik di Amerika sana, bisa berdampak pembelian kendaraan di keluarga kami!  Lebih dari itu, nama Nam June Paik merangsang saya untuk menyelami masa kecil dan melipatgandakan respek saya pada bapak. Bayangkan, hari ini saya menjadi pembicara dengan enaknya menaiki kendaraan pribadi, dengan enaknya telepon sana sini menggunakan hape, tanpa betul-betul menyelami dunia seni rupa itu seperti apa. Yang kerja keras adalah bapak. Beliau memodali saya dengan pengalaman sensor total masa kecil, dan kemudian dari waktu ke waktu akhirnya sanggup meminjami saya kendaraan. Di dalamnya terselip andil seorang: Nam June Paik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/3/30/Portrait_of_Nam_June_Paik-by_Lim_Young-kyun-1981.jpg/220px-Portrait_of_Nam_June_Paik-by_Lim_Young-kyun-1981.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 181px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/3/30/Portrait_of_Nam_June_Paik-by_Lim_Young-kyun-1981.jpg/220px-Portrait_of_Nam_June_Paik-by_Lim_Young-kyun-1981.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-8932929191838693826?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/8932929191838693826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/nam-june-paik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8932929191838693826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8932929191838693826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/nam-june-paik.html' title='Nam June Paik'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-6350635078947768094</id><published>2011-09-23T05:35:00.000-07:00</published><updated>2011-09-23T06:49:57.862-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korea'/><title type='text'>Surat Cinta dari Korea (10 - selesai)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-8nksoN8csYM/TnyKBPiNDYI/AAAAAAAAAJI/2_z_0-1fPGg/s1600/314041_10150304238649845_550449844_8007771_73084890_n.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-i0VrUc6lJY0/TnyJZj02ZFI/AAAAAAAAAJA/0XXFYEcvHus/s1600/320184_10150304237054845_550449844_8007754_2133095425_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-i0VrUc6lJY0/TnyJZj02ZFI/AAAAAAAAAJA/0XXFYEcvHus/s400/320184_10150304237054845_550449844_8007754_2133095425_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655546304277144658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sungai Han yang Menenangkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasihku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah sesungguhnya makna liburan itu sejatinya? Apakah menghabiskan uang? Tentu saja perlu uang, tapi aku tak setuju menyebut "menghabiskan". Karena menghabiskan berarti tidak menukarnya dengan apapun juga. Dan tidak ada apapun yang tidak ditukar dengan apapun. Tidak ada satu halpun di dunia ini yang memberi saja atau menerima saja. Guru yang tidak dibayar sekalipun, sesungguhnya ia mendapat kebahagian dari apa yang sudah ia berikan. Dan apalah artinya uang itu menemukan fungsinya yang sejati, kecuali ditukar dengan pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman adalah hal yang membuat manusia menemukan dinamikanya. Tuhan menciptakan manusia berumur pendek. Sehingga masing-masing dari mereka tak mungkin menjelajahi keseluruhan dari dunia. Namun Tuhan juga menciptakan kelima indra bersama memori untuk menyimpan ingatan. Sehingga apa yang dilihat oleh masing-masingnya, bisa dibagi ke orang lain yang tidak mengalami. Demikian indahnya kehidupan ini, salah satunya. Artinya, apakah itu makna liburan, selain demi kita menyerap pengalaman agar dibagi pada yang lainnya? Bahwa sesungguhnya kita menukar uang kita untuk memperkaya pandangan manusia satu dengan manusia lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maka itu manusia seyogianya tak perlu bertengkar. Karena barangkali ada pengalaman berbeda yang membangun masing-masingnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa artinya sebuah liburan juga, jika bukan untuk mengambil jarak dari keseharian. Untuk meneropong kehidupan dari kejauhan. Untuk beristirahat sejenak dari yang menyibukkan. Maka jika liburan menjadi bertambah tekanan, maka tinggalkan! Sesungguhnya dalam liburan tiada tuntutan. Alangkah sahnya jika kamu tiduran seharian. Tidak perlu khawatir akan tuntutan jalan-jalan, dalam liburan akhirnya kamu punya momen dimana kehidupanmu boleh-boleh saja tak bertujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8nksoN8csYM/TnyKBPiNDYI/AAAAAAAAAJI/2_z_0-1fPGg/s1600/314041_10150304238649845_550449844_8007771_73084890_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-8nksoN8csYM/TnyKBPiNDYI/AAAAAAAAAJI/2_z_0-1fPGg/s400/314041_10150304238649845_550449844_8007771_73084890_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655546986024996226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Minum bir dengan sahabat, Rony. Kegiatan seperti ini amat mengembalikan kewarasan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku akan mengakhiri liburanku di Korea, dengan rasa puas dan bahagia oleh sebab dua hal tadi: mendapatkan pengalaman dan istirahat yang cukup. Tidaklah liburan itu berhasil jika tak sanggup menyeimbangkan antara jalan-jalan dan istirahat. Sekarang aku siap kembali ke Bandung, ke keseharian yang menyibukkan. Tidak ada alasan untuk lelah dan berleha-leha jika ibarat batre HP sudah di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;charge &lt;/span&gt;penuh sampai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;full&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga sudah melihat keseharianku dari jauh. Menyadari bahwa manusia itu dalam kegilaan yang nyata. Bahwa rutinitas membunuh kesadaran. Maka itu, sayangku, pesanku, mesti pandailah mengatur liburan. Dan jangan sampai liburan menjadi suatu rutinitas yang baru. Jika itu terjadi, namanya kegilaan berlipat-lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku pulang, aku kembali. Kelak nanti kita akan pergi, ke tempat ini lagi. Tapi bersama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-rg88iMVv1Gw/TnyNbD_4GiI/AAAAAAAAAJQ/WJzQXgEqQ_k/s1600/16243_212037989844_550449844_3096028_3189251_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-rg88iMVv1Gw/TnyNbD_4GiI/AAAAAAAAAJQ/WJzQXgEqQ_k/s400/16243_212037989844_550449844_3096028_3189251_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655550728139708962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-6350635078947768094?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/6350635078947768094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-10-selesai.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6350635078947768094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6350635078947768094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-10-selesai.html' title='Surat Cinta dari Korea (10 - selesai)'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-i0VrUc6lJY0/TnyJZj02ZFI/AAAAAAAAAJA/0XXFYEcvHus/s72-c/320184_10150304237054845_550449844_8007754_2133095425_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-444189344610053082</id><published>2011-09-22T10:18:00.000-07:00</published><updated>2011-09-22T10:39:33.726-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Di Tepi Sungai Han Aku Duduk dan Menggalau</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-J-nYRZl-pHA/Tntt91-IiKI/AAAAAAAAAI4/qFOfxhXFRbc/s1600/IMG_5504.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-J-nYRZl-pHA/Tntt91-IiKI/AAAAAAAAAI4/qFOfxhXFRbc/s400/IMG_5504.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655234666320922786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;O, Tuhan, untuk apa engkau menciptakan manusia?&lt;br /&gt;Untuk membuatku tertawa-tawa, Nak. Agar aku tak sepi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah manusia itu sendiri harus ikut tertawa-tawa?&lt;br /&gt;Harusnya iya, karena apalah hidup itu kalau bukan komedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya itu?&lt;br /&gt;Dan tragedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sedemikian menyedihkannya, apa yang kau harapkan dari manusia, ya Rabbi?&lt;br /&gt;Tidak ada. Menurutmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kehidupan ini sia-sia saja?&lt;br /&gt;Kamu bisa pura-pura tidak, jika mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya?&lt;br /&gt;Harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa yang bisa dibanggakan dari manusia?&lt;br /&gt;Mungkin, kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu kebudayaan, Ilahi?&lt;br /&gt;Sesuatu yang membedakan kalian dari binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya pertanyaan lain, apa itu agama?&lt;br /&gt;Aku tak tahu. Bukan aku yang menciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa?&lt;br /&gt;Tanya saja temanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa banyak yang kamu tak tahu, Rabb?&lt;br /&gt;Karena aku menciptakan manusia mula-mula, dan membiarkan mereka melakukan apa saja yang dimaui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kamu menciptakan seperangkat aturan juga?&lt;br /&gt;Tidak. Aku hanya menciptakan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, kapan itu kiamat?&lt;br /&gt;Aku belum bosan, sepertinya masih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, Tuhan, tolonglah aku!&lt;br /&gt;Dari apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kamu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-444189344610053082?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/444189344610053082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/di-tepi-sungai-han-aku-duduk-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/444189344610053082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/444189344610053082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/di-tepi-sungai-han-aku-duduk-dan.html' title='Di Tepi Sungai Han Aku Duduk dan Menggalau'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-J-nYRZl-pHA/Tntt91-IiKI/AAAAAAAAAI4/qFOfxhXFRbc/s72-c/IMG_5504.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-6380125239199419227</id><published>2011-09-21T16:40:00.001-07:00</published><updated>2011-09-22T10:02:21.193-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korea'/><title type='text'>Surat Cinta dari Korea (9)</title><content type='html'>Sayangku, cintaku, belahan jiwaku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Korea bukanlah negara yang purba-purba amat. Maksudnya, meskipun ia sudah tegak berdiri sejak lama, namun berbagai perang dan penjajahan yang melandanya membuat mereka tertatih-tatih dalam membangun peradaban. Tahun 1910 hingga 1945, mereka dijajah oleh Jepang yang mengerikan. Hanya diakibatkan oleh kekalahan Jepang di Perang Dunia II, maka Korea akhirnya mampu merdeka. Tak lama kemudian Korea dikecamuk oleh Perang Korea, yaitu perang saudara yang di belakangnya terdapat dalang-dalang dari luar. Perang macam begini disebut dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;proxy war, &lt;/span&gt;karena ini sesungguhnya adalah Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Namun dalam pertempuran lapangan, mereka memanfaatkan orang-orang Korea. Kejam sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Korea adalah perang antara wilayah utara Korea dan wilayah Selatan. Wilayah utara, kamu tahu, mereka berfaham komunis dan dikendalikan oleh Uni Soviet. Sedang di selatan berdiam Amerika Serikat dan berfaham liberal. Konon ini salah satu peperangan paling mengerikan dalam sejarah, karena untuk pertama kalinya dikenal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;air to air combat&lt;/span&gt;, atau perang udara. Akhir dari perang ini tak terlalu jelas siapa yang menang (ketahuilah sayang, dalam perang sungguh-sungguh tidak ada yang menang, semuanya kalah!), tapi hasil akhirnya adalah garis pemisah antara Korea Utara dan Korea Selatan yang bertahan hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korea Selatan, secara teknologi sudah sangat maju. Mereka betul-betul mengejar teknologi dari sejak mereka mengakhiri Perang Korea. Sedang Korea Utara masih terisolasi karena mereka memang mengisolasi diri. Mereka berdua masih sedikit-sedikit kontak senjata di perbatasan, tapi impian dan cita-cita akan bersatu kembali selalu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-RP7ZFO8EotY/TntnDTnucCI/AAAAAAAAAIw/skiYZuxuXus/s1600/clock.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-RP7ZFO8EotY/TntnDTnucCI/AAAAAAAAAIw/skiYZuxuXus/s400/clock.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655227063597953058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/305047_10150300605644845_550449844_7992603_1325879731_n.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tulisan pada monumen jam. Katanya jika suatu hari Korut dan Korsel bersatu, jam ini akan dipasang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayangku, aku mengunjungi museum Perang Korea. Dalam museum ini semua barang masa lampau yang berkaitan dengan Perang Korea disimpan. Juga diceritakan sejarah awal mula Perang Korea itu sendiri. Semuanya memang penting. Dengan mereka menyajikan segala pahit getir tersebut dalam estetika sejarah, mereka seolah mau bilang, "Jangan pernah terulang lagi, perang macam ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang aku bisa ambil pelajaran dari sini adalah: Aku dan kamu, juga pernah dan sedang membuat sejarah bagi kita sendiri. Segala pahit getir dari apa yang sudah kita alami, jangan dibuang ke tempat sampah. Etalasekan semua dalam kaca museum indah yang kita bangun sama-sama. Suatu hari kita bisa melihat lagi ke dalamnya, dengan perasaan pilu tapi rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga, patut kita jadikan inspirasi bagaimana mereka menyajikan monumen jam itu sebagai harapan. Harapan adalah daya hidup. Kita memutuskan menikah oleh sebab harapan, oleh sebab yakin akan ada sesuatu yang baik menanti di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku mencintaimu, yang lampau maupun yang akan datang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-6380125239199419227?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/6380125239199419227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-9.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6380125239199419227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6380125239199419227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-9.html' title='Surat Cinta dari Korea (9)'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-RP7ZFO8EotY/TntnDTnucCI/AAAAAAAAAIw/skiYZuxuXus/s72-c/clock.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-7255982452780676577</id><published>2011-09-20T01:42:00.000-07:00</published><updated>2011-09-20T03:11:58.067-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korea'/><title type='text'>Surat Cinta dari korea (8)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayangku, setelah seminggu lebih aku di sini, adakah yang berubah terhadap caraku berpikir? Ada. Terlebih tentang teknologi. Di sini, teknologi sangatlah canggih. Semua serba terprediksi, serba komputerisasi, serba cepat dan akurat. Segala aktifitas manusia betul-betul difasilitasi. Aku juga meralat ketika mengatakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sign system &lt;/span&gt;di sini jelek. Setelah bimbingan Rony dan akhirnya aku mencobanya sendiri, ternyata lama kelamaan aku sadar kalau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sign system&lt;/span&gt; di sini sangatlah jelas! Dalam subway sekalipun, peta ditempelkan hampir di setiap kita mau menaiki tangga ke jalan raya. Ketika aku menuliskan ini aku baru saja pulang jalan-jalan sendiri untuk pertama kalinya, tidak ikut rombongan, dan sukses meskipun sempat nyasar-nyasar hingga kaki pegal-pegal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Justify Full" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="img/blank.gif" alt="Justify Full" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-aOkGtu57iH8/TnhmSBWqjiI/AAAAAAAAAIo/4fz2bXt9MmY/s1600/IMG_4397.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-aOkGtu57iH8/TnhmSBWqjiI/AAAAAAAAAIo/4fz2bXt9MmY/s400/IMG_4397.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5654381791950835234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke teknologi. Apa sesungguhnya hakikat teknologi? Teknologi adalah sesuatu yang mempermudah kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan yang aku sebutkan adalah kebutuhan fisik. Dulu orang makan dengan berburu, tapi karena berburu berbahaya, mereka menemukan teknologi pertanian. Dulu orang kesana kemari menggunakan kuda, sekarang menggunakan mobil. Tapi apalah artinya semua itu kecuali berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan tubuh manusia. Tapi teknologi sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan spiritual manusia. Kebutuhan spiritual diraih bisa dengan vertikal maupun horizontal, bisa lewat Tuhan maupun manusia. Teknologi memudahkan segala, membuat semuanya bisa dilakukan sendiri, maka itu kadang-kadang hubungan dengan yang lain tak seberapa diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang kemudian aku bisa syukuri dari Indonesia. Kemanapun dimanapun, orang kita kerap senang berkumpul, ngobrol, nongkrong, yang mana segala itu merupakan suatu cara tersendiri untuk memenuhi kebutuhan batin. Orang kita (meskipun ini tentu saja generalisasi, karena sudah banyak diantara kita yang individualistis) begitu percaya bahwa kemiskinan tiada masalah selama jalinan tali persaudaraan masih kuat dengan sesama. Paling gampang adalah supir angkot di Bandung. Mereka jelas, dengan tetap menjadi supir angkot, kemungkinan memang tiada peningkatan signifikan dalam hidupnya. Tapi mereka merasa aman dan tenteram, berbagi rokok dan penumpang jika yang lain berkekurangan. Mereka percaya dengan memberi, akan menerima juga. Aku pernah lihat supir angkot yang digebuki karena ia ogah bersosialisasi. Ingin jadi individual, ingin berdikari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, tempat yang aku sering kunjungi tentu saja subway. Orang-orang di subway, mungkin mirip dengan Trans Jakarta, hanya sibuk sendiri. Untungnya, di sini mereka sibuk sendiri menonton televisi dari HP, sedang di TJ mungkin orang sibuk sendiri merenungi nasib. Tidak ada tegur sapa, tidak ada saling memandang, tidak ada senyuman, dan hening tiada obrolan. Yang berisik cuma bunyi rel dan suara komputer digital yang bersahut-sahutan dengan pengumuman pemberhentian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Q8O4y-t6jpk/TnhiXvu-QjI/AAAAAAAAAIg/HQLZtpm-Mi8/s1600/IMG_4402.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Q8O4y-t6jpk/TnhiXvu-QjI/AAAAAAAAAIg/HQLZtpm-Mi8/s400/IMG_4402.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5654377492253655602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Inilah potret modernitas yang barangkali  "sesungguhnya", ketika semua rapi jali, teratur, mekanik, dan manusia pun ikut mekanis. Ketika orang-orang merokok dalam waktu yang akurat (disini orang merokok seperti kepanasan oleh rokok itu sendiri sehingga dua menit sudah habis), ketika semua orang memakai standar waktu yang sama, ketika kehidupan bergantung pada ketepatan tibanya subway dan metro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jika nanti kita sudah bersama, jangan pernah lupa waktu untuk bercengkrama. Pada situasi itulah manusia bisa kembali mengenali dirinya. Dalam bercengkrama itu juga, jadilah manusia sebenarnya: marah, gembira, sedih, menangis, romantis. Jangan berbicara tentang fenomena apa adanya, jangan juga bercinta tanpa rasa, seolah memenuhi kebutuhan badan semata. Kita ini manusia, punya hasrat, gairah, dan cita-cita. Raih itu seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lagi. Memikirkan berapa harga cabe jelas harus, tapi tetap letakkan impian di sudut hatimu. Terangi ia selalu, agar Tuhan akhirnya melirik jua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-7255982452780676577?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/7255982452780676577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-8.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7255982452780676577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7255982452780676577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-8.html' title='Surat Cinta dari korea (8)'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-aOkGtu57iH8/TnhmSBWqjiI/AAAAAAAAAIo/4fz2bXt9MmY/s72-c/IMG_4397.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-6556635043133512350</id><published>2011-09-19T04:32:00.001-07:00</published><updated>2011-09-27T09:57:02.195-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Berdoa di Facebook</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi pengguna jaringan sosial, tentu saja bukan hal yang sulit menemukan kawan-kawan yang kerap berdoa di statusnya sendiri. Misalnya, "Bismillah, semoga hari ini lancar. Amin!" atau "Alhamdulillah ya Allah, urusan hari ini selesai juga." Segala doa yang kiranya positif, jelas menyenangkan dan menyejukkan kala dibaca. Walhasil, status-status seperti ini biasanya menjadi sasaran empuk jempol dan komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdoa, jika kita sama-sama telusuri dengan mengira-ngira, barangkali sebuah kegiatan yang lebih purba dari agama. Jika bicara agama, maka tidak bisa lepas dari sistem. Agama adalah sistem kepercayaan. Di dalamnya terkandung jalinan rapi antara kitab suci, pengikut, ritual, orang suci, dan Tuhan itu sendiri. Maka tentu, agama barangkali tidak turun satu paket sekaligus. Kristen misalnya, pernyataan tentang apakah Yesus sendiri adalah seorang Kristiani atau bukan selalu mengemuka. Ini disebabkan oleh tiadanya pernyataan dari dirinya bahwa ia adalah seorang Kristen. Ia sendiri tidak menyebutkan bahwa ia sedang menyebarkan agama Kristen. Meski demikian, ajarannya kemudian dituliskan oleh keempat penginjil dan jadilah sebuah kitab suci bernama Perjanjian Baru. Belum selesai. Di masa patristik, atau sekitar abad ke 4 dan ke-5 Masehi, diadakan berbagai konsili untuk mengukuhkan ajaran Yesus sebagai agama yang disebut Kristen. Dirumuskanlah berbagai ritual, tata cara, hukum, hingga cara-cara masuk Kristen itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke berdoa. Jika agama sedemikian rumitnya, maka berdoa pastilah ada sebelum agama ada. Ketika manusia-manusia pada awalnya lahir tanpa tedeng aling-aling ke dunia, dihadapkan pada persoalan-persoalan alam yang betul-betul penuh bahaya, maka doa menjadi krusial. Doa, dari fungsinya yang paling awal sekalipun, adalah sebentuk ungkapan akan ketidakmampuan dalam menghadapi sesuatu yang tak terprediksi. Sebentuk kepasrahan akan ketidakmungkinan untuk mengenali cara kerja kehidupan yang seringkali misterius. Doa juga bisa diartikan meminta, meminta sesuatu yang tidak sanggup kita dapatkan dengan cara-cara biasa. Berdoa, maka itu, tidak ada hubungannya dengan agama. Para atheis dan agnostik bisa saja berdoa, karena yang demikian adalah hakikat dari batas pengetahuan manusia. Namun agama dengan otoriter mengarahkan sifat alamiah ini pada personifikasi: kamu berdoa pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;siapa&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama kemudian mengajarkan tatacara berdoa yang "benar". Yang pada tempatnya, yang pada sasarannya. Yang jika dianalogikan kira-kira begini: Untuk meminta emas, mintalah pada yang punya emas, jangan pada yang punya perak. Itulah mengapa pada tradisi politeisme, para dewa dibagi tugasnya. Ada yang mengurusi ini dan mengurusi itu, sehingga untuk berdoa mesti tepat benar pada siapa kita bicara. Monoteisme adalah Tuhan yang sibuk. Ia satu tapi mengurusi semua. Untuk itu kita bisa minta semua pada Tuhan bangsa Semit ini. Sayangnya, Tuhan Semit juga adalah Tuhan yang cemburu. Tuhan agama Kristen tidak mau umatnya meminta pada Tuhan agama Islam. Jika itu terjadi, maka Tuhan akan berkata, "Silakan pergi sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika agama bertugas mengarahkan doa kita pada sasaran yang "benar", maka bagaimana seharusnya agama memandang orang-orang yang berdoa di Facebook? Apakah itu dilakukan dalam koridor sasaran yang benar? Atau menyalahi hakikat berdoa itu sendiri sebagai ungkapan kepasrahan, ketidakmampuan, dan meminta yang seharusnya adalah pribadi? Bagaimanapun juga, ketika berdoa via Facebook, maka doa itu sendiri jadi tidak pribadi lagi karena diketahui orang banyak. Bagaimana dengan solat minta hujan, atau pelbagai doa yang sering kita lihat dilakukan secara massal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka itulah saya agak berhati-hati dalam menyimpulkan makna dari fenomena berdoa di Facebook, karena ini bukan doa tipe personal (biasa disebut munajat), dan bukan juga doa tipe massal (jika ia massal, maka tentunya doa itu juga semestinya terkait dengan kepentingan massal). Berdoa lewat jaringan sosial adalah doa pribadi yang di-massal-kan. Namun jika terpaksa beropini, saya melihat ada sesuatu yang positif dari fenomena ini. Doa yang tadinya murni bersifat vertikal, tiba-tiba menjadi punya akses horizontal. Dengan berdoa di Facebook, otomatis perhatian akan diperoleh, dan siapa yang melihat menjadi tahu kesulitan apa yang tengah kita alami. Tidakkah menyenangkan jika tiba-tiba ada yang bisa membantu kita secara nyata baik dengan ungkapan perhatian, dukungan, atau bantuan material?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada satu kritik yang saya barangkali bisa sematkan pada fenomena berdoa di Facebook. Jika berdoa adalah ungkapan "meminta", maka tuliskan itu di Facebook, dan apa yang diinginkan secara riil lebih mungkin diperoleh dari sesama manusia. Tapi jika berdoa sebagai ungkapan kerendahan hati, sebuah perasaan kecil di hadapan semesta, maka menuliskannya di Facebook menjadi agak kontradiktif. Karena salah satu sakralitas dalam berdoa adalah bercakap-cakap dengan Tuhan secara personal, secara pribadi "Kau dan Aku" jika dalam bahasa Rumi. Seperti surat menyurat pribadi yang romantis antara dua insan. Seperti bisik-bisik senyap dalam kesunyian malam. Tidakkah Facebook terlalu gaduh untuk orang yang mau berpacaran dengan Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-6556635043133512350?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/6556635043133512350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/berdoa-di-facebook.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6556635043133512350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6556635043133512350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/berdoa-di-facebook.html' title='Berdoa di Facebook'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-6314533963575023538</id><published>2011-09-18T08:59:00.001-07:00</published><updated>2011-09-18T10:48:18.281-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korea'/><title type='text'>Surat Cinta dari Korea (7)</title><content type='html'>Cintaku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun 1998 aku pernah punya impian. Aku akan menabung empat tahun lamanya, agar pada tahun 2002 aku bisa pergi ke Jepang dan Korea menyaksikan Piala Dunia. Tapi impian tinggal impian, cita-cita tak terlaksana dan aku hanya menyaksikan dari televisi di Indonesia. Namun bukanlah suatu dosa jika apa yang kuimpikan baru terwujud sembilan tahun kemudian. Tadi sore, aku melaporkan dengan bangga kepadamu bahwa aku telah berhasil menginjak stadion yang aku idam-idamkan. Namanya: Seoul World Cup Stadium!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Rony, kawanku yang hangat, kami mengitari stadion bersejarah itu. Tahukah kamu, sayang, bahwa Piala Dunia hanya diselenggarakan di dua benua yaitu Amerika dan Eropa, sampai tiba saatnya 2002 bahwa untuk pertama kalinya Asia yang dipercaya. Jepang dan Korea bisa dibilang sangat sukses dalam menyelenggarakannya. Hal tersebut juga diikuti oleh kesuksesan kedua tim tersebut, meskipun Korea jauh lebih melaju dengan posisi akhir juara empat. Dengan pelatih kawakan bernama Guus Hiddink asal Belanda, Korea yang berjuluk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Taeguk Warriors&lt;/span&gt;, sukses menebas Polandia, Portugal, Italia bahkan Spanyol!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas stadion itu sangatlah bagus. Kita pernah sama-sama ke Gelora Bung Karno dan ini tentu saja jauh di atasnya. Di lantai bawah ada museum yang memuat berbagai cerita tentang sepakbola dan khususnya Piala Dunia. Ada juga kisah perjalanan timnas Korea dari masa ke masa. Sebetulnya hari itu seyogianya ada pertandingan yang akan digelar, yaitu partai antara FC Seoul dan FC Busan. Tapi kami urung masuk akibat harga tiketnya yang agak-agak mahal (14.000 won). Apapun itu, menginjakkan kaki di stadion tersebut betul-betul menggetarkan perasaan. Membuat aku mau memberitahumu suatu kalimat yang umum tapi aku semakin menyadari kebenarannya, yaitu "Jangan pernah berhenti bermimpi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-QpfVcnMjQIA/TnYupCRX9CI/AAAAAAAAAIY/gpuFlEqeLjo/s1600/IMG_4737%255B1%255D"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-QpfVcnMjQIA/TnYupCRX9CI/AAAAAAAAAIY/gpuFlEqeLjo/s400/IMG_4737%255B1%255D" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653757664729494562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, aku dan Rony kembali ke kostnya dan bertemu beberapa orang yang sangat menyenangkan. Mereka adalah Didi dari Semarang, Omar dari Meksiko, Ghuya dari Indonesia (Pacitan), Qi San dari Cina, dan seorang lagi dari Cina yang aku tak tahu bagaimana menuliskannya karena aku tak bisa menangkap omongan ia ketika memperkenalkan diri. Kami semua, kecuali Omar yang berubah pikiran di tengah jalan, menaiki tangga yang amat banyak untuk mencapai satu misi suci yang kuniatkan dari awal: N Seoul Tower. Di sana, aku tak mau apa-apa kecuali mengaitkan gembok cinta kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitos? Takhayul? Memang iya, memang konyol dan tak punya dasar. Dari ribuan gembok yang terkait di sana, memangnya kita bisa pastikan semua hubungannya langgeng? Tapi apa yang kulakukan sebetulnya tiada punya hubungan dengan kepercayaan bahwa hubungan ini akan langgeng selama gembok masih terkunci rapat di sana. Tapi suatu hari ketika badai tengah mengolengkan bahtera cinta kita, ingatlah pada suatu malam berangin yang pernah membuat hati kita sedemikian berbunga-bunga karenanya. Yaitu hari ketika aku mengaitkan sebuah gembok yang kuat bertuliskan kata-kata cinta pada pohon berbentuk cemara. Kadang kita butuh air dari masa silam untuk membasahi jiwa yang kering di hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-uFB4V8OenEc/TnYsqZHfmCI/AAAAAAAAAIQ/JYxnN3thmsc/s1600/IMG_4933%255B1%255D"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-uFB4V8OenEc/TnYsqZHfmCI/AAAAAAAAAIQ/JYxnN3thmsc/s400/IMG_4933%255B1%255D" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653755489018681378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-6314533963575023538?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/6314533963575023538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-7.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6314533963575023538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6314533963575023538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-7.html' title='Surat Cinta dari Korea (7)'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-QpfVcnMjQIA/TnYupCRX9CI/AAAAAAAAAIY/gpuFlEqeLjo/s72-c/IMG_4737%255B1%255D' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-1382547595179809197</id><published>2011-09-17T04:10:00.000-07:00</published><updated>2011-09-17T07:27:36.196-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korea'/><title type='text'>Surat Cinta dari Korea (6)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adakah yang lebih indah dari Tuhan? Ada, jawabnya. Yaitu, persahabatan. Dan jangan-jangan, Tuhan adalah persahabatan itu sendiri. Kita bisa mengenali suatu konsep timbal balik dengan Tuhan, saling mengisi, saling meyakini, saling percaya, mungkin diawali dari pengetahuan kita akan persahabatan dengan manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di Seoul yang jauh ini, aku bertemu dengan teman-teman dari Indonesia. Adakah diantara kami dahulunya akrab? Bisa ya, bisa tidak. Bisa dibilang, kami diakrabkan oleh satu hobi dan kesenangan yang sama: gitar. Andri, adalah rival lama ketika kami masih rajin mengikuti kompetisi gitar. Sedangkan Rony, kurang lebih sama, kami bertemu dalam suatu kompetisi gitar di Yogyakarta. Andri asal Jember, Rony asal Semarang. Tapi harus diakui bahwa frekuensi jumpa kami tak seberapa. Kami hanya berkirim salam sesekali, bertemu jika ada keperluan, dan tidak tiba-tiba bertandang jika tak punya kepentingan. Namun pertemuan dengan keduanya di Seoul ini mengubah segalanya. Kami mendadak menjadi hangat dan merasa seperti saudara. Kami merasakan suatu perasaan rindu yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku sudah merenungkan dengan serius, sayang. Bahwa bahasa adalah cara kita berada di dunia. Lewat bahasa, kita menjadi ada. Maka itu di Korea, sendirian, aku merasa tak terikat dengan dunia karena tidak terkoneksikan oleh bahasa. Orang-orang bicara terasa seperti bebunyian saja. Tapi dengan adanya sesama Indonesia, kami meng-ada-kan satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pertama adalah Andri. Ia menemui kami di parkiran hotel Hamilton di kawasan Itaewon. Ia sudah empat tahun bekerja di Korea. Ia tengah menjadi pria siaga, istrinya berstatus hamil lima bulan. Andri menemui kami dengan hangat, pun istrinya yang menyusul kemudian. Mereka berdua mengajak kami makan di sebuah restoran Arab-India yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;spicy&lt;/span&gt; dan lebih cocok bagi lidah kami. Setelah itu mereka berdua memandu kami berbelanja di kawasan Namdaemun dan Myeongdong. Namdaemun itu agak-agak mirip dengan kawasan Pasar Baru di Bandung, sedang Myeongdong sedikit lebih elit, mungkin bisa disamakan dengan daerah Sukajadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-dog2-VkFSNM/TnSsqR3gbDI/AAAAAAAAAIA/3Ez1hFaOHRI/s1600/IMG_4636.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-dog2-VkFSNM/TnSsqR3gbDI/AAAAAAAAAIA/3Ez1hFaOHRI/s400/IMG_4636.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653333274607512626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Andri Mahendra, kawan dari Jember.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Setelah kaki pegal dan kantong yang ditenteng semakin mengganggu perjalanan, kami memutuskan untuk berhenti dan pulang ke hotel. Kebetulan, malam ini adalah malam dimana aku berpisah dengan kedua orangtua karena mereka memutuskan untuk pulang ke Indonesia lebih awal. Andri dan Anggi, istrinya, pun memutuskan untuk sampai di situ saja karena jalur subway mereka berbeda. Tapi bagiku, mereka berjanji untuk menemuiku lagi karena aku masih akan di sini untuk seminggu ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-4qkvmpkVTGs/TnSt23MG23I/AAAAAAAAAII/idIftfdyqb8/s1600/IMG_4701.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-4qkvmpkVTGs/TnSt23MG23I/AAAAAAAAAII/idIftfdyqb8/s400/IMG_4701.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653334590296087410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Didi (kiri menghadap kamera) dan Rony (menengok kanan), kawan dari Semarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Aku sekarang di sini, bersama Rony, kawanku dari Semarang. Aku diijinkan ikut menginap di kostnya untuk beberapa hari. Kostnya bersama banyak orang asing lainnya. Juga hadir bersamaku seorang yang hangat juga, dari Semarang juga, namanya Didi. Meskipun sedih karena berpisah dengan orangtua, tapi aku sekaligus senang. Bagiku inilah awal mula petualangan di Korea. Ketika uang harus mulai diirit dan kemana-mana mesti membaca peta. Tempat yang kukunjungi pun harus efektif karena jika tidak, uang juga yang jadi korban. Aku sekarang akan bersenang-senang, sayang. Rony menjamuku dengan bir dan s&lt;span style="font-style: italic;"&gt;oju&lt;/span&gt;. Kami bukan ingin mabuk, hanya ingin merayakan persahabatan. Kalau Tuhan marah karena aku minum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;soju&lt;/span&gt;, maka ia bukan Tuhan. Karena kalau ia betul-betul Tuhan, pasti ia sungguh mengerti makna persahabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kamu adalah soju-ku, yang selalu memabukkan.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-1382547595179809197?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/1382547595179809197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-6.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1382547595179809197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1382547595179809197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-6.html' title='Surat Cinta dari Korea (6)'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-dog2-VkFSNM/TnSsqR3gbDI/AAAAAAAAAIA/3Ez1hFaOHRI/s72-c/IMG_4636.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-4191222658297577189</id><published>2011-09-16T10:12:00.000-07:00</published><updated>2011-09-17T04:11:33.879-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korea'/><title type='text'>Surat Cinta dari Korea (5)</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Sayangku, jika asap pertanda adanya api, lalu semut pertanda adanya gula, lalu pertemuan berarti pertanda apa? pertemuan adalah pertanda akan adanya perpisahan. Demikian juga apa yang sudah kami semua lakukan di sini, bersama-sama, dengan para delegasi AIAE. Kami bersama-sama meskipun tak lama, tapi ternyata perpisahan tetap menyedihkan jua.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Sebelum masuk pada fase romantis itu, aku akan menceritakan kisah kami di pagi hingga sore hari. Karena &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;free time&lt;/span&gt;, kami berencana untuk berjalan-jalan berbelanja. Kami menaiki &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;subway&lt;/span&gt;, sebuah moda transportasi yang pastinya tidak dipunyai di Indonesia (katanya Jakarta mau membuatnya, kita tunggu ya realisasinya). Menaiki ini susahnya minta ampun, karena kami tidak berbicara dengan manusia, tapi mesin. Untuk memulainya, kami harus mengisi voucher kartu. Ada beberapa pilihan, ada yang satu kali jalan, ada yang seharian, ada paket manula, dan sebagainya. Hebatnya, petugas langsung datang dan cekatan membantu kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-QlR9JOwVzGU/TnPomWljhwI/AAAAAAAAAH4/jad3TDCxQQs/s1600/IMG_4398.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653117702875875074" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 300px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 400px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-QlR9JOwVzGU/TnPomWljhwI/AAAAAAAAAH4/jad3TDCxQQs/s400/IMG_4398.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku belum pernah ke Singapura, tapi sepertinya jika dibandingkan dengan di sana, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;sign system &lt;/span&gt;di sini agak sulit dipahami. Banyak tulisan yang masih dalam bahasa Korea dan tidak dilatinkan. Tentu saja yang demikian itu hak mereka, tapi bagiku ini agak kontradiksi dengan visi mereka untuk menjadi kota wisata akbar 2012 dengan slogan, "Hi, Seoul". Walhasil, kami memutuskan jika nanti pulang kembali ke hotel, kami kapok naik &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;subway&lt;/span&gt; dan ingin taksi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalanan, tempat perbelanjaan di Insadong itu, aku sedih. Sedih karena barang-barang yang dijual di museum dengan harga selangit itu ternyata semua ada di tempat tersebut dengan harga separo! Akhirnya aku menemukan juga barang-barang yang barangkali sangat dinanti-nanti penggemar film Korea dan juga band-band Korea. Di tempat ini, meskipun barangkali didesain dengan tidak terlalu bagus, tapi alangkah menyenangkan bisa menghadiahi orang terkasih di tanah air sebatas poster, card holder, memo, atau kalender dari artis idola, langsung dari negara asalnya. Karena ingin cepat, makan siang kami habiskan di McDonald saja. Aku makan burger bulgogi karena namanya paling aneh, walaupun sama dengan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;beef burger&lt;/span&gt;. Satu hal yang menarik, ketika kami kebingungan, kami didatangi dua orang yang sangat antusias. Mereka ternyata bagian dari kampanye &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Hi Seoul&lt;/span&gt;. Mereka menawari informasi gratis bagi para turis. Sangat ramah, bergairah, dan informatif, patut dicontoh! &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653116822967468258" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-Dp_zXoELue4/TnPnzIrCwOI/AAAAAAAAAHo/Jpv5IsUlP4s/s400/IMG_4420.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kaki pegal akibat jalan, kami, sesuai rencana semula, pulang naik taksi. Sayangnya, kota Seoul yang bersih rapi jali ternyata tak bisa terhindarkan dari macet seperti halnya Jakarta. Padat dan jarang merayap terjadi juga. Walhasil, argo taksi kami membubung sudah. Sekitar 20.000 won lebih atau 160.000 rupiah-an! Dengan lunglai akibat lelah dan dompet tipis, kami merebah di hotel sebelum menjalani acara berikutnya: penutupan sekaligus perpisahan delegasi AIAE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutupan ini, katanya, aku harus tampil mewakili delegasi Indonesia. Setiap delegasi memang harus menyumbangkan semacam performa di penutup acara. Ternyata, yang ditampilkan amat beragam, mulai dari yang menarik sampai yang tidak kreatif sama sekali. Jepang misalnya, mereka cuma beramai-ramai menyanyikan lagu &lt;em&gt;Sukiyaki &lt;/em&gt;tanpa musik. Singapur, mereka bagus, menampilkan pantomim yang bertemakan satir. Sedang Indonesia? Aku dikorbankan sendirian. Maju ke depan, membawakan tiga lagu dengan solo gitar. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;I Have a Lover&lt;/span&gt; dari Lee Eun Mi, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Here There and Everywhere&lt;/span&gt; dari The Beatles dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Ambilkan Bulan&lt;/span&gt; dari A.T. Mahmud berhasil dibawakan dengan plus minusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JOd8nJmXjXw/TnPoEyOZoNI/AAAAAAAAAHw/qixNpVgclKc/s1600/IMG_4580.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653117126179397842" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 300px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 400px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-JOd8nJmXjXw/TnPoEyOZoNI/AAAAAAAAAHw/qixNpVgclKc/s400/IMG_4580.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Jika memang pertemuan kita yang penuh kenangan ini punya konsekuensi perpisahan, biarkan. Biarkan, selama yang memisahkan cuma kematian. Dan sesungguhnya kematian cuma pemisah antara badan dan badan. Cinta akan selalu menghidupkan kembali jiwa seseorang.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-4191222658297577189?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/4191222658297577189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-5.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/4191222658297577189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/4191222658297577189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-5.html' title='Surat Cinta dari Korea (5)'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-QlR9JOwVzGU/TnPomWljhwI/AAAAAAAAAH4/jad3TDCxQQs/s72-c/IMG_4398.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-712335692592031559</id><published>2011-09-15T09:24:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T10:15:15.914-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korea'/><title type='text'>Surat Cinta dari Korea (4)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-vzqaXfTrBE8/TnIwSTIR3NI/AAAAAAAAAHg/fA7OsgjrJwE/s1600/IMG_4197.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-vzqaXfTrBE8/TnIwSTIR3NI/AAAAAAAAAHg/fA7OsgjrJwE/s400/IMG_4197.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652633573234171090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Patung Boddhisatva, koleksi paling berharga National Museum of Korea&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-A0F5i1fTv8c/TnIwBOZUjOI/AAAAAAAAAHY/4s17IfRFTsw/s1600/IMG_4281.JPG"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama-tama, bersyukurlah karena kamu punya ibu yang berprofesi sebagai guru sejarah. Sejarah, menurutku, adalah hal yang sangat penting. Kenapa? Karena tiada sesuatupun di luar sejarah. Masa depan kita semua berpijak dari sejarah. Dan kita hari ini sedang berusaha membuat sejarah, agar siapapun di masa depan kelak mengenang kita. Manusia mesti secara teratur mempunyai waktu untuk melihat ke masa lalu. Selain kontemplasi diri, tentunya ada cara lain yang lebih "sederhana" untuk melakukan itu, yaitu pergi menengok ke museum, atau belajar dari guru sejarah yang cakap seperti ibumu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Aku mengunjungi museum tadi pagi. Namanya standar tapi kita bisa membayangkan keluasan isinya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;National Museum of Korea.&lt;/span&gt; Museum ini, Sayang, Masya Allah, besarnya luar biasa. Hotel Hilton mungkin yang paling mewah di Bandung, tapi museum ini beberapa kali lipat lebih besar dan mewah. Sang pemandu berkata, "Ini museum nomor empat terbesar di dunia, untuk mengelilinginya kamu butuh delapan belas jam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kamu, Sayang, bahwa sejarah, meskipun penting, tapi kita agaknya setuju bahwa hal tersebut mesti disajikan secara menarik. Rupanya hal ini sudah sangat dipikirkan dalam museum mega itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Display&lt;/span&gt; artefaknya sangat bagus, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sign system&lt;/span&gt;-nya sangat informatif, dan penerangannya begitu anggun dan elegan. Kalaupun iya (kita boleh curiga), bahwa sejarah yang disajikannya bukan suatu kebenaran, maka itu tak jadi soal karena aku pribadi sudah terpikat pada segala-gala yang ada di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, ada satu hal yang sangat menarik. Sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tour guide&lt;/span&gt;, bercerita dengan sangat bergairah. Seolah-olah ia berada di masa lampau dan menyaksikan benda-benda yang ia ceritakan itu dalam kondisi asli pada jamannya berada. Membuat aku ternyata menyimpan cita-cita ingin seperti dia, ingin seperti ibumu, menjadi seseorang yang mengajak siapapun menaiki mesin waktu ke masa lalu. Hanya saja, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tour guide&lt;/span&gt; sedikit lebih beruntung dari segi penyajian ketimbang guru sejarah. Karena barang-barangnya ada tersedia di sana. Lagipula, perjuangan ibumu patut diacungi jempol. Karena ibu mendatangkan sejarah ke kelas yang mungkin berisi anak-anak yang siap menguap di tengah pelajaran. Sedangkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tour guide,&lt;/span&gt; pengunjunglah yang mendatangi sejarah. Sehingga mungkin antusiasmenya sudah ditumbuhkan dari awal. Jadi, sekali lagi, bersyukurlah punya ibu yang sedemikian hebatnya. Tanpa barang-barang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;display&lt;/span&gt;, ibumu menyajikan masa lampau murni melalui bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-G47gCloQxp4/TnIvh_n_dKI/AAAAAAAAAHQ/SqikS0w74yU/s1600/IMG_4167.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-G47gCloQxp4/TnIvh_n_dKI/AAAAAAAAAHQ/SqikS0w74yU/s400/IMG_4167.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652632743364752546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Sang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tour guide&lt;/span&gt; menerangkan pagoda sepuluh tingkat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Setelah dari sana, kami mengunjungi istana raja Korea purba bernama Gyeongbokgung Palace. Esensinya sama, kami mengunjungi masa lalu dari suatu bangsa. Hanya saja kalau museum nasional diliputi suasana modern, sedangkan yang ini sangat tradisional dan segalanya betul-betul dipelihara keasliannya. Mulai dari bentuk bangunan hingga interiornya. Membuat alam imajinasi kita terlempar, membayangkan betul-betul ada raja duduk di sana beserta para pengawal-pengawalnya. Meski demikian, tempat ini ternyata pernah nyaris dibumihanguskan oleh Jepang. Sehingga banyak bagian sudah direvitalisasi oleh pemerintah Korea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-A0F5i1fTv8c/TnIwBOZUjOI/AAAAAAAAAHY/4s17IfRFTsw/s1600/IMG_4281.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-A0F5i1fTv8c/TnIwBOZUjOI/AAAAAAAAAHY/4s17IfRFTsw/s400/IMG_4281.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652633279905696994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Demikian, sayang, betapa sejarah yang dikelola secara serius, punya andil dalam membentuk bangsa yang hebat. Apa yang bisa kita lakukan sekarang? Tidak perlu repot-repot menembok bangunan museum di Indonesia yang menyedihkan. Kita cukup mengenang masa lalu kita, dari mulai PDKT, masa-masa bertengkar, hingga persiapan pernikahan macam belakangan ini. Dengan demikian kita akan sanggup menjadi pasangan yang menebar energi positif bagi sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan itulah awal mula, cikal bakal, perbaikan dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-712335692592031559?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/712335692592031559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-4.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/712335692592031559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/712335692592031559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-4.html' title='Surat Cinta dari Korea (4)'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-vzqaXfTrBE8/TnIwSTIR3NI/AAAAAAAAAHg/fA7OsgjrJwE/s72-c/IMG_4197.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-9009526519281783390</id><published>2011-09-14T22:35:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T09:22:14.411-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korea'/><title type='text'>Surat Cinta dari Korea (3)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang aku ceritakan sekarang ini sesungguhnya hanya akan tentang makan dan makan. Kemarin, pagi, siang, malam, kami disuguhi makanan istimewa. Hanya manusia yang bisa memberikan penilaian bahwa suatu makanan disebut istimewa atau tidak, Sayang. Binatang tak punya itu. Bagi mereka, selama makanan sanggup menghilangkan rasa lapar, maka itu sudah cukup.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sarapan kami istimewa, karena berada di sebuah restoran di lobi hotel dimana makanan terhidang di &lt;i&gt;buffet&lt;/i&gt; secara bebas merdeka. Maksudnya, ragamnya berjenis-jenis dan kami boleh ambil seenaknya. Ada kentang, sosis, omlet, roti, buah, susu, jus, dan juga salad. Tentunya cerita ini semacam &lt;i&gt;flashback&lt;/i&gt;. Setelah sarapan raja tersebut, kami berangkat ke galeri Hangaram dan memulai kegiatan “Sangkuriang membuat perahu” seperti yang kuceritakan sebelum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca &lt;i&gt;display&lt;/i&gt; kebut selesai, kami dijamu makan siang di gedung seberang. Restoran itu aku tak tahu apa namanya, karena bertulisan bahasa Korea yang bagiku hanya terlihat seperti rangkaian garis dan bulatan-bulatan semata. Makanan yang tersaji pun aku tak tahu apa namanya. Jika aku tanyakan pada mereka, mereka akan menjawab dengan ucapan yang tidak sanggup aku pahami dan juga kutulisi di sini. Satu yang menarik adalah nasi kehitaman yang tersaji dalam mangkuk logam ditutupi tutup kayu. Sekilas, nasi itu tak istimewa. Tapi, kata panitia yang mendampingi kami, nasi ini bisa diairi oleh air panas dari teko sehingga nasi itu menjadi bubur. Lihat, Sayang, ketika peribahasa nasi telah menjadi bubur dianggap sebagai ungkapan penuh penyesalan oleh kita, ternyata orang Korea sana dengan sengaja membuburkan nasinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-28ByJLfrg5g/TnIlL3iWteI/AAAAAAAAAG4/zM8mLT5z8zI/s1600/IMG_3902.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-28ByJLfrg5g/TnIlL3iWteI/AAAAAAAAAG4/zM8mLT5z8zI/s400/IMG_3902.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652621368120227298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Ada satu hal yang menarik, bahwa negara Korea yang sedemikian indah dan barangkali mendekati sempurna dari segi tata kota, ketertiban, kebersihan dan juga keamanan (setidaknya demikian yang aku rasakan sementara ini), panitia pendamping kami itu masih juga mengungkap protes pada pemerintah. Katanya, pemerintah terus saja membangun gedung tinggi-tinggi sementara lingkungan alam tergerus lalu mati. Kami dan kamu mungkin berpikiran sama, tentang dirinya, “Ah, kamu jadi orang cuma kurang bersyukur."&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Th8vt7ILFA8/TnIlj9JtLrI/AAAAAAAAAHA/WeqADxWQEhU/s1600/IMG_3907.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Th8vt7ILFA8/TnIlj9JtLrI/AAAAAAAAAHA/WeqADxWQEhU/s400/IMG_3907.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652621781944315570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Panitia pendamping yang kurang rasa syukur itu membagikan selebaran kampanye anti pemerintah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam hari kami disambut lagi-lagi oleh makanan. Dalam acara &lt;i&gt;welcoming party&lt;/i&gt; itu, makanan yang terhidang lagi-lagi mewah gemerlap. Aku kenyang, tapi penasaran, karena banyak makanan yang belum aku kenal. Di meja bundar tempat aku dan kakakku duduk itu juga, terdapat beberapa orang dari delegasi Vietnam dan Singapura yang menawari kami bir. Kami yang menghormati dan juga menikmati masa muda, menerima tawaran itu dengan tangan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, sore itu juga adalah peresmian dibukanya acara &lt;i&gt;26&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Asian International Art Exhibition&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;(nama resmi acara yang kami ikuti). Dengan pidato yang tak kupahami dan performa pembuka dari kelompok perkusi yang tidak istimewa, pameran resmi dibuka untuk disaksikan siapa saja. Sebelum itu juga, para seniman dipersilahkan melukiskan cat air pada produk tas Samsonite yang menjadi salah satu sponsor acara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-q-sQEo0yPFc/TnIl9HaBWsI/AAAAAAAAAHI/svWlZT4MK8s/s1600/IMG_3959.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-q-sQEo0yPFc/TnIl9HaBWsI/AAAAAAAAAHI/svWlZT4MK8s/s400/IMG_3959.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652622214193830594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pak Deden Hendar Durahman melukisi tas Samsonite&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Demikian, Sayang, betapa makanan sanggup mengubah wajah kehidupan. Bahwa perut manusia adalah yang utama dipuaskan demi terwujudnya perdamaian dunia. Perang, kerusuhan, atau kejahatan disebabkan oleh sekelompok manusia yang merasa lapar. Atau, mereka sudah kenyang, tapi belum cukup gemuk untuk berhenti.&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku mengirim surat ini, aku sedang jatuh cinta kepadamu untuk yang pertama kali, perasaan yang sama seperti kemarin, kemarin, kemarinnya lagi, kemarin, dan juga besok, besok, besok, besok dan besok.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-9009526519281783390?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/9009526519281783390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-3.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/9009526519281783390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/9009526519281783390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-3.html' title='Surat Cinta dari Korea (3)'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-28ByJLfrg5g/TnIlL3iWteI/AAAAAAAAAG4/zM8mLT5z8zI/s72-c/IMG_3902.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-1140712410043023604</id><published>2011-09-13T20:57:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T05:59:18.980-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korea'/><title type='text'>Surat Cinta dari Korea (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"It's more than an airport. It's beyond expectation"&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-g5T68oNJlaQ/TnAtrrV0KlI/AAAAAAAAAGo/p-VLGVaZ7fI/s1600/IMG_3864%255B1%255D.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, hampir dua belas jam perjalanan yang melelahkan, sampai juga pada Incheon International Airport. Kalimat itu tertulis pada kereta yang mengantar kami dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wing&lt;/span&gt; satu ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wing&lt;/span&gt; yang lainnya (saking besarnya bandar udara ini). Katanya, ini bandara terbaik dunia, walaupun aku tak sempat menelusurinya karena kelelahan. Perjalanan ini harusnya tak selama ini, jika bukan oleh sebab transit di Malaysia hampir empat jam dan membuat perutku kerubukan. Makanannya menggelikan, bahkan mereka tak mampu membuat minuman kaleng yang enak. Kamu tahu semboyanku, bahwa cuma ada dua makanan di dunia: "Enak" dan "Enak sekali". Tapi Malaysia di luar opsi, aku menyematkan label "Tidak enak". Walaupun tentu saja ini generalisasi, aku belum pernah melihat keseluruhan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya, aku mula-mula menyewa HP dulu dengan harga mencekik. Sekitar 3000 won atau 25rb an per hari. Biaya telepon 10 won per detik, dan sms 100 won sekali. SMS pun katanya tidak bisa internasional. Tapi aku lakukan itu untuk menemukan dua orang kawanku di Korea sini, yaitu Andri dan Roni. Tanpa nomor telepon Korea, aku agak sulit mengontak mereka karena aku kesulitan menggunakan telepon umum di sini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangku, cintaku, perjalanan satu setengah jam kemudian adalah dari Incheon menuju Seoul. Kami betul-betul kelelahan dan suasana mobil betul-betul seperti biara yang sunyi. Tempat kami menginap bernama Seoul KyoYuk MunHwa Hoekwan Hotel (bagaimana membacanya?). Hotel yang aku perkirakan sekitar bintang empat dengan fasilitas standar dan televisi semuanya berbahasa Korea (bahkan film Top Gun-nya Tom Cruise pun di-dubbing jadi Korea!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita hotel tentu saja tidak menarik, Sayang, seperti halnya kita bercerita tentang harga gedung dan catering. Tidakkah lebih baik kita berbincang tentang yang romantis, tentang bagaimana kita akan hidup hingga hari tua? Aku akan bercerita sesuatu yang romantis sekarang, yaitu perjuangan para delegasi Indonesia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan negara lain, Indonesia belum memasang karya-karya oleh sebab biaya pengiriman yang mahal. Kami memilih menenteng karya sendiri dan memasangnya di detik-detik akhir. Karena kami percaya, Sangkuriang pun membuat perahu dalam semalam. Kami dengan cekatan menggelarnya di lantai, memasangnya di dinding, hingga membuat delegasi lain terkagum-kagum. Apakah mereka tidak tahu, sayangku, bahwa kita adalah bangsa hebat, bisa mengatasi keterdesakan dengan gembira dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-g5T68oNJlaQ/TnAtrrV0KlI/AAAAAAAAAGo/p-VLGVaZ7fI/s1600/IMG_3864%255B1%255D.jpg"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-g5T68oNJlaQ/TnAtrrV0KlI/AAAAAAAAAGo/p-VLGVaZ7fI/s1600/IMG_3864%255B1%255D.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-g5T68oNJlaQ/TnAtrrV0KlI/AAAAAAAAAGo/p-VLGVaZ7fI/s400/IMG_3864%255B1%255D.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652067760741821010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sibuknya delegasi Indonesia di menit-menit akhir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Demikian yang aku bisa ceritakan hari ini. Betapa kami senang bisa bertemu seniman se-Asia dan semua bertegur ramah oleh sebab ada satu yang menyatukan kita: "kegelisahan akan dunia". Demikian seniman itu gelisah selalu, karena ia menganggap apa yang dia rasakan seharusnya dirasakan juga oleh banyak orang di dunia. Delegasi Indonesia, yang kerap terpinggirkan (ini suudzon aku saja, Sayang, karena kami selalu ditempatkan di bis paling belakang dengan sesama negara berkembang seperti Vietnam atau Filipina), selalu sanggup menunjukkan jatidirinya yang aseli ketika terdesak. Dalam dua jam kurang, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;simsalabim&lt;/span&gt;, karya kami siap dipertunjukkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;From the corner of the cafe, in the corner of Seoul, with all my heart.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-y7Y2ey6U6Sw/TnAt_DU4BDI/AAAAAAAAAGw/JsqvB3a176U/s1600/IMG_3855%255B1%255D.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-y7Y2ey6U6Sw/TnAt_DU4BDI/AAAAAAAAAGw/JsqvB3a176U/s400/IMG_3855%255B1%255D.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652068093597844530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Patra Aditia tengah memasang karyanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-1140712410043023604?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/1140712410043023604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-2.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1140712410043023604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1140712410043023604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-2.html' title='Surat Cinta dari Korea (2)'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-g5T68oNJlaQ/TnAtrrV0KlI/AAAAAAAAAGo/p-VLGVaZ7fI/s72-c/IMG_3864%255B1%255D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-7675353037459479870</id><published>2011-09-12T20:32:00.000-07:00</published><updated>2011-09-12T20:54:04.381-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korea'/><title type='text'>Surat Cinta dari Korea (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Annyeong Haseo!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, ini belum sampai, Sayang. Ini aku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;online&lt;/span&gt; dari bandara di Kuala Lumpur yang entah namanya apa. Yang aku tahu, di sini makanannya tidak enak, nama-namanya hasil plagiat, dan harganya agak mahal dengan disertai tatapan mata dari sekeliling yang seolah berkata, "Dasar Indonesia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan waktu transit nyaris empat jam, tentunya aku mengisi dengan makan. Aku akan perlihatkan padamu, foto makanan bernama Nasi Lemak Chicken Rendang yang kontemporer dan posmodern:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-w6Q42zjp5bQ/Tm7Phs2VdUI/AAAAAAAAAGY/55b2rMVFy8k/s1600/IMG_3812%255B1%255D.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-w6Q42zjp5bQ/Tm7Phs2VdUI/AAAAAAAAAGY/55b2rMVFy8k/s400/IMG_3812%255B1%255D.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5651682760278242626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Makanan ini tadinya dingin, dipertontonkan dari balik etalase yang membuat kita menyangka makanan ini terbuat dari lilin. Seketika dipesan, pelayan langsung memasukkan makanan ini ke dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;microwave&lt;/span&gt; dan menyetel pemanasnya selama dua menit. Bodohnya, plastik bumbunya ia masukkan pula tanpa dibuka. Sehingga ketika nasi dan ayam ikut panas, bumbu yang tersimpan dalam plastik tersebut masih tetap dingin. Rasanya? Kamu tidak ingin tahu. Masih jauh lebih enak nasi uduk tiga ribuan yang ada di jalan Bangreng tempat kita sarapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ini berisikan hmmmm sembilan orang. Semuanya hangat dan kompak, berbagi cerita dan pulpen jika diperlukan. Kami ini ceritanya delegasi Indonesia, bersiap untuk mengikuti pameran Asia tahunan yang kebetulan kali ini diselenggarakan di Korea (Selatan). Karena ongkos pengiriman karya yang bisa mencapai belasan juta, kami memilih untuk membawa karya-karya kami ini sendiri. Memilih untuk menentengnya sendiri dengan resiko dipandang curiga ketimbang harus berhadapan dengan bea cukai yang juga penuh curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Jhju_tsE_mc/Tm7Tk0rkB1I/AAAAAAAAAGg/KJKZAQ9_NsQ/s1600/IMG_3813%255B1%255D.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Jhju_tsE_mc/Tm7Tk0rkB1I/AAAAAAAAAGg/KJKZAQ9_NsQ/s400/IMG_3813%255B1%255D.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5651687211966662482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;Sang Ketua Delegasi, Pak Setiawan Sabana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan dari Jakarta tadi, aku membaca buku "Rp 3 Juta Keliling Korea dalam 9 Hari" karya Claudia Kaunang. Di sana aku sudah membayang-bayangkan tempat yang akan dituju nantinya di sana. Pertama, jika aku punya nyali, aku akan ikut tur ke area pemisah antara Korea Selatan dan Korea Utara. Katanya, sebelum pergi, aku harus menandatangani perjanjian untuk tidak menuntut jika nantinya ada kontak senjata. Kedua, yang ini aku pasti punya nyali, aku akan mendatangi Pohon Gembok Cinta di NSeoul Tower. Di pohon tersebut tertampung gembok segala rupa yang sudah ditulisi kata-kata cinta. Dipercaya bahwa ketika gembok itu terkunci, maka pasangan tak akan terpisah untuk selamanya. Kalau iya aku mencapai sana, akan kugembok tulisan untuk kita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dega &amp;amp; Syarif. Insya Allah akan bersama-sama ke tempat ini nanti."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-7675353037459479870?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/7675353037459479870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-1.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7675353037459479870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7675353037459479870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/surat-cinta-dari-korea-1.html' title='Surat Cinta dari Korea (1)'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-w6Q42zjp5bQ/Tm7Phs2VdUI/AAAAAAAAAGY/55b2rMVFy8k/s72-c/IMG_3812%255B1%255D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-2911296680856756809</id><published>2011-09-04T06:54:00.000-07:00</published><updated>2011-09-04T07:44:53.415-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Romantisme</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya terinspirasi menulis ini setelah menonton Milan Glorie vs Indonesia All-Star Legends yang berakhir 5-1 untuk para bintang dari Italia. Bersama Pirhot, kawan saya, kami menyaksikan pertandingan tersebut sambil terbahak-bahak oleh sebab usia mereka yang tak lagi muda, namun harus menghibur penonton yang mengenang masa jaya mereka-mereka. Satu per satu komentator menyebut nama besar seperti "Baresi," "Costacurta," "Lentini," "Massaro," "Papin," hingga "Eranio." Di sisi lain, meskipun berbeda kelas, namun auranya tetap nostalgik, yaitu, "Ansyari," "Rochi," "Widodo," "Aji," hingga "Fachri." Sebutan-sebutan pesepakbola tersebut mengingatkan pada masa kecil hingga remaja saya, ketika televisi berada di kamar. Dini hari, jika terbangun, sering dengan sengaja saya setel televisi demi mendengar suara-suara komentator meninabobokan tidur saya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan antara saya dengan Pirhot lantas berlanjut ke segala hal yang berbau sepakbola masa silam. Mulai taktik 5-3-2 yang akrab masa itu, lalu revolusi ke 4-4-2 yang mengandalkan empat bek sejajar dan dua striker, hingga kecenderungan sepakbola hari ini yang kerap memainkan 4-3-3. Perbincangan juga masuk ke gaya rambut pesepakbola, yang dulunya gandrung berambut gondrong, sekarang banyak yang pendek-pendek. Di tengah-tengah perbincangan tersebut selalu terucap ungkapan-ungkapan romantik, bahwa, "Dulu mah, asik yah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dalam segala hal, setelah direnungkan, ternyata masa lalu selalu dibicarakan secara menyenangkan, betapa buruknya itu. Ketika membicarakan masa lalu, seolah-olah masa sekarang menjadi buruk adanya. Sama halnya ketika membicarakan Star Wars episode IV, V, VI yang notabene dibuat tahun 70-an hingga 80-an, lantas dicap keren ketimbang Star Wars episode I, II, III yang dibuat lebih kekinian. Argumennya, "Lihat jaman dulu, teknologi masih sederhana, tapi film bisa canggih begitu." Atau dalam diskusi mengenai kaset di komunitas di Tobucil, sering sekali dikatakan bahwa, "Orang dulu mau berjuang demi kaset, nabung. Tapi sekarang lagu didapat di mana saja secara gratis. Jadinya orang kurang menghargai musik." Dalam aspek kehidupan yang lebih religius, orang sering merindukan jaman ketika Nabi berkuasa. Sehingga dengan begitu, masa sekarang orang menjadi "gatal" ingin menegakkan negara khilafah. Yang kalau boleh saya tebak, pasti juga sangat terpengaruh oleh romantisme masa silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah mengapa, bagi saya, isu "jaman edan" atau "tanda-tanda kiamat" selalu relevan. Para "peramal" dari masa silam selalu mengatakan, "Akan datang jaman dimana manusia bermoral rendah, kacau, dan yang demikian adalah tanda-tanda berakhirnya dunia." Walhasil, ramalan demikian akan selalu relevan dimanapun ia dibaca. Orang yang berpijak di waktu dan tempat manapun selalu menganggap dirinya berada pada situasi jaman edan atau tanda-tanda kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa romantisme, peradaban tidak mungkin maju. Romantisme membuat kehidupan mau, seperti kata Hegel, berdialektik. Ada proses pembaruan, ada proses revolusi, ada proses penengahan, dan semuanya sah jika berbasiskan satu kata, romantisme. Romantisme membuat orang rindu akan suatu jaman di masa lalu, yang kemudian ia tuangkan dalam kegelisahan jaman sekarang. Dalam kegelisahannya itu ia berontak menuntut perubahan, agar yang kini kembali menjadi yang lalu. Demikian seterusnya, tanpa henti, mungkin juga tanpa ujung. Agama-agama semit barangkali lelah menafsirkan romantisme ini, sehingga ia membuat konsep eskatologi atau akhir dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masa lalu selalu indah, maka saya seyogianya mengingat bahwa yang hari ini kerap akan menjadi masa lalu juga. Orang akan dengan manis mengenang jaman ini, dimana segalanya mudah diketahui secara transparan, dimana popularitas mudah timbul tenggelam sesuai dengan media yang ingin mengungkapkan, dimana citra lebih penting ketimbang substansi, dimana Barat menengok ke Timur, dimana manusia senang mengintip satu sama lain, dimana bla bla bla, dimana bla bla bla. Semua akan diceritakan secara indah, setelah jaman sudah berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;#Sambil bernostalgia, menyaksikan Youtube berisikan video kejayaan Franco Baresi. Jika Messi berhadapan dengan Baresi, mungkin Messi yang menang. Tapi romantisme barangkali haram hukumnya ditempelkan dengan masa kini. Konteksnya berbeda, tantangan jamannya berbeda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-2911296680856756809?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/2911296680856756809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/romantisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2911296680856756809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2911296680856756809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/09/romantisme.html' title='Romantisme'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-199886459346659238</id><published>2011-08-23T07:58:00.000-07:00</published><updated>2011-08-23T09:01:04.692-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Muara Filsafat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari Minggu adalah jadwal saya mengajar di sebuah pesantren di kawasan Cijawura. Apa yang saya ajarkan sesungguhnya bertajuk awal "Gitar Klasik". Namun melihat animo yang cukup besar (ini adalah semacam kelas ekstrakurikuler yang siswa boleh memilih secara sukarela), saya memutuskan untuk mengganti tajuknya menjadi kelas "Musik" saja. Masalahnya, dua puluh orang anak jika diajari gitar klasik secara detail akan cukup repot. Belum pertimbangan bahwa banyak diantaranya tidak mempunyai gitar, dan juga kemampuan dasarnya tidak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar siswa yang cukup banyak itu, akhirnya saya bagi menjadi empat kelompok dengan masing-masing lima orang. Masing-masing kelompok diharuskan berkreasi sendiri, menampilkan suatu lagu bebas dalam format akustik. Tentu saja atas nama keadilan, pria wanita bercampur baur di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, akhirnya saya menyuruh masing-masing kelompok untuk maju ke depan, menampilkan kreasinya. Namun ekspektasi saya terhenti karena sekelompok pemuda di kelas mengajukan protes, "Kami tidak setuju wanita menyanyi. Karena akan bisa mengundang syahwat." Saya agak tersentak dengan penolakan tersebut. Saya betul-betul baru mengetahui tentang itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meskipun dalam taraf yang sederhana, akhirnya saya berhadapan langsung dengan fundamentalisme.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya berusaha untuk menghormati pendapat itu. Karena bagaimanapun juga, berhadapan dengan orang yang menggunakan dalil agama jelas berbeda dengan orang yang menggunakan dalil filsafat. Saya akhirnya bertanya pada mereka, berusaha tenang, "Dari mana kalian mendapatkan dalil itu?" Mereka tidak bisa menyebutkan sumbernya, tapi mereka tampak yakin dengan hukum tersebut. "Kalau suara wanita mengundang syahwat, bagaimana dengan buku kedokteran atau biologi? Bukankah isinya seringkali memperlihatkan tubuh telanjang dan kadang alat kelamin?" Mereka lagi-lagi tidak bisa menjawab, tapi tetap yakin pada pendiriannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihat wanita-wanita di kelas ini, mereka sudah siap menyanyi. Dengan adanya pernyataan kalian, mungkin mereka jadi sakit hati. Apa hukum menyakiti hati sesama Muslim?" saya melanjutkan. Mereka, sambil tertunduk, mengatakan haram. Tapi sekali lagi, mereka teguh bahwa wanita tetap tidak boleh menyanyi. "Saya akan bertanya, termasuk golongan Islam manakah kalian?" Mereka menjawab, "Kami Islam universal." "Apa itu yang universal? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ahlus-sunnah wal jama'ah?&lt;/span&gt;" saya mencoba mengorek dengan metoda Sokratik. "Iya," jawabnya. "O, kalau begitu kalian adalah Sunni. Jadi kalian bukan Syi'ah ya?" saya mulai menemukan kontradiksi dalam diri mereka. "Apa mazhab yang kalian anut? Syafi'i kah?" tanya saya, mendesak. "Iya," jawab mereka. "O, kalau begitu kalian bukan termasuk kepada mazhab Maliki, Hambali atau Hanafi ya? Jadi kalian bukan Islam universal kan? Kalian adalah Sunni dengan mazhab Syafi'i, tolong koreksi saya jika salah!" seru saya dengan semangat. Saya menambahkan, dengan agak terinspirasi Jalaluddin Rakhmat, "Jika demikian mungkin saja yang mengharamkan wanita menyanyi bukan Islam universal, tapi sebahagiaan kelompok dalam Islam saja. Tapi apakah menyakiti hati sesama Muslim adalah ajaran Islam universal?" Mereka menjawab ya dengan pelan, saya tahu mereka agak-agak mencair sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, saya tetap tidak melihat mereka akan memindahkan pendiriannya. Sejenak kemudian ada seorang santri berdiri mengemukakan pendapatnya, "Kak, saya tadi sempat melihat hadits, saya membaca bahwa Rasulullah SAW pernah membiarkan dua wanita budak bernyanyi di rumahnya. Hadits ini shahih dari Bukhari dan Muslim." Apa yang ia ucapkan ternyata jadi penolong. Mereka semua akhirnya setuju untuk membiarkan wanita menyanyi. Setelah keempat kelompok bernyanyi ke depan (ternyata para penyanyi wanita sangat bagus-bagus!), saya menambahkan kalimat penutup, "Syahwat pasti ada dalam setiap peristiwa, tapi bukankah yang penting adalah niatnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu saya belajar sangat banyak. Terutama tentang muara dari filsafat yang saya pelajari selama ini. Ternyata filsafat belum selesai ketika saya sukses menghafal pemikiran dari Thales hingga Foucault, atau dari Yunani hingga Cina. Filsafat belum selesai ketika kita merefleksikan segenap pemikiran menjadi hakikat segala sesuatu di balik apa yang tampak. Filsafat barangkali bermuara pada arti kata filsafat itu sendiri yaitu cinta kebijaksanaan. Apa yang saya yakini sebagai bijaksana, adalah persis dengan keyakinan para santri itu sendiri tentang apa yang bijaksana. Ketika dua hal yang bijaksana "diadukan", maka disinilah filsafat mengekspresikan rasa cintanya yang hakiki. Cinta sejati adalah yang lembut dan mau mengerti sesama. Rasa-rasanya filsafat menjadi gagal jika kerap menuduh FPI keji tanpa mau memahami alam pikiran mereka yang juga barangkali mengandung kebijaksaan bagi dirinya. Jika filsafat menolak usaha pemahaman tentang yang liyan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(the others)&lt;/span&gt;, maka sesungguhnya ia tak ubahnya sebagai fundamentalis juga. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-199886459346659238?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/199886459346659238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/08/muara-filsafat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/199886459346659238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/199886459346659238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/08/muara-filsafat.html' title='Muara Filsafat'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-6728057623981462879</id><published>2011-08-08T08:07:00.000-07:00</published><updated>2011-08-08T08:37:43.523-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Tuhan Telah Mati, Kita Semua yang Membunuhnya</title><content type='html'>Tuhan telah mati, dalam doa bersama menjelang UN&lt;br /&gt;Dibinasakanlah sifat ia yang Maha Baik&lt;br /&gt;Menjadi baik untuk kelompok tertentu atas tujuan yang sempit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan telah mati, dalam ormas yang menghancurkan diskotik&lt;br /&gt;Dibinasakanlah sifat ia yang Maha Memerintah&lt;br /&gt;Titahnya telah dikudeta oleh gerombolan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan telah mati, oleh pedang prajurit Perang Salib&lt;br /&gt;Dibinasakanlah sifat ia yang Maha Esa&lt;br /&gt;Karena masing-masing kubu merasa punya Satu untuk dibela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan telah mati, oleh suasana Ramadhan di sekeliling kita&lt;br /&gt;Dibinasakanlah sifat ia yang Maha Luas&lt;br /&gt;Menjadi sekedar acara televisi dan korden yang menutup jendela rumah makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan telah mati, oleh pisau bernama BA-HA-SA&lt;br /&gt;Ia tidak lagi meliputi seluruh keadaan&lt;br /&gt;Tapi disempitkan oleh nama dan sesosok persona nun jauh di sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, Tuhan telah mati, kita semua yang membunuhnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-6728057623981462879?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/6728057623981462879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/08/tuhan-telah-mati-kita-semua-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6728057623981462879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6728057623981462879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/08/tuhan-telah-mati-kita-semua-yang.html' title='Tuhan Telah Mati, Kita Semua yang Membunuhnya'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-117046988252123271</id><published>2011-07-29T08:35:00.000-07:00</published><updated>2011-07-29T09:39:30.389-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Moralitas Khidhr</title><content type='html'>&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/95/Khizr.JPG/250px-Khizr.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 361px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/95/Khizr.JPG/250px-Khizr.JPG" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum memulai suatu pembahasan tentang moralitas Khidhr, alangkah baiknya untuk bersabar sejenak membaca tulisan panjang di bawah ini yang diambil dari Al-Qur'an surat Al-Kahfi. Isinya tentang percakapan antara Musa dan Khidhr. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami 886. (QS. 18:65)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu" (QS. 18:66)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. (QS. 18:67)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu" (QS. 18:68)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun". (QS. 18:69)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tetang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu". (QS. 18:70)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidihr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar. (QS. 18:71)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Dia (Khidihr) berkata: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku" (QS. 18:72)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku". (QS. 18:73)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidihr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar". (QS. 18:74)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku" (QS. 18:75)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku". (QS. 18:76)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu". (QS. 18:77)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Khidihr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. (QS. 18:78)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. (QS. 18:79)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu'min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. (QS. 18:80)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). (QS. 18:81)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya". (QS. 18:82)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Uraian di atas adalah satu-satunya gambaran Al-Qur'an tentang siapa itu Khidhr. Cerita Khidhr yang berkembang berikutnya lebih merupakan mitos. Misalnya, Khidhr ini dapat muncul sesekali di lokasi tempat bertemunya air laut dan air sungai. Khidhr juga sering dijuluki sebagai guru para nabi, berdasarkan kemampuannya membuat Musa yang agung "terlihat bodoh". Bagi kaum sufi, Khidhr ini menjadi figur sentral. Menjadi simbol dimensi mistik dalam Islam, yang seringkali terasa absurd bagi mereka yang menganggap Islam cuma serangkaian hukum dan perintah semata. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah yang diambil dari surat Al-Kahfi tersebut jelas mengandung pesan moral. Wikipedia mengatakan, pesan moralnya ada pada: orang tidak boleh sombong atas ketinggian ilmunya dan murid harus menaati gurunya. Betul. Tapi saya melihat hal yang lain daripada itu. Dengan aksinya, Khidhr mencoba menjawab dilema moralitas yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Khidhr mengajarkan bahwa dilema moralitas kerap terjadi dalam sikon apapun. Tidak ada kemutlakan baik-buruk. Misalnya, naik haji yang betapa agung dan mulianya, bukan tidak mungkin menutup kepedulian si jemaah yang barangkali di waktu bersamaan ada tetangganya yang kelaparan.  Wisuda yang mengukuhkan insan-insan berbudi luhur untuk nusa dan bangsa, di waktu bersamaan menyebabkan kemacetan yang membuat supir angkot kehilangan kesempatan mencari nafkah. Betapa baik-buruk adalah sesuatu yang datang secara bersamaan dan bukan berupa kausalitas. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Khidhr dengan tajam mengajarkan, sesuai dengan apa yang Islam sering sebut-sebut: bahwa ada konsep "niat", sebagai suatu konsep untuk mengatasi dilema moralitas yang pasti terjadi dalam situasi apapun. Bahwa Khidhr ternyata sudah mengetahui bahwa niat menjadikan dilema moralitas tak penting lagi. Selama niatnya baik, maka itulah yang baik. Efek yang buruk adalah di luar tanggungjawab dari niat yang baik. Naik haji tidak menjadi buruk jika dijalankan dengan niat untuk beribadah meskipun di waktu bersamaan tetangga sebelah kelaparan. Karena niat menjalankan haji bukan atas dasar ingin menyengsarakan tetangga. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Niat menjadikan segala sesuatu baik dalam dirinya sendiri. Ia membuang efek domino yang mungkin ditimbulkannya. Niat juga adalah suatu cara agar nalar bahu membahu dengan iman sesuai dengan apa yang St. Anselmus katakan, "Bahwa nalar tidak akan menemui kebenaran sebelum kamu mengimani sesuatu." David Hume juga setuju dalam bahasa yang lebih ekstrim, "Nalar adalah budak nafsu. Apa yang kamu ingin katakan sebagai benar, maka nalarmu akan menggunakan segala cara agar itu jadi benar." &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya, Khidhr juga sekaligus menolak sebuah kalimat yang diungkapkan dalam film Jurassic Park via Dr. Alan Grant, "Banyak hal buruk di dunia berasal dari niat yang baik." Khidhr akan menjawabnya dengan, "Baik-buruk adalah hal yang selalu terjadi di dunia ini. Satu-satunya kebaikan yang hakiki adalah niat yang baik."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-117046988252123271?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/117046988252123271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/07/moralitas-khidhr.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/117046988252123271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/117046988252123271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/07/moralitas-khidhr.html' title='Moralitas Khidhr'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-7156963254104696857</id><published>2011-07-26T16:04:00.000-07:00</published><updated>2011-07-26T17:26:16.868-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Garasi 10'/><title type='text'>Invasi Keroncong lewat Garasi Rumah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-K8aTlTNvfu8/Ti9XyJbCMRI/AAAAAAAAAGQ/EOcxgJBmLJA/s1600/DSC_0207.JPG"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-xzyRWmbonW8/Ti9XG7hDdCI/AAAAAAAAAGI/094fIs08v3Q/s1600/DSC_0144.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-xzyRWmbonW8/Ti9XG7hDdCI/AAAAAAAAAGI/094fIs08v3Q/s400/DSC_0144.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633817435430941730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Malam minggu itu, garasi rumah di jalan Rebana nomor sepuluh atau biasa disebut dengan Garasi 10 dibuka lebar-lebar. Publik boleh datang sesuka hati, menikmati sajian yang akan digelar. Gelaran di Garasi 10 tersebut adalah bagian dari acara rutin yang   bertajuk Munggah. Sesuai namanya, memang acara itu ditujukan untuk   menyambut Ramadhan. Latar "panggung" dibuat unik, dengan juntaian kertas  di langit-langit dan manusia telanjang tergantung, terbuat dari kertas  juga. Di kiri kanan ada pajangan gambar yang dipigura. Di belakang  "panggung" dipajang rak buku. Di dalam garasi itu, bukan mobil yang hendak dipanggungkan, melainkan orkes keroncong, namanya Jempol Jenthik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orkes Keroncong Jempol Jenthik (Inggris disingkat menjadi: JJOK) berformasikan tujuh pemain instrumen dan tiga vokal. Instrumen itu terdiri dari kontrabas, cello, cak, cuk, flute, biola, dan gitar. Yang menarik, seluruh personil mengenakan kaos yang sama, berwarna hitam bertuliskan: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Play Keroncong Music, Save Indonesian Heritage&lt;/span&gt;". Sebelum JJOK ini tampil, ada pembukaan singkat, dua lagu dari ensembel gitar KlabKlassik. Sekedar menyiapkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ambience&lt;/span&gt; bahwa garasi ini sudah ditahbiskan menjadi ruang konser, bukan lagi tempat menyimpan kendaraan seperti lazimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JJOK akhirnya "naik panggung". Pak Adi B. Wiratmo selaku pimpinan orkes menyapa audiens dengan hangat dan berulangkali menyampaikan bahwa, "Orkes ini bukan profesional, jadi maaf kalau salah-salah." Penampilan dibuka dengan lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Manuk Dadali&lt;/span&gt; instrumental dengan melodi utama dari flute dan iringan khas keroncong. Apa yang ditakutkan Pak Adi tentang kesalahan yang mungkin dibuat, tidak terjadi bagi telinga penonton yang memadati Garasi 10. Alasannya, atmosfir yang dibangun kadung masuk ke hati. Seperti pasangan yang dimabuk cinta, hari itu sang wanita lupa bergincu pun tak masalah bagi prianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berturut-turut JJOK memainkan belasan lagu hingga pukul setengah sepuluh malam. Hampir dua jam setengah mereka manggung. Lagu-lagu dari mulai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selendang Sutra&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sakura&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Can't Take My Eyes of You&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuhan, Ave Maria&lt;/span&gt;, hingga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dewi Murni&lt;/span&gt;  dibawakan, sekaligus menunjukkan keragaman repertoar yang mungkin dibawakan oleh sebuah orkes keroncong. Kata Pak Adi, "Selama ada cak, cuk, dan cello, nuansa keroncong pasti akan mampu dibangun." Di tengah-tengah penampilan apik JJOK itu, Pak Andar Bagus Sriharno, seorang dosen dari ITB tampil menyumbang suaranya. Diam-diam, tanpa diduga, suaranya merdu dan kuat. Setiap selesai lagu per lagu, Pak Adi juga mempersilakan hadirin untuk bertanya apapun, menciptakan interaksi yang hangat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-K8aTlTNvfu8/Ti9XyJbCMRI/AAAAAAAAAGQ/EOcxgJBmLJA/s1600/DSC_0207.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-K8aTlTNvfu8/Ti9XyJbCMRI/AAAAAAAAAGQ/EOcxgJBmLJA/s400/DSC_0207.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633818177898164498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pak Andar Bagus Sriharno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela itu pula, Pak Adi tak henti-hentinya mempromosikan Musik Keroncong sebagai produk dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;local genius&lt;/span&gt; Indonesia, "Saya heran jika ada yang mengatakan Musik Keroncong ini asalnya dari Portugis, karena di sana tidak ada musik seperti ini. Meskipun alat-alatnya dari Barat, pastilah Musik Keroncong ini kelahirannya tak lepas dari kejeniusan orang-orang Indonesia." Atas dasar itu, Pak Adi beserta kawan-kawannya di komunitas Keroncong Cyber tengah aktif mengampanyekan keroncong sebagai musik milik Indonesia. Salah satu langkah konkritnya adalah dengan melestarikannya terus menerus. Memainkannya di manapun dan menyisipkan nilai-nilai edukasi di dalamnya. Seperti lewat penerbitan buletin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tjroeng&lt;/span&gt; secara berkala yang disebar secara gratis. Isinya adalah info seputar kegiatan keroncong baik di tanah air maupun mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melihat banyak fenomena kebudayaan maupun sosio kultural di Indonesia ini, memang sangat masuk akal bahwa Musik Keroncong adalah hasil kreativitas orang Indonesia. Di kelas filsafat dulu pernah dibahas, bahwa orang Indonesia pastilah mesti kreatif, karena dituntut untuk beradaptasi dari godaan warga asing yang kerap menyambangi nusantara lewat jalur perdagangan. Wayang misalnya, produk kebudayaan India ini menubuh dalam diri masyarakat nusantara dulu. Tapi masyarakat lokal tak kemudian terlena dan membiarkan wayang merajalela. Dengan kreatif, mereka mencipta tokoh Punakawan, empat figur yang humoris, cuek, buruk rupa, namun krusial bagi kehidupan para ksatria. Empat tokoh punakawan ini adalah khas Indonesia, tidak disinggung sedikitpun dalam epos &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mahabharata&lt;/span&gt; ataupun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ramayana&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat contoh fenomena wayang tersebut, bisa jadi Musik Keroncong adalah penyikapan kreatif atas invasi bangsa Portugis dan Belanda lewat musik. Dengan "nakal", orang Indonesia mengadopsi instrumen yang digunakan mereka secara utuh penuh, namun irama dan teknik memainkannya dirombak total. Terbukti dari senar kontrabas dan cello yang cuma tiga dari lazimnya empat, serta cara memainkan cello yang lebih banyak "dikocok" ketimbang digesek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keroncong Kemayoran&lt;/span&gt; menjadi penutup manis malam hari itu, sekaligus menandai perubahan suasana yang siap disongsong: Dari Sya'ban ke Ramadhan, dari sikap hidup individual menjadi komunal, dari internasional menjadi lokal, dari lokal menjadi internasional. Ya, dari garasi rumah ini, yang lingkupnya RT dan RW, Musik Keroncong tengah mempersenjatai diri untuk berbalik menginvasi Barat. Menguasai dunia, menjadikan Indonesia bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-R6a-sNRBjK0/Ti9WJ9MpAcI/AAAAAAAAAGA/mkwXYulGc9E/s1600/DSC_0162.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-R6a-sNRBjK0/Ti9WJ9MpAcI/AAAAAAAAAGA/mkwXYulGc9E/s400/DSC_0162.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633816387910173122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-K8aTlTNvfu8/Ti9XyJbCMRI/AAAAAAAAAGQ/EOcxgJBmLJA/s1600/DSC_0207.JPG"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-7156963254104696857?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/7156963254104696857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/07/invasi-keroncong-lewat-garasi-rumah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7156963254104696857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7156963254104696857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/07/invasi-keroncong-lewat-garasi-rumah.html' title='Invasi Keroncong lewat Garasi Rumah'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-xzyRWmbonW8/Ti9XG7hDdCI/AAAAAAAAAGI/094fIs08v3Q/s72-c/DSC_0144.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-7848619055911876814</id><published>2011-07-15T10:10:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T10:53:48.272-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Museum</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari Sabtu tanggal 9 Juli kemarin, tanpa tedeng aling-aling saya merasa harus pergi ke museum. Tidak ada yang mengajak, tidak ada yang menyuruh. Hanya ingin. Saya membuat daftar museum yang akan dikunjungi, tapi apa daya yang terealisasi cuma Museum Geologi. Yang saya rasakan adalah, saya pernah berkali-kali ke museum, tapi selalu beramai bersama acara sekolahan. Tidak pernah datang sendirian dalam kondisi sadar dan jauh dari euforia. Dalam kondisi merenung dan sendiri, melihat segalanya secara lebih holistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Museum Geologi, pengunjung sangat sepi jika dibandingkan mal-mal yang biasa kamu kunjungi. Padahal museum ini gratis. Saya langsung masuk ke sayap kanan, bagian sejarah alam semesta. Saya pandangi satu per satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;display&lt;/span&gt; yang ada. Di sana ditunjukkan gambar dan tulisan mengenai proses pembentukan bumi pada mulanya. Hitungannya bukan puluhan atau ratusan tahun lagi, tapi ratusan juta tahun. Mulai dari awalnya ia sebagai bola panas, sampai terbentuk daratan dan lautan, munculnya organisme sederhana, hingga ada hewan bercangkang, mamalia, lalu monyet sampai nanti ada manusia. Cukup banyak saya mengalami kesulitan teknis oleh istilah-istilah yang agak asing. Tapi saya datang ke sana bukan untuk (atau setidaknya belum mempunyai tujuan untuk) memahami secara detail. Saya ke sana untuk merasakan suatu kesan berada di tengah-tengah sebuah kuburan kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Setelah dua jam berkeliling, saya pergi ke luar museum. Dari pintu, saya melihat gerombolan supir angkot saling menyalip sana sini. Bunyi klakson hiruk pikuk dan manusia tampak saling sikut untuk mendapatkan nafkah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, manusia, adakah perbedaan ia sekarang dengan jutaan tahun yang lalu? Adakah manusia hari ini lebih beradab dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Australopithecus? &lt;/span&gt;Atau jangan-jangan, manusia pada hakikatnya selalu berkebutuhan yang sama tentang yang empat: makan, minum, tidur dan seks. Nalar manusia, menuru Daniel Calne, hanya berfungsi menjawab "Bagaimana agar kita mencapai tujuan yang empat itu?" Nalar tidak sanggup mengubah tujuan hidup biologis kita. Hanya saja pengalaman manusia terakumulasikan dan diwariskan pada anak cucunya, sehingga seolah makin kemari dunia manusia lebih maju ketimbang yang dulu. Seolah-olah peradaban manusia mengarah pada sesuatu yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari museum saya belajar, bahwa manusia tidak lebih dari sekumpulan makhluk yang menanti untuk dimuseumkan. Tidak ada sesuatupun dari manusia masa lalu yang tersisa kecuali kuburan, karya, dan mitos. Ketiganya pun bisa hilang disapu waktu dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masuk ke pertanyaan paling eksistensial (baca: galau): Jika demikian, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mengapa manusia dilahirkan?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jawaban saya yang ngaco: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karena Tuhan bosan sendirian. Ia butuh hiburan. Maka kita-kita ini diciptakan untuk jadi tontonan. Agar Dia tertawa-tawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-7848619055911876814?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/7848619055911876814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/07/museum.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7848619055911876814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7848619055911876814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/07/museum.html' title='Museum'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-5880554186664402319</id><published>2011-07-15T03:54:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T04:41:36.816-07:00</updated><title type='text'>Rasa Sakit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Rasa sakit membuat kita dapat melihat kehidupan secara keseluruhan"&lt;/span&gt; -Sir Muhammad Iqbal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah, rasa sakit selalu punya tempat. Kaum Epikurean di masa Hellenisme misalnya, menganggap bahwa kebaikan tertinggi adalah menjauhi rasa sakit. Islam sendiri memandang rasa sakit sebagai kiamat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sugra&lt;/span&gt; atau kiamat kecil, sebuah episode partikular dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;grand design&lt;/span&gt; bernama kiamat kubra alias kiamat besar. Lompat ke dunia medis, dari waktu ke waktu, yang dipercanggih kemudian adalah bagaimana penyakit bisa sembuh disertai minimalisasi rasa sakit. Sehingga suatu waktu saya berpikir, ketika dunia pengobatan sudah sangat canggih, mungkinkah rasa sakit kelak menjadi sejarah? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menjadi museum rasa sakit?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun rasa sakit juga adalah elemen penting dalam dunia keagamaan. Yesus adalah simbol rasa sakit, ia melihat rasa sakit sebagai bentuk pengorbanannya dalam menanggung dosa umat manusia. Muhammad ketika awal mula mempunyai pengikut, sering disiksa oleh kaum Quraisy. Ia pun hidup papa selama jadi pemimpin. Miskin berarti dekat dengan kesakitan, demikian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;common sense&lt;/span&gt;-nya. Siddharta Gautama pergi keluar dari istana yang hedonis, hidup berkelana tanpa wisma dan  akrab dengan pergumulan yang menyiksa diri sendiri. Bahkan para pengikut mereka ada yang menjadikan rasa sakit sebagai cara untuk sampai pada tingkat spiritual tertentu (asketik), seperti yang dilakukan kaum Muslim Syi'ah pada 10 Muharram dan ordo tertentu dari Katolik yang kerap memecut diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, dalam peradaban manusia, rasa sakit adalah sesuatu yang dijauhi sekaligus dicintai. Bagi para nabi atau contoh-contoh manusia spiritual lainnya, rasa sakit adalah cara mereka menghayati kehidupan. Jika jiwa mereka telah menyentuh keilahian ke atas sana, maka rasa sakit mengingatkan bahwa jiwa ini masih di dalam tubuh, dan tubuh adalah milik bumi, tempat manusia berdiri. Rasa sakit adalah sebuah cara untuk mengingatkan bahwa kita ada di bawah, maka itu mendongaklah ke atas, melihat  langit maha luas, tempat kita semua dinaungi. Sedangkan kebahagiaan seringkali membawa kita membubung tinggi, ke awan, dan melihat kehidupan di bawah yang kejam dan keji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama dan rasa sakit berkaitan erat. Setiap agama mengajarkan kita untuk mengingat rasa sakit dengan caranya sendiri. Islam mengajarkan puasa dan shalat misalnya. Puasa jelas, ia memberi rasa lapar dan dahaga, mengakibatkan rasa sakit pada tubuh, terutama bagi mereka yang sesungguhnya sanggup makan ketika lapar dan minum ketika haus. Shalat mendisiplinkan tubuh kita, mengajak tubuh untuk melakukan sesuatu yang bukan naluriahnya. "Pemaksaan" itu juga menimbulkan rasa sakit. Buddha lebih ekstrim lagi, ia menyebutkan siklus kelahiran dan kematian kita sebagai sebuah dislokasi. Dislokasi berarti berada di tempat yang bukan seharusnya, dalam konteks tulang dan otot, itu berarti rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali memang rasa sakit tidak perlu dijauhi. Ia perlu ada dekat-dekat dengan kita, terutama di saat kebahagiaan terlalu membuncah dan membawa kita lupa diri. Kang Tikno, sahabat saya, mengatakan, bahwa sakit mengajarkan pada kita pentingnya istirahat. Bahwa tubuh dan jiwa sesungguhnya punya batas ketinggian. Rasa sakit mengajak kita kembali ke bumi dan mencintai keseharian. Jangan-jangan memang Tuhan tidak ada di atas sana, dijangkau oleh mereka-mereka yang terbang bersama kebahagiaan. Tuhan mungkin ada di dekat kita, menemani setiap manusia yang diterjang rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-5880554186664402319?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/5880554186664402319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/07/rasa-sakit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/5880554186664402319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/5880554186664402319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/07/rasa-sakit.html' title='Rasa Sakit'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-420126371643496755</id><published>2011-06-22T19:29:00.000-07:00</published><updated>2011-06-22T19:52:26.671-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel untuk Jurnal Ilmiah'/><title type='text'>Gerak Massa Tanpa Lembaga: Tinjauan tentang Media Massa Baru berdasarkan Fenomena Revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara (2010-2011)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Syarif Maulana, S.IP.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abstrak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun pasca runtuhnya Uni Soviet, dunia kembali diguncang demonstrasi besar-besaran. Kali ini terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara. Setelah rakyat Tunisia memulai gerakannya di akhir Desember 2010, berturut-turut rakyat Mesir, Aljazair, Yaman, Yordania, hingga Libia turun ke jalan untuk menyuarakan satu hal yang sama: pergantian kepemimpinan. Revolusi ini menarik karena jaringan sosial semisal Facebook menjadi salah satu faktor pemicu demonstrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena revolusi tersebut dianalisis dengan metode hermeneutika Schleiermacher dan hermeneutika Gadamer. Hermeneutika Schleiermacher digunakan dalam menganalisis fenomena revolusi di Timur Tengah dan Afrika itu sendiri. Sedangkan hermeneutika Gadamer digunakan untuk mereproduksi teks menjadi sebuah konklusi. Selain itu, konklusi akan dikaitkan dengan teori McManus tentang kecenderungan media baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari analisis terhadap fenomena tersebut, ditemukan bahwa sangat penting untuk melakukan tinjauan ulang terhadap media massa konvensional yang justru dituding lamban dalam menyebarkan pesan dan tidak jarang ditunggangi kepentingan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kata Kunci: revolusi, hermeneutika, media massa, jaringan sosial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Abstract&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Twenty years after the fallout of Soviet Union, demonstration with massive amount of people is happening again in several important regions. Middle East and North Africa is the "crime scene" for people's power. It was begin with Tunisian movement on December 2010. The surrounding countries, suddenly adopted the Tunisian style. Egyptian, Algerian, Yemeni, Jordanian, until recently, Libyan, is showing their popular power to demand one single thing: radical leadership succession. This revolution becomes interesting because social network as Facebook becomes one of the demonstration's trigger. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The revolutions phenomenon is analyzed by Schleiermacher and Gadamer's heremenutics method. The Scheleiermacher Hermeneutics will be used to analyze the revolution phenomenon in the Middle East and North African area. Gadamer's will be used to reproduce the text into conclusion. Furthermore, the conclusion will correlates with McManus' theory about the new media tendency. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The analysis of the phenomenon shows that, a redefinition to the conventional mass media is a must, since it has no enough acceleration to spread the idea and being used by vested-interest..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Keywords: revolution, hermeneutics, mass media, social network&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, revolusi dalam skala besar lintas-negara tidak pernah muncul lagi setidaknya dalam kurun waktu dua puluh tahun.  Revolusi yang diawali pada tahun 1989 dan lazim disebut dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fall of Communism&lt;/span&gt; tersebut melibatkan negara-negara dari Eropa Timur yang menyuarakan suara yang sama: akhiri pemerintahan komunis. Polandia, Hungaria, Jerman Timur, Cekoslovakia, Bulgaria, dan Rumania adalah beberapa contoh negara yang kala itu berhasil menggulingkan pemerintahan komunis yang notabene gagal dalam mensejahterakan masyarakatnya. Uni Soviet yang terlibat perang dingin dengan Amerika Serikat (AS) pun akhirnya menyerah dengan kondisi ini. Mereka memilih membubarkan diri karena koalisi tidak lagi kompak dalam mendukung eksistensi Blok Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tutup tahun 2010 atau hampir dua puluh tahun pasca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fall of Communism&lt;/span&gt;, terjadi demonstrasi besar-besaran di Tunisia, sebuah negara di Afrika Utara. Demonstrasi yang diwarnai oleh pembakaran diri (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;self-immolation&lt;/span&gt;) seorang demonstran bernama Mohamed Bouazizi tersebut menghendaki turunnya Presiden Zine Abidin Ben Ali dari jabatannya yang telah ia duduki sejak tahun 1987. Alasannya, Ben Ali dianggap bertanggungjawab atas pengangguran, korupsi, kesejahteraan yang buruk, serta minimnya kebebasan berbicara di Tunisia. Ben Ali pun akhirnya mengundurkan diri dan pergi ke luar negeri pada 14 Januari 2011 atau setelah demonstrasi berlangsung selama 28 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keberhasilan” demonstrasi di Tunisia tersebut menginspirasi negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara untuk menyuarakan perubahan. Terutama banyak diantara negara-negara tersebut dipimpin oleh rezim pemerintahan yang cukup lama seperti halnya Ben Ali di Tunisia. Hosni Mubarak di Mesir (30 tahun), Ali Abdullah Saleh di Yaman (memimpin 33 tahun), dan Muammar Ghadafi di Libya (42 tahun) merupakan contoh kepala negara yang diminta meletakkan jabatannya karena dianggap terlalu lama berkuasa dan tidak lagi relevan untuk memimpin negara diakibatkan oleh banyaknya persoalan yang melanda. Berbagai cara dilakukan pemerintah dalam meredakan demonstrasi di negaranya masing-masing, mulai dari cara damai hingga represif. Terdapat pula “kecurigaan” bahwa media &lt;span style="font-style: italic;"&gt;online&lt;/span&gt; seperti internet berada “di balik layar” pengorganisasian para demonstran ini lewat pemberitaan yang cepat maupun himbauan-himbauan langsung via jaringan sosial. Di Mesir, hal yang pertama dilakukan pemerintah dalam meredakan demonstran adalah menutup akses internet dan membatasi pemberitaan media. Hal tersebut menunjukkan bahwa internet dianggap berperan penting dalam pembesaran eskalasi protes di Mesir. Langkah Mesir tersebut diikuti oleh negara-negara lainnya meskipun dapat dikatakan “terlambat” karena pemberitaan sudah terlanjur cepat. Selain itu, internet juga selalu mempunyai “celah untuk meloloskan diri” dari pembatasan-pembatasan semacam itu. Terbukti bahwa kondisi-kondisi di Timur Tengah dan Afrika Utara masih mampu kita ketahui hingga saat ini secara aktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Metode Penelitian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus di Timur Tengah dan Afrika Utara tersebut akan dianalisis dari kerangka hermeneutika Schleiermacher dan hermeneutika Gadamer. Hermeneutika adalah metode penafsiran yang dahulunya digunakan untuk memahami kitab suci. Hermeneutika dikembangkan menjadi salah satu pendekatan terhadap berbagai fenomena yang lebih mengandalkan subjektivitas penafsiran dibanding independensi objek. Terdapat beberapa jenis hermeneutika, salah satunya hermeneutika dari Friedrich Schleirmacher (1768-1834). Hermeneutika Schleiermacher menekankan bahwa kebenaran penafsiran hanya dimungkinkan jika penafsir mampu memahami teks sebaik pengarang teks tersebut. Dalam arti kata lain, penafsir harus memahami situasi sosio-kultural, historis, biografis hingga psikologis si penulis teks. Hanya dengan itu, penafsir akan mampu memahami teks seutuhnya. Dalam penelitian ini, hermeneutika Schleiermacher digunakan untuk memahami “teks” yang diciptakan oleh fenomena di Timur Tengah dan Afrika Utara. Dalam hal ini peneliti akan mencoba “mengalami” fenomena di wilayah-wilayah tersebut dari sudut pandang sosio-kultural, biografis, historis, dan psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermeneutika berikutnya adalah dari Hans George Gadamer (1900-2002). Gadamer mengkritik Schleirmacher karena seharusnya teks bersifat produktif, bukan historis. Maka penafsiran hanya mungkin jika murni berdasarkan keadaan sosio-kultural, biografi, dan psikologi si penafsir. Bagi Gadamer, penafsiran ala Schleirmacher tidak hanya mustahil, tapi juga tidak bermanfaat. Kita sebaiknya tidak mengimitasi teks, melainkan justru memproduksi ulang menjadi pemikiran yang aktual dan segar. Hermeneutika Gadamer digunakan peneliti dalam memproduksi ulang pemikiran teks agar menjadi konklusi dalam artikel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperkuat konklusi, akan diambil teori dari John McManus tentang ciri-ciri media baru sebagai rujukan. McManus memaparkan adanya tendensi ke arah media baru yang bercirikan:&lt;br /&gt;1. Teknologi yang dahulu berbeda dan terpisah seperti percetakan dan penyiaran sekarang bergabung.&lt;br /&gt;2. Ada pergeseran dari kelangkaan media menuju media yang melimpah.&lt;br /&gt;3. Ada pergeseran dari mengarah kepuasan massa audiens kolektif menuju kepuasan grup atau individu.&lt;br /&gt;4. Ada pergeseran dari media satu arah kepada media interaktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sejarah Singkat Internet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet pada dasarnya merupakan sebuah jaringan antar-komputer yang saling berkaitan. Jaringan ini tersedia secara terus menerus sebagai pesan-pesan elektronik, termasuk e-mail, transmisi data, dan komunikasi dua arah antar-individu atau komputer (Briggs &amp;amp; Burke, 2006 : 376).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Februari 1958, Amerika Serikat mendirikan Advanced Research Projects Agency (ARPA) sebagai respon atas meluncurnya Sputnik oleh Uni Soviet setahun sebelumnya (Briggs &amp;amp; Burke, 2006 : 377). Internet merupakan kependekan dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;interconnected networking&lt;/span&gt;. Keterhubungan jaringan dalam internet dimungkinkan oleh teknologi yang bernama Internet Protocol Suite atau biasa dikenal dengan TCP/IP. TCP/IP merupakan jaringan raksasa yang memuat jaringan privat, publik, bisnis, organisasi, atau pemerintahan, yang keseluruhannya terhubungkan lagi oleh teknologi seperti kawat tembaga, serat optik, dan koneksi nirkabel. Fungsi internet paling mendasar adalah saling memberikan transaksi informasi yang termuat dalam dokumen hyperlink dari World Wide Web (WWW). WWW ini memungkinkan pengguna internet untuk melihat halaman yang memuat berbagai informasi dalam bentuk teks, audio, maupun video. Pada awalnya, identitas halaman atau dokumen tersebut ditampilkan dalam bentuk angka-angka. Namun untuk kemudahan, WWW menyediakan nama domain, yakni identitas untuk sebuah dokumen atau rangkaian halaman dengan menggunakan alfabet. Nama domain ditandai oleh nama halaman dan diakhiri oleh kode seperti GOV, EDU, COM, MIL, ORG, NET, dan INT. Identitas yang telah dirangkaikan dengan WWW dan nama domain, dikenal dengan nama situs.&lt;br /&gt;Meski ARPANET awalnya bergerak untuk kepentingan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), namun inovasinya akhirnya berkembang hingga keluar wilayah militer. Dalam tradisi AS, setiap teknologi baru diperkenalkan pada mulanya di lingkungan akademik kampus. Demikian halnya dengan internet, yang memulai publikasinya setelah empat puluh tahun berada dalam lingkungan internal ARPANET. Tepatnya pada pertengahan tahun 1990, internet mulai diujicobakan di kampus-kampus di AS. Akibatnya responnya yang cukup baik, komunitas internet segera bermunculan dari kampus-kampus tersebut, seperti Cleveland Free Net, Blacksburg Electronic Village, dan NSTN (Briggs &amp;amp; Burke, 2006 : 380).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet telah berkembang secara fenomenal, baik dari segi jumlah host computer maupun dari segi jumlah penggunanya, selama beberapa tahun terakhir. Salah satu pengukuran terbaik mengenai besarnya internet ini adalah jumlah host computer. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Host computer&lt;/span&gt; adalah sebuah komputer yang menyimpan informasi yang dapat diakses melalui jaringan. Dari tahun 1995-1999, jumlah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;host compute&lt;/span&gt;r meningkat mulai 5,9 juta menjadi 43,2 juta (Severin &amp;amp; Tankard, 2008 : 443).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelacakan jumlah pengguna internet cukup sulit dilakukan. Masing-masing perusahaan memakai metode berbeda dan memberikan hasil yang berbeda pula. Satu sumber industri melaporkan bahwa terdapat 83 juta pengguna Web di Amerika Serikat pada tahun 1999, naik 26% dari tahun sebelumnya. Penelitian lain menemukan bahwa lebih dari 79,4 juta orang dewasa, atau 38% populasi AS yang berusia 16 tahun ke atas, adalah pengguna internet pada bulan Maret 1999 (Severin &amp;amp; Tankard, 2008 : 434 – 433).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet menjadi sebuah medium berita baru pada bulan Januari tahun 1998 saat Matt Drudge menggunakan website untuk mengumumkan bahwa “Newsweek” telah menyembunyikan berita tentang keterlibatan Presiden Clinton dengan Monica Lewinsky di Gedung Putih. Tonggak penting lain bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi terjadi pada 11 September 1998, ketika Start Report muncul di internet. Itulah saat pengaksesan tertinggi yang pernah terjadi melalui internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jaringan Sosial: Facebook&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet mengubah komunikasi dengan beberapa cara fundamental. Media massa tradisional pada dasarnya menawarkan model komunikasi “satu-untuk-banyak”, sedangkan internet memberikan model-model tambahan: “banyak-untuk-satu” (e-mail ke satu alamat sentral, banyaknya pengguna yang berinteraksi dengan satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;website&lt;/span&gt;) dan “banyak-untuk-banyak” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(e-mail&lt;/span&gt;, milis, jaringan sosial, dan komunitas maya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model ”banyak-untuk-banyak” tersebut salah satunya terlihat dari konsep komunitas maya atau virtual communities. Komunitas maya adalah komunitas-komunitas yang lebih banyak muncul di dunia komunikasi elektronik daripada di dunia nyata. Salah satu bentuknya yang paling awal adalah buletin komputer yang diakses dengan menyambungkan modem pada tahun 1970-an. Ruang chatting, e-mail, milis, dan kelompok-kelompok diskusi via elektronik adalah contoh baru tempat-tempat yang dipakai oleh komunitas untuk saling berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas maya kemudian berkembang secara lebih luas menjadi jaringan sosial. Hal tersebut didorong situs bernama The WELL (lahir pada tahun 1985), Theglobe.com (1994), Geocities (1994) dan Tripod (1995) untuk mengembangkan teknologi yang memungkinkan antar jaringan untuk berdialog dengan respon yang lebih cepat (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;chatting&lt;/span&gt;). Dalam teknologi tersebut juga, masing-masing jaringan terkait memuat profil pribadinya sebagai identitas. Ketiga situs itu memelopori lahirnya situs jaringan sosial di dunia internet, yang dikembangkan dengan pesat pada kurun waktu tahun 2002 hingga 2004 oleh Friendster, MySpace dan Bebo. Situs jaringan sosial, pada dasarnya adalah situs yang memfasilitasi identifikasi pribadi secara lebih detil. Identitas tersebut kemudian dikoneksikan dengan identitas lain, yang kemudian lewat identitas lain itu, dapat dilihat jaringan identitas yang lebih luas. Lewat jaringan tersebut, para pengguna dapat bersosialisasi satu sama lain, yang dalam tingkat tertentu, mirip dengan kehidupan nyata. Hal tersebut yang membuat situs semacam ini dinamakan jaringan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Februari 2004, Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa Harvard menciptakan Facebook untuk kepentingan jaringan sosial internal kampusnya. Situs yang awalnya bernama The Facebook tersebut mendapat sambutan cukup baik di awal kemunculannya. Bulan pertama, hampir separuh mahasiswa Harvard menjadi anggotanya. Lewat bantuan rekan-rekan Zuckerberg yang bernama Eduard Saverin, Dustin Moskovitz, Andrew McCollum dan Chris Hughes, situs The Facebook dipromosikan untuk merambah kampus-kampus lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 2004, The Facebook resmi digunakan di Universitas Stanford, Colombia, dan Yale. The Facebook tidak butuh waktu lama untuk memasuki sebagian besar universitas di Kanada dan AS. Karena pengaruhnya yang mulai besar, masih pada tahun yang sama sejak kelahirannya pada musim panas 2004, The Facebook resmi menjadi korporasi. Pada tahun 2005 The Facebook meresmikan nama domain facebook.com dengan harga US$ 200.000. Pada September 2005 Facebook mulai meluncurkan versi untuk anak sekolah menengah atas. Tak lama setelah itu, Facebook mulai membuka diri untuk perusahaan-perusahaan, yang mana dua pelanggan diantaranya adalah Apple Inc. dan Microsoft. Pada tanggal 26 September 2006 Facebook resmi membuka untuk umum, dengan syarat tiga belas tahun ke atas dan memiliki alamat e-mail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facebook memungkinkan penggunanya untuk saling memperbaharui status, memunggah foto dan video, serta mengirimkan pesan pribadi. Selain itu, Facebook juga punya fitur tambahan seperti game ataupun note, yang secara umum dapat digunakan untuk bersosialisasi di dunia maya. Untuk menjaga privasi, Facebook juga memiliki layanan untuk memilih pengguna mana yang bisa berteman dengan akun kita dan mana yang tidak. Jika ada yang kurang berkenan, Facebook juga menyediakan layanan untuk menghapus pengguna tertentu dari daftar pertemanan kita. Facebook juga menyediakan berbagai elemen dalam fiturnya yang dimungkinkan untuk dikomentari apapun oleh pengguna lainnya yang masuk daftar pertemanan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jumlah pengguna saat ini yang mencapai 250 juta orang di seluruh dunia, Facebook disebut dalam penelitian compete.com (Januari 2009) sebagai jaringan sosial teratas dalam hal jumlah anggota. Peringkat tersebut mengalahkan tiga pelopor situs jaringan sosial yakni Friendster, MySpace, dan Bebo. Sebuah riset yang dilakukan oleh GSM Association mengumumkan, rata-rata pengguna Facebook menghabiskan sekitar tiga puluh menit dalam satu hari hanya untuk melihat status teman jaringan mereka (Hendroyono, 2009 : 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat kepopuleran situs ciptaannya, Zuckerberg menjadi miliarder termuda di dunia. Forbes memperkirakan kekayaannya mencapai US$ 1,5 miliar. Majalah Time juga memasukkan Zuckerberg dalam daftar seratus orang yang berpengaruh di muka bumi pada 2008. Craig Newmark, pendiri situs iklan baris Craiglist, menyebut Zuckerberg telah menemukan sarana jaringan sosial yang lebih dari sekedar merefleksikan kehidupan (Hendroyono, 2009 : 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kasus yang populer berkaitan dengan penggunaan Facebook adalah kampanye Barrack Obama untuk meraih kursi Presiden Amerika Serikat. Obama memanfaatkan Facebook untuk menggalang massa dan mengorganisasi komunitas-komunitas yang tergabung dalam Facebook. Setelah resmi menduduki kursi presiden, Obama masih menggunakan Facebook sebagai alat komunikasi di tempatnya berkantor, Gedung Putih. Gedung Putih membuka diri bagi komunitas manapun untuk menjadi teman di Facebook. Selain itu, perkembangan pesat Facebook juga pernah menimbulkan gagasan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengharamkan penggunaannya, karena dikhawatirkan dapat merusak akhlak penggunanya dan berpotensi menjadi pendukung pergaulan bebas. Terdapat juga kasus lain, semisal peneliti dari Ohio State University, Aryn Karpinski, mengungkapkan bahwa Facebook dapat membuat nilai seorang pelajar menurun. Hal tersebut disimpulkan setelah melakukan penelitian terhadap 219 pelajar Amerika Serikat, baik yang masih duduk di bangku sekolah maupun yang sudah di tingkat universitas (Hendroyono, 2009 : 26). Di Indonesia, perkembangan pengguna Facebook mencapai 1.048.334 pada Maret 2009. Angka tersebut mengalahkan pengguna dari negara ASEAN yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Revolusi Media Massa”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi Mesir adalah pergerakan yang cukup populer pasca Revolusi Tunisia, sasarannya adalah Hosni Mubarak yang telah berkuasa selama tiga puluh tahun. Demonstrasi berlangsung selama delapan belas  hari dari mulai 25 Januari hingga 11 Februari 2011. Tergulingnya Mubarak semakin meyakinkan banyak negara-negara lain yang serumpun, menunjukkan bahwa legitimasi kekuasaan berasal dari rakyat, maka itu penggulingan juga bisa dilakukan oleh rakyat. Yaman, Yordania, Libia, Aljazair dan Pakistan kemudian lambat laun memulai pergerakan rakyatnya untuk merevolusi keadaan lewat pergantian kepemimpinan. Negara Non-Arab seperti Cina cukup khawatir dengan fenomena ini, terlebih rezim komunis negara tersebut berkuasa sejak tahun 1949. Ada upaya pembatasan pemberitaan tentang situasi Timur Tengah dan Afrika Utara di Cina, agar masyarakat tidak terinspirasi untuk melakukan revolusi.&lt;br /&gt;Media massa selalu memegang peranan dalam segala proses “penyeragaman aspirasi”. Yang menarik –dan juga paradoks-, media massa sesungguhnya tidak hanya melakukan homogenisasi atas yang heterogen, tapi juga heterogenisasi atas yang homogen. Homogenisasi atas yang heterogen terlihat dari contoh kiprah tim nasional Indonesia di Piala AFF 2010 lalu. Lewat pemberitaan yang gencar oleh media massa, masyarakat dipersatukan lewat tema nasionalisme. Apa yang tadinya terkotak-kotakan menjadi satu di bawah payung bela-negara. Tak hanya itu, media massa juga dapat mengkotakan apa yang tadinya sudah bersatu. Dengan media massa, masyarakat menjadi punya selera yang beragam. Iklan-iklan di televisi, radio, hingga majalah menunjukkan pencitraan yang berbeda-beda, menunjuk pangsa pasar yang berbeda, memenuhi kebutuhan yang berbeda, hingga menciptakan kebutuhan-kebutuhan yang baru. Media massa yang menyuguhkan hal yang beragam, telah menciptakan selera-selera pasar hingga selera-selera individu. Maka itu yang tadinya homogen menjadi heterogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet adalah bagian dari fenomena keberagaman individu. Lewat internet, kita disuguhi pengetahuan bahwa individu begitu unik, sekaligus diberi kesempatan bagi kita untuk menunjukkan keunikan pribadi. Meski demikian, status internet sebagai media massa belum banyak diakui pakar komunikasi dewasa ini. Hal tersebut disebabkan adanya syarat media massa yang mengharuskan beberapa hal seperti komunikator yang terlembagakan, umpan balik tertunda, serta komunikasi bersifat satu arah. Hanya saja, definisi tersebut seolah “mengarahkan” media massa terbatas pada koran, radio, dan televisi,  bukan justru melihat fenomena perubahan dan melakukan re-definisi. Pada mulanya, media massa yang diakui sebagai pelopor, yakni mesin cetak Gutenberg di Era Renaisans Eropa, mempunyai satu substansi: Menyebarkan ide yang seragam pada khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi yang belum secanggih hari ini, membuat proses penyampaian pesan oleh media massa membutuhkan organisasi yang kompleks dan pembagian kerja yang runut. Selain itu, komunikasi bersifat satu arah karena ketiadaan akses. Massa tidak bisa langsung merespon berita-berita yang ada di media massa, karena kenyataan bahwa media massa itu sendiri memang mendoktrinasi visual dan teks. Tidak ada peluang dialog disana. Inilah kemudian yang disalahgunakan oleh pemerintah-pemerintah diktator hampir dimanapun untuk melakukan propaganda. Pemerintahan Nazi Jerman di pertengahan abad ke-20 misalnya, menyadari pentingnya media massa dalam mengontrol masyarakat. Maka itu mereka menciptakan departemen propaganda secara mandiri di bawah pimpinan Joseph Goebbels. Lewat departemen tersebut, Nazi mendoktrinasi masyarakat dengan ide-idenya tentang kedigjayaan ras Aria dan rendahnya ras Yahudi. Ada pemeo menarik yang dianut Goebbels saat itu, “Seribu kebohongan akan menjadi satu kebenaran.” Demikian halnya dengan media massa di Cina era Mao Zedong (1949 – 1976) dimana berita hanya diperkenankan mendukung pemerintahan komunis Cina. Hal ini juga terjadi di Indonesia era Orde Baru yang melakukan pembredelan terhadap media massa yang tidak pro-pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara, peran internet terutama Facebook adalah hal yang krusial. Lewat Facebook, masyarakat menjadi mengetahui adanya berbagai hal yang tidak diberitakan media massa nasional yang cenderung propagandis dan pro-pemerintah. Selain itu, Facebook juga bisa menyebarkan ide yang seragam pada khalayak –sebagaimana halnya mesin cetak Guttenberg- dengan cepat dan dalam hitungan detik. Dalam berbagai sumber, ditemukan bahwa revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara dimulai dari wacana-wacana yang diletupkan di jaringan sosial tersebut, yang lantas menyebar dalam waktu singkat dan ditanggapi secara serius. Menurut pemberitaan www.wartanews.com pada 27 Februari 2011, kala revolusi Mesir dilaporkan terdapat 32.000 grup (Facebook group) dan 14.000 laman (Facebook page) yang terlibat dalam revolusi 25 Januari 2011. Pemerintah militer juga diketahui mulai menggunakan Facebook untuk menjangkau muda-mudi di Mesir. Pasca pengunduran diri Hosni Mubarak dari kursi presiden, terdapat grafiti besar di sudut ibukota Kairo yang bertuliskan'Terima Kasih Facebook'. Pada titik ini, status internet sebagai media massa adalah hal yang tidak diragukan lagi. Berdasarkan ciri-ciri media baru menurut McManus, peran Facebook  menjadi sangat sesuai. Hal tersebut juga didorong oleh beberapa analisis sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Media massa konvensional dengan cirinya yang terlembagakan, seringkali disalahgunakan untuk kepentingan tertentu. Media massa tidak lagi menyampaikan kebenaran, melainkan menciptakan kebenaran. Terlebih jika media massa telah dikontrol pemerintah dan digunakan untuk menyebarkan ide-ide propaganda pemerintah. Hal tersebut sangat mungkin dilakukan karena tiadanya komunikasi dua arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Facebook sangat menghargai pendapat-pendapat individu, sehingga jika kemudian terjadi pengerucutan suara, maka hal tersebut berasal dari akumulasi suara individu. Hal tersebut menghindari propaganda-propaganda sepihak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pengerucutan suara datang dari proses dialektik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Facebook punya kecepatan yang sangat tinggi dalam menyebarkan berita. Hal ini membuat media massa konvensional selalu ketinggalan langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slavoj Zizek, seorang filsuf kontemporer dari Slovakia, sama sekali tidak melihat revolusi Timur Tengah dan Afrika Utara ditunggangi kepentingan tertentu. Hal tersebut murni suara hati rakyat, dan pemimpin manapun patut mendengarkannya dengan seksama. Satu-satunya “penunggang” revolusi barangkali adalah Facebook, yang tak lebih dari pertemuan aspirasi dari rakyat itu sendiri. Dalam setiap teknologi tentu saja mempunyai kelemahan dan efek samping pada dehumanisasi. Tapi sejauh ini kita sama-sama saksikan sebuah fenomena yang barangkali akan menjadi sejarah penting peradaban dunia, bahwa revolusi dimulai dari Facebook. Tidak ada lembaga di belakangnya, tidak ada kepentingan tertentu kecuali suara hati nurani itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Simpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan peninjauan ulang terhadap media massa dewasa ini, terutama melihat fenomena yang terjadi. Meskipun media massa konvensional tetap memegang peranan, namun media massa baru yang dipelopori oleh internet, terbukti lebih cepat dalam menyebarluaskan informasi. Dengan demikian, berdasarkan empat poin ciri-ciri media baru menurut McManus, maka media massa sekarang ini perlu mengalami beberapa penyesuaian, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syarat media massa mesti mempunyai komunikator terlembagakan tidak lagi relevan. Komunikator terlembagakan ini berubah bentuk menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;provider&lt;/span&gt;, yaitu penyedia layanan internet. Kompleksitas pengiriman pesan ada pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;provider&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Provider&lt;/span&gt; ini memfasilitasi pengguna internet untuk saling berkomunikasi. Namun komunikasi itu sendiri berlangsung bebas dan tidak melalui proses-proses berliku seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;editing, layout&lt;/span&gt;, percetakan, hingga distribusi sebagaimana halnya media massa konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Media massa tidak lagi mesti dibatasi ciri-cirinya secara kaku dan ketat. Karena kenyataan bahwa segala fenomena yang terjadi menjadi sangat mungkin untuk dimassalkan. Istilah ruang publik dan ruang privat tidak lagi relevan akibat melimpahnya media massa. Yang esensial bukan lagi ciri-ciri media massa, melainkan justru pengaruh-pengaruh riilnya terhadap kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Media massa dewasa ini adalah ruang interaktivitas maha luas. Di dalamnya manusia bisa berinteraksi satu sama lain secara nirbatas. Sehingga media massa sebagai bentuk komunikasi satu arah perlu ditinjau ulang. Pemberitaan-pemberitaan media bisa langsung mendapat tanggapan, koreksi, revisi, bahkan pemutarbalikan dari pembacanya. Dalam hal ini kebenaran menjadi sulit sekali dirumuskan. Semuanya menjadi benar, sekaligus tidak benar. Manusia saat ini menjadi hyper-informatized society, yaitu komunitas yang kelebihan informasi. Maka itu kredibilitas perusahaan televisi, koran, dan radio tidak bisa menjadi acuan tunggal sebagaimana halnya era media massa lampau. Saat ini manusia itu sendiri mesti lebih arif menyikapi dan menggunakan daya kritis terus menerus untuk menyaring informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*) Alumnus Departemen Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Staf Pengajar Mata Kuliah Logika di Universitas Padjadjaran, Bandung. Saat ini sedang menyelesaikan studi magister dalam bidang ilmu komunikasi di Universitas Padjadjaran. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ardianto, Elvinaro dkk. 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Briggs, Asa &amp;amp; Burke, Peter. 2006. Sejarah Sosial Media: Dari Gutenberg sampai Internet. Terjemahan A. Rahman Zainuddin. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hedroyono, Tony. 2009. Facebook Haram. Yogyakarta: B-First.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Severin, Warner J. &amp;amp; James W, Tankard, Jr. 2008. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, &amp;amp; Terapan di Dalam Media Massa. Terjemahan Sugeng Hariyanto, Jakarta: Kencana.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Team Ninja. 2009. Facebook: untuk Semua Orang, untuk Semua Urusan. Bandung: Jasakom.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bayi diberi nama Facebook. Melalui http://www.wartanews.com/read/Internasional/3e8da930-3cf0-1f49-3242-096e26ffc3ba/Bayi-Diberi-Nama-Facebook&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Facebook&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/2010%E2%80%932011_Tunisian_revolution&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Revolutions_of_1989&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-420126371643496755?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/420126371643496755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/06/gerak-massa-tanpa-lembaga-tinjauan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/420126371643496755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/420126371643496755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/06/gerak-massa-tanpa-lembaga-tinjauan.html' title='Gerak Massa Tanpa Lembaga: Tinjauan tentang Media Massa Baru berdasarkan Fenomena Revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara (2010-2011)'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-8660161581814704835</id><published>2011-06-17T07:22:00.000-07:00</published><updated>2011-06-17T08:20:36.529-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Pernikahan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernikahan saya akan berlangsung delapan bulan lagi. Renungan tentang mengapa, bagaimana, akan seperti apa, tentu saja kerap terlintas. Sempat saya membayangkan pernikahan adalah seperti &lt;i&gt;via dolorosa, &lt;/i&gt;jalan derita yang dilalui Kristus sebelum disalib. Ia menapaki sesuatu yang berat, susah, berdarah, tapi sesungguhnya demi sesuatu yang lebih tinggi, agung, dan mulia. Dalam keadaan mental yang lebih skeptik, saya membayangkan pernikahan adalah upaya pengerdilan percik-percik api asmara oleh lembaga. Karena cinta barangkali terasa menggairahkan ketika kita mencicipi potongan-potongannya, bukan menelan keseluruhannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernikahan juga, sempat saya membayangkan, adalah momen batas tegas dimana kita menjadi dewasa. Dewasa adalah impian sebagian orang, tapi sekaligus momok sebagian lainnya. Terkadang menyenangkan melihat segala sesuatu hitam putih tanpa usah dipikirkan dalam-dalam. Terkadang asyik menanggapi banjir sebagai danau yang membuat kita bisa berenang, alih-alih menganggap itu bencana yang menghanyutkan harta benda. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernikahan juga berarti potensi untuk mempunyai anak kelak. Anak yang, kata Gibran, dibangun dibina untuk menjadi seseorang yang lepas seperti anak panah. Anak yang barangkali suatu hari nanti akan menjadi Oedipus yang membunuh ayahnya sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Tidakkah absurd? Tidakkah mengerikan?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Waktu semakin dekat, pemaknaan semakin mengerucut. Pada akhirnya saya tidak mungkin mengatakan suatu apa pun tentang pernikahan tanpa mengalaminya. &lt;i&gt;Tidak fair&lt;/i&gt;. Yang mesti dikumpulkan hari demi hari adalah keyakinan. Keyakinan bahwa saya sedang bergerak dari manusia estetis ke etis Kierkegaardian: Hidup demi tanggungjawab, menunda kebahagiaan untuk kebahagiaan yang lebih besar. Bahwa justru karena pernikahan itu absurd, tiada jalan lain kecuali mengimaninya, melakukan &lt;i&gt;leap of faith&lt;/i&gt; sehingga yang gelap jadi terang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang terakhir. Menikah barangkali adalah semacam suatu ungkapan optimistik tentang peradaban. Bahwa manusia dan kehidupan di muka bumi masih akan berlangsung untuk waktu yang lama. Jika bukan saya kelak yang menebar benih damai di dunia, maka biar penerus saya kemudian. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya adalah doa, "Ya Tuhanku, semoga pernikahan kami nanti diberkahi layaknya Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra. Biarkan tubuh kami yang menua, lapuk dimakan usia, tapi jiwa kami memuda bagaikan Alexander Supertramp yang lepas dari kedua orangtua. Amin."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-8660161581814704835?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/8660161581814704835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/06/pernikahan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8660161581814704835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8660161581814704835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/06/pernikahan.html' title='Pernikahan'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-876568853022470812</id><published>2011-06-14T07:28:00.001-07:00</published><updated>2011-06-14T10:43:07.951-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Filsafat di Antara Masjidil Haram dan Gelora Bung Karno</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tahun 2010 kemarin, saya berkesempatan mengunjungi dua tempat yang bagi saya sama-sama besar. Bulan Maret, saya diajak untuk turut serta orangtua umrah ke Tanah Suci. Berjumpa Ka'bah yang berada di dalam Masjidil Haram, ratusan ribu bahkan jutaan manusia yang terpusat ke sana selama nyaris dua puluh empat jam setiap hari mustahil tak membuat hati tergetar. Terasa sekali luapan spiritual yang besar dan meledak-ledak. Muslim manapun yang menjejakkan kakinya di Tanah Suci nyaris sulit untuk menolak nilai-nilai religius maupun spiritual. Karena suasananya sangatlah mendukung. &lt;i&gt;Fascinatum et Tremendum&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tempat kedua adalah di bulan Desember, yakni Gelora Bung Karno. Secara luas bangunan dan jumlah massa yang datang, sepertinya tidak sebesar Masjidil Haram. Saya kesana untuk membeli tiket final Piala AFF. Mengantri sejak tengah malam, saya tetap gagal mendapatkannya di pagi hari dan antrian massal itu sendiri berujung kerusuhan dan pengrusakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang menarik adalah sesungguhnya keduanya bagi saya punya persamaan dari segi perasaan. Setelah mengalami pengalaman religius di bulan Maret, bulan Desember pun sesungguhnya memberi saya perasaan yang mirip-mirip. Bahwa dalam kondisi emosi massa yang meluap-luap, kita mau tidak mau akan ikut terbawa arus. Dalam insting kolektif, manusia akan kehilangan identitas personal maupun kekhasannya sebagai individu. Di Masjidil Haram, saya yang biasa shalat bolong-bolong menjadi rajin dan khusyu. Di Gelora Bung Karno, saya yang sering mencemooh suporter yang rusuh malah menjadi ikut-ikutan rusuh. Keduanya identik dan tidak bisa serta merta menempatkan sepakbola pada posisi yang inferior dibanding agama. Sepakbola, bagi strata masyarakat tertentu atau bahkan bagi rakyat yang kehilangan jatidiri, adalah "agama" yang patut dibela. Tidak sedikit yang datang jauh-jauh dari Jawa Timur maupun Papua, ikut berdesak-desakan dan "berjihad" untuk tontonan sembilan puluh menit bola digulingkan kesana-sini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian ada filsafat. "Makhluk" yang satu ini kerap dituduh bertentangan dengan agama. Tapi sesungguhnya ia berperan untuk melakukan distansiasi alias pengambilan jarak. Filsafat merupakan satu cara bagi manusia untuk bertindak atas nama akal pikirannya sendiri. Ini sangat dibutuhkan ketika individu lebur dalam lautan massa yang menelan keunikan persona. Filsafat mengajak keluar dari kerumunan dan mempertanyakan apa yang sesungguhnya kita lakukan tanpa terpengaruh emosi-provokatif. Ia menggiring untuk berpikir jernih, ketika rombongan manusia ikut mengelilingi kubus hitam kosong, kita diajak bertanya, "Betulkah Tuhan di dalam sana?" Ia menggiring untuk berpikir jernih, ketika stadion dirusak dan kursi-kursi dilemparkan sebagai bentuk amarah, kita diajak bertanya, "Siapa musuh kita sesungguhnya?" &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiadaan pola pikir filosofi inilah yang kemudian menjadikan banyak makhluk yang pulang dari Tanah Suci tidak lebih dari sekumpulan manusia yang terombang-ambing. Ia taat ketika arus religiusitas melanda. Lalu ia jadi laknat ketika di Tanah Air, bersama kawan-kawannya, ia ikut arus korupsi. Ia tidak menjadikan renungan dari Jalaluddin Rumi ini sebagai distansiasi yang menyegarkan kalbunya:&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah.&lt;br /&gt;Dia tidak ada di sana.&lt;br /&gt;Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf&lt;br /&gt;Dia ada di luar jangkauan Avicenna&lt;br /&gt;Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.&lt;br /&gt;Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.&lt;br /&gt;Dia tidak di tempat lain.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-876568853022470812?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/876568853022470812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/06/filsafat-di-antara-masjidil-haram-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/876568853022470812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/876568853022470812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/06/filsafat-di-antara-masjidil-haram-dan.html' title='Filsafat di Antara Masjidil Haram dan Gelora Bung Karno'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-5826194835382289761</id><published>2011-06-07T08:29:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T09:20:04.453-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Untuk Tuan Marx dan Tuan Engels</title><content type='html'>&lt;a href="http://thriven.files.wordpress.com/2010/12/marx_engels2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 385px;" src="http://thriven.files.wordpress.com/2010/12/marx_engels2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuan Marx dan Tuan Engels,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalian tentu ingat sebaris kalimat pamungkas dalam manifesto: "&lt;i&gt;Kaum buruh sedunia, bersatulah!&lt;/i&gt;" Saya yakin tuan-tuan menuliskannya dengan hati yang jernih dan pandangan dunia yang luas lagi mulia. Di sekeliling, kalian melihat para buruh yang tak merdeka dan mengeluh sakit tapi tiada obatnya. Yang ada cuma &lt;i&gt;painkiller&lt;/i&gt; berbentuk kerja dan kerja. Para borjuis menjauhkan pekerja dari kemanusiaan. Ada hubungan keluarga dan pertemanan diantara sesama proletar, tapi hanya sebatas kedekatan biologis, genetika, dan status sosial semata. Tiada satupun dari mereka yang punya cukup waktu luang untuk bercengkrama, bercandatawa, dan curhat menggali kedalam tentang jatidirinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Kaum buruh sedunia, bersatulah.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya baru tahu wajahmu setelah melihatnya di restoran bernama Foodism. Mereka memajang jenggotmu tanpa tahu malu. Seorang panglima sejati di medan pertempuran kelas sosial, mesti mengakhiri hidupnya di etalase. Dilihat orang dengan tertawa sambil bersendawa. Sedangkan gerombolan pramusaji tak ada ubahnya dengan proletar yang dihantui ketidakmungkinan untuk menjadi borjuis. Mereka abadi berkubang dalam genangan, menjadi tempat kapital menginjakkan kakinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuan Marx dan Tuan Engels,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini kapitalisme adalah gurita raksasa. Ia tidak cuma mencengkeram kami semua dengan tentakel, tapi juga mengotori dengan tahinya. Saya kemana-mana menenteng manifesto dan meneriakkan kesejahteraan kaum buruh. Tapi apa daya kemana-mana juga saya mesti pakai Piccanto, mobil baru keluaran Korea yang mesti dibeli dengan cicilan bank yang berbunga-bunga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya, kami, tidak berdaya. Cuma bisa tertawa-tawa melihat pegawai kantor makan siang di restoran sambil membawa bantal. Hanya bisa mengelus dada melihat guru sekolah musik mengisi jam-jam kontemplasinya dengan uang yang dihantarkan oleh para siswa dengan dalih ingin belajar musik. Cuma bisa tersenyum kecut pada para akademisi yang duduk nyaman di singgasana menara gading membicarakan Marxisme tanpa tahu bagaimana membongkar ketidakadilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita semua kalah. Gurita raksasa nyaris mustahil digulingkan. Tapi renungan kalian akan terus hidup di dada kami-kami yang kerap tidak punya kekuatan. Bahwa segala ketidakadilan sesungguhnya mesti dilawan. Manusia yang diam dalam kesewenang-wenangan adalah budak nafsu kaum borjuis yang tak punya jatidiri pun hatinurani.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diktator proletariat tidak akan pernah berdiri. Namun setidaknya para pemilik modal, dimanapun mereka duduk: Singgasananya tiada akan pernah tegap menyangga. Kami selalu menggoyangnya agar tak ada satupun yang terlelap.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img src="http://static.hdw.eweb4.com/media/thumbs/1/10/94046.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 192px; height: 120px;" border="0" alt="" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Sumber gambar: &lt;a href="http://thriven.wordpress.com/2010/12/11/marx-and-engels-quotations/"&gt;http://thriven.wordpress.com/2010/12/11/marx-and-engels quotations/&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://hdw.eweb4.com/out/94046.html"&gt;http://hdw.eweb4.com/out/94046.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-5826194835382289761?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/5826194835382289761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/06/untuk-tuan-marx-dan-tuan-engels.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/5826194835382289761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/5826194835382289761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/06/untuk-tuan-marx-dan-tuan-engels.html' title='Untuk Tuan Marx dan Tuan Engels'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-265033964958058835</id><published>2011-06-05T22:59:00.000-07:00</published><updated>2011-06-06T00:36:33.317-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>The Invention of Lying dan Ketiadaan Agama</title><content type='html'>&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/2/2b/Invention_of_lying_ver2.jpg/220px-Invention_of_lying_ver2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 326px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/2/2b/Invention_of_lying_ver2.jpg/220px-Invention_of_lying_ver2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Bayangkan sebuah dunia tanpa kebohongan. Semua orang berkata jujur, semua orang berkata langsung tentang apa yang dipikirkannya. Efeknya, tiada karya sastra, tiada rayuan, dan yang paling menarik: tidak ada agama. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah ini adalah tentang Mark Bellison, seorang pecundang yang lahir di tengah umat manusia yang tidak mengenal konsep bohong. Ia penulis skenario film yang gagal, hampir dipecat, dan dianggap tidak menarik oleh teman kencannya, Anna. Seperti misalnya, dalam pertemuan pertama Mark dengan Anna, langsung disambut dengan, "Kamu tidak menarik, jangan harap aku mau tidur denganmu setelah kencan." Termasuk ketika pelayan restoran menawari menu pada Mark dan Anna, ia memulainya dengan, "Aku malu dengan pekerjaan ini." Begitulah dunia tanpa kebohongan. Orang mengatai seseorang jelek, buruk, payah, dengan amat terang-terangan di hadapannya. Perubahan dimulai ketika Mark mendapat "wahyu" di bank. Kala itu ia hanya punya 300 dollar di rekening dan ingin menarik semuanya. Tapi "lewat sebuah suara yang menyuruhnya", Mark menyebut 800 dollar, dan ia tetap mendapatkannya tanpa kesulitan sedikitpun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itulah kebohongan pertama dalam sejarah umat manusia. Mark memanfaatkan kemampuannya tersebut untuk banyak hal. Mulai dari membuatnya menjadi seorang penulis skenario film sukses, mengajak bercinta seorang wanita, memberi harapan bagi orang-orang di panti jompo, hingga -yang krusial- memberi cerita tentang apa yang terjadi pada manusia setelah kematian pada ibunya yang sekarat. Untuk menghibur ibunya yang ketakutan, Mark bercerita bahwa pada situasi &lt;i&gt;afterlife&lt;/i&gt;, ia bisa bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Sejak itu, Mark jadi terkenal, masuk berita, dan orang-orang berebutan untuk minta diceritakan apa yang terjadi pasca kematian. Mark bercerita dengan lantang tentang harapan-harapan pasca mati, termasuk adanya pertemuan dengan M&lt;i&gt;an in The Sky&lt;/i&gt; yang mengatur segala nasib umat manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Ketiadaan Agama&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu yang menarik tentang dunia-tanpa-kebohongan adalah berdampak pada ketiadaan agama. Ini merupakan konsep penting karena kebenaran menurut Bertrand Russell adalah harus selalu bersifat korespondensi dengan indrawi. Sedangkan agama sesungguhnya tidak punya korespondensi apapun secara empiri. Ia lahir dalam bentuk imajinasi, tapi diceritakan seolah-olah riil dan indrawi. Meskipun secara logikal demikian, agama sesungguhnya tidak sesederhana itu. Saya akan membuat analogi tentang agama:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Agus membeli telur, tepung terigu, soda kue, gula pasir, dan vanila. Ia ingin membuat sesuatu yang "belum pernah ada". Dengannya ia bereksperiman belasan hingga puluhan kali hingga mendapatkan suatu kue yang "belum pernah ada". Dinamailah kue itu dengan bolu kukus. Pertama di dunia.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Bolu kukus yang enak itu mendapat tempat di hati banyak orang. Dan ketika semua orang bertanya bagaimana membuatnya, Agus bingung. Ia mendapati bahwa keseluruhan proses membuat bolu kukus itu adalah hasil eksperimen berulang-ulang yang barangkali tiada polanya. Tapi demi kemaslahatan umat manusia, ia menuliskannya dalam apa yang dinamakan resep. Resep itu kemudian dibagikan pada semua orang dan jadilah semua orang bisa membuat "bolu kukus Agus". Hanya kemudian yang Agus sesali adalah, semestinya ia tak usah membuat resep. Karena yang esensial dari bolu kukus adalah bukan semata-mata resepnya, tapi proses eksperimentasinya itu sendiri. Setiap orang seyogianya mengalami "ledakan percampuran" telur, tepung terigu, soda kue, gula pasir, dan vanila itu dalam pengalamannya sendiri. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya, agama berpotensi kebohongan hanya jika diceritakan. Namun dalam pengalaman transendental individu, agama selalu hadir menjadi obat penawar kegelisahan manusia atas banyak misteri kehidupan. Dalam film &lt;i&gt;The Invention of Lying&lt;/i&gt; tersebut, agama menjadi punya makna ketika tiada satupun manusia yang tahu kemana mereka pergi pasca mati. Mark Bellison adalah seorang pembohong, berkata sesuatu yang tidak ada dalam kenyataan dan tidak pernah tercerap sedikitpun oleh indra. Saya tidak akan dengan terang-terangan menuduh para Nabi yang memberikan utopia pasca mati sebagai sekumpulan para pembohong seperti Mark. Saya akan lebih menyoroti bahwa manusia, dalam hakekat terdalamnya, jangan-jangan memang sekumpulan makhluk konkrit yang membenci kekonkritan. Sekumpulan makhluk riil yang membenci realitas. Seperti argumen Prof. Ramachandran tentang mengapa manusia menciptakan seni: Hanya karena tiada satu manusiapun yang menyukai kenyataan sejati yang hadir telanjang di hadapannya. Kita semua gembira kalau dibohongi!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-265033964958058835?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/265033964958058835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/06/bayangkan-sebuah-dunia-tanpa-kebohongan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/265033964958058835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/265033964958058835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/06/bayangkan-sebuah-dunia-tanpa-kebohongan.html' title='The Invention of Lying dan Ketiadaan Agama'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-6243925941801755950</id><published>2011-05-31T19:03:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T23:48:05.596-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Percakapan Singkat di Meja Makan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika saya mengatakan, "Pak, Bu, kami berencana menikah," tatapan Papap berubah. Ia tak lagi memandang kami yang berada di hadapannya. Ia melihat ke balik bola matanya, kepada timbunan kenangan lama yang terbujur dalam sunyi. Papap berbicara bukan sebagai ayah berusia enam puluh, tapi bak pemuda seumuran kami yang gairah kehidupannya masih menyala-nyala. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kami bersyukur atas niat kalian. Tapi tunggulah sampai saya selesai berpameran. Setelah itu baru kita mulai mempersiapkan, agar kalian bisa sejahtera sentosa untuk ke depannya."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tahun depan akan lebih baik. Menikah berarti menerjang badai dalam lautan, siapkan layar yang kuat."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Papap, dalam wujud pemudanya, mengingat dengan jelas ketika ia mengutarakan niat menikahi Mamah. Nini bertanya dengan lembut setelah pemuda bernama Wawan itu mendatangi kediamannya dengan api yang menyala-nyala di mata, "Wan, kamu sudah punya apa?" Wawan menjawab dengan percaya diri, "Saya punya niat baik." Nini merespon bersama senyum yang mengembang, "Itu sudah lebih dari cukup."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemuda bernama Wawan itu, yang hari ini sudah berusia enam puluh, percaya bahwa hidup adalah untuk diwariskan. Bahwa selalu ada secuil keinginan dalam dirinya agar siapapun penerusnya bisa mengimitasi sebagian saja dari hidupnya. Bahwa kebaikan tertinggi adalah kepercayaan bahwa dunia masih akan berjalan untuk waktu yang lama, maka itu jika saya yang gagal memperbaikinya, biarkan anak cucu yang kelak punya kekuatan untuk menjadikannya lebih baik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Papap yang bola matanya kembali ke meja makan tempat kami duduk, berkata seperti ia sudah gembira telah berjumpa dirinya di masa muda, "Sekian pembicaraan hari ini. Cuma itu yang bisa saya katakan, saksinya kue lapis dan cangkir kopi di meja ini." &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-6243925941801755950?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/6243925941801755950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/05/percakapan-singkat-di-meja-makan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6243925941801755950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6243925941801755950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/05/percakapan-singkat-di-meja-makan.html' title='Percakapan Singkat di Meja Makan'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-3334638949439470829</id><published>2011-05-30T03:35:00.000-07:00</published><updated>2011-05-30T06:23:09.557-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Filsafat Football Manager</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-n4TA7ZWIagU/TcjhnC0u7wI/AAAAAAAAAGg/pmev2RgPiQg/s1600/Football-Manager-2011-Cover-500x708.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 708px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-n4TA7ZWIagU/TcjhnC0u7wI/AAAAAAAAAGg/pmev2RgPiQg/s1600/Football-Manager-2011-Cover-500x708.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Football Manager, atau yang dulunya bernama Championship Manager, adalah &lt;i&gt;game&lt;/i&gt; PC yang mengambil tema manajer sebuah klub sepakbola. Jika &lt;i&gt;game&lt;/i&gt; olahraga kebanyakan menjadikan kita sebagai pemain, FM tidak mengeksploitasi ketangkasan ala genre &lt;i&gt;sports&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;action&lt;/i&gt;, melainkan lebih ke kecerdikan, ketekunan, ketepatan mengambil keputusan, dan segala-gala yang berkaitan dengan kemampuan-kemampuan manajerial. Maka pantaslah jika game olahraga ini digolongkan pada &lt;i&gt;strategy. &lt;/i&gt;Info tentang &lt;i&gt;game&lt;/i&gt; ini silakan lihat saja di &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Football_Manager"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya bermain FM sejak SMP, sejak namanya masih CM. Entah kenapa, bagi saya permainan ini sangat membuat kecanduan. Saya bisa memainkannya seharian penuh, bahkan ketika mengetik ini pun &lt;i&gt;game&lt;/i&gt; tersebut masih berjalan. Dalam tingkat kecanduan yang parah, saya bisa tidak tidur dan kontra-produktif: waktu masih kuliah, kuliah jadi telat, sedangkan kali ini, saya jadi jarang menulis. Maka itu agar jadi produktif menulis, saya ambil jalan tengahnya, yaitu menulis tentang FM, walaupun tahun lalu saya pernah melakukannya, dengan alasan yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk mengatasi rasa kebersalahan dari kontra-produktif ini, saya akan mencoba membuat kecanduan ini menjadi  filosofis. Agar kemudian kita bisa memetik hal yang hakiki, lebih dalam dan mengakar dari cuma sekedar fungsi &lt;i&gt;game&lt;/i&gt; sebagai hiburan. Akan lebih mudah dipahami jika yang membaca adalah sekaligus pernah memainkan FM (maka belilah). Berikut adalah filosofi yang saya rumuskan di tengah-tengah ketegangan bergelut menangani Nottingham Forest dalam memperebutkan tiket promosi ke Premier League Inggris. Dalam tulisan &lt;a href="http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/07/football-manager-dan-eksistensialisme.html"&gt;sebelumnya&lt;/a&gt;, saya menyebutkan bahwa filosofi yang dikandung FM adalah bahwa dia memenuhi &lt;i&gt;will to power&lt;/i&gt;-nya Nietzsche.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Ilusi Kausalitas&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada sesuatu yang saya renungkan tentang pertanyaan, "Mengapa hidup ini menarik untuk dijalani?" Barangkali, karena banyak sekali peristiwa sebab-akibat yang tidak absolut. Ada kejadian kausalitas yang kerap tak bisa dirumuskan. Ini mengapa kalimat "hidup adalah misteri" masih selalu relevan. Peristiwa jatuhnya Adi dari sepeda misalnya: Ia bisa disebabkan oleh adanya batu yang membuat sepedanya terantuk. Jika persis sebelum ia mengalami kejadian tersebut Adi lalai shalat, maka lalainya shalat Adi bisa menjadikan sebab musabab lainnya. Atau kemudian jatuhnya Adi bisa dimaknai juga sebagai sebuah sebab. Agar Adi menjadi anak baik misalnya, tidak keluyuran malam-malam dan nongkrong bersama Om-om yang kerap merokok. Demikian asyiknya hidup adalah segala sesuatu bisa dipandang dari sebab-akibat yang luas dan semuanya tetap punya makna. Saya tidak bisa membayangkan hidup dengan kausalitas yang absolut untuk seluruh kejadian. Misalnya, jika tidak shalat menyebabkan sepeda yang ditumpangi jatuh, maka yakinlah semua orang kemudian akan shalat sebelum bersepeda, kecuali ia seorang sado-masokhis. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Renungan di atas bukan milik saya, sebelumnya itu pernah dipikirkan dengan sangat tajam oleh filsuf Empirisisme Inggris, David Hume. Menurutnya, sebab-akibat adalah ilusi, sebuah kebiasaan yang kita simpulkan dari dua kejadian yang berdekatan atau berurutan. Kita menyimpulkan, dalam permainan biliar, bola merah masuk oleh sebab bola putih membenturnya, adalah kesimpulan yang diambil oleh sebab dua hal: Karena bola merah posisinya &lt;i&gt;dekat&lt;/i&gt; dengan bola putih, serta karena kita &lt;i&gt;sering&lt;/i&gt; melihat bola merah bergerak oleh karena bola putih membenturnya. Persoalan apakah betul bola merah bergerak dan masuk oleh sebab bola putih, itu persoalan kebiasaan saja. Ini cukup menjawab mengapa kita kerap takjub oleh sulap. Salah satunya karena kita menganggap ada kausalitas yang mutlak, sehingga ketika melihat kelinci yang tiba-tiba muncul dari topi, maka dianggap mustahil dan disebut &lt;i&gt;magic&lt;/i&gt;. Dalam kebiasaan indrawi kita, kelinci yang muncul dari topi, harus diawali dengan kelinci itu masuk ke dalam topi terlebih dahulu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gol, kemenangan, kebobolan, kekalahan, permainan cantik, dan berbagai peristiwa sepakbola yang terangkum dalam FM, sesungguhnya hanya menarik jika kita percaya bahwa hal-hal demikian ada hubungannya dengan kemampuan manajerial kita. Misalnya, dalam FM ada fitur &lt;i&gt;team instructions&lt;/i&gt; yang digunakan ketika pertandingan dijalankan. Isi &lt;i&gt;team&lt;/i&gt; &lt;i&gt;instructions&lt;/i&gt; ini bermacam adanya, isinya berupa perintah bagaimana gaya tim kita bermain (&lt;i&gt;get ball forward, stay on feet, pass into space&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;exploit the flanks&lt;/i&gt;, dsb). Ketika tim saya ketinggalan gol, maka saya mengaktifkan instruksi &lt;i&gt;get ball forward&lt;/i&gt;, misalnya. Setelah instruksi tersebut, beberapa menit kemudian terjadi gol, dan saya kemudian percaya bahwa &lt;i&gt;get ball forward&lt;/i&gt; adalah penyebab dari gol.  Tapi dalam pertandingan lain, sering juga &lt;i&gt;get ball forward&lt;/i&gt; ini tidak terbukti menjadikan gol, dan malah saya tetap kalah. Bisakah kau membayangkan bahwa ada kausalitas yang absolut, yakni setiap ketinggalan gol pasti sanggup dikejar dengan instruksi &lt;i&gt;get ball forward&lt;/i&gt;? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;FM, dalam sudut pandang tertentu, mengandung miniatur kehidupan. Memang ada kausalitas yang mendekati kepastian, misalnya, Barcelona pasti menang melawan Persib Bandung. Ini sama dengan ratusan ribu tentara Persia pasti menang melawan tiga ratus pasukan Sparta. Namun ada &lt;i&gt;term and condition&lt;/i&gt; mikro yang misterius, yang menyebabkan kehidupan seringkali sukar ditebak. Barcelona bisa jadi pasti menang melawan Persib, tapi bagaimana jika Barcelona tidak mengikutsertakan Xavi, Messi, Iniesta, Busquets, dan cuma membawa tim juniornya? Atau bagaimana jika lapangan Siliwangi terlalu jelek sehingga El Barca sulit melakukan &lt;i&gt;Tiki Taka&lt;/i&gt;? Atau bagaimana jika pemain Barca banyak yang sakit perut karena diberi konsumsi makanan warteg yang perut mereka tak akrab? Atau mari kita tarik ke wilayah yang lebih ontologis: Bagaimana jika Tuhan menghendaki bahwa tendangan pemain Catalan tak ada yang mengarah ke gawang, sedangkan sepakan Gonzales satu-satunya sanggup merobek jala Victor Valdes? Dalam segala kepastian, persentase ketidakpastian selalu ada. Dan FM asyik sekali membingungkan kita dengan kausalitas-kausalitas yang tanpa rumus tersebut. Ia kerap menarik karena tidak ada satupun rumus yang betul-betul pas bagi setiap kemenangan. Yang ada cuma &lt;i&gt;kepercayaan&lt;/i&gt; tentang bahwa rumus tersebut mempunyai hubungan sebab-akibat dengan kemenangan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Dengan argumen filsafat seperti ini, masihkah kalian: orang-orang yang chatnya sering saya abaikan, SMS tidak dibalas, telepon tidak diangkat oleh sebab asyiknya saya bermain FM, memaafkan saya?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-3334638949439470829?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/3334638949439470829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/05/filsafat-football-manager.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/3334638949439470829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/3334638949439470829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/05/filsafat-football-manager.html' title='Filsafat Football Manager'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-n4TA7ZWIagU/TcjhnC0u7wI/AAAAAAAAAGg/pmev2RgPiQg/s72-c/Football-Manager-2011-Cover-500x708.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-7186861820668957247</id><published>2011-05-24T09:09:00.000-07:00</published><updated>2011-05-24T09:50:33.772-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Wisuda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kondisi trans, seorang dukun suku Aztec mengalami visi yang membuatnya dapat melihat suatu kejadian di masa datang. Beliau dikitari oleh masyarakat sebangsanya yang tak sabar menanti sang dukun mau berkata apa tentang yang dilihatnya. Dalam api unggun yang sendu dan malam berbinar bintang-bintang, suara jangkring dan lolongan serigala menemani suasana, sang dukun kembali dari perjalanannya. Ia pun bercerita:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Wahai saudara-saudaraku. Telah kulihat sebuah upacara."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Upacara? Seperti yang kita lakukan selama ini?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tepat. Tapi yang ini lebih aneh. Aku takut."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Bagaimana? Ceritakan."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Mereka berjajar berpakaian seperti harimau. Banyak dan sama semua. Di kepalanya ada kulit dari binatang entah apa, pokoknya ekornya masih berjuntai di sana."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Lalu datang dua orang dari mereka membawa panji-panji yang mungkin terbuat dari kulit sapi. Dalam alunan musik dan tetabuhan yang tak kukenali, mereka mengiringi masuk rombongan-rombongan pemimpin kepala suku."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Mereka berasal dari desa apa, Guru?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Aku tak tahu, mereka tinggal di gua-gua yang mungkin terbuat dari kayu. Api unggunnya diletakkan di langit-langit seperti iblis membawa obor. Dan yang paling menjijikkan, ada burung garuda yang diawetkan disana!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Mengerikan. Teruskan, Guru."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Lalu diantara mereka ada yang memberi semacam mantra dalam bahasa yang tak kukenali. Namun aku yakin itu semacam upacara pelepasan sebelum mereka berburu ke hutan-hutan."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Di sela-sela perayaan suku tak beradab itu, beberapa diantaranya menggenggam bunga yang dipetiknya dari mana-mana, untuk kemudian diserahkan pada sesamanya yang, sepertinya, lebih tua."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Aku tak bisa melupakan juntaian ekor binatang yang ditempelkan di kepalanya. Sungguh biadab! Lalu mereka satu per satu menghampiri kepala suku. Dan sepertinya juntaian di kepala itu sungguh menjadi bahan penilaian si kepala suku tentang kematangan sang pemburu. Sang kepala suku seringkali memandangi dengan tersenyum sambil memeganginya!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Lalu.."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Lalu, mantra lagi, mantra lagi. Nyanyian lagi, nyanyian lagi. Dan juntaian itu, kau tak akan mau melihatnya: Mereka semua melemparkannya ke angkasa! Pada iblis api unggun, pada garuda bermata kosong, pada panji-panji kulit sapi."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sang dukun mulai tenang. Yang lain tak henti-hentinya mengucap &lt;i&gt;istighfar&lt;/i&gt; dalam bahasa Aztec.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-7186861820668957247?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/7186861820668957247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/05/wisuda.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7186861820668957247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7186861820668957247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/05/wisuda.html' title='Wisuda'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-2937142068205696409</id><published>2011-05-15T19:01:00.000-07:00</published><updated>2011-05-16T16:28:12.485-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Etika Paradoks</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bayangkan bayangkan. Di tengah ancaman MSG yang merusak pertumbuhan otak anak serta polusi kendaraan yang makin memprihatinkan, ada anak yang -atas dasar titah orangtuanya- membawa bekal makanan dari rumah untuk ke sekolah. Makanannya itu berisikan pure kentang dan tumis brokoli, menandakan kandungan kesehatan tingkat tinggi. Setiap bel istirahat berbunyi, yang ia ingat hanya membuka bekalnya dan makan di kelas. Kata mama, "Jangan jajan di sekolah, kotor, berbahaya, mending makan masakan mama, bersih, sehat." Dari banyak sudut pandang, gaya seperti ini jelas mengandung kebaikan. Pertama, higienis, dan yang kedua, ekonomis. Jelas jajan seringkali jatuhnya lebih mahal daripada memasak sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu, tanggal 15 kemarin, di sela-sela acara Crafty Days Tobucil, saya menyempatkan diri ngobrol dengan tukang teh botol yang rajin nongkrong di samping SMA saya dulu. Kebetulan, setiap ada even di Tobucil, dia selalu duluan booking tempat di sana. Berbeda dengan di masa SMA saya dulu, sekarang ini si Mang Dedi berwajah muram. Isi obrolannya cuma curhat keluhan demi keluhan, "Rip, sekarang mah ripuh dagang di Taruna Bakti teh. Barudak pada bawa bekel. Jadi gak ada yang beli ke samping." Lalu lanjut Mang Dedi, dengan tanggungan satu anak, ia berkata bahwa jika keadaan begini terus, bukan tidak mungkin ia menjadi tidak sanggup membiayai keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kejadian di atas, bukan berlangsung sekonyong-konyong dalam situasi kausalitas, melainkan bersamaan, nyaris bersamaan. Atau bayangkan kalian sedang diwisuda, mengukuhkan diri sebagai anak bangsa yang berpendidikan dan paripurna. Menjalani wisuda artinya bertambah lagi satu orang manusia yang siap bermanfaat bagi agama dan negara. Tapi tidakkah kalian membayangkan bahwa disaat yang persis sama, acara wisuda itu sendiri menimbulkan kemacetan luar biasa, sehingga supir angkot mencela-cela? Sehingga supir angkot kehilangan kesempatan mencari nafkah dan siapa tahu ibunya sedang sakit di rumah? Atau saya ingat dalam peristiwa umrah tahun lalu, bapak saya kecopetan uang tiga ratus riyal di pelataran Masjidil Haram, sebuah wilayah yang dipercayai penuh kebaikan akan statusnya sebagai rumah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sejarah filsafat Barat, banyak sekali pemikir yang merenungkan soal etika, atau hakekat kebaikan. Yang paling terkenal tentu saja Kant. Ia yang merumuskan bahwa sesungguhnya ada yang dinamakan etika universal. Ia memberi contoh, bagaimana jika kau menyembunyikan temanmu di rumah, padahal ia sedang dicari-cari polisi untuk sebuah urusan kriminal yang serius? Ketika polisi datang menanyai, apa yang kamu lakukan? Etika Kantian memberi solusi: universalkan masing-masing kejadian, dan jawab olehmu, mana yang lebih baik? Bayangkan jika semua orang di dunia menyembunyikan temannya di rumah meski ia jahat, dan bayangkan pula jika semua orang di dunia memberikan siapapun yang jahat pada polisi, mana kira-kira yang membuat dunia lebih baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakan Kant. Karena etikanya betul-betul tidak bisa menjawab pelbagai situasi-situasi di paragraf awal. Bahwa sesungguhnya, Kant, tiada etika universal, bagi saya. Sesuatu yang baik, selalu mengandung keburukan di dalamnya, dalam waktu dan kadang tempat yang persis bersamaan. Paradoks.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-2937142068205696409?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/2937142068205696409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/05/etika-paradoks.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2937142068205696409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2937142068205696409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/05/etika-paradoks.html' title='Etika Paradoks'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-216294449960439137</id><published>2011-04-25T07:33:00.000-07:00</published><updated>2011-04-25T08:26:54.402-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>KlabKlassik Edisi Playlist: Merayakan Runtuhnya Subjek-Objek</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Edmund Husserl (1859-1938), seorang matematikawan asal Jerman, suatu hari pernah merumuskan demikian: Bahwa dunia keilmuan masa itu, dengan segala dalil subjek-objeknya, justru telah gagal menjelaskan dunia keseharian&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (lebenswelt&lt;/span&gt;). Ilmu positif telah gagal menjelaskan pernyataan-pernyataan personal seperti, "Hari yang sendu," "Air yang suci," "Cinta yang mendalam," hingga "Tuhan yang dekat denganku." Para saintis lupa bahwa dalam dunia keseharian, apa yang dialami oleh subjek sebagai ada, itu justru yang lebih esensial ketimbang dunia yang dikonstruksi oleh distingsi subjek-objek yang miskin. Pak Bambang pernah mencontohkan pemikiran Edmund Husserl ini dengan sangat baik. Bahwa air, bagi dunia positif dirumuskan dalam H20. Tapi fenomenologi (ilmu yang kemudian dikembangkan oleh Husserl), mengatakan bahwa sah-sah saja jika air kemudian mempunyai makna yang berbeda-beda bagi individu yang berbeda-beda pula. Air bisa sangat luas, bisa sangat personal maknanya, mulai dari berwudhu hingga penyembuhan. Air yang disepahamkan lewat H20 dianggap Husserl sebagai pemiskinan terhadap makna air itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita menjauh sedikit dari Husserl, dan membahas apa yang kami lakukan di setiap hari Minggu, minggu keempat. Kami berkumpul dalam satu forum, meminta masing-masing orang untuk membawa satu lagu favoritnya dalam format flashdisk. Setelah dikumpulkan lagu-lagu tersebut dalam satu laptop, kami putar satu per satu, didengarkan dengan seksama, dikomentari sekenanya. Selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://farm6.static.flickr.com/5228/5649366099_4a4c81bae3_b.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 441px; height: 330px;" src="http://farm6.static.flickr.com/5228/5649366099_4a4c81bae3_b.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adakah yang istimewa? Tergantung dari sudut pandang mana kau memandangnya. Tapi mari kaitkan dengan fenomenologi Husserl di paragraf pertama, dan mari berkaca pada realitas bagaimana musik diperlakukan hari ini. Musik, bagaimanapun telah menjadi salah satu objek akademik yang maju cukup pesat sejak era Romantik Eropa. Ia sukses dipelajari, dibedah, diilmiahkan, diobjektivikasi dan disepahamkan. Sebelumnya, musik hanya digunakan untuk dua kepentingan besar: religi dan hiburan. Seiring perkembangan media massa, musik pun menjadi ikut-ikutan massal. Ia diproduksi dalam piringan dan bit-bit data, disebarluaskan dan dibunyikan dimanapun tempat-tempat yang punya pemutar: mobil, mal, diskotik, bioskop, hingga ruang perkantoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masifikasi memang selalu bertentangan dengan eksklusifitas. Yang massal menenggelamkan keunikan. Musik menjadi sesuatu yang "terlampau biasa". Dalam keseharian, kita bisa mendengarkan mulai dari Bach hingga Justin Bieber tanpa mampu difilter. Ia menubuh dalam gerak rutinitas kita dan terkadang bermukim dalam bawah sadar. Namun kemudian hal itu bukan sesuatu yang buruk. Karena dengan berpadunya musik dan keseharian, artinya ada musik-musik tertentu, bagi individu tertentu, yang begitu lekat dengan hari-harinya. Saya ingat betul masa-masa SMP dan SMA adalah masa dimana Metallica adalah musik pertama yang harus didengarkan sewaktu bangun tidur, dan musik terakhir yang wajib disetel sebelum terlelap. Saya juga tidak bisa begitu saja mengejek lagu-lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;request&lt;/span&gt; dari pengantin yang rata-rata seputar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;From this Moment, I Finally Found Someone&lt;/span&gt;, atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lucky&lt;/span&gt;. Karena bagi individu-individu tersebut, barangkali sang lagu punya nilai sejarah yang tak bisa diobjektivikasi dengan cara apapun. Ia berharga tinggi karena sejarahnya itu sendiri. Seperti halnya kaos sepakbola saya yang bernomor punggung 19 waktu SMP. Masih saya simpan dan meskipun kelak saya masuk tim AC Milan, saya tidak akan sekali-kali membuangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomenologi Husserl pada akhirnya berupaya keras meruntuhkan sekat subjek-objek yang telah mendominasi dunia ilmiah Barat sejak era Cartesian. Ia berusaha mengembalikan segala sesuatu pada keseharian, "yang benar adalah yang dekat". Ia berusaha mengritisi bahwa upaya penyepahaman adalah upaya yang sia-sia karena patut kita curigai bahwa ada klaim kekuasaan disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga para pengikut sekte edisi Playlist, tak perlu khawatir kelak ada upaya penyepahaman dari kami.  Sesungguhnya musik yang kalian bawa adalah bagaikan baju piyama yang kalian pakai sebelum ke peraduan. Ia milik pribadi, ia bagian dari darah daging kalian sendiri.  Datanglah hanya untuk menunjukkan inilah piyama saya yang lusuh. Terserah kalian mau meniru coraknya, mencontoh modelnya, atau bahkan mengatai kotor tentangnya, yang penting piyama ini berarti bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-216294449960439137?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/216294449960439137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/04/klabklassik-edisi-playlist-merayakan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/216294449960439137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/216294449960439137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/04/klabklassik-edisi-playlist-merayakan.html' title='KlabKlassik Edisi Playlist: Merayakan Runtuhnya Subjek-Objek'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm6.static.flickr.com/5228/5649366099_4a4c81bae3_t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-2925815415006437501</id><published>2011-04-17T12:26:00.000-07:00</published><updated>2011-04-17T12:58:24.987-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Dari Kakek pada Cucunya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baguslah nak, kau suka sepakbola. Kau rajin begadang hingga terlambat sekolah. Sekarang duduklah disini di teras sambil menanti partai malam ini. Kakek akan cerita tentang tim terbaik sepanjang masa. Kau, nak, tak mungkin tak tahu Barcelona, (secara) itu tim favoritmu. Barcelona hari ini, selalu kalah dari Real Madrid. Mereka kerap berperingkat dua. Akan kakek ceritakan bagaimana Barcelona dahulu, tahun 2000-an kala kakek muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bukan pesepakbola, nak. Mereka adalah sekelompok anak muda yang bermain bola bersama. Kau tahu bedanya? Ya, mereka mencintai permainannya. Hati mereka ada di kaki-kakinya. Kakek ingat bagaimana mereka masa itu berjaya. Madrid mengeluarkan triliunan rupiah namun tetap sulit menumbangkannya. Kakek ingat masa itu ada pemain bernama Cristiano Ronaldo dari Madrid yang belagunya minta ampun. Ia sempat jadi pemain terbaik dunia, namun di hadapan putra-putra Catalonia ia nyaris tak berdaya, kalau kakek boleh sebut tak bernyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihnya bernama Pep Guardiola yang sekarang berusia delapan puluh lima. Ia memainkan sepakbola bernama&lt;span style="font-style: italic;"&gt; tiki taka &lt;/span&gt;yang membuat pemirsa tergila-gila. Apakah itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tiki-taka&lt;/span&gt;? Sebuah taktik dimana mereka harus mengoper bola ratusan kali dalam satu pertandingan. Lihat sepakbola jaman kamu sekarang, nak. Tim ingin mencetak gol secepatnya. Dari bek atau gelandang operan dilepaskan sekuat mungkin ke barisan penyerang. Tim hari ini lupa bagaimana menikmati bola di kaki. Dahulu para anak Catalan menggilirkannya bergantian bagai anak jalanan berbagi uang recehan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Xavi, Messi, Iniesta, dan Busquets, kau tahu, adalah pelatih-pelatih sukses, kecuali Messi. Dahulunya mereka adalah nabi-nabi Katalunya. Mereka para punggawa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tiki-taka&lt;/span&gt;. Mereka bermain bersama sejak belia, sehingga kau akan merasakan bahwa dalam pertandingan sepanas apapun mereka bak bercanda belaka. Tertawa-tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek tidak menampik hebatnya Em-Yu hari ini, Liverpool, ataupun Napoli di Italia. Tapi bagi kakek, tim terhebat sepanjang masa adalah Barcelona ketika kakek masih menyaksikan mereka di TV One (sekarang sudah bangkrut) dengan mata kepala sendiri. Kakek tertawa bersama mereka, dan juga menangis bersamanya. Mereka bagai kawan-kawan kakek, yang tak henti-hentinya mengajarkan bahwa yang terpenting dari hidup ini adalah menyadari bahwa segalanya adalah permainan. Maka pilihan kita cuma dua, nak: mau bermain serius, atau bermain dengan gelak tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke televisi, nak, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;El Clasico &lt;/span&gt;akan segera dimulai. Kakek mau tidur dulu. Mengenang Barcelona masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Terinspirasi Uwa yang selalu bercerita tentang Ruud Gullit ketika saya kecil. Ruud Gullit yang jika melompat untuk menyundul, bagai busur panah yang merentang. Demikian beliau bermetafor.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-2925815415006437501?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/2925815415006437501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/04/dari-kakek-pada-cucunya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2925815415006437501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2925815415006437501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/04/dari-kakek-pada-cucunya.html' title='Dari Kakek pada Cucunya'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-3115372607912167365</id><published>2011-04-04T08:25:00.000-07:00</published><updated>2011-04-04T11:35:08.889-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Masih Pentingkah Sekolah?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika bicara sekolah, maka kita sepakat sedang membicarakan suatu lembaga pendidikan. Namun membicarakan sekolah juga, mesti disepakati kita tengah membicarakan unsur yang mana, berhubung sekolah bukanlah sejenis persona, melainkan suatu sistem besar dan rumit. Isinya ada administrasi, fasilitas, staf, guru-dosen, siswa-mahasiswa, sistem belajar mengajar, sistem kelulusan, dan lain sebagainya. Sekolah di Indonesia juga jelas berbeda dengan sekolah di Prancis misalnya, dalam banyak segi. Dalam tulisan ini, ketika saya menyebut kata "sekolah", maka saya bermaksud membicarakan sistem belajar mengajar dan sistem kelulusannya. Dan berhubung saya tidak banyak tahu tentang sekolah di luar Indonesia, maka taruhlah setiap kata sekolah adalah mengacu pada sekolah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai menamatkan strata satu dan strata dua dalam beberapa tahun terakhir ini, saya mulai merenungkan arti sekolah. Apa pentingnya? Adakah saya bertambah pintar, sesuai cita-cita dulu saya masuk SD pertama kali? Yang pasti gara-gara sekolah saya jadi bisa bekerja, dari situ saya mempunyai uang, dan bisa menggemukkan badan serta bersenang-senang. Tapi mestinya ada hasil yang lebih dari yang terakhir itu, pertanyaannya: Adakah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kemelut pertanyaan itu, muncul serangan-serangan dari berbagai pihak terhadap peran sekolah. Sekolah dituduh sebagai sumber indoktrinasi, pengetahuan linear, dan anti-kritik. Di sekolah kita diajari bagaimana menganggap guru sebagai sumber pengetahuan satu-satunya melampaui pengalaman indrawi kita sendiri, dan kita, murid, adalah individu kosong yang siap dijejali apapun. Sekolah dianggap bertanggungjawab terhadap individu yang kritis tapi hampa, berisi tapi tidak kritis, memahami gelar pendidikan sebagai sarana meraih uang, sekaligus banyak bicara dalam bahasa yang hanya dipahami kelompoknya. Mereka-mereka tidak mencerminkan semangat ilmu pengetahuan yang tidak pernah merasa cukup, selalu melakukan kritik diri agar berkembang, serta memecahkan persoalan keseharian. Walhasil, sekolah akhirnya dianggap melahirkan pribadi yang kontradiktif dengan disiplin ilmunya: dosen komunikasi yang tidak komunikatif, dosen logika yang tidak logis, dosen agama yang tidak spiritualis, dosen etika yang hedonis. Persoalan yang mereka pecahkan seringkali hanya sebatas cara mendapatkan nilai ujian yang sempurna serta lulus skripsi dengan nilai A, yang ironisnya, kadang tidak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf di atas adalah kesimpulan saya atas semakin maraknya buku "anti-sekolah", hingga berbagai ajakan untuk "meninggalkan sekolah", yang kemudian mereka lupa, seperti halnya paragraf awal saya, "Maksudmu, sekolah yang mana ya? Unsurnya banyak loh!" Saya sebetulnya suka-suka saja kalau ajakan-ajakan kontra-sekolah itu adalah semacam pemberontakan impulsif remaja yang tidak suka kemapanan. Itu bagus dan positif. Tapi ketika sudah memasuki ranah teoritik dan konseptual, maka perlu juga untuk dipertanggungjawabkan dan diajak memasuki arena perdebatan. Karena jangan-jangan kritikmu salah sasaran, jangan-jangan emosimu saja yang menjadi landasan pembenaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya membahas lebih lanjut, saya akan bersikap lebih netral soal ini, dengan lebih dulu juga mengritik sekolah. Belakangan saya baru paham tentang dunia keseharian (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lifeworld/ lebenswelt&lt;/span&gt;) yang dimaksud oleh Edmund Husserl. Dalam hidup sehari-hari, dunia ini sesungguhnya "begitu saja adanya". Tidak ada konsepsi, tidak ada pemaknaan, dan yang pasti, tidak ada subjek-objek! Semuanya berjalan dengan demikian saja, tidak ada yang namanya dualisme Cartesian, esensi-eksistensi Sartrean, model komunikasi Harold J. Laswell, ataupun teori belajar Pavlov. Tanpa diteorikan sana sini dengan keruwetan bahasa dan pemaparannya, saya berani bertaruh bahwa dunia akan tetap berlangsung demikian adanya, dengan sederhana dan tidak dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran saya soal ini muncul ketika saya mengajar logika pada mahasiswa. Dalam logika, ada yang dinamakan kerancuan berpikir, terdiri dari tiga belas poin kalau tidak salah. Kerancuan berpikir diartikan sebagai pengambilan kesimpulan yang salah diakibatkan oleh kesalahan penalaran (misal: membenarkan argumen bahwa dagangan tukang baso harus dibeli, karena tukang baso menggugah rasa iba kita untuk membeli basonya dengan cara menunjukkan foto anaknya yang sedang sakit. Secara logika itu rancu karena kita membeli diakibatkan rasa iba.) Yang anehnya, ketika saya merenungkan, segala kerancuan berpikir ini justru sangat lumrah ditemui dalam kehidupan sehari-hari, dan sama sekali tidak menjadi rancu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perenungan ini merembet pada hal-hal lain, dan akhirnya diketahui bahwa sialan, banyak sekali kehidupan sehari-hari yang dijalani tanpa kita harus mempertimbangkan apa pun yang diajarkan di sekolah. Kala &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chating&lt;/span&gt; dengan wanita cantik di Facebook, saya tidak perlu mengingat tesis saya meskipun sama-sama tentang Facebook. Kala membeli nasi goreng, saya tidak perlu tahu bagaimana mekanisme harga menurut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;invisible hand&lt;/span&gt; Adam Smith sehingga harga nasi goreng menjadi segitu. Apalagi ketika saya berpacaran dan menyiapkan pernikahan, teori mana di silabus paling lengkap soal sosiologi ataupun antropologi juga tidak akan memuat satu bab pun tentang ini. Setiap saya konser gitar pun, tidak ada teorinya bagaimana cara mengoreksi kesalahan di tengah permainan, atau cara berbicara yang baik kepada para penonton. Banyak yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gak nyambung&lt;/span&gt; antara sekolah dan dunia keseharian. Jika memang persoalan keseharian dapat diselesaikan tanpa ada hubungannya dengan sekolah, lantas mengapa harus sekolah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, semoga para anti-sekolah itu merasa diamini oleh saya sehingga semakin gencarlah mereka dalam kampanyenya. Betul inikah kritik konseptual kalian terhadap sekolah? Kalau soal sekolah yang semakin mahal harganya, itu sih rahasia umum, tidak perlu pintar-pintar amat untuk melihat dengan jernih bagaimana pengetahuan dan uang menjadi mendadak punya korelasi di mata sekolah. Padahal mestinya, pengetahuan dan uang adalah suatu entitas terpisah dimana kita bisa mendapatkannya secara independen tanpa satu terkait yang lain. Selain itu juga, banyak akademisi yang akhirnya menyempitkan cara pandang mereka terhadap dunia justru gara-gara sekolah. Dunia jadi dilihat dari sudut pandang ekonomi saja bagi lulusan ekonomi, atau politik saja bagi lulusan politik, dan sebagainya: agama, komunikasi, ataupun biologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mari kita lihat bagaimana sekolah dari sisi yang lebih bermartabat. Sesungguhnya ia tidak buruk-buruk amat. Ada nilai-nilai yang lebih luhur yang diajarkan melampaui ilmu pengetahuan itu sendiri:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pertama, sekolah sebagai ruang sosial. Ini sebuah pembelaan atas sekolah yang paling umum. Lewat sekolah, kita bertemu orang-orang lain dan berinteraksi, tahu rasanya berkompetisi, bertata krama, berintrik ria, yang kemudian membantu mengenali perasaan-perasaan dasar seperti cinta, benci, kecewa, dan lain sebagainya. Para anti-sekolah akan menuduh pembelaan ini dengan, "Gak di sekolah pun bisa kok bikin ruang sosial." Terang saja bisa, dan naif sekali saya menganggap sekolah sebagai satu-satunya ruang sosial. Tapi sebagai pembelaan tahap awal, bolehlah ya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kedua, sekolah sebagai tempat pendisiplinan tubuh. Saya akan menjadi Foucaltian dalam poin ini. Sesungguhnya, menurut Foucault, kehadiran manusia ditandai dengan kebertubuhannya. Tubuh, dalam perjalanan hidupnya, didisiplinkan oleh berbagai lembaga, agar ia menjadi "tubuh patuh". Mulai dari agama, sekolah, rumah sakit, penjara, hingga keluarga, semuanya tak lebih dari wacana kekuasaan yang berebut untuk mematuhkan tubuh manusia. Dalam kacamata lain, semua lembaga yang disebut Foucault itu sesungguhnya menyetujui bahwa tubuh ini pada dasarnya adalah sumber hasrat yang mesti dikendalikan dan didisiplinkan. Jika tidak lewat berbagai lembaga tersebut, maka tubuh akan lepas kendali, dan sang pemilik tubuh akan berada di luar "normalitas" yang disepakati penguasa. Anti-sekolah akan mengatakan, "Gak di sekolah juga bisa mendisiplinkan tubuh." &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Monggo-monggo saja&lt;/span&gt;. Tapi perlu diingat pasti kau akan pergi ke lembaga kenormalan lain yang pada prinsipnya sama saja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketiga, sekolah sebagai tempat untuk merangsang penemuan nilai-nilai adiluhung secara mandiri. Mandiri, karena nilai-nilai adiluhung itu seringkali yang tidak diajarkan langsung oleh sekolah. Misalnya, selesai tesis, saya merenungkan bahwa tesis saya tidak berguna untuk memecahkan masalah dunia. Tapi nilai adiluhung yang saya ambil adalah: Sekolah mengajarkan saya bahwa dalam hidup, kita mesti menyelesaikan apa yang kita mulai. Lalu Socrates ada benarnya, bahwa: hal yang saya tahu pasti adalah saya tidak tahu apa-apa. Atau dalam bahasa lain, sekolah memberi kita banyak pengetahuan, yang pada akhirnya ada nilai adiluhung yang saya serap, bahwa ternyata tidak mungkin kita tahu semuanya. Dan tingkat adiluhung pemahamannya adalah: Sekolah membuat kita bodoh, karena ternyata pengetahuan tertingginya adalah kita tidak tahu apa-apa!&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keempat, ini yang lebih praktis. Sekolah menanamkan tradisi penulisan secara intensif. Bisakah kau belajar menulis di luar sekolah? Bisa, tapi di sekolah kau mesti menulis dan menulis secara brutal dari kecil hingga kuliah. Inilah yang kemudian menjadi sumber pelita sekolah. Tidakkah Muhammad, Konfusius, dan Sokrates sebetulnya tidak menuliskan apa-apa, dan akhirnya pemikiran mereka "selamat" karena ada murid-muridnya yang dengan rela menuliskan? Tidakkah kitab suci diturunkan lewat tulisan? Atau kalaupun kitab suci awalnya merupakan ujaran, toh akhirnya juga dituliskan. Kehidupan bergulir karena tulisan, dan tulisan mesti dipelajari dulu awalnya, berdasarkan kesepakatan orang-orang terdahulu. Dan mudah sekali kita menemukan itu di sekolah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelima, sekolah sebagai tempat latihan berpikir holistik. Dalam sekolah, kita belajar untuk melihat sebagian dalam keseluruhan, dan keseluruhan dalam sebagian. Kita tidak hanya belajar menukar uang dengan barang dalam konteks ekonomi mikro, melainkan juga pengaruhnya terhadap ekonomi makro. Kita tidak hanya belajar membedah kodok, melainkan juga pengaruhnya terhadap ekosistem alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keenam, sekolah sebagai tempat latihan berpikir kritis. Yang keenam ini saya sesungguhnya masih ragu, karena benarkah kita diajari kritis dari SD sampai kuliah? Namun yang pasti, kita melatih hal tersebut sesungguhnya ketika penulisan tesis ataupun skripsi. Kita diajak untuk berpikir bahwa ada suatu konsep di balik dunia yang tampak. Apapun itu konsepnya, kita mesti cari hakekatnya, lewat pertanyaan-pertanyaan yang berujung pada penelitian. Pada akhirnya, nilai adiluhungnya, karena kita rajin mengkritisi, semestinya kita tidak jadi manusia yang naif bagai kerbau dicocok hidungnya. Kritisisme berguna melahirkan fondasi berpikir mandiri yang tidak berdasarkan arus atau ikut-ikutan. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Tapi kemudian jika keenam poin pembelaan saya di atas akhirnya dilawan dengan contoh bahwa ternyata banyak akademisi yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blo'on&lt;/span&gt;, berpikir sederhana, gak suka nulis, tidak kritis, dan tidak gaul, maka ijinkan saya mengangkat tangan, karena contoh-contoh seperti itu bagi saya adalah bentuk generalisasi yang menuntut pembenaran. Debat dengan contoh macam begitu tak akan habis, karena saya bisa saja menyebutkan, "Lihat Sartre, Einstein, Nietzsche, Newton, dsb. Mereka semua sekolah dan sukses, berarti saya benar dong!" Maka dimulailah debat kusir yang menyebalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, tulisan ini sesungguhnya dibuat untuk menjawab berbagai buku anti-sekolah yang sedang marak. Jika ditanya sejujurnya pada saya, "Apakah sekolah itu penting?" Saya akan jawab secara spontan, "Tidak penting". Tapi apakah saya akan menyekolahkan anak saya kelak? Jawabannya: ya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karena, wahai anakku, untuk merumuskan bahwa sekolah itu tidak penting, maka harus bersekolah dulu. Karena ayah pun bisa bilang sekolah tidak penting setelah bersekolah. Jadi sekolah itu penting. Ini ayah kutip dari film Alangkah Lucunya Negeri ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-3115372607912167365?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/3115372607912167365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/04/masih-pentingkah-sekolah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/3115372607912167365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/3115372607912167365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/04/masih-pentingkah-sekolah.html' title='Masih Pentingkah Sekolah?'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-8214229780103939665</id><published>2011-03-28T18:54:00.000-07:00</published><updated>2011-03-28T21:10:30.574-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Absurditas Musik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"The art of combining sounds or tones for reproduction by the voice or by various kinds of musical instruments in rhythmical, melodic, and harmonic form so as to affect the emotions."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;(The Universal English Dictionary)&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Demikianlah musik didefinisikan oleh salah satu sumber. Definisi macam ini, dalam ilmu logika dinamakan definisi gambaran, yakni menyebutkan seluruh konsep yang berada di dalamnya. Jika kau merasa tak rela musik didefinisikan dengan cara ini, maka simak definisi ala Friedrich Nietzsche (1844-1900):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Without music life would be a mistake."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Meski tak tepat benar, tapi bolehlah mengategorikan ini adalah bentuk definisi tujuan, yakni mendefinisikan sesuatu berdasarkan tujuan serta maksud dari sebuah konsep. Seolah-olah, "Tujuan dari musik adalah membuat hidupmu menjadi benar." Leonard Bernstein (1944-1990) mencoba mendefiniskan dengan cara lain, yakni membuat klasifikasi, bahwa musik itu adalah empat adanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Narative-literary&lt;/em&gt;, yakni musik menjelaskan suatu cerita, paparan, atau narasi. Contoh:&lt;em&gt; Til Eulenspiegel &lt;/em&gt;karya Richard Strauss, diambil dari cerita rakyat di Jerman.&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Atmospheric-pictorial&lt;/em&gt;, yakni musik menjelaskan suatu objek, atau suasana eksternal. Misal: &lt;em&gt;Prelude to the Afternoon of a Faun&lt;/em&gt; karya Claude Debussy.&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Affective-reactive&lt;/em&gt;, yakni musik-musik emosional-internal seperti kemenangan, dukacita, kecemasan. Ini marak di jaman romantik, seperti halnya  &lt;em&gt;Elegie&lt;/em&gt; karya Johann Kaspar Mertz.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Purely musical meanings&lt;/em&gt;, yakni musik untuk musik. Contoh: &lt;em&gt;Symphony no. 5&lt;/em&gt; karya L.V. Beethoven ataupun banyak karya-karya di era Barok maupun Klasik.&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari keluar dari tata aturan logika dalam mendefinisikan musik, dengan menyimak ucapan Diecky K. Indrapraja ( lahir 1979) mengenai musik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Musik itu absurd, tapi jangan-jangan yang absurd itu yang sejati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya upaya menjelaskan musik dengan kata-kata menimbulkan paradoks: Ia menjadi  sederhana sekaligus rumit, menjadi seolah-olah memuaskan padahal mengecewakan. Dalam suatu sesi Klab Nulis di Tobucil, saya memaparkan bahwa pertanyaan musik tidak lagi menyoal, "Apa itu musik?" tapi mari kita coba dengan, "Musik itu melemparkan kita kemana?" Lantas saya menyetel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Symphony no. 5&lt;/span&gt; dari Beethoven sambil para peserta dipersilakan menulis. Dari tulisannya, terasa bahwa mereka terlempar kemanapun, mulai dari dunia kerajaan, tengah-tengah suasana tarian, hingga kegelapan kamar kostan. Berikutnya saya setel lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Great Gig in The Sky&lt;/span&gt; dari Pink Floyd. Musik psikadelik 70-an ini sukses menciptakan tulisan penuh kegalauan, lamunan panjang, dan warna-warni entah darimana. Musik tak sanggup didefinisikan, ia langsung mengajak jiwa mengembara, lepas dari tubuh-tubuh yang memproduksi bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya jangan-jangan (saya sedang merumuskan sesuatu yang pastinya membuat kerdil arti musik), musik itu keseluruhannya absolut. Ia sejujurnya tiada tercipta jika bukan demi musik itu sendiri. Musik seolah-olah ada, dan merepresentasikan sesuatu, kala ia diberi judul lantas diberi lirik. Jika tiada kata-kata, sesungguhnya musik itu -benar kata Diecky- tak lebih dari "zat maha absurd" semata. Diecky juga mencurigai eksklusifitas musik, karena jangan-jangan ini adalah wilayah yang amat subtil dan tak terjangkau nalar jenis manapun. Ia masuk langsung ke batin via telinga, bergumul mencari kesejatiannya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka itu perumusan ini menjadikan saya kembali ke eksistensialisme Sartre. Bahwa -sebetulnya bukan cuma musik, tapi- segalanya di dunia ini, sesungguhnya kala kita hadir ia nirmakna. Manusia turun ke dunia untuk memaknai benda-benda dan alam semesta yang tadinya kosong menghampa. Kita mengagungkan bahasa setelah ia punya makna penanda-petanda Saussurean, tapi sebetulnya kata-kata juga tadinya cuma dengung bunyi tak ada artinya. Tulisan hieroglif juga tadinya cuma corat-coret gambar saja kelihatannya, sebelum diberi esensi oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka itu, jika memang musik itu absurd dan "hidup di ruang hampa" (saya terinspirasi PSSI), maka klaim atas musik mudah dilakukan siapa saja. Dan yang berbahaya, tentunya, ketika ia digandeng oleh sekelompok orang yang berkuasa. Seperti halnya filsafat yang sudah habis-habisan diklaim oleh Barat sehingga orang Timur kemudian dicap sebagai agamis saja alih-alih filsuf. Padahal esensinya sama: cinta kebijaksanaan seperti pengertian etimologisnya. Musik pun demikian adanya, ia sesungguhnya berdegup dalam jantung setiap persona. Ia ada dalam burung perkutut seorang kakek ataupun orkestra kodok di sawah. Ia bukan milik kekuasaan yang seolah-olah hanya dengan harga pantas maka kau akan dapati musik itu apa sesungguhnya. Ini sama angkuhnya ketika agama mengklaim diri sebagai satu-satunya jalur menuju Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu teringat kala bapakku bilang, "Jika kampus musik atau sekolah musik dilenyapkan seluruhnya dari dunia. Musik tidak akan hilang dari kesadaran manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-8214229780103939665?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/8214229780103939665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/03/absurditas-musik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8214229780103939665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8214229780103939665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/03/absurditas-musik.html' title='Absurditas Musik'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-4179842201694105693</id><published>2011-03-23T08:58:00.000-07:00</published><updated>2011-03-23T10:46:51.675-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Fondasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku berkemah disini, berdemonstrasi, agar anak cucu saya menikmati kedamaian. Jauh dari tiran&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat di atas adalah terjemahan bebas saya dari wawancara stasiun televisi Al-Jazeera dengan seorang demonstran ketika revolusi Tunisia. Revolusi yang berlangsung selama 28 hari di akhir tahun 2010 tersebut sukses mencapai tujuannya yaitu menurunkan presiden Ben Ali dari jabatannya.  Saya tertegun dengan ucapan demonstran tersebut, membawa saya pada pertanyaan penting: Masih berhargakah hidup kita sekarang, jika kita tak tahu bahwa akan ada penerus di masa datang? Masih relevankah semboyan terkenal di era barok, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;memento mori&lt;/span&gt;, rebut hari ini, padahal bagi si demonstran yang terpenting adalah memenangkan sesuatu di masa depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, ada masa dimana konsep-konsep besar rajin dibicarakan, atau Lyotard menyebutnya: metanarasi. Yakni ia yang disebut sebagai Keadilan, Kedamaian, Kesetaraan, Kebahagiaan, Kesejahteraan hingga yang paling abadi: Kebenaran (semuanya dengan K besar). Dunia hari ini menistakan konsep-konsep besar itu sebagai: konstruksi. Keadilan tidak ada yang universal, yang ada partikular, menurut kaum tertentu, menurut kekuasaan, menurut para pemenang. Demikian halnya dengan K besar yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala K besar itu, barangkali sesungguhnya hanya ada dalam angan-angan. Tuhan memilikinya di alam sana, dan memang bukan buat dibagi-bagikan. Tapi silakan bagi kalian yang punya keinginan kuat, untuk berlomba-lomba membuat menara agar sanggup menggapainya. Menara yang sanggup dekat, kata Tuhan, bukanlah ia yang bermewah-mewahan dengan jendela-jendela pemantul sinar sang surya. Melainkan menara yang dibangun atas fondasi darah, airmata,  senjata, dan hati baja. Manusia asketis, mencapai nirwana dengan menyakiti tubuhnya. Atau si demonstran tadi, mencapai Keadilan dengan cara bersusah payah berkemah, bahkan terancam mati jika sudah berhadapan dengan tentara. Masih ingat Thích Quảng Đức? Seorang bhiksu Buddha yang membakar dirinya demi Keadilan di Vietnam Selatan, yang kala itu tergerus oleh kekuasaan &lt;span class="mw-redirect"&gt;Ngô Đình Diệm. Itu baru Keadilan, tak terhitung banyaknya korban yang mati bahagia akibat membela Kebenaran&lt;/span&gt;. Kita tak akan sanggup merengkuh semua K tersebut, yang mungkin adalah membangun fondasi kokoh dan mendirikan menara yang agak-agak mendekatinya. Menara kerinduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pertanyaan penting: kau mau kebahagiaan sekarang, atau menundanya hingga menjadi kebahagiaan yang lebih besar nantinya? Socrates, sang pemuja kebahagiaan sebagai etiket tertinggi manusia akan menjawab yang kedua. Tapi dengan gaya dialektika mari kita tambahkan pertanyaan: Kau mau menundanya, sampai kapan? Si demonstran akan menjawab, hingga tiba anak cucuku nanti. Gibran menambahkan: Ketika kau yang di barisan depan terantuk batu, maka kau sesungguhnya memberitahu pada yang di belakang tentang bahaya di hadapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku merindukanmu, anak cucuku. Teruskanlah pembangunan menara ini hingga mencapai yang hakiki. Aku sudah membeton fondasinya, agar suatu hari menara ini cukup kuat untuk menopang teriakan Eureka-mu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/7/78/Burningmonk.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 512px; height: 333px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/7/78/Burningmonk.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Thích Quảng Đức, difoto oleh Malcolm Browne. Diambil dari wikipedia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-4179842201694105693?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/4179842201694105693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/03/fondasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/4179842201694105693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/4179842201694105693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/03/fondasi.html' title='Fondasi'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-3020779737446716367</id><published>2011-03-12T19:22:00.000-08:00</published><updated>2011-03-12T20:18:01.765-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Kekuatan Kepercayaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjelang sidang magister tanggal 12 Maret kemarin, ada ritual yang biasa saya jalankan setiap akan menghadapi suatu hari yang krusial. Ritual ini, bukan berasal dari saya pribadi sebetulnya, tapi dari ibu saya, yaitu: minum air Yaasin. Jadi ibu, setiap habis solat subuh, akan menyimpan air di hadapan sajadahnya dan membacakan surat Yaasin. Selepas "upacara" tersebut, ibu meminta saya meminumnya dalam sekali teguk sambil mengucap basmalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan menuju kampus saya merenungi ritual tersebut, adakah korelasi antara "upacara irasional" itu dengan sidang saya yang jelas-jelas rasional? Ibu melakukan itu sejak saya ujian SD. Artinya, jelas ibu mendahului penelitian Masaru Emoto tahun 1999 soal struktur air yang berubah menjadi teratur kala dibacakan doa-doa.  Kenyataan bahwa saya sukses melewati hari-hari penting dalam hidup semenjak kecil hingga sekarang, tidakkah terlalu arogan jika saya menyebut itu adalah atas berkat intelegensi semata-mata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lantas teringat ritus salah seorang pemain sepakbola Chelsea, Didier Drogba. Perhatikan kala ia masuk lapangan, ia kerap melompat dengan kaki kanan dua kali. Drogba tidak selalu mencetak gol, ia juga sering mengalami hari buruk. Tapi toh ritus itu selalu ia jalankan. Sama halnya ketika John Terry memutar lagu yang sama menjelang hari pertandingan, atau kiper Fabien Barthez yang selalu mendapat ciuman Laurent Blanc di kepalanya pada Piala Dunia 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritus tidak mesti ada korelasi langsung dengan kejadian yang diharapkan. Ritus adalah semacam upaya manusia untuk mencapai keselarasan dengan kosmos. Ritus tak mampu dijawab oleh materialisme Marxian ataupun positivisme logis Lingkaran Wina. Seperti halnya di hari-hari pentingmu, ketika adrenalin mendera dan segala persiapan sudah maksimal, maka tibalah saatnya kau mengimajinasikan sesuatu di luar dunia untuk melengkapi dunia materialmu. Misalnya, baju keberuntungan, jam tangan keberuntungan, sepatu keberuntungan, menelpon kekasih atau orangtua sebelum bepergian, hingga masuk dengan kaki kanan atau kaki kiri dulu.  Dunia ini sungguh dibangun oleh kepercayaan-kepercayaan non-material, seperti tesis Mircea Eliade bahwa gedung pencakar langit sekalipun yang "jelas-jelas beton", ia punya struktur bayangan tentang Tuhan itu berada di angkasa, sehingga adalah ide baik jika bangunan-bangunan dibuat menjulang mendekati Tuhan (seperti menara Babel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, tidak ada korelasi yang betul-betul mengandung kepastian, seperti halnya Hume yang kerap skeptik terhadap hubungan sebab-akibat. Namun satu hal yang saya yakini, bahwa keyakinan dalam benak saya tentang tuah air Yaasin itulah yang jauh lebih esensial daripada si air Yaasin itu sendiri. Lebih luas lagi, bagi umat Muslim, yang terpenting jangan-jangan bukan figur Rasulullah ketika ia hadir betul-betul di hadapan kita. Tapi lebih penting lagi adalah figur beliau yang kita ciptakan dalam benak kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-3020779737446716367?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/3020779737446716367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/03/kekuatan-kepercayaan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/3020779737446716367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/3020779737446716367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/03/kekuatan-kepercayaan.html' title='Kekuatan Kepercayaan'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-5601954773198959231</id><published>2011-02-15T08:03:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T08:42:58.542-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Pertanyaan-Pertanyaan untuk Rasulullah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya Muhammad, Rasulullah, ijinkan aku mengajukan sejumlah pertanyaan. Tentang siapa orang-orang yang berada di shaf-mu, dan mana yang bukan. Yaitu mereka, yang bersyahadat, yang bersaksi bahwa engkau adalah utusan-Nya. Masihkah mereka termasuk golonganmu, jika pekerjaan mereka mabuk dan merusak? Masihkah kau berikan syafa'at, jika mengkafirkan sesama berlandaskan dinginnya syari'at? Masihkah kau ridha ia menjadi bagianmu jika tak pernah meneladani gerak tuturmu? Akankah kau dudukkan ia di sampingmu, jika ia mengaku cinta kau semata, tapi menyatakannya sambil membunuhi sesama? Akankah kau doakan dia untuk selamat di akhirat, jika ia rajin shalat tapi membiarkan tetangganya melarat? Akankah kau menyayanginya sepenuh hati, jika ia bertubi-tubi mencari musuh untuk diperangi? Akankah kau membiarkan ia memandang wajahmu, jika bajunya putih sorbannya putih, tapi hati nurani tertimbun nafsu birahi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, terang saja tak akan kau jawab pertanyaan ini. Karena aku disini sedang kau disana. Aku masih terjebak dalam dunia, kau sudah tenang di maqam yang mulia. Hanya satu yang aku pinta, Ya Mustafa, terimalah cintaku apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-5601954773198959231?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/5601954773198959231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/02/pertanyaan-pertanyaan-untuk-rasulullah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/5601954773198959231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/5601954773198959231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/02/pertanyaan-pertanyaan-untuk-rasulullah.html' title='Pertanyaan-Pertanyaan untuk Rasulullah'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-620916168213497872</id><published>2011-02-07T08:35:00.001-08:00</published><updated>2011-02-07T10:29:56.881-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Anak Kandung Kebebasan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;What you get and what you see &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Things that don't come easily &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Feeling happy in my vein &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Icicles are in my brain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Black Sabbath - &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Snowblind&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lirik itu, dan beberapa lirik sejenis, sekarang-sekarang tengah mewarnai kuping saya selama menyetir. Dulu saya cuma bisa dengar lagu macam itu di pemutar kaset atau paling banter laptop. Sekarang dengan fasilitas tape mobil yang bisa dicoloki USB, makin seringlah saya mendengar band-band favorit saya dari tahun 1970-an yang kebanyakan bergenre &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rock&lt;/span&gt;. Mereka bagi saya terdengar satu suara tentang satu hal: kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik Black Sabbath di atas tengah membicarakan kokain, barang haram paling halal di masa itu. Di era psikedelik dimana obat-obatan adalah sumber inspirasi paling jernih dalam berkarya, lirik-lirik pemujaan terhadap kokain, LSD, ataupun mariyuana adalah lumrah tercetus dari band-band masa itu. Ah, jangankan liriknya, sebetulnya ada yang menarik dari mendengarkan musik-musik mereka. Betul-betul, beberapa diantaranya sanggup mengajak saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tripping&lt;/span&gt;: Pergi ke suatu masa, entah kemana, yang pasti saya tak berjalan tapi melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini perasaan subjektif memang, tapi saya merasakan betul kala mendengarkan misalnya lagu The Doors yang judulnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Crystal Ship.&lt;/span&gt; Suara parau Jim Morrison dari awal masuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;verse&lt;/span&gt; lagu pun sudah kuat sekali melemparkan saya pada sebuah tempat teduh, tenang, dan tidak nyata.  Seperti tengah bermain-main dengan gelembung busa sabun yang ditiupkan dari, kadang setan, kadang Tuhan. Ini efek yang sama kala saya mendengarkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Strawberry Fields Forever&lt;/span&gt;-nya The Beatles, bagian awal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stairway to Heaven&lt;/span&gt; dari Led Zeppelin, atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Great Gig in The Sky&lt;/span&gt;-nya Pink Floyd. Bahkan di lagu Pink Floyd yang saya coba putar di youtube, ada komentar menarik dari salah seorang penggemar: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"When you die, this is what your soul hears as﻿ it leaves the body."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_XEL48GRUhso/TNlGO_6290I/AAAAAAAAACM/YoyCCB6AaX0/s1600/jimi-hendrix.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 596px; height: 447px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XEL48GRUhso/TNlGO_6290I/AAAAAAAAACM/YoyCCB6AaX0/s1600/jimi-hendrix.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupakan juga ketika band-band tersebut menghadirkan tempo tinggi. Sensasinya bagaikan saya hinggap di sebuah karavan. Mengemudi kencang dengan kacamata hitam dan rokok terselip di bibir. Saya gondrong, berbaju dengan corak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tie dye&lt;/span&gt;, dan setiap hari bergumam tentang kebebasan sambil memandangi angkasa dan merentangkan tangan. Oh sungguh bumi yang saya pijak detik ini adalah eksistensi yang menyedihkan. Saya kemudian berlutut dan merintih, memohon kepada Jimi Hendrix untuk mengajakku ikut bersamanya, hidup dalam melodi-harmoni yang memabukkan. Pasca konser kami sama-sama menghantamkan bodi gitar pada ampli dan membakarnya hingga tinggal serpihan. Karena hidup persis demikian: Kau bangun, kau romantiskan dan manis-manisi, untuk kemudian ditinggal mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya puja kalian, anak-anak kandung dari kebebasan. Era ketika ekspresi batin terdalam yang kau gelorakan ternyata bisa bikin kau banyak uang, mabuk-mabukan, main wanita, dan terkenal hingga mati bunuh diri.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya tak khawatir kalian masuk neraka  akibat mati oleh obat-obatan. Karena sungguh kehidupan kalian adalah surga, surga kebebasan dan kemurnian pencarian jatidiri. Akan kuceritakan era hari ini, dimana kebebasan termakan oleh uang dan kekuasaan. Ketika lirik-lirik tak lagi mewakili eksistensi yang terdalam, melainkan cuma berharga ketika enak dikunyah di pasaran. Seperti kacang goreng, cepat dimakan untuk mengganjal tapi tidak mengenyangkan.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Gambar Jimi Hendrix diambil dari &lt;a href="http://www.google.co.id/imglanding?imgurl=http://1.bp.blogspot.com/_XEL48GRUhso/TNlGO_6290I/AAAAAAAAACM/YoyCCB6AaX0/s1600/jimi-hendrix.jpg&amp;amp;imgrefurl=http://neverdoubttoalwayscreation.blogspot.com/2010_11_01_archive.html&amp;amp;h=600&amp;amp;w=800&amp;amp;sz=79&amp;amp;tbnid=9NHhnRM4umK9FM:&amp;amp;tbnh=107&amp;amp;tbnw=143&amp;amp;prev=/images%3Fq%3Djimi%2Bhendrix&amp;amp;zoom=1&amp;amp;q=jimi+hendrix&amp;amp;usg=__f0qg92xsC-FM5zIiqE-UdDc45_U%3D&amp;amp;sa=X&amp;amp;ei=jDlQTYXMKMiPcda98PoF&amp;amp;ved=0CEYQ9QEwAw"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-620916168213497872?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/620916168213497872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/02/anak-kandung-kebebasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/620916168213497872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/620916168213497872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/02/anak-kandung-kebebasan.html' title='Anak Kandung Kebebasan'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_XEL48GRUhso/TNlGO_6290I/AAAAAAAAACM/YoyCCB6AaX0/s72-c/jimi-hendrix.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-957475368256062657</id><published>2011-02-03T09:20:00.000-08:00</published><updated>2011-02-03T09:41:41.469-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Alun-Alun Tahrir</title><content type='html'>Bangunkan aku di Alun-Alun Tahrir&lt;br /&gt;Kala ufuk siap menyingsingkan kebenaran&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku dan kau tadinya khaos&lt;br /&gt;Tapi pemberontakan menyatukan kita dalam kosmos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari jatuhkan tirani&lt;br /&gt;Cuma Tuhan yang boleh berlama-lama di 'arasy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, doa pemberontak dan Mubarak persis sama:&lt;br /&gt;"Ya Allah, hanya Engkaulah yang sanggup mengkudeta pemimpin Mesir!"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-957475368256062657?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/957475368256062657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/02/alun-alun-tahrir.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/957475368256062657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/957475368256062657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/02/alun-alun-tahrir.html' title='Alun-Alun Tahrir'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-9063337208887147573</id><published>2011-02-02T07:40:00.000-08:00</published><updated>2011-02-02T08:49:00.826-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Peta Besar Filsafat: Antara Thales dan Konfusius</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Alam semesta ini terbuat dari air."&lt;/span&gt; -Thales (624 SM - 546 SM)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Jangan lakukan apa yang tidak ingin orang lain lakukan kepadamu."&lt;/span&gt; - Konfusius (551 SM - 479 SM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski keduanya hidup sejaman, tidak ada cerita bahwa Thales dan Konfusius pernah berjumpa dan berkenalan. Keduanya sibuk mengurusi negerinya sendiri, tak ada cerita bahwa keduanya sempat pelesiran menyeberangi pulau apalagi benua. Thales berasal dari Yunani, meskipun beberapa pendapat tak sepakat ia persis lahir di Yunani. Karena tempatnya berpijak dinamakan Miletos, atau wilayah yang menjadi bagian dari Asia Kecil, atau malah disebut-sebut sebagai cikal bakal Turki. Dalam sudut pandang geografis hari ini, berarti jelas Thales lebih dekat ke "Timur".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun geografis barangkali tak penting-penting amat bagi dunia filsafat Barat dari dulu hingga sekarang. Yang terpenting adalah klaimnya: bahwa Thales adalah bagian dari peradaban Yunani. Yakni peradaban yang dikatakan sebagai "cikal bakal lahirnya filsafat". Kelahiran itu, katanya cuma mungkin terjadi di Yunani, oleh sebab beberapa hal, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Yunani menganut sistem polis atau negara kota, dimana masing-masing polis telah melahirkan demokrasi sendiri-sendiri. Dari situ tradisi berpikir bebas dimulai, karena setiap orang bebas bicara.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banyak pekerjaan kasar di Yunani dijalankan rutin oleh para budak. Sehingga banyak warga (terutama kalangan menengah ke atas) yang "kurang kerjaan". Ini menyebabkan mereka punya cukup waktu luang untuk merenungkan hakekat kehidupan serta kebijaksanaan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di Yunani lahir mitos-mitos yang ditulis oleh Hesiod dan Homer sejak 800 SM. Mitos tersebut menunjukkan tradisi penulisan yang kuat, karena sumbernya masih berupa kitab-kitab utuh dan jelas. Dengan tradisi dokumentasi yang mantap, Yunani percaya bahwa setiap karya buah pikir akan senantiasa lestari.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Poin terakhir soal mitos itulah yang didobrak oleh Thales. Ketika masyarakat Yunani hidup dalam alam mitos, maka ia mencoba jalan lain untuk menjelaskan alam semesta, yakni lewat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;logos&lt;/span&gt; atau akal budi. Mitos bisa menjelaskan bahwa alam semesta ini dimulai dari perkawinan Uranus dan Gaia, tapi Thales tidak cukup puas. Ia melihat bahwa manusia, hewan, dan tumbuhan tidak bisa hidup tanpa air, lalu di ujung daratan seringkali berbatasan dengan air,  maka ia menyuarakan temuan beraninya tanpa khawatir kemurkaan Dewa Zeus: bahwa alam semesta ini, jangan-jangan, terbuat dari air!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/45/Thales.jpg/200px-Thales.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 257px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/45/Thales.jpg/200px-Thales.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Thales, gambar diambil dari&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Thales.jpg"&gt; sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Thales, atas pernyataannya yang nampak sederhana itu, diklaim oleh dunia filsafat Barat sebagai filsuf pertama. Ketika ditanya darimana filsafat dimulai? Sepakat Barat menjawab: ketika Thales mengatakan bahwa alam semesta ini dari air. Lalu bagaimana dengan Konfusius, seseorang yang sejaman, meskipun berjauhan? Mari kita bahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfusius lahir di Negara Lu, atau masuk ke wilayah Cina sekarang. Ia lahir di tengah pergolakan politik dan degradasi moral yang dahsyat. Cina berada dalam krisis, dan di periode yang sama bermunculan banyak aliran filsafat. Konfusius adalah salah seorang pembawanya, dimana Lao Tse, di sisi lain, adalah persis sosok yang berseberangan dengannya. Lao Tse, mengajarkan keseimbangan kosmos sebagai antitesis kondisi kehidupan yang serba khaos. Dialah cikal bakal Taoisme yang berbasis Yin-Yang itu. Sedangkan Konfusius tak mau manusia hanya menantikan keseimbangan dan cenderung pasif, ia ingin manusia aktif berbuat, bertindak, dan bereksistensi dalam aktivitas-aktivitas etik keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfusius seperti ogah membahas filsafat sebagai ontologi (hakekat) seperti layaknya Thales. Ia langsung membicarakan aksiologi, yakni bagaimana filsafat ini bisa berguna bagi keseharian. Konfusius langsung pada logika praktis tentang bagaimana seharusnya anak bersikap, bapak bersikap, raja bersikap, menteri bersikap, hingga pemusik bersikap. Barangkali jika Konfusius bertemu Thales, ia akan mengganggap apa yang dilakukan Thales adalah buang waktu dan sia-sia, seperti halnya Sang Guru mengritik lawannya, Lao Tse dengan segala argumen kosmisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, filsafat Barat tetap berpijak kuat pada klaim bahwa Thales adalah anak sahnya, dan peradaban Yunani sebagai tempat yang membesarkannya. Konfusius mungkin disebut-sebut, tapi tidak cukup sering untuk disebut sebagai filsafat. Kadang ia dituduh sebagai agama yang mengada-ngada, atau bentuk kebudayaan, atau paling bentar gerakan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/54/Confucius_Tang_Dynasty.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 235px; height: 431px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/54/Confucius_Tang_Dynasty.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;Konfusius, gambar diambil dari &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Confucius_Tang_Dynasty.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kritis untuk didiskusikan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jika Konfusius yang berpijak pada etika ternyata tak cukup kuat untuk disebut filsafat, bagaimana dengan Socrates, yang oleh Barat dianggap sebagai manusia etik sejati, yang justru lahir jauh ratusan tahun pasca Konfusius?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah yang menyebabkan dunia filsafat Barat lebih mengakui peradaban Yunani  sebagai awal berkembangnya tradisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;logos &lt;/span&gt;ketimbang peradaban Cina dengan Konfusius-nya?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana dengan tradisi berpikir Mesir, Arab, atau India yang secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;timeline&lt;/span&gt; sejarah punya peradaban yang lebih tua ketimbang Yunani?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana cara agar kita tetap jernih melihat beberapa peradaban "non-Yunani" sebagai bagian dari sejarah kelahiran filsafat?&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span&gt;Handout ini adalah salah satu materi pertem&lt;span&gt;uan "Kuliah Singkat Filsafat untuk Pemula"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; di Tobucil, 8 Februari 2011, jam 17.00-19.00.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-9063337208887147573?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/9063337208887147573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/02/peta-besar-filsafat-antara-thales-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/9063337208887147573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/9063337208887147573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/02/peta-besar-filsafat-antara-thales-dan.html' title='Peta Besar Filsafat: Antara Thales dan Konfusius'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-6065486383217363194</id><published>2011-01-26T20:25:00.000-08:00</published><updated>2011-01-26T21:14:51.100-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Batu Nisan Kaum Kiri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekitar bulan lalu, kira-kira tanggal 28 Desember (saya ingat, karena sehari sebelum final Piala AFF), saya jalan-jalan bersama pacar dan teman-temannya di Mal FX, kawasan Sudirman, Jakarta. Sore itu kami bermaksud nonton film Gulliver's Travel. Kala berjalan menyusuri mal-menuju bioskop, saya menemukan ada tempat makan yang menarik. Namanya Foodism. Menarik karena banyak foto wajah orang terpampang di dalamnya. Yang dipajang bukan foto orang sembarangan, mereka adalah orang-orang yang akrab disebut dalam sejarah. Apa maksud restoran tersebut memasang wajah mereka, saya tidak paham. Kalau saya tanya-tanya pelayannya pun mungkin mereka geleng-geleng saja. Saya juga saat itu sudah kenyang, sehingga tidak tertarik makan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.hersmagz.com/images/stories/2008/hers15/foodism.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 275px; height: 210px;" src="http://www.hersmagz.com/images/stories/2008/hers15/foodism.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;gambar diambil dari &lt;a href="http://www.hersmagz.com/images/stories/2008/hers15/foodism.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpahaman saya akan "Mengapa mereka semua ada disana?" menggelitik saya untuk menerka-nerka saja. Dari beberapa foto di sana, tiga diantaranya adalah tokoh besar dari kalangan kiri, yakni Lenin, Marx, dan Mao. Tak perlu bahas semuanya, cukup kita bahas singkat Karl Marx saja. Karena Lenin dan Mao pun sesungguhnya mengklaim diri sebagai Marxis sejati. Marx, kita tahu, dia adalah pendekar yang menentang segala bentuk ekploitasi dari para kapitalis. Ia barangkali merupakan orang pertama yang "sangat curiga" dengan bentuk ucapan dan janji manis kapitalisme yang saat itu tengah merajalela seiring revolusi industri. Marx akhirnya menyuarakan keberatannya ini dalam semacam ajakan bagi kaum buruh untuk bersatu, menggulingkan para pemilik modal dan tuan tanah, membiarkan diri untuk dipimpin oleh seorang diktator proletariat, hingga berujung pada bubarnya negara-negara karena seluruh manusia sejahtera secara merata. Utopis? jelas, karena faktanya sekarang ini negara-negara Komunis yang mengklaim menganut ideologi Marx tumbang satu per satu. Barangkali kita cuma bisa melihat sisa-sisanya dalam diri Kuba ataupun Korut. Di Indonesia apalagi, sejak diklaim sebagai "bahaya laten", ruapan gerak kaum Marxis menjadi sangat terbatas dan sedikit demi sedikit diberangus. Sekarang ini ide dan cita-cita Marx soal penyamarataan ditandaskan dengan mudah oleh kapitalisme. Marx mengakui, untuk menjadikan segalanya sama rata sama rasa sesuai cita-cita, butuh revolusi, revolusi kelas. Ini yang sulit dan tidak mendapat tempat. Setiap tercium bau revolusi, kapitalisme segera menawarkan ancaman, "Hayo, gak takut kelaperan lu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan saya kembali ke restoran itu, yang bernama Foodism itu. Disana juga ada Gandhi dan Ali. Orang yang dengan gigih mau berdiri di atas kakinya sendiri untuk menentang perang. Gandhi menawarkan tiga gerakan rakyat, yakni Ahimsa, Satyagraha, dan Swadeshi, untuk mengakhiri pendudukan kolonial Inggris. Sedangkan Ali sang petinju, ia berkoar-koar soal betapa Perang Vietnam tidak beradab bagi umat manusia. Semuanya, mereka: Marx, Lenin, Mao, Gandhi, dan Ali, yang barangkali berurat baja pada hampir sepanjang hidupnya, sekarang boleh melemaskan otot-otot dan duduk bahagia di balik bilik kaca. Otaknya yang mendidih kala berjuang dan bertarung, sekarang telah dibuat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;adem&lt;/span&gt; oleh freon. Kata-kata yang akrab mendesing di telinga mereka dulu, seperti "Perlawanan, revolusi, kejayaan," sekarang diganti oleh celetukan santai seperti, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;best-order, hang-out,&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;thanks god it's Friday!&lt;/span&gt;" Kapitalisme, sekali lagi, sukses berjaya. Dan kali ini ia mengukuhkan kejayaannya bulat-bulat, dengan berkata pada para pembesar itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Saksikan, wahai para Revolusionaris. Sesungguhnya, kaum proletar yang kalian bela sekarang tak berdaya. Mereka beli, mereka mengonsumsi, mereka kenyang dan setelah itu enggan berjuang. Sesungguhnya yang lemah dilarang menang!" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-6065486383217363194?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/6065486383217363194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/01/balas-dendam-kapitalisme.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6065486383217363194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6065486383217363194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/01/balas-dendam-kapitalisme.html' title='Batu Nisan Kaum Kiri'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-1724346233430774903</id><published>2011-01-21T08:40:00.000-08:00</published><updated>2011-01-21T09:44:31.532-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Kenangan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika menulis ini saya baru saja pulang. Pulang dari acara kumpul bersama teman-teman. Hal yang tadinya saya ragu untuk melakukannya karena suatu prinsip yang saya teguhkan sendiri: Tidak ada main sebelum kuliah lulus. Kebetulan (Insya Allah) sidang kelulusan hanya tinggal dua mingguan lagi. Saya pikir saya bisa menahan diri untuk tidak berjumpa kawan-kawan jika cuma dua pekan. Namun entah kenapa, SMS ajakan tadi siang begitu sulit untuk ditolak. Saya merasa bahwa ajakan ini adalah semacam upaya untuk "menyeimbangkan" diri. Betapa kegiatan menulis tesis sudah sangat menjengahkan, rutinitas tambah lama tambah membunuh kesadaran, dan waktu luang semakin dipersedikit karena berpotensi buang-buang uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatannya begitu saja, tidak berbeda dengan dulu-dulu. Nonton bioskop, pulangnya makan. Pasca makan, kami berbincang-bincang hingga larut malam. Kebetulan ini adalah kawan setia dari sejak SMA bahkan SMP. Sudah nyaris sepuluh tahun kami bersama, dan nonton-setelah-itu-makan masih menjadi menu jalan-jalan utama. Setelah nonton di Ciwalk (film berjudul The American), kami mampir di warung sate Pak Gino daerah Jl. Sunda, dekat rel kereta. Kami, totalnya berlima, memesan sate buntel, gule tulang, dan tempe mendoan. Tidak ada yang istimewa, seperti biasa, kami makan sambil diiringi ketawa-ketawa. Denting sendok-garpu beradu, dengan sesekali celetuk kecil minta tolong diambilkan ini-itu. Kami makan dengan cara yang sama dengan sepuluh tahun lalu, tidak ada yang mentang-mentang sudah kerja lalu uangnya banyak, lantas makan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;table manner&lt;/span&gt; atau jaim berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan lama adalah orang yang menempatkan saya pada situasi nostalgia. Kehadirannya menjadi indah justru ketika kami membiarkan kebiasaan-kebiasaan lampau yang hadir. Saya sekarang pastilah sudah berubah dari sepuluh tahun lalu. Sekarang saya bekerja, punya uang dan tabungan, punya rencana melamar seorang wanita, punya pemikiran filosofi tentang dunia, atau barangkali punya solusi bagi perbaikan negara. Tapi bukan cerita-cerita macam itu yang membuat pertemuan dengan kawan lama menjadi hangat. Melainkan kala kami sama-sama mengenang, kala kami sama-sama bersikap bak remaja yang rajin mengejek satu sama lain, membicarakan wanita seksi yang kebetulan lewat, ataupun mengeluhkan apa-apa yang menindas kami (dulu sekolah, sekarang para bos).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenangan, adalah semacam pertemuan," demikian kata Gibran. Ketika kita sama-sama mengenang, sesungguhnya kita janjian dalam satu ruang-waktu baru yang diciptakan bersama. "Inget gak, waktu kita ke Bali, waktu itu si anu..," demikian celetuk Karel, salah seorang dari kami. Maka ketika itu juga, Karel mengonstruksi suatu kejadian masa lalu. Ia menciptakan suatu ruang-waktu dan mengajak kami semua berkumpul kesitu. Tinggalkan sejenak warung sate ini kawan-kawan, karena apa yang riil seringkali merepotkan. Apa yang riil selalu bergerak ke depan, menuju kematian, menuju keabsurdan, menuju konflik yang tiada berkesudahan. Sekarang kita muda lagi, berpakaian seragam lagi, tiada uang hati tetap senang. Tidak perlu berpikir hidup ini darimana dan mau kemana, besok makan apa, lusa janjian sama siapa, karena kita semua adalah budak Epikuros yang cuma ingin merebut hari ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Carpe Diem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ada celetukan menarik saat pertemuan kami menjelang berakhir, "Dulu kita ngomongin kuliah, sekarang ngomongin kerjaan, nanti mungkin kita ngomongin istri, anak, dan penyakit-penyakit yang menggerogoti kita." Itu betul sekali, karena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tempus mutantur, et nus mutamur in ilid&lt;/span&gt;. Waktu berubah, dan kita ikut berubah di dalamnya. Tapi tak ada satupun dari kami yang berani melunturkan ingatan tentang masa-masa berbaju SMA. Karena satu hal, kami percaya bahwa surga bukan sebatas onggokan asa di masa depan, tapi juga sebentuk cahaya temaram dari masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-1724346233430774903?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/1724346233430774903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/01/kenangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1724346233430774903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1724346233430774903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2011/01/kenangan.html' title='Kenangan'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-8219400932732923616</id><published>2010-12-30T06:19:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T11:24:54.288-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Hadiah Penalti</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Peluit berbunyi sesaat setelah Arif Suyono menyundul bola dan mengenai tangan bek Malaysia. Penalti! Wasit asal Australia menunjuk titik putih. Stadion meledak. Gembira karena konon penalti adalah separuh gol. Bagaimana tidak, gawang sebesar demikian hanya tinggal diceploskan dari dua belas meter saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan saat itu 0-0. Menit ke-17. Final leg kedua Piala AFF dimana Indonesia mesti menang dengan selisih empat gol, akibat di leg pertama kami ditundukkan Malaysia 3-0 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur. O, coba tengok gelegak para suporter di sini: Di sekitar tempat saya berdiri. Mereka terlalu haus untuk diberi minum setetes air. Dahaga mereka ingin dipuaskan oleh anggur yang memabukkan. Dan anggur itu berjarak cukup jauh untuk diraih. Tapi kami bisa, kami sanggup. Semua optimis Indonesia mampu membalas kekalahan dengan jumlah gol yang lebih banyak sehingga mampu merengkuh trofi. Anggur yang memabukkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penalti, dalam hampir sebagian besar peristiwanya, sering disebut sebagai "hadiah". Pers atau komentator, menyebutnya "hadiah penalti", atau "wasit menghadiahkan sebuah penalti". Komentator Inggris pun demikian adanya, menyebut penalti sebagai "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;award&lt;/span&gt;", atau "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;referee has awarded a penalty&lt;/span&gt;". Ini menunjukkan betapa penalti, bukanlah seperti kausalitas kerja dan uang. Dimana orang yang bekerja, ia mendapatkan uang sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Penalti adalah pemberian lebih, bonus, insentif, THR, atau kue di hari Natal. Satu-satunya usaha kerasmu adalah membuka amplop atau mengambil pisau dan memotong kue, untuk merengkuh hadiah tersebut sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Utina, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;skipper&lt;/span&gt; timnas sekaligus algojo penalti, rasa-rasanya tak berpikiran sama. Ini penalti tak semudah membuka amplop dan mengambil pisau. Ini penalti bukan hadiah. Ini penalti adalah jutaan harapan bangsa yang dibebankan pada pundaknya. Ini penalti bagai Yudhistira berjudi mempertaruhkan istrinya, Drupadi. Firman sudah berkonsultasi dengan kawan-kawannya sebelumnya, soal siapa yang layak untuk menyepak bola dua belas pas ini. Christian ogah, Arif ogah, Irfan juga. Semua percaya Firman. Semua menggantungkan semua pada Firman. Dan Firman tiada pilihan, ia mesti ambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun yang menyebut penalti sebagai hadiah, pasti lupa bahwa hadiah tak semata-mata berisikan kegembiraan. Kau bisa mendapatkan bubuk anthrax, bom, ataupun kepala binatang.  Kita tahu Roberto Baggio, di Piala Dunia 1994, adalah bintang Italia, sang penggocek bola ajaib. Namun apa yang terjadi kala ia menendang penalti adalah seperti Rapunzel dipangkas rambutnya: tak ada daya magi, bola melambung ke angkasa. Yang terakhir tentu kita ingat Asamoah Gyan di Piala Dunia 2010. Ia bomber utama Ghana: agresif, dan selalu sukses menggolkan dari titik putih. Tapi apa yang terjadi ketika perempatfinal melawan Uruguay adalah hal yang sulit sekali dipahami oleh akal sehat manusia. Menit 120, Ghana dihadiahi penalti akibat Luis Suarez menahan bola dengan tangan. Gyan melangkah yakin, dengan asa Afrika berada di pundaknya. Namun sepakannya gagal, membentur mistar dan melayang ke belakang gawang. Ghana akhirnya kalah adu penalti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman mengambil ancang-ancang cukup jauh. Gemuruh stadion selaras dengan gemuruh batinnya. Khairul Fahmi, kiper Malaysia, posisinya bak tikus yang berada di pojokan, menghadapi kucing kelaparan. Sejenak ia berdoa, "Ya Tuhan, tutuplah kupingku dari gelora suporter lawan, dan biarlah keheningan membimbing gerak jatuhku ke arah mana." Tendangan Firman diarahkan ke kanan bawah, dan Fahmi sejalan dengannya. Bola tak terlalu keras, sehingga bola tetap dalam dekapan kiper Malaysia tersebut. Stadion langsung bungkam, nyeri, dan kecewa. Mereka berharap Firman membuka pintu menuju lumbung gol Indonesia. Apa mau dikata, beban di pundak memberatkan kelenturan kakinya. Beban di pundak memalingkan segenap konsentrasinya. Sesungguhnya ia ingin segera mendengarkan gempita bangsa menyanyikan yel-yel kebanggaan Garuda. Tapi ia tak bisa melampaui dua belas meter pun untuk mencapainya. Firman gagal, Indonesia tetap menang. Tapi Malaysia yang juara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya penalti, jangan-jangan, merupakan hadiah manis yang masih netral untuk diperebutkan. Asumsi bahwa penalti adalah hadiah bagi kubu algojo, adalah menyesatkan. Sesungguhnya ketika sang penendang gagal menunaikan tugasnya, hadiah itu menjadi milik kubu penjaga gawang. Bukan semata-mata karena gol gagal terjadi, namun jua bagaikan gladiator yang tadinya bersimbah darah hendak kalah: mereka sukses mengayunkan tenaga terakhirnya untuk justru membunuh lawan dalam sekali tikam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kawasan Gelora Bung Karno, 29 Desember 2010&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indonesia gagal juara, tapi saya tetap bangga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-8219400932732923616?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/8219400932732923616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/12/gejolak-batin-firman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8219400932732923616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8219400932732923616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/12/gejolak-batin-firman.html' title='Hadiah Penalti'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-2601640583344840639</id><published>2010-12-27T05:13:00.000-08:00</published><updated>2010-12-27T05:22:10.485-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Catatan Harian Seorang Suporter: Drama Antrian Enam Belas Jam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Awalnya, saya tidak ada niat mengantri tiket Final Piala AFF, sehubungan dengan janji kawan yang sanggup menyediakan tiket via kenalannya. Ternyata janji itu mendadak batal, akibat distribusi tiket dari PSSI yang sama sekali beda dengan babak-babak sebelumnya. Kawan saya bilang, singkatnya, “Yang sekarang beda, kita mesti ngantri.” Saya jawab, “Oke, ga masalah, dari abis maghrib gimana?” “Yah, jangan abis magrib banget lah, jam dua belas aja ya?” Singkat kata, kami mencapai kata sepakat untuk antri sejak jam dua belas malam. Sebagai informasi, loket konon baru dibuka antara jam sembilan atau jam sepuluh pagi. Malam itu sudah lewat jam dua belas ketika kami tiba di parkiran loket yang terletak di pintu utama. Ternyata antrian sudah cukup panjang, sekitar dua ratus meter. Tiket yang dilepas seharga 50.000 Rupiah itu telah ditunggui orang bahkan dari sejak jam sembilan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami, berempat jumlahnya, mengampar beralaskan koran. Saya pribadi sulit tidur nyenyak, karena perasaan campur aduk. Takut barang hilang, takut antrian tersalip, kadang terganggu oleh teriakan tukang dagang, ada juga perasaan deg-degan membayangkan besok apa yang terjadi ketika loket dibuka. Keakraban antar suporter sering terasa baik lewat guyonan maupun berbagi perasaan soal distribusi tiket yang kurang baik dan situasi PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid. Dari awal saya mengantri, saya tahu bahwa para pengantri ini murni ingin menyaksikan tim kesayangannya, tidak ada satupun pikiran dalam benak saya yang mengatakan bahwa para suporter disusupi perusuh (seperti yang biasa dituduhkan jika ada kerusuhan suporter). Kawan saya melontarkan guyonan satir, ”Aneh yah, malam ini timnas maen lawan Malaysia di Bukit Jalil, tapi kok kita ngantri di Gelora Bung Karno.” Iya, sebagai informasi, final Piala AFF berlangsung dua kali. Yang pertama di kandang Malaysia tanggal 26 Desember, yang kedua barulah di Gelora Bung Karno tanggal 29 Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari terbit, antrian mulai bergerak sedikit demi sedikit. Suporter sangat solider dengan berani meneriaki mereka yang kelihatan menyalip. Menjelang jam sembilan pagi, sudah kelihatan ada beberapa suporter paling depan yang masuk mengambil nomor antrian. Sebagai informasi, mekanisme pembelian tiket ini sangatlah rumit dan sama sekali tidak mengakomodasi jumlah massa yang berlimpah. Tanggal 26 Desember, menurut jadwal, adalah saat dimana kita mengantri dua tahap. Pertama demi nomor antrian, kedua, nomor antrian ditukar kupon. Kupon? Ya, dan kupon barulah ditukar tiket asli pada tanggal 28 Desember. Ribetkah? Iya, sangat ribet, terutama jika mengingat antrian tiket bioskop jauhlah lebih sederhana. Terlebih jika mengingat PSSI sebenarnya bisa mempermudah distribusi tiket lewat agen-agen yang disebar di luar stadion atau memaksimalkan penjualan online yang sebenarnya bukan sesuatu yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menit demi menit menjelang jam sepuluh, suasana antrian memanas. Terutama disebabkan udara Jakarta yang panas dan situasi antrian yang sangat berdempetan hingga berjongkok pun sulit. Setiap antrian bergerak, seringkali tidak ada keteraturan sehingga beberapa kali terdengar ada keributan di antrian belakang saya. Polisi atau keamanan cuma kelihatan satu-dua, sehingga mustahil melakukan penertiban terhadap ribuan suporter. Antrian mulai kacau ketika saya merasakan adanya dorongan dari belakang yang menyebabkan kawan-kawan sebarisan hampir terjatuh. Suporter mulai tidak sabar karena oksigen menipis, “Buka, buka, buka loketnya!” Begitu teriak mereka. Merasa volume suporter sudah sesak, beberapa orang merusak pagar pembatas semata-mata agar lebih leluasa. Saya ingat ada perempuan di depan yang nyaris kehabisan napas, ia selamat justru karena lolos ke pagar pembatas yang dirusak itu. Akhirnya, karena sayapun nyaris kehabisan napas, saya tak berpikir lagi untuk tetap di antrian, tapi fokus bagaimana caranya untuk selamat dari kerumunan. Ternyata antrian memang sejatinya sudah bercerai dan orang-orang di depan terlihat sedang menghancurkan pagar serta kursi-kursi. Saya mengikuti kemana arah suporter berlari, dan ternyata menemukan loket yang kosong! Kosong entah kenapa, entah kemana si penjaga, yang bikin emosi saya juga tersulut. Membuat saya bisa memaklumi anarkisme para suporter karena saya pun merasa membakar loket adalah ide yang bagus! Antri dua belas jam dengan jarak ke loket cuma sekitar dua ratus meter, ternyata hanya disambut loket kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usut punya usut para penjaga loket sudah kabur karena situasi tak terkendali. Kenapa tak terkendali? Karena pengamanan sedikit. Kenapa sedikit? Pasti karena PSSI pelit, tak mau bayar keamanan. Pasti karena PSSI tak belajar dari kerusuhan penjualan tiket sebelumnya. Kami juga sering berteriak, ”Petugas, tolong atur kami!” Menunjukkan bahwa kami tak berdaya oleh kekuatan yang kami buat sendiri. Jam demi jam berikutnya adalah neraka, karena kami dibuat bingung oleh berbagai penantian yang tak pasti. Ada yang tetap memilih bertahan di loket, ada yang memilih merangsek ke stadion, dan ada juga yang pulang saja karena situasi mulai mengkhawatirkan. Harapan tertinggi datang ketika polisi mengatur suporter untuk berbaris bergandengan sehingga barisan menjadi tertib. Itu terjadi sekitar pukul satu, tanpa kita tahu barisan ini berujung kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, panitia dan polisi menggiring kami masuk ke tribun dan menyaksikan hijaunya lapangan GBK. Di tribun, ya barisan yang manis itu pecah kembali karena penonton jadinya duduk-duduk saja secara bebas. Di lapangan, terlihat beberapa gelintir polisi saja, yang tak lama kemudian dikerumuni massa lagi. Entah kenapa, mungkin karena mereka kembali menjanjikan tiket. Saya sendiri sudah kelelahan akibat mengantri selama hampir enam belas jam: berpanas-panas dan bergencet-gencetan. Saya memilih kursi di Royal Box, yaitu kursi tempat SBY dan Nurdin Halid biasa duduk. Di kiri kanan suporter beragam tingkahnya, ada yang duduk tertib, ada yang menghancurkan kursi. Sedangkan pemandangan di lapangan seperti pasar Gasibu, orang dimana-mana tak teratur dan ikut kemanapun yang menjanjikan kupon atau tiket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini saya sudah menyerah. Menyerah dalam artian, saya tidak berminat lagi tiket final Piala AFF, karena saya sudah mendapatkan lebih dari sekedar tiket. Saya belajar soal nasionalisme, soal solidaritas, soal kesabaran, soal kebobrokan sistem, dan soal budaya mengantri. Dari situ saya berpikir, sebenarnya apa yang saya cari di sini? Tiket kah, atau euforia kah? Karena jangan-jangan setiap persona yang menonton di stadion, mereka tidak hendak menyaksikan sepakbola dalam arti sebenarnya. Menyaksikan sepakbola jelas lebih nyaman di televisi, oleh sebab sudut pandang yang beragam dan adanya tayangan ulang. Tapi kualitas visual objek saja tidak cukup, manusia perlu merasakan gairah untuk merangkul objek itu ke dalam diri. Dan gairah sejati barangkali ketika mata tidak punya halangan apa-apa terhadap objek yang ditujunya. Kita bisa ikut merasakan penderitaan korban Merapi via televisi, tapi mereka yang datang kesana tidak hanya ingin membantu semata, tapi juga ingin merasakan gairah sejati berada dekat dengan objeknya. Tidak terhalang layar, tidak terhalang teks berita. Demikianlah pengindraan menjadi penting, menjadi suatu medium kuat yang mampu menghantarkan listrik kehidupan ke batin kita. Terima kasih para suporter, sesungguhnya gairah sepakbola tak hanya terjadi kala menyaksikan langsung jagoan kita berlaga, tapi juga ketika kita semua bersatu mengekspresikan cinta dan benci sama-sama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ditulis pasca kekalahan timnas 0-3 dari Malaysia yang saya tidak mau membahasnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-2601640583344840639?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/2601640583344840639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/12/catatan-harian-seorang-suporter-drama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2601640583344840639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2601640583344840639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/12/catatan-harian-seorang-suporter-drama.html' title='Catatan Harian Seorang Suporter: Drama Antrian Enam Belas Jam'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-3363505165815622597</id><published>2010-12-21T08:06:00.000-08:00</published><updated>2010-12-21T09:10:57.534-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Tiki Taka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bayangkan sebuah orkestra bernama Barcelona.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;Semua dimulai dari dirigen bernama Xavi. Ia pemimpin rombongan, dan seluruh pemain menunggu aba-abanya. Tongkat konduktor ia angkat tanda bersiap, para pemain bergerak mengangkat instrumennya masing-masing. Biasanya segalanya dimulai dari denting harpa Busquets. Ia membunyikan intro ringan, semata-mata agar suasana menjadi terbiasa. Di bar kedelapan Busquets menaikkan volume. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Forte&lt;/span&gt;. Tak lama kemudian berbunyi jua instrumen lain. Suasana menjadi ramai, riang, dan memukau. Iniesta membunyikan flute, muncul sesekali bagaikan balutan improvisasi. Suaranya bagai desah angin di pegunungan. Xavi menunjuk Villa, dan ia pun memeragakan permainan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brass&lt;/span&gt; yang mahir. Meliuk-liuk bagai wanita di klab malam. Jangan sampai membosankan, kawan, kata Xavi sambil meminta Puyol dan Pique mendeciskan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cymbal. &lt;/span&gt;Alves, giliranmu, mainkan cello. Rambatilah sudut ruangan dengan jangkauan&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt; nadamu yang luas dan seksi. Pedro turun kau kemari, buang partitur itu, dan mainkan biola alto untuk membuat penonton geregetan. Geregetan karena sekeras-kerasnya kau bermain, tetap tak akan setajam sayatan sang violinis Messi. Messi sang Medusa yang tatapannya bisa bikin kau membatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkanlah kemeriahan itu, seperti Tchaikovsky dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Waltz of The Flowers. &lt;/span&gt;Mereka menari, mereka gembira, mereka berbunga-bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Overture&lt;/span&gt; ini segera, wahai sang komposer, Guardiola. Dada kami sudah gegap gempita menahan kekaguman yang maha. Karya berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tiki-taka&lt;/span&gt; hanya sempurna dimainkan oleh anak-anak Katalonia. Dari La Masia, untuk dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-3363505165815622597?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/3363505165815622597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/12/tiki-taka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/3363505165815622597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/3363505165815622597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/12/tiki-taka.html' title='Tiki Taka'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-1487693416164735609</id><published>2010-12-20T19:33:00.000-08:00</published><updated>2010-12-20T21:08:00.678-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Del Piero dan Kesetiaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;".&lt;span style="font-style: italic;"&gt;.. benda yang akrab ke dalam hatiku -dan sebab itu ia punya arti bagiku- cuma jadi benda yang tiap saat bisa dipertukarkan dengan benda lain.&lt;/span&gt;" (Goenawan Mohamad menginterpretasi Hegel tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ein sich in sich selbs bewegende Leben des Todes&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepakbola Italia pernah menorehkan catatan kelam tahun 2006 silam. Namanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;calciopoli&lt;/span&gt;, atau skandal pengaturan skor yang melibatkan banyak klub besar Seri A, dan salah satunya adalah klub favorit saya, Juventus. Juventus dihukum degradasi ke Seri B dan memulai kompetisi dengan minus 30 poin. Gelar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scudetto&lt;/span&gt; tahun 2005 dan 2006 pun dicabut. Kover depan koran BOLA saat itu, saya ingat, judulnya EKSODUS, yang menunjukkan adanya hijrah pemain besar-besaran dari Juventus ke klub lain. Alasannya apa lagi, kalau bukan gengsi yang turun karena sebagian besar pemain bintang tersebut menolak main di kasta kedua. Zlatan Ibrahimovic, Patrick Vieira, dan Fabio Cannavaro adalah contoh tiga bintang yang memutuskan keluar dari Juventus. Yang tinggal tidak banyak, dan salah satunya adalah pemain favorit saya, Alessandro Del Piero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Del Piero, kelahiran 9 November 1974, bukanlah produk asli akademi Juventus. Ia baru bergabung tahun 1993 dari klub Padova. Karirnya gemilang sejak musim debutnya, dan sejak itu ia hampir selalu menjadi pilihan utama pelatih manapun yang menukangi Juventus. Bulan Oktober lalu, Del Piero merayakan 17 tahun pengabdiannya bersama Juventus, yang mana menjadikan ia sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub tersebut dengan 279 gol. Sekarang Del Piero berusia 35 tahun, masih menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;starter&lt;/span&gt;, dan juga bertindak sebagai kapten tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Del Piero, yang pernah menjuarai Piala Dunia 2006 bersama Italia, bukanlah pemain yang tak laku. Ia banyak diiming-imingi klub besar untuk pindah, apalagi kalau bukan karena kemampuannya yang mumpuni. Dunia sepakbola modern memang mengenal kontrak sebagai pengikat, tapi juga mengenal kontrak sebagai hiasan semata. Sering sekali pemain pindah karena klub baru mengimingi gaji besar, dan tidak memedulikan kontrak yang mengikatnya. Teken kontrak hanya sebatas pencitraan pada fans, bahwa ia loyal. Tapi loyal dalam batas waktu tertentu, sebelum ada tawaran yang lebih menggiurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kenyataan kontrak bukan lagi sesuatu yang bisa dihormati, maka Del Piero adalah contoh yang tersisa dari masih berharganya sebuah loyalitas. Tentunya masih banyak contoh lain, Steven Gerrard misalnya, atau Alex Ferguson. Tapi Del Piero punya nilai lebih bagi saya, semata-mata karena Juventus pernah terpuruk dari hingar bingar kompetisi sepakbola. Dan Del Piero, dalam statusnya sebagai pesepakbola yang memenangi Piala Dunia, menolak hingar bingar itu, dan memilih untuk jatuh pada kesetiaan. Belum cukup bukti loyalitasnya? Del Piero gajinya saat itu dipotong, karena kenyataan klub kekurangan uang, akibat sponsor ogah menemani mereka di Seri B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari memetik hikmah sedikit dari cerita Yudhistira dari kitab Mahabharata. Ketika perang Bharatayudha berakhir, Pandawa dan Drupadi menuju nirwana secara ruhani. Tapi Yudhistira tertahan, bersama anjingnya. Dewa Indra mengajak Yudhistira masuk nirwana, tapi tidak dengan anjingnya. Yudhistira menolak, ia beranggapan bahwa lebih baik ia tidak memasuki sorgaloka yang sudah  menjadi takdirnya daripada harus membiarkan anjingnya menunggu di luar  sambil menderita haus dan lapar, sedangkan ia sendiri bermewah diri di  dalam nirwana. Yudhistira mengatakan bahwa ia tidak akan mengkhianati  anjingnya hanya demi surga. Tiba-tiba, anjing tersebut berubah menjadi Dewa Dharma. yang langsung  memeluk Yudhistira tanpa kata-kata. Yudhistira pun mencapai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;moksha&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, mengutip interpretasi GM di awal artikel, banyak sekali hal yang berkaitan dengan sejarah personal, dilego demi uang. Maksudnya, laptopku ini, tempat aku menuliskan banyak hal, curhat, dan barangkali ikut membentuk pribadiku, ketika ada yang tertarik mau beli, maka sesungguhnya ia tak lebih dari barang biasa yang bisa diperjualbelikan. Demikian halnya gitarku, celana dalamku, kaos-kaosku yang sudah robek, yang mana ia pernah menjadi bagian esensial yang turut serta "mendagingiku", jika saatnya dilego, untuk sebuah harga, maka pergilah karena ia cuma benda mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Del Piero bagi saya adalah figur yang kurang populer dalam industri sepakbola saat ini. Karena ia, membela klubnya oleh sebab hal yang amat "remeh", yaitu kenyataan bahwa Juventus adalah tim yang secara emosional terikat dengannya. Yang "menubuhinya" dari ia bukan apa-apa sampai jadi legenda. Ia tak mau dilego untuk harga berapapun. Dan kesetiaan, pada akhirnya, barangkali, baru terukur jika ada tawaran sekeping surgaloka. Del Piero menolak kemewahan Seri A, menolak gemerlap klub besar di luar sana, ia ingin tinggal saja bersama anjingnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-1487693416164735609?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/1487693416164735609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/12/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1487693416164735609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/1487693416164735609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/12/blog-post.html' title='Del Piero dan Kesetiaan'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-4888965606349784181</id><published>2010-12-01T22:19:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T07:34:51.624-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Mengukur Kualitas Keimanan David Villa</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Bola itu bundar, kita tidak akan tahu jatuh dan memantul kemana."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya tidak tahu siapa yang mengucapkan itu, tapi barangkali kita semua tahu kalimat itu sangat terkenal. Seperti halnya kalimat tauhid, saya asumsikan kalimat itulah yang menjadi pijakan keimanan pesepakbola manapun. Sehebat-hebatnya strategi pelatih, sejago-jagonya kemampuan pemain, jika mengingkari bahwa bola itu bundar, maka dalam kegagalannya ia akan jatuh pada jurang yang pahit dan tersesat disana. Namun kalimat "tauhid sepakbola" itu adalah penyelamat sejati, ketika aktor sepakbola mengalami kekalahan dan kejatuhan yang pastinya lumrah di roda kehidupan. Mereka tahu bahwa bola yang bundar adalah realitas sejati yang menyebabkan jatuh dan memantulnya tak pernah mampu ditebak kemana arahnya. Dan karena itu, pantulan yang tak diketahui adalah ambang batas terakhir alasan untuk sebuah kegagalan yang tak bisa dijelaskan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita semua tahu Filippo Inzaghi adalah fenomena sepakbola. Bukan karena kemampuannya yang mumpuni, tapi oleh sebab ia diberkahi dan "dipilih Tuhan" untuk seolah mengetahui tentang arah pantulan bola. Bola sering sekali memantul pada Inzaghi di tengah kemelut serumit apapun. Dan atas "keimanannya" ini, hingga usia hampir empat puluh ia masih rajin mencetak gol ke gawang tim sekelas Real Madrid sekalipun. Kita jua tahu tragedi Robert Green di babak penyisihan Piala Dunia 2010 lalu. Kiper Inggris tersebut gagal menangkap bola tendangan pelan gelandang AS, Clint Dempsey. Ia bermaksud memeluk erat, tapi bola tetap bergulir masuk ke gawang lewat sela-sela kakinya. Tragis, tapi bundarnya bola adalah alasan terakhir mengapa ia "tetap dimaafkan". "Seandainya bola itu bentuknya kotak, pasti bisa saya tangkap," begitu kira-kira saya menebak isi kepala Green.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mari kita layangkan pikiran ke beberapa hari lalu, ketika sejarah mencatat kemenangan besar Barcelona atas Real Madrid 5-0. Kita semua menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa orang bodoh pun tahu, Barcelona bermain lebih hebat dari El Real dan tidak bisa dianggap kemenangan yang berbau keberuntungan. Mereka menang dengan elegan dan tidak memberi ruang sedikitpun. Ketika pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, ditanyai tentang kekalahan timnya, ia cuma menjawab bahwa timnya memang pantas kalah, karena tim lawan bermain lebih baik. Tidak ada alasan "kalah beruntung" disana, apalagi disebabkan oleh bundarnya bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mari kita mengingat gol kedua Barcelona yang lahir dari kaki Pedro Rodriguez. Di menit 18 itu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tiki taka&lt;/span&gt; pemain Barcelona sukses membuka ruang David Villa di sisi kanan pertahanan Real Madrid. David Villa lalu menggiring bola, dihalangi oleh Sergio Ramos. Ia membuat gerak tipu sedikit, sebelum memutuskan untuk menembak dengan kaki kiri dari sudut sempit. Bola sedikit menyentuh kaki Ramos, menyentuh tangan kiper Iker Casillas, sebelum jatuh di kaki Pedro yang menceploskan bola ke gawang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita memikirkan sejenak apa yang di kepala Villa. Ia berada dalam situasi sulit ketika menggiring bola di kotak penalti Madrid. Ia bukan pemain dengan kaki kiri yang bagus, tapi menendang dengan kaki kanan terlalu sulit. Dan ia tahu, tim dengan pelatih macam Mourinho pasti sudah tahu kelemahan lawan-lawannya. Mourinho punya ahli statistik yang konon selalu mencatat pemain lawan lebih senang pakai kaki kiri atau kanan. Jika Villa bergerak agar dapat menggunakan kaki kanannya, pasti Ramos sudah bisa menebak dan akhirnya mampu mengantisipasi. Namun kualitas keimanan Villa berkata lain, ia meneruskan pergerakan ke sudut yang lebih sempit dan melepaskan tembakan dengan kaki yang bukan favoritnya. Dan saya, yang menyaksikan kejadian itu, punya semacam keyakinan bahwa Villa mencoba keberuntungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada situasi itu, pemain Madrid di kotak penalti ada tujuh termasuk  kiper. Sedang pemain Barcelona hanya tiga, yaitu Villa, Pedro dan Messi.   Villa mempunyai keyakinan luhur bahwa bola itu bundar. Seketika ia menembakkan dengan keimanan penuh, maka ia berdoa dalam waktu sangat sekejap, bahwa bola yang jatuh dan memantul akan menguntungkan timnya. Maka itu ia sepak sekuat tenaga dengan kaki yang diremehkan Ramos, juga Casillas. Semua terkejut, semua panik, dan bola, anehnya, jatuh di kaki Pedro yang mana ia dalam kawalan pemain Madrid lainnya, Marcelo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat film Enemy of the Gates yang diperankan oleh Jude Law sebagai Vasili, seorang sniper Rusia pada PD II melawan Jerman. Ada situasi dimana ia cuma berdua dengan kawannya, tapi ia harus menghabisi lebih dari lima orang Jerman yang tengah bersantai, piket, dan mandi. Dilemanya adalah: senapan sniper tidak sama dengan rifle. Rifle memungkinkan untuk memberondong kelimanya dalam waktu singkat. Sniper hanya mampu menembak sesekali. Dan Vasili harus memilih diantara kelima itu, mana yang mesti ditembak pertama tapi tidak menarik perhatian keempat lainnya. Dengan berhati-hati ia mencoba keberuntungannya, dengan mengarahkan peluru pertama pada orang yang sedang mandi.  Kenapa? Karena orang yang sedang mandi jauh di belakang keempat rekannya, dan jika ia mati duluan, maka tak akan ketahuan. Lalu Vasili mengeksekusi: Kepalanya kena, mati, dan pelan-pelan ia menembak satu per satu yang lainnya tanpa membuat kerusuhan. Vasili tahu, bahwa salah tembak, atau meleset di tembakan pertama, akan menyebabkan kelimanya jadi rusuh dan membunuhnya balik. Tapi ia mengambil resiko tidak populer, mencoba keberuntungannya, meneguhkan imannya, dan seketika ia mendapatkan hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi sempit itu, Villa tak berpikir apa-apa. Ia hanya tahu dan percaya, bahwa bola itu bundar. Jatuhnya kemana ia tak punya pengetahuan, bisa ke lawan, bisa ke kawan. Tapi pilihan sedikit, dan harus cepat diputuskan. Dalam keterjepitan seringkali manusia harus melakukan lompatan iman. Dan apa yang dilakukan Villa membawanya pada ekstase dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat gol Pedro tersebut, klik&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=sm30nZT7OUU&amp;amp;feature=related"&gt; disini.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-4888965606349784181?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/4888965606349784181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/12/mengukur-kualitas-keimanan-david-villa.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/4888965606349784181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/4888965606349784181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/12/mengukur-kualitas-keimanan-david-villa.html' title='Mengukur Kualitas Keimanan David Villa'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-8236462813397782352</id><published>2010-11-29T07:59:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T09:13:35.301-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Catatan Galau Seperempat Abad: Untuk KlabKlassik Tercinta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KlabKlassik akan berusia kelima tahun ini, tepatnya 9 Desember. Untuk itu, di usia seperempat abad ini, akan saya ucapkan terima kasih bagi tempat yang selalu membantu memanusiakan saya. KlabKlassik adalah komunitas terbuka yang siapapun boleh ikut. Ia non-profit, ia jauh dari komersil, dan Insya Allah segala uang yang masuk adalah untuk menghidupi perjalanan komunitas itu sendiri.  Temanya memang musik klasik, tapi jika menggeluti komunitas ini lebih jauh, ternyata yang saya punguti justru jauh lebih kaya daripada itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;KlabKlassik adalah tempat dimana saya menemukan diri saya sebagai manusia seutuhnya. Utuh dalam artian: Syarif yang tampil sebagai Syarif. Keseharian rutinitas yang cenderung materialistik sukses menjauhkan manusia dari totalitas dirinya sendiri. Waktu diukur dengan uang, keringat diukur dengan uang, bahkan tidur pun diukur dengan uang. Seketika kala kegiatan nongkrong bersama klab mau dengan tulus dijalani, ternyata ketahuan juga bahwa ada sesungguhnya dalam hidup ini, yang lebih berharga daripada uang. Yang lebih berharga dari waktu. Yang lebih berharga dari tidur. Yang, bisa dibilang, ternyata tak seluruhnya hal mesti "penting". "Bersiul itu pun tidak penting, tapi toh menyenangkan," demikian kata Goenawan Mohamad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi kegiatan klab, jika mau objektif, tak lebih dari sekedar hura-hura. Kami berbincang, membahas, ketawa-ketiwi, kadang berbau analitik-akademis yang serius tapi diseringi candaan. Tak pernah ada satu kurikulum atau aturan yang terlampau berat mengikat. Jam berkumpul pun sangat lentur dan tidak ada pengumuman yang sifatnya menekan. Semua datang seenaknya, dan tak ada yang disetrap karena keterlambatan. Barangkali yang beginilah, yang menjaga kemanusiaan manusia. Bahwa pada dasarnya manusia memang bisa dan harus diikat oleh sesuatu (jam kerja, jam tidur, norma-norma). Tapi ada kalanya ia dilepaskan seenaknya, mempunyai momen dimana tali kekang tak mengendalikannya. Di klab jua ada norma, tapi sebatas bahwa kita menjaga perasaan sesama. Tak saling menghina, tak saling menghujat, itu adalah harus dijunjung dimanapun berada. Namun sisanya kau adalah manusia yang menghirup kebebasannya barang sejenak saja dari seminggu yang penat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah ditanya, "Apa bedanya mendapatkan ilmu di klab dengan di kelas-kelas?" Lalu dijawab, "Di kelas, gurumu membawa 'lima', dan kau adalah 'nol'. Selesai belajar, kau membawa pulang 'lima'. Sedang di klab, andaikata ada lima orang, kita masing-masing membawa 'satu', dan 'satu' itu dibagi-bagikan sehingga masing-masing bisa sama-sama membawa 'lima'." Artinya apa, belajar di kelas dan nongkrong di klab, barangkali punya kadar ilmu yang setara. Hanya saja prosesnya berbeda. Di kelas kau akan dapati situasi dimana si guru dalam posisi serba-tahu yang harus kau patuhi. Sedang di klab kau dalam posisi memberi dan menerima yang sejajar dengan lainnya. Yang menentukan seberapa banyak pengetahuan yang kau dapat, adalah tentang seberapa banyak kau mau membuka telingamu untuk mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara spesifik, akan saya sebut beberapa contoh kepribadian yang telah memperkaya saya di klab. Yang telah sangat-sangat membantu saya menyadarkan bahwa dunia ini beragam adanya, keinginan untuk menyatukan dunia dalam satu konsep adalah konyol dan utopis belaka.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tidak akan saya temukan di tempat lain kecuali di klab, orang yang mau hadir jauh-jauh dari Subang, hanya untuk duduk bersama kami ketawa-ketiwi belaka. Konon ia mengaku mau datang karena mendapatkan ilmu di tempat ini, tapi kenyataannya, kamilah yang mendapat pengajaran darinya, bahwa: jarak bukan alasanmu untuk malas mencari ilmu. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, orang yang menyadarkan bahwa klab bukan sekedar proyek duniawi belaka. Ia harus bersinggungan dengan situasi-situasi transenden yang menyejukkan. Seperti sedekah, silaturahmi, perbaikan akhlak, dan peduli sesama. Ketika konser-konser mulai padat, acara komunitas terlampau bikin stres, maka ada yang senantiasa mengingatkan, "Pada akhirnya, ujung segalanya adalah bagaimana kau menghargai orang lain sebagai manusia. Bukan kepentingan-kepentingan semu semata."&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, orang yang mau berjuang, dari tadinya bicara pun malu-malu, sekarang sudah mampu merealisasikan dirinya dalam performa klasik yang menuntut keberanian. Yang membuat saya sadar, sesungguhnya jika kau tak bisa dikenang Guiness Book of World Records, atau Wikipedia, atau koran-koran lokal, maka kau sesungguhnya bisa cukup dikenang di hati seorang manusia. Cukup satu, tapi berarti selama-lamanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, seorang akademisi yang begitu cinta mati akan pengetahuan. Deklarasinya berani, bahwa ia tak akan mengambil sepeser pun dari ilmu yang ia bagikan. Ia percaya bahwa ilmu yang bermanfaat adalah pahala tiada putusnya. Baginya, membagikan ilmu adalah mengobati kehausan batinnya sendiri. Untungnya kami cukup paham dengan kerapkali mentraktirmu kopi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, kebersamaan yang tulus dalam suka dan terutama duka. Bahwa sahabat sejati bukan ia yang ada ketika kita bahagia dan jaya, tapi juga kala butuh dan jatuh. Ukuran-ukuran hubungan bukan lagi berdasarkan acara-acara konser yang digelar periodik, tapi di luar itu kita rajin berjumpa. Membicarakan kehidupan, membicarakan cinta, membicarakan tuhan, kebenaran, atau apa-apa yang kau tak dapatkan dalam kehidupan praktis disana.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, kesan yang selalu tertinggal dimanapun ia berada. Ada di Amerika, ada di Italia, ada di Jakarta, ataupun sibuk entah kemana, bahwa selamanya mereka dengan pancaran cintanya, turut membesarkan klab dari kejauhan. Semoga pancaran cinta klab pun sampai pada kalian yang sudah berjauhan. Insya Allah.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Masih banyak lagi keunikan yang mustahil terspesifikasikan. Ini belum termasuk para punggawa yang bersama-sama menanggung duka komunitas ini dengan gembira. Sesungguhnya cita-cita saya kali ini sederhana saja: Bahwa KlabKlassik seyogianya adalah rumah bagi mereka yang mau berteduh. Dan sebaik-baiknya rumah, bagi saya, adalah tempat dimana kau bisa berteriak seenaknya, menjadi dan menjadilah dirimu sendiri. Ketika penghuni rumah yang lain terganggu, tinggal minta maaf dan kalian bisa bergurau kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih KlabKlassik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs091.snc1/4936_91967069844_550449844_1955976_5429914_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 534px; height: 401px;" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs091.snc1/4936_91967069844_550449844_1955976_5429914_n.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-8236462813397782352?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/8236462813397782352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/11/catatan-galau-seperempat-abad-untuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8236462813397782352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8236462813397782352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/11/catatan-galau-seperempat-abad-untuk.html' title='Catatan Galau Seperempat Abad: Untuk KlabKlassik Tercinta'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-8964966054920269417</id><published>2010-11-27T20:26:00.000-08:00</published><updated>2010-11-27T21:42:41.293-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Sepakbola Menyelamatkanku dari Alienasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.muskiportal.com/wp-content/uploads/2010/11/el_clasico.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 389px; height: 331px;" src="http://www.muskiportal.com/wp-content/uploads/2010/11/el_clasico.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Foto diambil dari &lt;a href="http://www.google.co.id/imglanding?imgurl=http://www.muskiportal.com/wp-content/uploads/2010/11/el_clasico.jpg&amp;amp;imgrefurl=http://www.muskiportal.com/camp-nou-el-clasico-u-ponedjeljak/&amp;amp;h=331&amp;amp;w=389&amp;amp;sz=68&amp;amp;tbnid=C60P0yj0S0RmzM:&amp;amp;tbnh=105&amp;amp;tbnw=123&amp;amp;prev=/images%3Fq%3Del%2Bclasico%2Bpictures&amp;amp;zoom=1&amp;amp;q=el+clasico+pictures&amp;amp;usg=__TmEC91GhMtv-nMjxx9bLvjxFZ3w%3D&amp;amp;sa=X&amp;amp;ei=L-vxTNzAFY3-vQOiuenJDQ&amp;amp;ved=0CB4Q9QEwAg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini, saya akan membela sepakbola habis-habisan. Karena semata-mata saya suka sepakbola, dan tak peduli dibilang fanatisme buta. Persoalan apakah subjektivitas saya ini nantinya jadi hal yang objektif adalah sesuatu yang patut disyukuri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alienasi adalah istilah lama yang susah-susah gampang untuk dipahami. Paling sering kata alienasi diletupkan dalam pemikiran Marx tentang pekerjaan kaum buruh. Bahwasanya kala buruh dipekerjakan dalam mekanisme kapitalistik yang menekankan jam kerja dan rutinitas, maka ia akan terasing dari dirinya.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Terasing dari dirinya sebagai produsen. Bagaimanapun juga, buruh adalah tangan langsung yang membentuk benda hasil produksi, tapi pemilik modal merenggutnya, dan menjadikan buruh terasing dari produk buatan yang harusnya amat lekat dengan dirinya. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Buruh juga terasing dari kegiatan kerja itu sendiri. Kegiatan kerja yang mestinya alamiah dan hakiki bagi setiap manusia, diubah persepsi oleh para pemilik modal menjadi kerja-untuk-uang, atau kerja-untuk-tetap hidup. Karena pemilik modal kemudian merampas kehidupan para buruh, dan buruh diharuskan bekerja keras untuk membeli kehidupan yang dikuasai para kapital. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Mekanisme kapitalis juga membuat buruh terasing dari buruh lain, serta kehidupan sosial kebanyakan. Karena kerja yang rutin dengan jam kerja yang ketat, membentuk kesadaran orientasi buruh untuk melulu soal kerja dan kerja. Ia akan melihat hubungan personal sebagai cenderung konfliktual jika tak ada hubungannya dengan kegiatan bekerja yang rutin tersebut. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alienasi kemudian menjadi tema besar yang giat dibahas dalam ruang lingkup perkotaan. Camus mengatakan, "Neraka manusia modern adalah ketika mereka melakukan rutinitas tanpa henti, lalu berhenti di satu titik dan bertanya, 'Apa gerangan yang sedang saya lakukan?'" Lalu tulisan Bambang Sugiharto di sebuah artikel, bahwa manusia masa kini adalah mereka yang mendefinisikan rekreasi sebagai pergi, ke luar dari diri, menuju perangkap-perangkap eksterior seperti mal, club, tempat wisata, atau negeri asing. Alih-alih berefleksi dan kontemplasi, bertanya apa-apa pada diri sendiri. Ketiga perkataan filsuf tersebut di atas tidak menjelaskan apa itu alienasi, tapi lebih ke contoh-contoh yang menunjukkan perasaan teralienasi itu seperti apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian adanya, maka ijinkan saya mendefinisikan kira-kira apa itu alienasi dalam ungkapan yang lebih pribadi. Alienasi adalah "perasaan terbiasa" akan keseharian, sehingga kesadaran tidak timbul secara mandiri. Manusia yang mengalami alienasi , ia akan mengerjakan apa-apa karena rutinitas, bukan karena kesadaran yang utuh. Sering sekali kita ditanya, "Dimana letak Circle-K terdekat?" Lalu dijawab, "Perasaan tahu, tapi lupa, dimana gitu." Padahal itu terletak di jalanan yang setiap hari kita lewati. Karena rutinitas telah membunuh kesadaran, maka fokus kita hanya mencapai kantor dalam sekian menit sekian jam. Alih-alih menyadari apa yang terjadi sepanjang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menjadi obat alienasi kemudian? Jika rutinitas selalu dilawan dengan liburan. Maka berarti liburan itu pastilah harus sesuatu yang kontras dengan rutinitas itu. Artinya, liburan adalah fase jeda dimana kita mempunyai momen untuk menemukan kesadaran kita seutuhnya. Bahwa kita adalah manusia yang sadar total akan keberadaan sekitar. Liburan tak perlu dalam bentuk yang ekstrim, bepergian, keluar uang banyak, dan senang-senang. Ketika jalanan yang dilalui kita menuju kantor setiap hari begitu-begitu saja, lalu mendadak suatu hari kita berjumpa dengan doger monyet yang entah kenapa baru hari itu ada di lampu merah itu, maka kesadaran kita kembali biarpun sejenak. Ketika kita memainkan musik yang itu-itu saja ketika tampil reguler di suatu hotel, lalu mendadak ada tamu yang memesan lagu tradisional, maka kita juga menemukan kesadaran kembali. Artinya, obat alienasi adalah segala-gala yang sifatnya spontan, kejutan, dan datang dari luar rutinitas keseharian itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang kita masuki ranah sepakbola. Saya bukan penonton televisi setia, karena isinya nyaris buruk semua. Saya bilang buruk kenapa, karena televisi tidak menyuguhkan sesuatu yang lain untuk mengobati rutinitas. Apa yang disuguhkan relatif bisa ditebak dan itu-itu saja. Terkecuali berita tentunya, walaupun kemasan berita kadang tidak menolong kita juga. Ada yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reality show&lt;/span&gt;, dulu, dimana sajian spontanitas mereka cukup menghibur, eh akhirnya ketahuan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reality show&lt;/span&gt; juga ternyata diseting agar terlihat spontan padahal tidak.  Lantas, berlebihankan jika saya bilang tayangan sepakbola adalah salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reality show &lt;/span&gt;yang paling nyata, spontan, dan penuh kejutan? Tayangan olahraga memang seyogianya demikian, olahraga yang bersih ya sifatnya spontan dan sukar diduga. Kecuali kala Michael Schumacher di era jaya, sepertinya dunia balap mobil teralienasi sekali. Bedanya, sepakbola sangat rajin ditayangkan, hampir seminggu tiga atau empat kali. Beritanya pun dimana-mana. Semuanya spontan, mengejutkan, dan bikin deg-degan. Oh, membuat kita sadar bahwa kita masih manusia dengan kesadaran yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita runut kronologi sepakbola secara umum. Musim awal mula berjalan (biasanya Agustus atau September), kita mendapatkan pertandingan seru di partai pembuka. Kita melihat pemain baru siapa saja, pelatih baru atau bahkan stadion baru. Lalu kita mendapatkan mitos-mitos siapa yang menang di partai pembuka, ia akan juara. Lalu Liga Champion dimulai di tengah minggu, yang menurut Ferguson lebih dahsyat dari Piala Dunia. Liga Champion kita tahu, juaranya paling sulit ditebak. Lalu memasuki musim dingin Desember, kita akan menemukan Juara Paruh Musim. Masuk ke Januari, bursa transfer dibuka kembali, ada tim yang berbenah menambal timnya, ada juga yang merasa cukup. Suasana transfer selalu penuh kejutan dan menyenangkan. Bursa transfer ditutup, dan para tim mulai tancap gas menuju akhir musim untuk penentu juara. Dan setelah juara didapat sekitar bulan Mei, kita akan nantikan juara Liga Champion  yang biasanya sekitar bulan Juni. Dan kala Liga Champion berakhir, berakhirlah satu musim sepakbola. Paling jeda maksimal dua minggu, setelah itu aktivitas mengejutkan dalam sepakbola kembali menggeliat. Kalau kebetulan di tahun genap, maka bersiaplah menikmati sajian Piala Eropa atau Dunia di kala jeda. Jangan lupakan juga Liga Indonesia, atau Piala Konfederasi. Semua mengejutkan, semua tak bisa ditebak, semua sering melampaui prediksi. Apalagi media olahraga semakin melimpah, komentar-komentar punggawa sepakbola semakin sering dikutip dan jua mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok, tanggal 29 November, atau 30 November dinihari WIB, kita akan sama-sama menyaksikan partai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;El Clasico&lt;/span&gt; antara Barcelona dan Real Madrid. Entah ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;El Clasico&lt;/span&gt; keberapa dalam sejarah hidup saya, tapi sedikitpun saya tak pernah kehilangan gairah menyaksikannya. Tak pernah dan Insya Allah tak akan pernah, pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;El Clasico&lt;/span&gt; edisi seribu pun, saya kemudian mengatakan, "Ah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;El Clasico&lt;/span&gt; dari dulu begitu-begitu saja." Sepakbola menyelamatkan saya dari rutinitas perkotaan yang membunuh kesadaran, pertama: Karena ia, setiap denyutnya, selalu tak mampu diprediksi, spontan, dan mengejutkan. Kedua, karena dalam sepakbola, kau akan menyaksikan keseluruhan manusia dalam keseluruhan eksistensinya yang nyata. Jika yang membedakan manusia dari mesin salah satunya adalah kesalahan, maka tengok kinerja wasit yang tak pernah sempurna, namun toh FIFA tak jadi mengganti wasit dengan robot. Jika yang membedakan manusia dari mesin adalah gairah, tengok para suporter yang meledak kala gol tercipta. Jika yang membedakan manusia dari mesin adalah kepasrahan dan harapan, maka liat emosi pemain kala pertama memasuki lapang dengan wajah menengadah ke atas, melihat langit, berpihak pada siapa kau malam ini? Dan, jika yang membedakan manusia dari mesin adalah kehidupan, tengok para pemain kala berteriak kegirangan, sesaat setelah kaki-kaki mereka menempatkan bola di gawang lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-8964966054920269417?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/8964966054920269417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/11/sepakbola-menyelamatkanku-dari-alienasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8964966054920269417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/8964966054920269417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/11/sepakbola-menyelamatkanku-dari-alienasi.html' title='Sepakbola Menyelamatkanku dari Alienasi'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-2230712605869648374</id><published>2010-11-22T08:21:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T09:04:51.456-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Travelling Without Moving</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Harimau berkedut. Lehernya bagai ular sedang girang. Kuning, merah, dan hijau muda. Latar hitam sehingga warna semakin memancar. Ia menari, semua menari. Girang semua dalam balutan melodi. Melodi dari mana? Melodi dari mana? Sesungguhnya ia fana. Datang dari alam-entah-darimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bali masa SMA. Pantai pekat malam.  Bintang jatuh ke cakrawala. Ayo raih-ayo raih. Duduk aku bersama guru pembimbing. Itu teras kamar hotel. Kupegang gitar nilon dan mainkan karya Beethoven. Kawanku menikmati sebelum ada yang teriak. "Hey, berhentilah bermain, kami sedang tidur." Atau-atau, ia mau berkata, "Huey, be-be-rhentilah, ber-ber-main, ka-kami se-dang ti-ti-dur." Matilah kau jahanam. Kusulap kau jadi lingkaran. Hihihi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;3. Mari kuajak kau ke jaman koboi. Punggung kuda dan pelana, aku duduk di atasnya. Goyang ia liar bagai terluka di tengah rodeo. Lasoku warna ungu. Lasomu warna biru. Oh lihat, kibasan ekor membentuk cahaya. Bagai petasan di malam lebaran. Aku mual juga rindu. Pada apa-apa yang menjadikan aku ada disini. Matahari, apakah kau sedang menyinari kami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Siapa kamu! Tuhan atau bukan? Menyeringai bagai kucing pada tikus terjerat perangkap. Kau cinta, tapi juga benci. Kau manis, tapi jua iblis. Jubahmu mejikuhibiniu. Matamu jingga kelabu. Siapa kamu! Datang dan segera sudahi aku. Sesungguhnya aku ini lelah dan ingin pergi dari pagutanmu. Galileo Galilei. Figaro. Bismillah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Adzan memanggil. Memanggil Lennon dan bertanya, kenapa kau mati cepat? Tidakkah kau mau seperti aku yang terjerembab lunglai dalam kegilaan yang nikmat?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://sender.fm/pictures/Psychedelic%20Art%21psychedelic-art.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 408px; height: 400px;" src="http://sender.fm/pictures/Psychedelic%20Art%21psychedelic-art.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.google.co.id/imglanding?imgurl=http://sender.fm/pictures/Psychedelic%2520Art%21psychedelic-art.jpg&amp;amp;imgrefurl=http://sender.fm/new/pictures.php%3Fkat%3DPsychedelic%2520Art&amp;amp;h=400&amp;amp;w=408&amp;amp;sz=114&amp;amp;tbnid=X4GV--e--2vXrM:&amp;amp;tbnh=123&amp;amp;tbnw=125&amp;amp;prev=/images%3Fq%3Dpsychedelic%2Bart&amp;amp;zoom=1&amp;amp;q=psychedelic+art&amp;amp;usg=__2fg7oR43H41iWV4hMkucePSXtuE%3D&amp;amp;sa=X&amp;amp;ei=6J_qTPyuDJHovQP4qdTCCA&amp;amp;ved=0CB8Q9QEwAQ"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-2230712605869648374?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/2230712605869648374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/11/travelling-without-moving.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2230712605869648374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/2230712605869648374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/11/travelling-without-moving.html' title='Travelling Without Moving'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-7359214366934607937</id><published>2010-11-15T15:59:00.000-08:00</published><updated>2010-11-15T17:16:22.676-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Berkurban dan Mengatasi Tubuh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Para pendiri agama dunia menyepikan diri, menjadi manusia soliter, mengambil jarak dari desakan 'daging', merenungkan kebenaran (arya satyani) dan 'jalan' (dharma, Tao, Din)." &lt;/span&gt;(Sepenggal paragraf dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;handout&lt;/span&gt; di ECF Filsafat oleh Alois Agus Nugroho)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur'an, ada beberapa ayat yang menerangkan tentang kurban, diantaranya Al-Kautsar ayat 2, Al-Hajj ayat 27-28, 34 dan 36. Meski secara syar'i sudah jelas hukumnya, lalu secara praktis juga sudah jelas gunanya (yakni agar kaum dhuafa bisa merasakan daging yang mungkin bagi mereka langka), namun semoga Allah tidak marah jika ayat-ayatnya diinterpretasi ulang secara filosofis. Karena demikianlah nalar menjadi berguna, dan memang ayat Al-Qur'an seolah membuka ruang interpretasi luas oleh sebab kemultitafsiran bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, jika pendiri agama dunia menyepikan diri, soliter, dan mengambil jarak dari desakan 'daging', berarti ada sesuatu yang bermasalah dengan kebertubuhan manusia. Mari mundur sejenak, ke era dimana Plato mengemukakan buah pikirnya. Ia percaya soal dualisme, bahwa manusia ini terbagi atas tubuh dan ruh. Tubuh ini hidup di dunia bentuk (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;form&lt;/span&gt;) yang sifatnya sementara, berubah-ubah, dan tak lain merupakan cerminan dari dunia ideal (Plato menyebutnya sebagai dunia ide). Sedangkan ruh, ia ideal, pernah hidup di dunia ide dimana keseluruhan pengetahuan terungkap secara sejati. Ruh lahir ke dunia dibonceng oleh tubuh, dan maka itu ruh lupa segala-galanya dan memulai perjalanan "mengingat kembali" apa yang telah diajarkan di dunia ide. Maka itu, kata Plato, tidak ada pengetahuan yang betul-betul baru di dunia ini. Manusia sesungguhnya cuma mengingat kembali masa lalunya ketika mereka belum lahir ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, Plato 'menyalahkan' tubuh sebagai biang keladi kealpaan ruh. "Tubuh adalah penjara ruh," demikian kata Plato. Apakah Plato satu-satunya orang yang menyalahkan tubuh? Tidak, masih banyak sesungguhnya. Beberapa dari kita ingat buku Da Vinci Code, dimana karakter Silas rajin memecuti tubuhnya hingga berdarah-darah. Semata-mata agar ia merasakan penderitaan Kristus dan menahbiskan bahwa tubuh adalah biang dosa. Kaum Syi'ah di beberapa tempat menyakiti dirinya agar jiwa serta batinnya ikut bersatu dengan penderitaan Imam Husain kala menjadi martir di tangan Yazid bin Muawiyah. Beberapa orang dari umat Buddha dan Hindu mempraktekkan meditasi agar mencapai moksha, yaitu lepas dari siklus abadi duniawi yang berlabel samsara atau kesengsaraan. Islam juga punya, yakni shalat dan berpuasa. Berpuasa ada pada hampir semua agama besar, tapi shalat adalah ciri umat Muslim. Mengapa shalat dianggap kegiatan 'menyalahkan' tubuh? Karena dalam shalat, tubuh diatur, didisiplinkan, dilatih, dan dikondisikan agar tidak bergerak mengikuti dorongan 'daging' semata. Pemimpin Islam di masa awal seperti Muhammad SAW, Salman Al-Farisi, atau Ali bin Abi Thalib mempraktekkan 'kemenangan' mereka atas tubuh dengan hidup zuhud atau sederhana. Kesemua kegiatan tersebut digolongkan sebagai asketisme. Yakni 'latihan' yang disasarankan pada tubuh, tapi bertujuan mencapai kepuasan ruh atau transendental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian adanya, maka tak terlalu sulit mengaitkan kurban dengan asketisme. Kurban adalah simbol tubuh, dan tubuh adalah sesuatu yang mesti ditundukkan. Islam, dalam hal ini, menjadikan asketisme tidak eksklusif milik para "petinggi agama". Asketisme menjadi hal dasar yang bisa dijalankan bersama-sama. Tidak perlu penghayatan sekelas Sufi atau Bhiksu, pemeluk agama yang "biasa-biasa saja" pun diperkenankan menundukkan tubuhnya. Dan baiknya Islam adalah (saya berkata subjektif, sebagai pemeluk Islam), ia tidak mengorbankan tubuh si empunya tubuh, melainkan mentransfer makna pada tubuh si kambing atau sapi. Merekalah simbol pengorbanan daging demi nilai-nilai spiritual. Yang seyogianya adalah contoh bagi kita, para manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu A'lam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-7359214366934607937?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/7359214366934607937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/11/berkurban-dan-mengatasi-tubuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7359214366934607937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7359214366934607937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/11/berkurban-dan-mengatasi-tubuh.html' title='Berkurban dan Mengatasi Tubuh'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-7625962263899248292</id><published>2010-11-10T21:41:00.000-08:00</published><updated>2010-11-10T22:16:20.081-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Yang Maha Pemurah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;1. Koruptor mencuri uang rakyat, pergi mereka ke Yunani lalu Turki. Pulang dari sana keluarganya sehat, makan sate tetap terasa enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pejabat memperoleh gelar akademik dengan menyuap. Tapi kemudian masih dihargai di masyarakat. Masih pula berangkat ke Baitullah dengan undangan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Seorang guru mengajar dengan gaji tak banyak. Berjalan kaki ia belasan kilometer agar mencapai sekolah tanpa atap. Tapi tengok bening matanya kala menatap anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Seorang atheis meragukan Tuhan. Menyerang-Nya tanpa ampun dalam simposium-simposium filsafat. Di tengah jalan ia ditabrak, namun hanya mobilnya yang hancur. Ia masih selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Seorang alim mati cepat-cepat. Di masa muda ketika ia rajin mengaji dan shalat. Namun ia tersenyum sejenak sebelum jadi mayat. Karena katanya, Tuhan rindu dan ingin memeluknya erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Merapi meletus memuntahkan wedhus gembel. Darinya rakyat banyak yang meninggal dan terbakar. Tapi tengok hasil dari muntahan vulkanik yang kelak bisa membuat anak cucu berpanen banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Terbayang roti yang dimakan, lalu buang air besar tetap berbentuk roti yang baru saja dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Terbayang anggur yang diminum hingga memabukkan, buang air kecil masih berupa anggur yang bisa diminum. Dan masih jua memabukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Manusia mencari-cari kepastian dan membuat rencana. Lalu semua sesuai dengan dugaan dan manusia itu senang. Namun Tuhan masih menyisakan ketidakpastian agar manusia penasaran. Yakni diri-Nya dan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Bunga tumbuh merekah, pohon menggugurkan dedaunan, anak tumbuh besar dan bicara melebihi kedua orangtuanya. Si anak sekolah dan mengerti arti cinta. Mampu mengungkapkannya dalam bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Penulis buntu merampungkan idenya. Ia jalan-jalan dan melihat kucing bermain dengan bayangan. Penulis kembali ke mejanya dan mendapat segudang pencerahan untuk dituangkan menjadi tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Memberi uang pada orang berarti membuang. Yang pelit terus saja berpendapat demikian. Lupa bahwa pundi-pundinya akan tetap penuh, jikasanya ia percaya bahwa orang yang menerima kerap menukar dengan kepuasan dan kebahagiaan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;19. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Saya menulis ini seolah ingin meniru surat Ar-Rahman. Tapi begitu sulit dan tak terjangkau pikiran. Wajar karena yang satu kalam Tuhan, sedang yang ini nalar dangkal seorang insan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-7625962263899248292?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/7625962263899248292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/11/yang-maha-pemurah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7625962263899248292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/7625962263899248292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/11/yang-maha-pemurah.html' title='Yang Maha Pemurah'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-6241871979238512366</id><published>2010-10-27T07:26:00.000-07:00</published><updated>2010-10-27T09:04:39.451-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Mbah Maridjan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;"Guru, apakah yang pertama kau lakukan jika memerintah sebuah negara?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu-satunya hal yang dilakukan adalah pembetulan nama-nama. Hendaknya seorang penguasa bersikap sebagai penguasa, seorang menteri bersikap sebagai seorang menteri, seorang bapak bersikap sebagai seorang bapak dan seorang anak bersikap sebagai seorang anak." &lt;/em&gt;(Konfusius dari Analek 13:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihadapkan pada situasi posmodern sekarang ini, kalimat agung Konfusius di atas jelas saja dipertanyakan. Posmodern paling gemar rekonstruksi, dekonstruksi, serta menghancurkan sebuah bangunan konseptual, tanpa membangun apa-apa di atas puingnya. Sasaran gugatan tentu saja: Apa itu "sikap penguasa"? Apa itu "sikap seorang menteri"? Dan seterusnya. Tidakkah segala-galanya tak bisa didefinisikan sesaklek itu? demikian koar posmo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Konfusius tak berpikir serumit itu. Bisa jadi ia dianggap kuno, bodoh, karena standar pemikiran Barat: Bahwa sesuatu yang masuk akal, adalah yang terjelaskan dengan kata-kata, &lt;em&gt;explainable&lt;/em&gt;. Konfusius hanya menjelaskan banyak pemikirannya dengan takaran moral yang disebut &lt;em&gt;jen&lt;/em&gt; (kata yang kemudian mati-matian ditafsirkan oleh banyak pemikir karena Konfusius sendiri tak pernah menjelaskan artinya). Dalam suatu situs, &lt;em&gt;jen&lt;/em&gt; diartikan sebagai: &lt;em&gt;human heartedness; goodness; benevolence, man-to-man-ness; what makes man distinctively human (that which gives human beings their humanity). &lt;/em&gt;Maka itu, jika ditanya, apakah yang dinamakan "sikap penguasa"? Konfusius kira-kira akan menjawab, ya mereka yang sesuai dengan &lt;em&gt;jen&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfusius tidak asal bicara. Di masanya ia hidup, sekitar 500 tahun Sebelum Masehi. Situasinya kurang lebih sama dengan negara kita sekarang, carut marutnya. Ia kemudian merumuskan, bahwa keseluruhan penyebab kekacauan negara ini semua, adalah tidak betulnya nama-nama. Seorang menteri tidak bersikap seperti seorang menteri lagi. Karena nama, bagi Konfusius, menggambarkan identitas. Dalam nama, ada batasan bersikap dan jua tanggungjawab. Ketika sebagian besar individu tak lagi melakukan tindak-tanduk sesuai nama yang disematkannya, tunggu waktunya kehancuran terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh, ribuan tahun pasca wafatnya Konfusius. Ada seorang sepuh bernama Mbah Maridjan. Jabatannya bukan guru besar seperti Konfusius dengan muridnya yang berlimpah serta ajaran yang diikuti sekaligus ditakuti penguasa. Mbah Maridjan posisinya juru kunci, yakni semacam penjaga tempat-tempat keramat. Tempat yang ia jaga adalah Gunung Merapi, sebuah gunung vulkanik aktif di kawasan Yogyakarta. Orangnya bersahaja, sederhana, dan taat pada apa-apa yang dititahkan Sultannya. Pengabdiannya tak main-main, ia menjabat juru kunci sejak tahun 1982, atau 28 tahun lamanya. Dan dalam masa tugasnya yang alamak itu, ia sering dipuji Sultan sebagai abdinya yang setia, dapat dipercaya, dan menunaikan tugas dengan baik. Satu-satunya "dosa" Mbah Maridjan barangkali ketika membintangi iklan extra joss beberapa tahun lalu. Toh, uang hasil iklan itu tetap ia gunakan untuk membangun masjid di desanya di lereng Gunung Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisanya, ia tetap harum dalam statusnya sebagai juru kunci Merapi. Ia tak melakukan tugas itu dengan merasa diri teralienasi. Beda dengan penduduk perkotaan yang kerja kantor tiga bulan saja kadang kesadarannya telah tertimbun rutinitas. Meski situasi Mbah Maridjan jauh lebih &lt;em&gt;robotic&lt;/em&gt;, ia tak mengeluh. Ia gembira, besar hati, dan bertanggungjawab. Hal itu juga yang ia tunjukkan kala tempat keramat yang ia jaga, ternyata membebaskan dirinya dari tugas itu selama-lamanya. 27 Oktober 2010, Mbah Maridjan wafat, di tengah situasi genting letusan Gunung Merapi. Ia tidak turun gunung, bebal seperti biasanya: tak mau turun kecuali dipaksa tim SAR. Mbah tidak mencari heroisme buta, tidak mencari pengikut. Toh ia tetap meminta warga mengevakuasi diri, ikut pemerintah. Mbah sendiri tetap teguh, besar hati, dan tinggal. Jika memang dia juru kunci, tidakkah sesungguhnya ia tahu pertanda letusan itu jauh lebih awal? Entah lewat wangsit atau tanda-tanda alam. Tidakkah, jika ia mau, ia bisa saja mengungsi duluan, bahkan sebelum BMKG mencium sinyal bahaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah bisa, tapi kenyataannya ia enggan. Sultan telah memintanya turun, demi keselamatan nyawa, sejenak meninggalkan tugas suci juru kuncinya, dan berlebur bersama manusia umumnya. Mbah bisa, tapi ia tak mau. Ia mengemban amanat, ia mengemban nama, baginya tak ada yang lebih mulia dari itu. Tak ada yang lebih mulia dari meninggal dalam keadaan pengabdian loyal, pada apapun yang ia percaya. Predikat mati konyol bukanlah kata miring yang akan masuk dalam telinganya. Mbah Maridjan merumuskan kematiannya adalah gembira: hanya jika ia secara hakiki melaksanakan tugas sesuai dengan nama yang disematkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalnya Mbah adalah bukti simbolisme keheroikan "pembetulan nama-nama" Konfusianis. Hanya saja, satu Mbah Maridjan saja tak cukup untuk negeri ini. Tidak cuma juru kunci yang betul namanya, tapi juga presiden, anggota DPR, gubernur, walikota dan banyak lainnya. Ketika keseluruhannya telah melaksanakan tugas sesuai dengan nama yang disematkannya, maka selamatlah bangsa ini dalam versi Konfusius. Anggota DPR, terutama yang sedang pelesir ke Yunani, pastilah bertanya balik dengan angkuhnya, jika disodori buah pikir Konfusius ini, "Lah, saya sedang menjalankan tugas saya sebagai anggota dewan kok!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka barangkali betul, tapi mari kembalikan pada konsep &lt;em&gt;jen&lt;/em&gt;: Adakah ia berperikemanusiaan? Adakah ia bersikap &lt;em&gt;heartedness&lt;/em&gt;? Adakah ia dengan tegas mau membedakan dirinya dengan binatang lewat sikap-sikap manusiawinya? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya tak mau menjawabnya. Lebih baik marilah kita sama-sama mengangkat derajat heroisme Mbah. Mendoakan agar ia mendapatkan &lt;em&gt;maqam&lt;/em&gt; yang baik di sisi Allah SWT. Sebaik-baiknya manusia adalah Muhammad SAW. Dan ciri derajat luhur Muhammad adalah dia tak pernah secuilpun melenceng dari amanah yang diembankan baginya. Muhammad adalah sebetul-sebetulnya nama yang disematkan baginya. Semoga kelak Mbah dapat diperjumpakan dengan Al-Mustafa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8295427891741940036-6241871979238512366?l=syarifmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/feeds/6241871979238512366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/10/mbah-maridjan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6241871979238512366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8295427891741940036/posts/default/6241871979238512366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syarifmaulana.blogspot.com/2010/10/mbah-maridjan.html' title='Mbah Maridjan'/><author><name>Syarif Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03977134757516157760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8295427891741940036.post-8233262443443925024</id><published>2010-10-18T08:40:00.000-07:00</published><updated>2010-10-18T10:08:32.921-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Galau'/><title type='text'>Kafé dan Waktu Senggang</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Terus terang, saya adalah orang yang cukup skeptik dengan kafé. Seperti simbol kapitalis yang dingin, tempat berkumpulnya para borjuis memperjuangkan eksistensinya, serta pendirian latar suasana yang palsu di tengah keruwetan kota. Tapi entah kenapa, hari ini saya begitu ingin ke kafé. Saya bosan dengan suasana perpustakaan, dan ingin mencoba menulis tesis di kafé. Saya punya motivasi terselubung juga, ingin tahu kenapa kafé begitu digemari. Begitu menjadi idaman orang untuk berdiam diri di tengah cengkraman rutinitas. Dan jika memang tesis sudah menjadi rutinitas saya, maka bolehlah saya mencoba obat yang selama ini tampak mujarab secara massal. Obat, meski pahit, jika mujarab, kenapa tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya datang pagi-pagi buta, ke sebuah kafé di Jalan Burangrang. Mereka sedia sarapan pagi, buka pukul tujuh. Saya tamu paling awal, memesan bubur ayam dan teh. Saya memulai ritual para kafé-is, yakni membuka laptop, dan mengoneksikan ke internet. Sayang sekali, internet baru hadir pukul dua belas. Dan akhirnya saya ketik beberapa paragraf tesis saja tanpa usah &lt;em&gt;online&lt;/em&gt;. Sarapan datang, dan saya menyantapnya. Pasca makan, saya coba pandangi sekeliling kafé, dan berpikir, apa gerangan yang menjadikan kafé begitu menarik? Interiornya, barangkali pengaruh. Musiknya, tenang, juga pengaruh. Makanannya enak, pasti juga pengaruh. Tapi saya bukan ahli kuliner atau &lt;em&gt;feng shui&lt;/em&gt;. Saya tak akan bahas kafé dari sudut pandang itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi saya melayang sejenak, jauh, ke Paris. Alkisah, di pojok kota itu terdapat kafé bernama Café de Flore. Sofanya merah, dengan gaya interior &lt;em&gt;Art Deco&lt;/em&gt;. Bayangkan sejenak, dua orang duduk disana. Dua orang yang bagi kalian yang belajar filsafat, pasti hapal: Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Itulah dua filsuf besar dalam sejarah pemikiran Barat. Dari keduanya lahir tema eksistensialisme, yang sangat mempengaruhi Barat tahun 90-an. Tema besar yang lahir dari hasil obrolan sambil minum-minum. Dari hasil temu intensif di kafé.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 306px; DISPLAY: block; HEIGHT: 186px; CURSOR: hand" border="0" alt="" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/3/3d/Cafe_de_Flore.jpg/800px-Cafe_de_Flore.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Café de Flore barangkali tidak sebesar Ngopi Doeloe di Teuku Umar. Konon, harga makanannya juga sangat murah (memang salah satu yang membedakan kafé pada mulanya, adalah jenis makanannya yang relatif ringan, dan harganya yang jauh lebih murah dari restoran). Jika ada tudingan Sartre adalah filsuf borjuis, maka itu pastilah orang yang membayangkan Sartre ada di Ngopi Doeloe. Café de Flore tergolong sederhana, dan sama sekali tak mencirikan simbol kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik adalah, "kafé sejati" adalah kafé yang mempertahankan identitas dasarnya sebagai penjual makanan ringan, seperti kopi atau roti kukus. Harganya juga relatif murah. Jika berasumsi restoran adalah penjual makanan berat, maka kafé adalah pelengkap di sela-selanya. Yang mau saya katakan adalah: Restoran identik dengan waktu produktif dan biologis-alamiah manusia, karena ia menyediakan makanan primer, yang digunakan untuk mengenyangkan manusia, membuat mereka tersambung untuk tetap hidup. Sedangkan dalam kafé, makanan ringan adalah identik dengan waktu senggang. Tidakkah kita semua ngemil ketika sudah yakin bahwa hidup kita telah tersambung oleh makanan primer? Makanan ringan pastilah pengisi sela-sela antara jam makan primer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, maka saya akan berkata sesuatu tentang waktu senggang: Bahwa seluruh buah pemikiran besar, darimanapun itu, pastilah datang dari waktu senggang. Waktu luang, atau jeda sementara, atau apapun namanya. Yang pasti tidak datang dari waktu ketika bekerja atau sedang dalam produktivitas tinggi. Manusia adalah makhluk yang selalu berdimensi realitas dan idealitas. Ia bisa saja berpikir, merenung, mengabstraksi dunia, tapi kemudian ia tidak boleh terus-terusan seperti itu. Ia harus bekerja, berbuat, dan menyamakan diri dengan denyut semesta. Tapi bekerja saja juga akan menyebabkan dirinya mekanistik dan teralienasi. Ada kalanya ia mesti beristirahat, tidak hanya untuk jiwa raga, tapi beristirahat untuk mengambil jarak dari kesehariannya. Memaknai kembali apa yang ia lakukan selama ini, sebelum b
